>Hari ini jatah masuk. Minggu depan baru dapet libur lagi.
Hari ini email tidak ada yang masuk, jadi tak banyak yang ku kerjakan.
Jadilah aku browsing berita di detik.com dan juga kompas.com

Kabarnya Noordin M.Top ketua jaringan teroris yang berkembang di Indonesia sudah tewas di rumah yang ditempatinya di Temanggung, Jawa Tengah.
Tapi, menurut kepolisian belum dipastikan apakah itu adalah jenazah Noordin M.Top atau bukan. Saat aku menulis ini, aku belum tahu kepastian kabarnya apakah benar-benar sudah tewas.

Kita semua berharap kalau sang buronan itu benar-benar tewas biar negeri ini aman. Capek rasanya kalau setiap keberadaan kita selalu dibayang-bayangi aksi pengebom-an. Maunya kan kemana kita melangkah tak selalu dibayang-bayangi rasa was-was akan kekejian teroris.

Kapan ya negeri ini lepas dari tragedi? Sepertinya negara yang aman cuman Canada. Sepertinya aku nggak pernah dengar negara itu bergolak. Walaupun krisis dunia melanda tapi rasa-rasanya Canada itu tak bergeming. Apa negara itu luput dari sorotan media? Harusnya sih tidak. Cuma benar-benar aku sepertinya tidak pernah dengar ada bom di Canada, keributan di dalam pemerintah, perang antar suku atau perang antar agama. Isu rasisme juga sepertinya tidak terdengar dari negara itu.

Alangkah senangnya bila dalam satu negara mulai dari pemimpin tertinggi sampai pada lapisan masyarakatnya hidup damai, bahu membahu, tak ada sikut menyikut, tak ada istilah teman makan teman atau pagar makan tanaman. Mungkin kalau semua dalam keadaan damai, para kuli tinta, para pencari berita akan banyak menganggur hehehe...

Mungkin semua konflik, perdebatan, perbedaan itu harus ada di muka bumi ini karena dengan itu hidup kita jadi berwarna, ada seninya ^_^. Lagipula selama manusia masih bernafas dan bernyawa tak pernah lepas dari masalah. Sekecil apapun masalah itu, tetap saja namanya masalah. Harus dihadapi, harus diselesaikan.

Kehidupan itu memang pasang surut. Lagipula semua yang ada di muka bumi ini ada waktunya. Ada waktu menangis, ada waktu tertawa, ada waktu pertemuan, ada waktu perpisahan seakan semua itu berpasang pasangan. Cuman, kita nggak bisa mengerti kenapa para teroris itu selalu berkeinginan memusnahkan makhluk hidup di muka bumi ini. Apa sejatinya tujuan mereka setelah mereka perlahan-lahan memusnahkan makhluk yang tak berdosa?

Hmm...aku nggak ada kata-kata lagi. Para teroris itu mengatas namakan perang jihad. Padahal perang jihad itu kan tidak harus menumpas orang-orang yang tak berdosa? Sungguh tidak pernah bisa dimengerti.

Biarlah Tuhan yang akan memberikan hukuman yang setimpal dengan perbuatan mereka. Penghakiman di "sana" lebih adil daripada penghakiman di bumi.
Hari ini jatah masuk. Minggu depan baru dapet libur lagi.
Hari ini email tidak ada yang masuk, jadi tak banyak yang ku kerjakan.
Jadilah aku browsing berita di detik.com dan juga kompas.com

Kabarnya Noordin M.Top ketua jaringan teroris yang berkembang di Indonesia sudah tewas di rumah yang ditempatinya di Temanggung, Jawa Tengah.
Tapi, menurut kepolisian belum dipastikan apakah itu adalah jenazah Noordin M.Top atau bukan. Saat aku menulis ini, aku belum tahu kepastian kabarnya apakah benar-benar sudah tewas.

Kita semua berharap kalau sang buronan itu benar-benar tewas biar negeri ini aman. Capek rasanya kalau setiap keberadaan kita selalu dibayang-bayangi aksi pengebom-an. Maunya kan kemana kita melangkah tak selalu dibayang-bayangi rasa was-was akan kekejian teroris.

Kapan ya negeri ini lepas dari tragedi? Sepertinya negara yang aman cuman Canada. Sepertinya aku nggak pernah dengar negara itu bergolak. Walaupun krisis dunia melanda tapi rasa-rasanya Canada itu tak bergeming. Apa negara itu luput dari sorotan media? Harusnya sih tidak. Cuma benar-benar aku sepertinya tidak pernah dengar ada bom di Canada, keributan di dalam pemerintah, perang antar suku atau perang antar agama. Isu rasisme juga sepertinya tidak terdengar dari negara itu.

Alangkah senangnya bila dalam satu negara mulai dari pemimpin tertinggi sampai pada lapisan masyarakatnya hidup damai, bahu membahu, tak ada sikut menyikut, tak ada istilah teman makan teman atau pagar makan tanaman. Mungkin kalau semua dalam keadaan damai, para kuli tinta, para pencari berita akan banyak menganggur hehehe...

Mungkin semua konflik, perdebatan, perbedaan itu harus ada di muka bumi ini karena dengan itu hidup kita jadi berwarna, ada seninya ^_^. Lagipula selama manusia masih bernafas dan bernyawa tak pernah lepas dari masalah. Sekecil apapun masalah itu, tetap saja namanya masalah. Harus dihadapi, harus diselesaikan.

Kehidupan itu memang pasang surut. Lagipula semua yang ada di muka bumi ini ada waktunya. Ada waktu menangis, ada waktu tertawa, ada waktu pertemuan, ada waktu perpisahan seakan semua itu berpasang pasangan. Cuman, kita nggak bisa mengerti kenapa para teroris itu selalu berkeinginan memusnahkan makhluk hidup di muka bumi ini. Apa sejatinya tujuan mereka setelah mereka perlahan-lahan memusnahkan makhluk yang tak berdosa?

Hmm...aku nggak ada kata-kata lagi. Para teroris itu mengatas namakan perang jihad. Padahal perang jihad itu kan tidak harus menumpas orang-orang yang tak berdosa? Sungguh tidak pernah bisa dimengerti.

Biarlah Tuhan yang akan memberikan hukuman yang setimpal dengan perbuatan mereka. Penghakiman di "sana" lebih adil daripada penghakiman di bumi.
>Hari ini, entah kenapa rasanya aku lagi males banget ngomong. Aku lagi pengen ngobrol, becanda sama temen2 deketku aja deh. Mereka lebih nyambung, lebih asik dan buatku temen2 diluar kantor itu yang bisa dipercaya dibanding rekan2 kerja, mungkin karena kita udah saling kenal lebih lama, dari SMP dan SMA.

Nggak tahu kenapa suasana hati hari ini bawaannya sebel aja sama orang-orang di sekelilingku. Aku nggak lagi ga mau banyak ngomong, diam itu sebenarnya menyenangkan. Dengan diam aku bisa lebih mengekspresikan perasaan lewat tulisan. Saat sedih, marah, senang rasanya lebih keluar lewat tulisan. Kalau sudah begitu lega rasanya.

Apa mungkin ini gejala PMS ya? Aku nggak tahu deh benar apa tidak seperti ini keadaanku. Pokoknya hari ini aku menanggapi apapun dengan ketus. Biarin aja lah terserah orang mau bilang apa. Mungkin aku termasuk orang yang moody-an, tapi ya...ini lah aku.

Hari ini buatku sendu, rasanya nggak menyenangkan. Aku lagi nggak mau bergaul.
Sendiri dan diam buatku lebih baik...
Hari ini, entah kenapa rasanya aku lagi males banget ngomong. Aku lagi pengen ngobrol, becanda sama temen2 deketku aja deh. Mereka lebih nyambung, lebih asik dan buatku temen2 diluar kantor itu yang bisa dipercaya dibanding rekan2 kerja, mungkin karena kita udah saling kenal lebih lama, dari SMP dan SMA.

Nggak tahu kenapa suasana hati hari ini bawaannya sebel aja sama orang-orang di sekelilingku. Aku nggak lagi ga mau banyak ngomong, diam itu sebenarnya menyenangkan. Dengan diam aku bisa lebih mengekspresikan perasaan lewat tulisan. Saat sedih, marah, senang rasanya lebih keluar lewat tulisan. Kalau sudah begitu lega rasanya.

Apa mungkin ini gejala PMS ya? Aku nggak tahu deh benar apa tidak seperti ini keadaanku. Pokoknya hari ini aku menanggapi apapun dengan ketus. Biarin aja lah terserah orang mau bilang apa. Mungkin aku termasuk orang yang moody-an, tapi ya...ini lah aku.

Hari ini buatku sendu, rasanya nggak menyenangkan. Aku lagi nggak mau bergaul.
Sendiri dan diam buatku lebih baik...
>Sedikit pertanyaan dalam hati, mengapa di dunia kerja itu harus saling menjatuhkan saling sikut saling menusuk. Padahal orang-orang tersebut saling berteman. Kadang susah dimengerti apa tujuan mereka berbuat seperti itu, mencari kedudukan sematakah atau mencari apa? Sampai sekarang aku nggak ngerti jalan pikiran orang-orang seperti itu. Kalau kedudukan yang dicapai karena menyingkirkan teman sendiri bagaimana ya rasanya??

Aku benar-benar nggak habis pikir, sampai sekarang sepertinya aku belum menemukan alasan yang tepat mengenai hal itu. Apa tujuan orang bermuka dua? Di depan terlihat baik, bersahaja tapi dibelakang bisa menikam, menjerumuskan, bahkan menyingkirkan. Sekarang difinisi team work itu apa sih? Sepertinya sekarang difinisi "team work" itu menjadi kabur, karena yang namanya "team work" itu segala bentuk beban kerja apapun diperjuangkan bersama, susah bersama senang juga bersama. Kalau sekarang, sepertinya istilah "team work" itu hanya di saat senangnya aja, kalau ada acara makan-makan baru istilah "team work" itu dipakai. Giliran susah, ya...tanggung sendiri bukan "team work" lagi. Sungguh aneh...

Jujur selama pengalaman aku kerja, selalu masalah sikut menyikut itu nggak pernah nggak ada. Memang sih orang kerja itu harus punya goal, itu betul. Cuman untuk mencapai goal tersebut harus dengan cara-cara yang "nggak wajar"? Kenapa harus bersaing dengan tidak sehat? Kalau memang tujuannya untuk menduduki satu posisi penting di perusahaan ya...tunjukin aja capability yang kita punya tanpa harus menjatuhkan orang lain apalagi itu partner kerja kita sendiri.

Menjadi orang yang tersisih itu sangat tidak enak. Seperti orang yang punya penyakit menular yang sangat ganas dan harus disingkirkan, itu bisa jadi pengalaman hidup yang menyakitkan dan bisa membunuh semangat kerja tanpa disadari pihak yang sudah menjegalnya. Padahal ya, menurutku dimanapun kita kerja yang diperlukan selain salary yang bagus juga lingkungan kerja yang sehat dan menyenangkan. Kalau kita kerja di lingkungan yang suasana persaingannya tidak sehat, teman-teman kerjanya juga tidak mendukung, meskipun bayaran yang diterima besar semua itu akan menjadi tidak nyaman. Betul kita harus belajar cuek, yang penting kita tidak menyakiti orang lain dan kita juga tidak disakiti ya...peduli amat. Mungkin untuk sebagian orang bisa bersikap demikian, tapi sebagian lagi... Kalau suasana kerja seperti itu, kita merasa tidak tenang, kita akan merasa was was dan bertanya-tanya kira-kira giliran kita di depak kapan ya?

Apalagi mencari muka di depan atasan, fiuh...benar-benar sudah sangat membudaya di dunia kerja. Bila sudah lengket dengan si bos sepertinya kita akan aman sentosa. Sepertinya bukan kemampuan lagi yang dilihat oleh si bos untuk menaikkan posisi kita tapi, kedekatan pribadilah yang akan melatari semua kenyamanan posisi. Kalau sudah begitu karyawan yang benar-benar cakap dan loyal akan tersingkir.

Sepertinya budaya seperti ini mungkin nggak hanya berlaku di Indonesia, bisa aja terjadi di belahan dunia manapun karena basicly manusia itu tidak pernah puas, selalu ingin mencari sesuatu yang lebih bahkan rela mengorbankan pertemanan, persahabatan, keluarga atau apalah yang penting tujuannya tercapai.

Menurutku keadaan seperti ini miris... Kejujuran, loyalitas, kerja keras udah pasti lewat dari pandangan para atasan bila ada orang "terdekat"-nya yang memberikan sumbangsih lebih. Terus kalo keadaan yang seperti ini orang-orang yang tertindas itu bagaimana ya perlakuannya? Apa ada sangsi tertulis bagi para "penyikut" atau "penjilat"? Menurutku sih, hukum yang ada di dunia kerja itu hukum rimba, siapa yang kuat dialah yang berkuasa. Tapi, disini yang lebih terasa itu kaum yang lemah, mereka akan tersingkir dari komunitasnya dan akhirnya harus menjalani hidup ini apa adanya.

Kenapa ya orang senang dengan hidup yang berbelit-belit? Kenapa sih nggak bisa jalan lurus? Mungkin kalau semua orang berfikir untuk menjalani hidup ini lurus-lurus saja dunia seperti tidak ada warnanya ya...nggak ada tantangannya. Cuman kenapa ya mencari tantangannya harus seperti itu? Kenapa nggak mencari tantangan dengan menunjukkan kreatifitas masing-masing, tunjukin kemampuan yang terbaik, bersainglah secara sehat.

Yah...semua ini adalah opiniku loh. Silahkan menterjemahkan dengan pikiran masing-masing. Berpendapat kan bebas, nggak ada larangan jadi, jangan pernah terpaku pada satu opini carilah opini yang lain atau mungkin bisa menciptakan opini sendiri asal positif.
Aku nggak bermaksud menjatuhkan orang lain, hanya saja menurutku inilah psikologi kerja yang memang terjadi saat ini. Semua kembali pada pribadi masing-masing. Lakukanlah yang terbaik, kalau bisa jangan sampai mengorbankan orang lain.
Sedikit pertanyaan dalam hati, mengapa di dunia kerja itu harus saling menjatuhkan saling sikut saling menusuk. Padahal orang-orang tersebut saling berteman. Kadang susah dimengerti apa tujuan mereka berbuat seperti itu, mencari kedudukan sematakah atau mencari apa? Sampai sekarang aku nggak ngerti jalan pikiran orang-orang seperti itu. Kalau kedudukan yang dicapai karena menyingkirkan teman sendiri bagaimana ya rasanya??

Aku benar-benar nggak habis pikir, sampai sekarang sepertinya aku belum menemukan alasan yang tepat mengenai hal itu. Apa tujuan orang bermuka dua? Di depan terlihat baik, bersahaja tapi dibelakang bisa menikam, menjerumuskan, bahkan menyingkirkan. Sekarang difinisi team work itu apa sih? Sepertinya sekarang difinisi "team work" itu menjadi kabur, karena yang namanya "team work" itu segala bentuk beban kerja apapun diperjuangkan bersama, susah bersama senang juga bersama. Kalau sekarang, sepertinya istilah "team work" itu hanya di saat senangnya aja, kalau ada acara makan-makan baru istilah "team work" itu dipakai. Giliran susah, ya...tanggung sendiri bukan "team work" lagi. Sungguh aneh...

Jujur selama pengalaman aku kerja, selalu masalah sikut menyikut itu nggak pernah nggak ada. Memang sih orang kerja itu harus punya goal, itu betul. Cuman untuk mencapai goal tersebut harus dengan cara-cara yang "nggak wajar"? Kenapa harus bersaing dengan tidak sehat? Kalau memang tujuannya untuk menduduki satu posisi penting di perusahaan ya...tunjukin aja capability yang kita punya tanpa harus menjatuhkan orang lain apalagi itu partner kerja kita sendiri.

Menjadi orang yang tersisih itu sangat tidak enak. Seperti orang yang punya penyakit menular yang sangat ganas dan harus disingkirkan, itu bisa jadi pengalaman hidup yang menyakitkan dan bisa membunuh semangat kerja tanpa disadari pihak yang sudah menjegalnya. Padahal ya, menurutku dimanapun kita kerja yang diperlukan selain salary yang bagus juga lingkungan kerja yang sehat dan menyenangkan. Kalau kita kerja di lingkungan yang suasana persaingannya tidak sehat, teman-teman kerjanya juga tidak mendukung, meskipun bayaran yang diterima besar semua itu akan menjadi tidak nyaman. Betul kita harus belajar cuek, yang penting kita tidak menyakiti orang lain dan kita juga tidak disakiti ya...peduli amat. Mungkin untuk sebagian orang bisa bersikap demikian, tapi sebagian lagi... Kalau suasana kerja seperti itu, kita merasa tidak tenang, kita akan merasa was was dan bertanya-tanya kira-kira giliran kita di depak kapan ya?

Apalagi mencari muka di depan atasan, fiuh...benar-benar sudah sangat membudaya di dunia kerja. Bila sudah lengket dengan si bos sepertinya kita akan aman sentosa. Sepertinya bukan kemampuan lagi yang dilihat oleh si bos untuk menaikkan posisi kita tapi, kedekatan pribadilah yang akan melatari semua kenyamanan posisi. Kalau sudah begitu karyawan yang benar-benar cakap dan loyal akan tersingkir.

Sepertinya budaya seperti ini mungkin nggak hanya berlaku di Indonesia, bisa aja terjadi di belahan dunia manapun karena basicly manusia itu tidak pernah puas, selalu ingin mencari sesuatu yang lebih bahkan rela mengorbankan pertemanan, persahabatan, keluarga atau apalah yang penting tujuannya tercapai.

Menurutku keadaan seperti ini miris... Kejujuran, loyalitas, kerja keras udah pasti lewat dari pandangan para atasan bila ada orang "terdekat"-nya yang memberikan sumbangsih lebih. Terus kalo keadaan yang seperti ini orang-orang yang tertindas itu bagaimana ya perlakuannya? Apa ada sangsi tertulis bagi para "penyikut" atau "penjilat"? Menurutku sih, hukum yang ada di dunia kerja itu hukum rimba, siapa yang kuat dialah yang berkuasa. Tapi, disini yang lebih terasa itu kaum yang lemah, mereka akan tersingkir dari komunitasnya dan akhirnya harus menjalani hidup ini apa adanya.

Kenapa ya orang senang dengan hidup yang berbelit-belit? Kenapa sih nggak bisa jalan lurus? Mungkin kalau semua orang berfikir untuk menjalani hidup ini lurus-lurus saja dunia seperti tidak ada warnanya ya...nggak ada tantangannya. Cuman kenapa ya mencari tantangannya harus seperti itu? Kenapa nggak mencari tantangan dengan menunjukkan kreatifitas masing-masing, tunjukin kemampuan yang terbaik, bersainglah secara sehat.

Yah...semua ini adalah opiniku loh. Silahkan menterjemahkan dengan pikiran masing-masing. Berpendapat kan bebas, nggak ada larangan jadi, jangan pernah terpaku pada satu opini carilah opini yang lain atau mungkin bisa menciptakan opini sendiri asal positif.
Aku nggak bermaksud menjatuhkan orang lain, hanya saja menurutku inilah psikologi kerja yang memang terjadi saat ini. Semua kembali pada pribadi masing-masing. Lakukanlah yang terbaik, kalau bisa jangan sampai mengorbankan orang lain.
>


Hmm...ga nyangka ternyata Hotel Sriwijaya itu hotel tertua di Jakarta sudah ada sejak tahun 1872. Ternyata hotel itu bersejarah ya, aku baru tahu setelah membaca artikelnya di Kompas.com

Dulu waktu kecil kalau ikut papa-ku keliling nganter kue, suka lewat di depannya. Dulu sih kelihatannya agak kumuh, makanya aku sempat berpikir ini hotel kok ga kelihatan seperti hotel ya. Tapi, sekarang seiring dengan waktu Hotel Sriwijaya sudah berubah penampilan, sudah berbenah diri mungkin juga karena pemiliknya yang berganti-ganti.

Lagipula karena usianya yang sudah ratusan tahun memang selayaknya hotel tersebut direnovasi meskipun tidak merubah bentuk aslinya, karena kondisi kayu itu kan bisa dimakan rayap.

Tapi salut lah sama Jakarta, masih ada yang mempertahankan sejarah dan sepertinya boleh lah sekali kali mampir ke sana untuk melihat-lihat suasana hotel itu sekarang sambil ngopi-ngopi hehehe. Lagipula di sana ada foto-foto hotel itu mulai dari jaman dulu kala ^___^



Hmm...ga nyangka ternyata Hotel Sriwijaya itu hotel tertua di Jakarta sudah ada sejak tahun 1872. Ternyata hotel itu bersejarah ya, aku baru tahu setelah membaca artikelnya di Kompas.com

Dulu waktu kecil kalau ikut papa-ku keliling nganter kue, suka lewat di depannya. Dulu sih kelihatannya agak kumuh, makanya aku sempat berpikir ini hotel kok ga kelihatan seperti hotel ya. Tapi, sekarang seiring dengan waktu Hotel Sriwijaya sudah berubah penampilan, sudah berbenah diri mungkin juga karena pemiliknya yang berganti-ganti.

Lagipula karena usianya yang sudah ratusan tahun memang selayaknya hotel tersebut direnovasi meskipun tidak merubah bentuk aslinya, karena kondisi kayu itu kan bisa dimakan rayap.

Tapi salut lah sama Jakarta, masih ada yang mempertahankan sejarah dan sepertinya boleh lah sekali kali mampir ke sana untuk melihat-lihat suasana hotel itu sekarang sambil ngopi-ngopi hehehe. Lagipula di sana ada foto-foto hotel itu mulai dari jaman dulu kala ^___^