>PSIKOLOGI KERJA

0 Comments
>Sedikit pertanyaan dalam hati, mengapa di dunia kerja itu harus saling menjatuhkan saling sikut saling menusuk. Padahal orang-orang tersebut saling berteman. Kadang susah dimengerti apa tujuan mereka berbuat seperti itu, mencari kedudukan sematakah atau mencari apa? Sampai sekarang aku nggak ngerti jalan pikiran orang-orang seperti itu. Kalau kedudukan yang dicapai karena menyingkirkan teman sendiri bagaimana ya rasanya??

Aku benar-benar nggak habis pikir, sampai sekarang sepertinya aku belum menemukan alasan yang tepat mengenai hal itu. Apa tujuan orang bermuka dua? Di depan terlihat baik, bersahaja tapi dibelakang bisa menikam, menjerumuskan, bahkan menyingkirkan. Sekarang difinisi team work itu apa sih? Sepertinya sekarang difinisi "team work" itu menjadi kabur, karena yang namanya "team work" itu segala bentuk beban kerja apapun diperjuangkan bersama, susah bersama senang juga bersama. Kalau sekarang, sepertinya istilah "team work" itu hanya di saat senangnya aja, kalau ada acara makan-makan baru istilah "team work" itu dipakai. Giliran susah, ya...tanggung sendiri bukan "team work" lagi. Sungguh aneh...

Jujur selama pengalaman aku kerja, selalu masalah sikut menyikut itu nggak pernah nggak ada. Memang sih orang kerja itu harus punya goal, itu betul. Cuman untuk mencapai goal tersebut harus dengan cara-cara yang "nggak wajar"? Kenapa harus bersaing dengan tidak sehat? Kalau memang tujuannya untuk menduduki satu posisi penting di perusahaan ya...tunjukin aja capability yang kita punya tanpa harus menjatuhkan orang lain apalagi itu partner kerja kita sendiri.

Menjadi orang yang tersisih itu sangat tidak enak. Seperti orang yang punya penyakit menular yang sangat ganas dan harus disingkirkan, itu bisa jadi pengalaman hidup yang menyakitkan dan bisa membunuh semangat kerja tanpa disadari pihak yang sudah menjegalnya. Padahal ya, menurutku dimanapun kita kerja yang diperlukan selain salary yang bagus juga lingkungan kerja yang sehat dan menyenangkan. Kalau kita kerja di lingkungan yang suasana persaingannya tidak sehat, teman-teman kerjanya juga tidak mendukung, meskipun bayaran yang diterima besar semua itu akan menjadi tidak nyaman. Betul kita harus belajar cuek, yang penting kita tidak menyakiti orang lain dan kita juga tidak disakiti ya...peduli amat. Mungkin untuk sebagian orang bisa bersikap demikian, tapi sebagian lagi... Kalau suasana kerja seperti itu, kita merasa tidak tenang, kita akan merasa was was dan bertanya-tanya kira-kira giliran kita di depak kapan ya?

Apalagi mencari muka di depan atasan, fiuh...benar-benar sudah sangat membudaya di dunia kerja. Bila sudah lengket dengan si bos sepertinya kita akan aman sentosa. Sepertinya bukan kemampuan lagi yang dilihat oleh si bos untuk menaikkan posisi kita tapi, kedekatan pribadilah yang akan melatari semua kenyamanan posisi. Kalau sudah begitu karyawan yang benar-benar cakap dan loyal akan tersingkir.

Sepertinya budaya seperti ini mungkin nggak hanya berlaku di Indonesia, bisa aja terjadi di belahan dunia manapun karena basicly manusia itu tidak pernah puas, selalu ingin mencari sesuatu yang lebih bahkan rela mengorbankan pertemanan, persahabatan, keluarga atau apalah yang penting tujuannya tercapai.

Menurutku keadaan seperti ini miris... Kejujuran, loyalitas, kerja keras udah pasti lewat dari pandangan para atasan bila ada orang "terdekat"-nya yang memberikan sumbangsih lebih. Terus kalo keadaan yang seperti ini orang-orang yang tertindas itu bagaimana ya perlakuannya? Apa ada sangsi tertulis bagi para "penyikut" atau "penjilat"? Menurutku sih, hukum yang ada di dunia kerja itu hukum rimba, siapa yang kuat dialah yang berkuasa. Tapi, disini yang lebih terasa itu kaum yang lemah, mereka akan tersingkir dari komunitasnya dan akhirnya harus menjalani hidup ini apa adanya.

Kenapa ya orang senang dengan hidup yang berbelit-belit? Kenapa sih nggak bisa jalan lurus? Mungkin kalau semua orang berfikir untuk menjalani hidup ini lurus-lurus saja dunia seperti tidak ada warnanya ya...nggak ada tantangannya. Cuman kenapa ya mencari tantangannya harus seperti itu? Kenapa nggak mencari tantangan dengan menunjukkan kreatifitas masing-masing, tunjukin kemampuan yang terbaik, bersainglah secara sehat.

Yah...semua ini adalah opiniku loh. Silahkan menterjemahkan dengan pikiran masing-masing. Berpendapat kan bebas, nggak ada larangan jadi, jangan pernah terpaku pada satu opini carilah opini yang lain atau mungkin bisa menciptakan opini sendiri asal positif.
Aku nggak bermaksud menjatuhkan orang lain, hanya saja menurutku inilah psikologi kerja yang memang terjadi saat ini. Semua kembali pada pribadi masing-masing. Lakukanlah yang terbaik, kalau bisa jangan sampai mengorbankan orang lain.


Tulisan Lainnya:

Tidak ada komentar: