>Menurut aku inti film ini mengangkat tentang kesetiaan dan kepercayaan pada pasangan.

Bisa dilihat bagaimana perjuangan John untuk membebaskan istrinya karena dia yakin istrinya 100% tidak bersalah. Dia sangat mengenal siapa istrinya dari kata-katanya "I know who you are.."

segala cara ditempuh sampai merubah diri dari seorang pria, suami dan ayah yang baik-baik menjadi seorang yang berurusan dengan pistol sampai merancang cara untuk membawa kabur istri dan anaknya.

Mati-matian John bertahan dengan keyakinan istrinya tidak bersalah walaupun istrinya menyerah pasrah. Kebenaran akan menang walaupun terlambat disadari. Salut dengan usaha seorang suami yang bertahan dengan keyakinan dan kebenaran atas pasangannya.

Adegan kejar-kejaran dengan polisi seru, apalagi waktu istrinya mau melepaskan diri dari mobil yang dikendarai John dengan kecepatan tinggi, karena merasa bahwa kabur ga akan menyelesaikan masalah, itu menegangkan.

Akting Russel Crow top, make up artisnya juga oke. Bekas-bekas luka John sampai di akhir film masih tetap nampak. Quite nice movie.
Menurut aku inti film ini mengangkat tentang kesetiaan dan kepercayaan pada pasangan.

Bisa dilihat bagaimana perjuangan John untuk membebaskan istrinya karena dia yakin istrinya 100% tidak bersalah. Dia sangat mengenal siapa istrinya dari kata-katanya "I know who you are.."

segala cara ditempuh sampai merubah diri dari seorang pria, suami dan ayah yang baik-baik menjadi seorang yang berurusan dengan pistol sampai merancang cara untuk membawa kabur istri dan anaknya.

Mati-matian John bertahan dengan keyakinan istrinya tidak bersalah walaupun istrinya menyerah pasrah. Kebenaran akan menang walaupun terlambat disadari. Salut dengan usaha seorang suami yang bertahan dengan keyakinan dan kebenaran atas pasangannya.

Adegan kejar-kejaran dengan polisi seru, apalagi waktu istrinya mau melepaskan diri dari mobil yang dikendarai John dengan kecepatan tinggi, karena merasa bahwa kabur ga akan menyelesaikan masalah, itu menegangkan.

Akting Russel Crow top, make up artisnya juga oke. Bekas-bekas luka John sampai di akhir film masih tetap nampak. Quite nice movie.
>
Last night i was watching National Geographic: The White House Through The Lens, and i'm so amazing with the pictures by Pete Souza. Every moment from the president seems never missed from his sight. The pictures look so natural, without any trick, without arrangement it came spontaneous.

Apologize if i have to admit that Obama is the US president with the sincere smile i ever see. He close with the staff also there's a moment when he spent time to play basket ball together. I guess every momentum of Obama action looks clearly in every shot by Pete Souza.

You have to visit this site: http://www.flickr.com/photos/whitehouse then you will see by yourself every gesture of Obama and Michelle Obama. Not only that you can also see how close the president with his children and the dog, bo.

Every time i see the pictures, i can't stop to say 'wow', 'wonderful', 'gorgeous', 'cool' and the feeling i can express is smile, affected and i guess no need to write down with so many words the pictures can tell us the feeling, the passion from every situation and i'm not sure if Obama much concern with imaging.

If America using pictures of the president life to share to public, what about Indonesia? I don't have any words to say, just visit the site, look by yourself than share with me your opinion. Because for me all the portraits enough to talk.

Last night i was watching National Geographic: The White House Through The Lens, and i'm so amazing with the pictures by Pete Souza. Every moment from the president seems never missed from his sight. The pictures look so natural, without any trick, without arrangement it came spontaneous.

Apologize if i have to admit that Obama is the US president with the sincere smile i ever see. He close with the staff also there's a moment when he spent time to play basket ball together. I guess every momentum of Obama action looks clearly in every shot by Pete Souza.

You have to visit this site: http://www.flickr.com/photos/whitehouse then you will see by yourself every gesture of Obama and Michelle Obama. Not only that you can also see how close the president with his children and the dog, bo.

Every time i see the pictures, i can't stop to say 'wow', 'wonderful', 'gorgeous', 'cool' and the feeling i can express is smile, affected and i guess no need to write down with so many words the pictures can tell us the feeling, the passion from every situation and i'm not sure if Obama much concern with imaging.

If America using pictures of the president life to share to public, what about Indonesia? I don't have any words to say, just visit the site, look by yourself than share with me your opinion. Because for me all the portraits enough to talk.
>Kapal pesiar, kesan pertama yang tertangkap adalah kemewahan, luxurious dan hanya orang2 yg kelebihan uang layak berada di dalamnya. Bagi pekerjanya, kesan yg tertangkap banyak uang dollar, keliling dunia gratis, parfum asli murah, pokoknya mantab lah.

Semua itu adalah kesan pertama saya sebelum membaca buku 'Mabuk Dolar di Kapal Pesiar'. Buku ini adlh rentetan kisah yg tertulis dengan rapinya oleh penulis yg secara langsung menjalani kehidupan sbg pekerja di kapal pesiar Rotterdam, milik Holland American Lines. Bekerja sebagai waiter di kapal pesiar kiranya tidak seenak menjadi waiter di rumah makan. Banyaknya aturan, jam kerja yg menggila (gimana ga gila, sehr bisa kerj 16-20jam), jam istirahat yg kurang, tp di balik pengorbanan itu dolar demi dolar dr tips yg dikumpulkan bisa membantu ekonomi keluarga di tanah air.

Penulis jg memaparkan secara detail perhitungan tips yg bisa didapat juga besaran penghasilan yg di dapat per bulannya. Lalu kita jg disuguhi perbedaan kalo kita bekerja di kapal putih dan kapal biru.

Buku yg terdiri dr 6 bab ini benar2 komplit dimulai dr appetizer (makanan pembuka), jalan2 keliling dunia, pemaparan kerja keras itu dan diakhiri dgn dessert (makanan penutup) yg manis :). Ohya, ada jg selingan cerita2 yg bikin pembaca menelan ludah dan berfantasi :).

Buku ini ditulis oleh Hartono Rakiman, dkk yg lgs menjalani kehidupan keras di atas kapal pesiar dan beliau jg merasakan bgmana menahan rindu dengan keluarga, kekasih di tanah air selama setahun. Banyak kisah suka dan duka yg pastinya dirasakan oleh para crew yg berasal dr mancanegara.

Buat saya buku ini adlh pengetahuan. Ada kisah sejarahnya juga saat penulis memaparkan pengalaman beliau singgah di negara2 spt Seattle, Alaska, pokoknya dgn buku kita bisa keliling dunia jg.

Berangkat dr mimpi utk berlayar menjelajah dunia yg sdh dipendam mas Har sejak kecil, akhirnya beliau dpt mewujudkan mimpinya dan skrng dpt berbagi dengan pembaca sekalian. Mengutip lagu Nidji: "mimpi adalah kunci utuk kita menaklukkan dunia, berlarilah tanpa lelah sampai engkau meraihnya..." -Laskar Pelangi- kalau digabung sambil baca buku ini wah, the right combination. So...don't miss this book, segeralah bergabung untuk mabuk bersama. Intinya percaya pada mimpi, kejar, raih dan nikmati hasilnya. Seberapapun perjuangan yg dibutuhkan untuk mewujudkan mimpi itu jgnlah menyerah, ingat semua itu hanyalah proses dan ujung akhir proses itu yg kita tunggu.

Salam mabuk dolar.
Kapal pesiar, kesan pertama yang tertangkap adalah kemewahan, luxurious dan hanya orang2 yg kelebihan uang layak berada di dalamnya. Bagi pekerjanya, kesan yg tertangkap banyak uang dollar, keliling dunia gratis, parfum asli murah, pokoknya mantab lah.

Semua itu adalah kesan pertama saya sebelum membaca buku 'Mabuk Dolar di Kapal Pesiar'. Buku ini adlh rentetan kisah yg tertulis dengan rapinya oleh penulis yg secara langsung menjalani kehidupan sbg pekerja di kapal pesiar Rotterdam, milik Holland American Lines. Bekerja sebagai waiter di kapal pesiar kiranya tidak seenak menjadi waiter di rumah makan. Banyaknya aturan, jam kerja yg menggila (gimana ga gila, sehr bisa kerj 16-20jam), jam istirahat yg kurang, tp di balik pengorbanan itu dolar demi dolar dr tips yg dikumpulkan bisa membantu ekonomi keluarga di tanah air.

Penulis jg memaparkan secara detail perhitungan tips yg bisa didapat juga besaran penghasilan yg di dapat per bulannya. Lalu kita jg disuguhi perbedaan kalo kita bekerja di kapal putih dan kapal biru.

Buku yg terdiri dr 6 bab ini benar2 komplit dimulai dr appetizer (makanan pembuka), jalan2 keliling dunia, pemaparan kerja keras itu dan diakhiri dgn dessert (makanan penutup) yg manis :). Ohya, ada jg selingan cerita2 yg bikin pembaca menelan ludah dan berfantasi :).

Buku ini ditulis oleh Hartono Rakiman, dkk yg lgs menjalani kehidupan keras di atas kapal pesiar dan beliau jg merasakan bgmana menahan rindu dengan keluarga, kekasih di tanah air selama setahun. Banyak kisah suka dan duka yg pastinya dirasakan oleh para crew yg berasal dr mancanegara.

Buat saya buku ini adlh pengetahuan. Ada kisah sejarahnya juga saat penulis memaparkan pengalaman beliau singgah di negara2 spt Seattle, Alaska, pokoknya dgn buku kita bisa keliling dunia jg.

Berangkat dr mimpi utk berlayar menjelajah dunia yg sdh dipendam mas Har sejak kecil, akhirnya beliau dpt mewujudkan mimpinya dan skrng dpt berbagi dengan pembaca sekalian. Mengutip lagu Nidji: "mimpi adalah kunci utuk kita menaklukkan dunia, berlarilah tanpa lelah sampai engkau meraihnya..." -Laskar Pelangi- kalau digabung sambil baca buku ini wah, the right combination. So...don't miss this book, segeralah bergabung untuk mabuk bersama. Intinya percaya pada mimpi, kejar, raih dan nikmati hasilnya. Seberapapun perjuangan yg dibutuhkan untuk mewujudkan mimpi itu jgnlah menyerah, ingat semua itu hanyalah proses dan ujung akhir proses itu yg kita tunggu.

Salam mabuk dolar.
>Judul asli bahasa inggrisnya Eat, Pray, Love. Film ini based on best seller novel dengan judul yg sama dimana ini adalah kisah nyata dari penulisnya, Elizabeth Gilbert. Saya mengenal buku ini beberapa tahun yg lalu lewat acara Oprah Winfrey dan tak berapa lama berselang teman saya meminjamkan buku ini. Sayang saya tidak tamat membacanya.

Lewat filmnya saya kembali mengingat-ingat cerita yang pernah saya baca. Cerita dimana seorang Liz Gilbert, penulis yg sedang mencari ttg apa yg diinginkannya dalam hidup.

Eat (makan), setelah sekian lama tidak merasakan enaknya makan, Liz memutuskan untuk pergi ke Italy. Italy sperti yg kita tahu adalah surga makanan, mulai dari berbagai macam jenis olahan pasta, pizza bahkan sampai minuman kopi nya yg kita kenal dgn cappucino, machiato dpt kita nikmati. Setelah makanan fisik terpenuhi, Liz pun menjelajah lagi mencari makanan rohani.

Pray (doa),
Dalam hal ini Liz seperti mempunyai kegamangan dalam hidupnya. Dia merasa hubungan tak kasat mata dengan Tuhannya menggiring Liz untuk mencari ketenangan dalam hidup. Untuk urusan spiritual Liz memilih India dan mengikuti sesi2 yoga untuk merileks kan pikirannya. Mencari tahu suara hatinya untuk melanjutkan hubungan dengan pacarnya atau tidak.

Love (cinta),
kegalauan, kegamangan Liz akan pasangan hidup akhirnya terjawab di Bali. Pilihannya jatuh pada seorang pengusaha, single parent. In the end happy ending :).

Intinya just listen to your heart and follow it, karena suara hati itu tak pernah salah dan tetap jangan lupa berdoa untuk minta petunjuk dariNya. Dan saya suka akting Julia Robert, pas skali untuk memerankan Liz Gilbert.
Judul asli bahasa inggrisnya Eat, Pray, Love. Film ini based on best seller novel dengan judul yg sama dimana ini adalah kisah nyata dari penulisnya, Elizabeth Gilbert. Saya mengenal buku ini beberapa tahun yg lalu lewat acara Oprah Winfrey dan tak berapa lama berselang teman saya meminjamkan buku ini. Sayang saya tidak tamat membacanya.

Lewat filmnya saya kembali mengingat-ingat cerita yang pernah saya baca. Cerita dimana seorang Liz Gilbert, penulis yg sedang mencari ttg apa yg diinginkannya dalam hidup.

Eat (makan), setelah sekian lama tidak merasakan enaknya makan, Liz memutuskan untuk pergi ke Italy. Italy sperti yg kita tahu adalah surga makanan, mulai dari berbagai macam jenis olahan pasta, pizza bahkan sampai minuman kopi nya yg kita kenal dgn cappucino, machiato dpt kita nikmati. Setelah makanan fisik terpenuhi, Liz pun menjelajah lagi mencari makanan rohani.

Pray (doa),
Dalam hal ini Liz seperti mempunyai kegamangan dalam hidupnya. Dia merasa hubungan tak kasat mata dengan Tuhannya menggiring Liz untuk mencari ketenangan dalam hidup. Untuk urusan spiritual Liz memilih India dan mengikuti sesi2 yoga untuk merileks kan pikirannya. Mencari tahu suara hatinya untuk melanjutkan hubungan dengan pacarnya atau tidak.

Love (cinta),
kegalauan, kegamangan Liz akan pasangan hidup akhirnya terjawab di Bali. Pilihannya jatuh pada seorang pengusaha, single parent. In the end happy ending :).

Intinya just listen to your heart and follow it, karena suara hati itu tak pernah salah dan tetap jangan lupa berdoa untuk minta petunjuk dariNya. Dan saya suka akting Julia Robert, pas skali untuk memerankan Liz Gilbert.
>Kata 'cuek' bisa diartikan diam atau tidak acuh. Kalau ditambah awalan 'di' menjadi dicuekin, berarti didiamkan atau tidak diacuhkan sama sekali.

Tidak menyenangkan, menyebalkan kalau dicuekin apalagi kalau dicuekin tanpa sebab yg jelas, semua menjadi serba salah.

Dalam pertemanan, persahabatan hal2 spt itu terkadang bisa muncul dan itu sangat menganggu. Dicuekin tanpa sebab, siapa yang mau? Semua rata2 tidak ada yg mau dicuekin tanpa sebab.

Well...salah satu caranya yaitu berdamai dgn kata cuek itu. Meminta maaf dan bila tetap tidak ada perubahan dari pihak yg nyuekin ya...diikhlaskan saja. Semoga aja per-cuekan ini segera berakhir.

Salam cuek.
Kata 'cuek' bisa diartikan diam atau tidak acuh. Kalau ditambah awalan 'di' menjadi dicuekin, berarti didiamkan atau tidak diacuhkan sama sekali.

Tidak menyenangkan, menyebalkan kalau dicuekin apalagi kalau dicuekin tanpa sebab yg jelas, semua menjadi serba salah.

Dalam pertemanan, persahabatan hal2 spt itu terkadang bisa muncul dan itu sangat menganggu. Dicuekin tanpa sebab, siapa yang mau? Semua rata2 tidak ada yg mau dicuekin tanpa sebab.

Well...salah satu caranya yaitu berdamai dgn kata cuek itu. Meminta maaf dan bila tetap tidak ada perubahan dari pihak yg nyuekin ya...diikhlaskan saja. Semoga aja per-cuekan ini segera berakhir.

Salam cuek.
>Kemarin sore ada kejadian yang membuat saya senyum2 sendiri di kantor.

Tiga rekan saya berfoto untuk pembuatan ID card di gedung baru (karena kami mau pindah gedung), foto yang berbackground dinding kantor juga tak luput dari manager tim kami. Dengan poni yang dijepit ke belakang dan kacamata tebalnya beliau berdiri tegak menyiapkan diri.

Hanya saja sebelum di foto beliau berceloteh,
"Masih mengkilap ga? (wajahnya)
kacamatanya miring ga? Bahunya udah rata belum?" hehehe...celotehannya mengingatkanku pada sosok pemimpin negara ini yang menurut mantan wartawan kepresidenan adalah seorang perfeksionis.

Memakai peci miring saja sudah membuatnya gelisah barangkali dan benar2 ingin terlihat sempurna di mata rakyatnya. Kejadian kemarin sore itu seperti repetisi buat saya. Apakah menjadi seorang pemimpin itu harus perfeksionis? Apakah ke-kritisannya pada hal2 kecil di penampilan menjadi satu titik sorot yang tidak boleh bercela? Apakah seseorang yang tadinya biasa2 saja ketika menjadi pemimpin tiba2 bisa menjadi seorang perfeksionis? Hanya yang bersangkutan yang tahu :)
Kemarin sore ada kejadian yang membuat saya senyum2 sendiri di kantor.

Tiga rekan saya berfoto untuk pembuatan ID card di gedung baru (karena kami mau pindah gedung), foto yang berbackground dinding kantor juga tak luput dari manager tim kami. Dengan poni yang dijepit ke belakang dan kacamata tebalnya beliau berdiri tegak menyiapkan diri.

Hanya saja sebelum di foto beliau berceloteh,
"Masih mengkilap ga? (wajahnya)
kacamatanya miring ga? Bahunya udah rata belum?" hehehe...celotehannya mengingatkanku pada sosok pemimpin negara ini yang menurut mantan wartawan kepresidenan adalah seorang perfeksionis.

Memakai peci miring saja sudah membuatnya gelisah barangkali dan benar2 ingin terlihat sempurna di mata rakyatnya. Kejadian kemarin sore itu seperti repetisi buat saya. Apakah menjadi seorang pemimpin itu harus perfeksionis? Apakah ke-kritisannya pada hal2 kecil di penampilan menjadi satu titik sorot yang tidak boleh bercela? Apakah seseorang yang tadinya biasa2 saja ketika menjadi pemimpin tiba2 bisa menjadi seorang perfeksionis? Hanya yang bersangkutan yang tahu :)
>Sepertinya saya akan tuntaskan tulisan mas Inu tentang pak Beye di bulan Oktober 2008, karena di bulan2 berikutnya tulisan mas Inu banyak sekali dan bila saya uraikan satu per satu akan menjadi berbuku-buku seperti yg nantinya akan diterbitkan.

20 Okt 2008, Demokrat Tanpa Pak Beye.
Tidak terbayangkan bagaimana jadinya Demokrat tanpa pak Beye. Lagi2 pak Beye sangat bertekad untuk maju lagi di putaran pilpres 2009. Ternyata pak Beye ini diam2 seorang musisi juga. Sejumlah lagu beliau hasilkan untuk partainya. Yang menarik lagi yaitu slogan ulang tahun ke-7 partai demokrat "tujuh tahun demokrat bersama SBY berjuang untuk rakyat." Kalau diinterpretasi ke thn 2010 ini, masihkah beliau dan demokrat berjuang untuk rakyat?

22 Okt 2008, Pak Beye dan Koleksi Batik Birunya.
Begitu cintanya beliau dengan partai demokrat (pastinya, karena beliau pendirinya :)) sampai koleksi batikpun senada dgn warna lambang partainya. Bahkan paspampres pun ikut berganti warna. Menarik sekali mas Inu..

23 Okt 2008, Tinju Maya Pak Beye dan Pak Kalla.
Mengibaratkan pilpres 2009 sebagai ajang bertinju. Pak Beye ibarat siapa ya? Mike Tyson? Hmm..rasa2nya pak Beye bukan tipe orang yg akan menggigit lawan politiknya secara terang2an. Sepertinya isu kerenggangan antara pak Beye dan pak Kalla makin santer jelang pilpres 2009 dengan pak Kalla sbg rival beliau berpasangan dgn Wiranto.

30 Okt 2008, Aulia dan Berkah Yang Dibawanya.
Tidak ikut campurnya pak Beye atas kasus Aulia Pohan pada waktu itu menunjukkan bahwa pak Beye serius ingin memberantas korupsi. Tapi sekarang? Sepertinya gaung2 berantas korupsi melemah dengan maju mundurnya kasus century.

Saya akan membeli bukunya dan kemudian akan saya tulis kembali sebagai referensi pribadi.

Beruntung tulisan2 mas Inu tentang ke-gelisahannya berlangsung di era reformasi, andai saja tulisan seperti ini beredar di era Soeharto, bisa2 mas Inu diciduk.

Saya juga sebenarnya gelisah seperti mas Inu, hanya saja tidak tahu mengungkapkannya seperti bahasa2 penulisan mas Inu. Yang pasti saya juga miris melihat pemerintahan SBY jilid II ini, makin ga jelas mau kemana sebenarnya negeri ini.
Sepertinya saya akan tuntaskan tulisan mas Inu tentang pak Beye di bulan Oktober 2008, karena di bulan2 berikutnya tulisan mas Inu banyak sekali dan bila saya uraikan satu per satu akan menjadi berbuku-buku seperti yg nantinya akan diterbitkan.

20 Okt 2008, Demokrat Tanpa Pak Beye.
Tidak terbayangkan bagaimana jadinya Demokrat tanpa pak Beye. Lagi2 pak Beye sangat bertekad untuk maju lagi di putaran pilpres 2009. Ternyata pak Beye ini diam2 seorang musisi juga. Sejumlah lagu beliau hasilkan untuk partainya. Yang menarik lagi yaitu slogan ulang tahun ke-7 partai demokrat "tujuh tahun demokrat bersama SBY berjuang untuk rakyat." Kalau diinterpretasi ke thn 2010 ini, masihkah beliau dan demokrat berjuang untuk rakyat?

22 Okt 2008, Pak Beye dan Koleksi Batik Birunya.
Begitu cintanya beliau dengan partai demokrat (pastinya, karena beliau pendirinya :)) sampai koleksi batikpun senada dgn warna lambang partainya. Bahkan paspampres pun ikut berganti warna. Menarik sekali mas Inu..

23 Okt 2008, Tinju Maya Pak Beye dan Pak Kalla.
Mengibaratkan pilpres 2009 sebagai ajang bertinju. Pak Beye ibarat siapa ya? Mike Tyson? Hmm..rasa2nya pak Beye bukan tipe orang yg akan menggigit lawan politiknya secara terang2an. Sepertinya isu kerenggangan antara pak Beye dan pak Kalla makin santer jelang pilpres 2009 dengan pak Kalla sbg rival beliau berpasangan dgn Wiranto.

30 Okt 2008, Aulia dan Berkah Yang Dibawanya.
Tidak ikut campurnya pak Beye atas kasus Aulia Pohan pada waktu itu menunjukkan bahwa pak Beye serius ingin memberantas korupsi. Tapi sekarang? Sepertinya gaung2 berantas korupsi melemah dengan maju mundurnya kasus century.

Saya akan membeli bukunya dan kemudian akan saya tulis kembali sebagai referensi pribadi.

Beruntung tulisan2 mas Inu tentang ke-gelisahannya berlangsung di era reformasi, andai saja tulisan seperti ini beredar di era Soeharto, bisa2 mas Inu diciduk.

Saya juga sebenarnya gelisah seperti mas Inu, hanya saja tidak tahu mengungkapkannya seperti bahasa2 penulisan mas Inu. Yang pasti saya juga miris melihat pemerintahan SBY jilid II ini, makin ga jelas mau kemana sebenarnya negeri ini.
>Melanjut tulisan mas Inu tentang pak Beye selama Oktober 2008.

3 Okt 2008, Open House di Tahun Politik.
Mas Inu menyoroti open house yg kali ini pak Beye dikunjungi tamu istimewa, yaitu Gus Dur. Pak Beye juga mengatakan janji kampanye pemilu 2004 akan diulangi utk disempurnakan dlm kampanye 2009. Tp semua janji tinggal janji, biasanya kan semua calon pemimpin yg sdng berkampanye byk mengobral janji (pendpt saya loh bukan mas Inu :))

4 Okt 2008, Kisah Audi Baru di Istana.
Ckckck..decak kagum saya dgn moda transportasi yg mejeng di istana dan yg dimiliki oleh pejabat2 negara sampai anak bungsu pak Beye. Pdhal rakyat bwh tidak mau tahu soal mobil2 mwah itu, mereka hanya ingin keadilan dan perut mereka dpt terisi dgn layak.

6 Okt 2008, Melihat Pak Beye Gak Pede.
Ternyt pak Beye ga pede dgn perintahnya sendiri utk mengkampanyekan secara besar2an utk mengkonsumsi produk dalam negeri, sementara menurut mas Inu persentase barang2 yg melekat di tubuh para pejabat tdk lbh 40% produk dlm negeri. Hehehe..

9 Okt 2008, Laskar Pelangi dan Laskar Pacitan.
Hmm..ide yg bagus mas Inu jika sisi perjalanan masa muda pak Beye difilmkan. Pasti seluruh pendukungnya akan setuju dan rakyat menjadi tahu spt apa SBY muda :) *bs dipakai utk mencari simpatisan di pemilu pilpres 2014.

10 Okt 2008, Meredupnya Sorot Kamera.
Sampai perlu ber "drama" utk mencalonkan diri kembali sebagai capres 2009. Kalau di-drama begini, bgmana rakyat bisa yakin dgn pemerntahannya?

12 Okt 2008, Senyum Sempurna di Tahun Politik.
Mas Inu ini org yg teliti, sampai tahi lalat pak Beye pun beliau perhatikan. Membaca isinya terasa sekali aroma kampanye pak Beye. Hmm..masa jabatan belum berakhir, kuda2 kampanye sdh disiapkan.

15 Okt 2008, Cara Mencari Pak Beye.
Ternyt begitu ya kalau cari dukungan suara, sampai blesek2 ke tmpt yg tdk pernah dikunjungi sebelumnya. Bendera partai menjd pertanda keberadaan pak Beye. Apakah beliau akan berlaku sama utk 2014?

17 Okt 2008, Pak Beye "update".
Lagi2 upaya pak Beye mencari dukungan dilancarkan, kali ini mendekati media, sehingga beliau kerap muncul di layar kaca bak artis yg mempopulerkan namanya. *persiapan jelang pilpres 2009.
Melanjut tulisan mas Inu tentang pak Beye selama Oktober 2008.

3 Okt 2008, Open House di Tahun Politik.
Mas Inu menyoroti open house yg kali ini pak Beye dikunjungi tamu istimewa, yaitu Gus Dur. Pak Beye juga mengatakan janji kampanye pemilu 2004 akan diulangi utk disempurnakan dlm kampanye 2009. Tp semua janji tinggal janji, biasanya kan semua calon pemimpin yg sdng berkampanye byk mengobral janji (pendpt saya loh bukan mas Inu :))

4 Okt 2008, Kisah Audi Baru di Istana.
Ckckck..decak kagum saya dgn moda transportasi yg mejeng di istana dan yg dimiliki oleh pejabat2 negara sampai anak bungsu pak Beye. Pdhal rakyat bwh tidak mau tahu soal mobil2 mwah itu, mereka hanya ingin keadilan dan perut mereka dpt terisi dgn layak.

6 Okt 2008, Melihat Pak Beye Gak Pede.
Ternyt pak Beye ga pede dgn perintahnya sendiri utk mengkampanyekan secara besar2an utk mengkonsumsi produk dalam negeri, sementara menurut mas Inu persentase barang2 yg melekat di tubuh para pejabat tdk lbh 40% produk dlm negeri. Hehehe..

9 Okt 2008, Laskar Pelangi dan Laskar Pacitan.
Hmm..ide yg bagus mas Inu jika sisi perjalanan masa muda pak Beye difilmkan. Pasti seluruh pendukungnya akan setuju dan rakyat menjadi tahu spt apa SBY muda :) *bs dipakai utk mencari simpatisan di pemilu pilpres 2014.

10 Okt 2008, Meredupnya Sorot Kamera.
Sampai perlu ber "drama" utk mencalonkan diri kembali sebagai capres 2009. Kalau di-drama begini, bgmana rakyat bisa yakin dgn pemerntahannya?

12 Okt 2008, Senyum Sempurna di Tahun Politik.
Mas Inu ini org yg teliti, sampai tahi lalat pak Beye pun beliau perhatikan. Membaca isinya terasa sekali aroma kampanye pak Beye. Hmm..masa jabatan belum berakhir, kuda2 kampanye sdh disiapkan.

15 Okt 2008, Cara Mencari Pak Beye.
Ternyt begitu ya kalau cari dukungan suara, sampai blesek2 ke tmpt yg tdk pernah dikunjungi sebelumnya. Bendera partai menjd pertanda keberadaan pak Beye. Apakah beliau akan berlaku sama utk 2014?

17 Okt 2008, Pak Beye "update".
Lagi2 upaya pak Beye mencari dukungan dilancarkan, kali ini mendekati media, sehingga beliau kerap muncul di layar kaca bak artis yg mempopulerkan namanya. *persiapan jelang pilpres 2009.
>Jangan salah tafsir dulu tentang judul tulisan saya ini. Saya menulis judul seperti ini dikarenakan Wisnu Nugroho (mas Inu-sapaan akrabnya) adalah wartawan KOMPAS sekaligus kompasianer paling aktif, pernah bertugas meliput kegiatan2 presiden SBY selama satu periode masa jabatan beliau (2004-2009).

Entah akan berapa seri tulisan saya ini terkait tulisan mas Inu di kompasiana yang sekiranya akan menjadi catatan pribadi saya sendiri tentang kehidupan istana dan pak Beye (panggilan mas Inu untuk pak SBY). Mas Inu sendiri sudah meluncurkan 2 buku dari tetralogi sisi lain SBY, yaitu Pak Beye dan Istananya, Pak Beye dan Politiknya.

Tulisan2 dalam buku tersebut adlh gabungan tulisan2 mas Inu di kompasiana sejak beliau gabung September 2008. Saya pun akan merinci tulisan2 mas Inu seputar pak Beye dalam catatan saya.

Secara pribadi saya belum pernah bertemu atau ngobrol secara langsung dengan mas Inu, hanya di kompasiana beliau ada di list teman saya :). Saya pun baru tahu beliau lulusan filsafat dari sepenggal kecil tulisan tentang penulis di halaman belakang buku pertamanya. Yang saya tahu beliau adalah wartawan KOMPAS.

Berikut catatan yang akan saya mulai.

15 Sept 2008, Kisah Pak Beye, Super Toy dan Super HL.
Menceritakan tentang kasus Blue Energy yg masih menjadi misteri.

16 Sept 2008, Mencari Cesare Paciotti.
Ini cerita yg menurut saya jg lucu. Pejabat yg kala itu dtng ke istana utk buka puasa bersama, melepaskan sepatunya dan dibungkus dgn kantong plastik. Sampai segitunya para pejabat menyembunyikan merek sepatu yg dikenakan? Maksudnya apa coba?

22 Sept 2008, Pak Beye Kehilangan Almira.
Ini momen mengharukan bagi pak Beye krn harus kehilangan cucu pertamanya yg diboyong orang tuanya ke Karawang. Rupanya selain sebagai kepala negara beliau juga menikmati perannya sebagai kakek :)

23 Sept 2008, "Lapangan Golf" pak Beye.
Mas Inu mengulas tentang kegemaran pak Beye berolah raga. Sampai2 halaman tengah istana negarapun dijadikan lapangan golf mini. Hmmm...

29 Sept 2008, Menunggu Pak Beye Bertinju.
Cerita tentang keinginan pak Beye menjadi capres 2009. Pernyataan mas Inu, "Agak aneh, gagal mewujudkan janji dalam lima tahun kok masih mencalonkan lagi?" saya setuju. Yg jadi pertanyaan kalau periode ke-2 pak Beye masih gagal, apakah beliau masih akan mencalonkan lg di pemilu 2014 dgn dalih untuk memperbaiki?

30 Sept 2008, Dari Mana Pak Beye Berasal?
Waktu membaca judulnya, saya pikir mas Inu akan bercerita tentang asal usul pak Beye yg berasal dari Pacitan, tp ternyata mas Inu bercerita ttg panggilan pak "Beye" berasal :), yaitu dari seorang petani miskin di Cikeas Udik yg tinggal di belakang Puri Cikeas, pak Mayar namanya.

Inilah tulisan2 mas Inu selama bulan September. Bagaimana di bulan berikutnya?
Jangan salah tafsir dulu tentang judul tulisan saya ini. Saya menulis judul seperti ini dikarenakan Wisnu Nugroho (mas Inu-sapaan akrabnya) adalah wartawan KOMPAS sekaligus kompasianer paling aktif, pernah bertugas meliput kegiatan2 presiden SBY selama satu periode masa jabatan beliau (2004-2009).

Entah akan berapa seri tulisan saya ini terkait tulisan mas Inu di kompasiana yang sekiranya akan menjadi catatan pribadi saya sendiri tentang kehidupan istana dan pak Beye (panggilan mas Inu untuk pak SBY). Mas Inu sendiri sudah meluncurkan 2 buku dari tetralogi sisi lain SBY, yaitu Pak Beye dan Istananya, Pak Beye dan Politiknya.

Tulisan2 dalam buku tersebut adlh gabungan tulisan2 mas Inu di kompasiana sejak beliau gabung September 2008. Saya pun akan merinci tulisan2 mas Inu seputar pak Beye dalam catatan saya.

Secara pribadi saya belum pernah bertemu atau ngobrol secara langsung dengan mas Inu, hanya di kompasiana beliau ada di list teman saya :). Saya pun baru tahu beliau lulusan filsafat dari sepenggal kecil tulisan tentang penulis di halaman belakang buku pertamanya. Yang saya tahu beliau adalah wartawan KOMPAS.

Berikut catatan yang akan saya mulai.

15 Sept 2008, Kisah Pak Beye, Super Toy dan Super HL.
Menceritakan tentang kasus Blue Energy yg masih menjadi misteri.

16 Sept 2008, Mencari Cesare Paciotti.
Ini cerita yg menurut saya jg lucu. Pejabat yg kala itu dtng ke istana utk buka puasa bersama, melepaskan sepatunya dan dibungkus dgn kantong plastik. Sampai segitunya para pejabat menyembunyikan merek sepatu yg dikenakan? Maksudnya apa coba?

22 Sept 2008, Pak Beye Kehilangan Almira.
Ini momen mengharukan bagi pak Beye krn harus kehilangan cucu pertamanya yg diboyong orang tuanya ke Karawang. Rupanya selain sebagai kepala negara beliau juga menikmati perannya sebagai kakek :)

23 Sept 2008, "Lapangan Golf" pak Beye.
Mas Inu mengulas tentang kegemaran pak Beye berolah raga. Sampai2 halaman tengah istana negarapun dijadikan lapangan golf mini. Hmmm...

29 Sept 2008, Menunggu Pak Beye Bertinju.
Cerita tentang keinginan pak Beye menjadi capres 2009. Pernyataan mas Inu, "Agak aneh, gagal mewujudkan janji dalam lima tahun kok masih mencalonkan lagi?" saya setuju. Yg jadi pertanyaan kalau periode ke-2 pak Beye masih gagal, apakah beliau masih akan mencalonkan lg di pemilu 2014 dgn dalih untuk memperbaiki?

30 Sept 2008, Dari Mana Pak Beye Berasal?
Waktu membaca judulnya, saya pikir mas Inu akan bercerita tentang asal usul pak Beye yg berasal dari Pacitan, tp ternyata mas Inu bercerita ttg panggilan pak "Beye" berasal :), yaitu dari seorang petani miskin di Cikeas Udik yg tinggal di belakang Puri Cikeas, pak Mayar namanya.

Inilah tulisan2 mas Inu selama bulan September. Bagaimana di bulan berikutnya?
>Siapa yg tidak kenal lagu 'Hero' yg dipopulerkan oleh Mariah Carey, lagu ini bercerita tentang seorang manusia yg tidak boleh pesimis menghadapi hidup. Apapun dan bagaimanapun keadaan kita, kita harus tetap berjuang menaklukkan hidup.

Bagi orang2 yg memiliki keterbatasan secara fisik (tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunadaksa) biasanya mempunyai rasa minder dan pesimis untuk menghadapi hidup. Hal ini bisa disebabkan oleh faktor lingkungan yg memandang sebelah mata orang2 yg memiliki keterbatasan secara fisik (difabel=different abilities). Padahal para difabel ini bisa melahirkan prestasi yg tak kalah dari orang2 normal. Contohnya saja, Sukrawan seorang tunanetra asal Bali memiliki keahlian dalam menabuh drum, alm. Gizka (putri Dewi Yull) tunarungu yg pandai melukis, Hirotada Ototake tunadaksa (tanpa tangan dan kaki) seorang penulis dari Jepang dan bukunya begitu menginspirasi, Stevie Wonder dan Ray Charles penyanyi tunanetra yg legendaris di Hollywood.

Orang2 difabel ini lebih bisa mandiri dan tidak mau dikasihani begitu saja hanya karena keterbatasan yg mereka miliki. Justru aku sedih dengan org2 difabel yg pesimis, merasa hanya menjadi sampah masyarakat dan meratapi keadaannya tanpa berbuat sesuatu, pdhal banyak hal yg bisa dikerjakan walaupun ruang gerak mereka terbatasi. Semua memang tergantung kepada individu masing2, siapa yg mau berkembang dan maju mereka akan berusaha apapun caranya.

Aku suka refrain lagu 'Hero' itu:
"And then the hero comes along, with the strength to carry on. And you cast your fears aside and you know you can survive. So when you feel like hope is gone, look inside you and be strong. And you'll finally see the truth, that a hero lies in you.." Jadi kita tidak boleh menyerah, bertahan dan jadilah tangguh sekalipun fisik terbatas, karena dibalik keterbatasan itu terdapat kelebihan.

Mungkin dalam hal pekerjaan reguler (kantoran) mereka tidak bisa bersaing, tp mereka bisa berwiraswasta, berprestasi dalam seni maupun olah raga. Tp aku salut ya sama salah satu restoran frenchaise yg terkenal di Jakarta mau mempekerjakan orang2 difabel, memang posisi mereka tidak ditempatkan dibagian yg berinteraksi dengan konsumen tp paling tidak mereka bisa bekerja di bagian dapurnya.

Tuhan memberikan keterbatasan ini bukan untuk disesali ataupun menjadikan protes pada Sang Pencipta melainkan untuk menunjukkan kebesaran Tuhan. Jadi sikapilah keterbatasan yg dimiliki secara positif, mudah2an dalam menjalani hidup pun akan selalu menghasilkan yang positif. Jangan jadikan keterbatasan itu sebagai suatu penghalang karena, dengan begitu hidup pun tidak akan maju dan hanya menghasilkan ke-negatif-an.
Siapa yg tidak kenal lagu 'Hero' yg dipopulerkan oleh Mariah Carey, lagu ini bercerita tentang seorang manusia yg tidak boleh pesimis menghadapi hidup. Apapun dan bagaimanapun keadaan kita, kita harus tetap berjuang menaklukkan hidup.

Bagi orang2 yg memiliki keterbatasan secara fisik (tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunadaksa) biasanya mempunyai rasa minder dan pesimis untuk menghadapi hidup. Hal ini bisa disebabkan oleh faktor lingkungan yg memandang sebelah mata orang2 yg memiliki keterbatasan secara fisik (difabel=different abilities). Padahal para difabel ini bisa melahirkan prestasi yg tak kalah dari orang2 normal. Contohnya saja, Sukrawan seorang tunanetra asal Bali memiliki keahlian dalam menabuh drum, alm. Gizka (putri Dewi Yull) tunarungu yg pandai melukis, Hirotada Ototake tunadaksa (tanpa tangan dan kaki) seorang penulis dari Jepang dan bukunya begitu menginspirasi, Stevie Wonder dan Ray Charles penyanyi tunanetra yg legendaris di Hollywood.

Orang2 difabel ini lebih bisa mandiri dan tidak mau dikasihani begitu saja hanya karena keterbatasan yg mereka miliki. Justru aku sedih dengan org2 difabel yg pesimis, merasa hanya menjadi sampah masyarakat dan meratapi keadaannya tanpa berbuat sesuatu, pdhal banyak hal yg bisa dikerjakan walaupun ruang gerak mereka terbatasi. Semua memang tergantung kepada individu masing2, siapa yg mau berkembang dan maju mereka akan berusaha apapun caranya.

Aku suka refrain lagu 'Hero' itu:
"And then the hero comes along, with the strength to carry on. And you cast your fears aside and you know you can survive. So when you feel like hope is gone, look inside you and be strong. And you'll finally see the truth, that a hero lies in you.." Jadi kita tidak boleh menyerah, bertahan dan jadilah tangguh sekalipun fisik terbatas, karena dibalik keterbatasan itu terdapat kelebihan.

Mungkin dalam hal pekerjaan reguler (kantoran) mereka tidak bisa bersaing, tp mereka bisa berwiraswasta, berprestasi dalam seni maupun olah raga. Tp aku salut ya sama salah satu restoran frenchaise yg terkenal di Jakarta mau mempekerjakan orang2 difabel, memang posisi mereka tidak ditempatkan dibagian yg berinteraksi dengan konsumen tp paling tidak mereka bisa bekerja di bagian dapurnya.

Tuhan memberikan keterbatasan ini bukan untuk disesali ataupun menjadikan protes pada Sang Pencipta melainkan untuk menunjukkan kebesaran Tuhan. Jadi sikapilah keterbatasan yg dimiliki secara positif, mudah2an dalam menjalani hidup pun akan selalu menghasilkan yang positif. Jangan jadikan keterbatasan itu sebagai suatu penghalang karena, dengan begitu hidup pun tidak akan maju dan hanya menghasilkan ke-negatif-an.
>Teringat lagu 'I Love You Daddy' yg dinyanyiin Ricardo&Friends, aku selalu sedih kalo nyanyiin lagu ini, air mata pasti mengalir. Lirik lagunya dalem banget dimana seorang ayah itu yg mengajar kita berdoa, bermain dan menjd pemandu di dlm gelap.

Di negeri barat merayakan hari ibu dan juga hari ayah, sementara di Indonesia hanya merayakan hari ibu. Menurut aku peran ayah itu tidak kalah pentingnya. Pendidikan budi pekerti seorang anak itu diajarkan oleh orang tua, ibu dan ayah, tidak hanya berat pada seorang ibu.

Dalam sebuah keluarga tugas orang tua dalam mendidik anak2nya harus seimbang. Memang tugas ayah dalam keluarga sebagai kepala rumah, juga tidak boleh lupa perannya sebagai pendidik mendampingi ibu. Karena tingkah polah anak adalah cerminan didikan orang tua.

Aku salut sama papaku, beliau itu sabar, tegas dan tegar. Beliau hampir tidak pernah mengeluh menghadapi pahit manisnya hidup. Kesetiaan beliau nungguin mama di rmh sakit sampai ketegaran beliau menghadapi kematian mama membuat aku juga tegar melepas mama menghadap Sang Khalik. Menurutku kisah pak Habibie dan alm. Ibu Ainun sama seperti orang tuaku.

Papa adalah tiangku, pilar hidupku di dunia ini. Karena itu setiap kali aku nyanyi lagu 'I Love You Daddy' itu aku pasti menangis. But, i never stop trying to be your number one, i will be my daddy's girl..

Di usianya yg semakin senja tidak pernah beliau berhenti menjaga aku dan adikku. Pokoknya buat kami his number one, dan aku semaksimal mungkin membahagiakannya.

I love you daddy...you always in my heart and you are my hero and superstar..
Teringat lagu 'I Love You Daddy' yg dinyanyiin Ricardo&Friends, aku selalu sedih kalo nyanyiin lagu ini, air mata pasti mengalir. Lirik lagunya dalem banget dimana seorang ayah itu yg mengajar kita berdoa, bermain dan menjd pemandu di dlm gelap.

Di negeri barat merayakan hari ibu dan juga hari ayah, sementara di Indonesia hanya merayakan hari ibu. Menurut aku peran ayah itu tidak kalah pentingnya. Pendidikan budi pekerti seorang anak itu diajarkan oleh orang tua, ibu dan ayah, tidak hanya berat pada seorang ibu.

Dalam sebuah keluarga tugas orang tua dalam mendidik anak2nya harus seimbang. Memang tugas ayah dalam keluarga sebagai kepala rumah, juga tidak boleh lupa perannya sebagai pendidik mendampingi ibu. Karena tingkah polah anak adalah cerminan didikan orang tua.

Aku salut sama papaku, beliau itu sabar, tegas dan tegar. Beliau hampir tidak pernah mengeluh menghadapi pahit manisnya hidup. Kesetiaan beliau nungguin mama di rmh sakit sampai ketegaran beliau menghadapi kematian mama membuat aku juga tegar melepas mama menghadap Sang Khalik. Menurutku kisah pak Habibie dan alm. Ibu Ainun sama seperti orang tuaku.

Papa adalah tiangku, pilar hidupku di dunia ini. Karena itu setiap kali aku nyanyi lagu 'I Love You Daddy' itu aku pasti menangis. But, i never stop trying to be your number one, i will be my daddy's girl..

Di usianya yg semakin senja tidak pernah beliau berhenti menjaga aku dan adikku. Pokoknya buat kami his number one, dan aku semaksimal mungkin membahagiakannya.

I love you daddy...you always in my heart and you are my hero and superstar..
>PT. Televisi Transformasi Indonesia atau Trans TV buat saya adalah pelopor lahirnya jurnalis-jurnalis di Indonesia. Dengan adanya Broadcaster Development Programme, dimana di sini adalah ajang untuk menjaring anak-anak muda yag berminat dengan dunia jurnalistik dari berbagai disiplin ilmu.

Program rekrutmen ini sangat diminati, terbukti peserta Jakarta yang ikut lebih dari 10,000 orang, Bandung dan Jogja kurang lebih 2,500 orang. Dari belasan ribu peserta disaring lagi hingga menghasilkan ratusan orang yang nantinya akan menjadi jurnalis-jurnalis yang kompeten.

Seperti dikutip dari salah satu blog karyawan Trans TV hasil Dari BDP, Komisaris Trans TV mengatakan: "Trans TV adalah sekolah yang mencetak broadcaster-broadcaster Indonesia yang kompeten." Hanya di Trans TV yang menyelenggarakan pelatihan bagi jurnalis-jurnalis muda yang belum berpengalaman hingga mereka menjadi seorang jurnalis yang handal.

Saya salut dengan cara Trans TV dalam menimbulkan minat jurnalistik dikalangan muda. Trans TV adalah salah satu stasiun televisi yang ber-image energic dan inovatif, begitu banyak anak-anak muda yang bisa menunjukkan kemampuan mereka di berbagai program tayangan sehingga menghasilkan tayangan yang enak ditonton dan menjadi unggulan.

Saya berharap program perekrutan seperti ini tidak akan dihentikan oleh pihak Trans TV sehingga setiap tahunnya banyak bermunculan ide-ide baru yang segar dari jurnalis-jurnalis atau broadcaster-broadcaster muda.
PT. Televisi Transformasi Indonesia atau Trans TV buat saya adalah pelopor lahirnya jurnalis-jurnalis di Indonesia. Dengan adanya Broadcaster Development Programme, dimana di sini adalah ajang untuk menjaring anak-anak muda yag berminat dengan dunia jurnalistik dari berbagai disiplin ilmu.

Program rekrutmen ini sangat diminati, terbukti peserta Jakarta yang ikut lebih dari 10,000 orang, Bandung dan Jogja kurang lebih 2,500 orang. Dari belasan ribu peserta disaring lagi hingga menghasilkan ratusan orang yang nantinya akan menjadi jurnalis-jurnalis yang kompeten.

Seperti dikutip dari salah satu blog karyawan Trans TV hasil Dari BDP, Komisaris Trans TV mengatakan: "Trans TV adalah sekolah yang mencetak broadcaster-broadcaster Indonesia yang kompeten." Hanya di Trans TV yang menyelenggarakan pelatihan bagi jurnalis-jurnalis muda yang belum berpengalaman hingga mereka menjadi seorang jurnalis yang handal.

Saya salut dengan cara Trans TV dalam menimbulkan minat jurnalistik dikalangan muda. Trans TV adalah salah satu stasiun televisi yang ber-image energic dan inovatif, begitu banyak anak-anak muda yang bisa menunjukkan kemampuan mereka di berbagai program tayangan sehingga menghasilkan tayangan yang enak ditonton dan menjadi unggulan.

Saya berharap program perekrutan seperti ini tidak akan dihentikan oleh pihak Trans TV sehingga setiap tahunnya banyak bermunculan ide-ide baru yang segar dari jurnalis-jurnalis atau broadcaster-broadcaster muda.
>Hari ini, adalah hari yang kurang beruntung buatku sekaligus jd pelajaran, bahwa tidak boleh bergantung pada manusia.

Jujur saja aku kecewa sama kebaikan yang diberikan temanku. Kejdannya minggu lalu, saat itu aku ke toko sepatu Charles&Keith dan lihat ada sepatu yg lagi diskon. Secara aku pingin jg pny sepatu branded cuman harganya ga nyampe.

Akhirnya temenku bilang kalo aku mau, dia nalangin dulu then aku cicil ke dia terserah aku. Ya sudah, karena ada penawaran spt itu akhirnya aku beli.

Sayang disayang, hari ini saat aku ingin bayar cicilan pertama tiba-tiba temanku dengan dalih bla..bla..bla..yg menurutku alasan yg dibuat2 memintaku bayar full tanpa cicilan.

Langsung lemes aku, bayangin aja aku udah atur2 biaya untuk bulan ini akhirnya jd berantakan hny karena sepatu branded. Kecewanya aku, kalo memang kiranya ga bisa kasih cicilan ya udah jgn memberiku harapan, toh kalo ga bisa aku jg akan beli sepatu ini.

Pelajaran yg sangat berharga. Berdirilah diatas kemampuan sendiri, jgn mengandalkan orang lain. Kelicikannya membuatku harus super hati2 dan menjaga jarak dengannya.

Biar Tuhan saja yg memenuhi kebutuhanku bukan orang lain. Siapa menabur, dia akan menuai.
Hari ini, adalah hari yang kurang beruntung buatku sekaligus jd pelajaran, bahwa tidak boleh bergantung pada manusia.

Jujur saja aku kecewa sama kebaikan yang diberikan temanku. Kejdannya minggu lalu, saat itu aku ke toko sepatu Charles&Keith dan lihat ada sepatu yg lagi diskon. Secara aku pingin jg pny sepatu branded cuman harganya ga nyampe.

Akhirnya temenku bilang kalo aku mau, dia nalangin dulu then aku cicil ke dia terserah aku. Ya sudah, karena ada penawaran spt itu akhirnya aku beli.

Sayang disayang, hari ini saat aku ingin bayar cicilan pertama tiba-tiba temanku dengan dalih bla..bla..bla..yg menurutku alasan yg dibuat2 memintaku bayar full tanpa cicilan.

Langsung lemes aku, bayangin aja aku udah atur2 biaya untuk bulan ini akhirnya jd berantakan hny karena sepatu branded. Kecewanya aku, kalo memang kiranya ga bisa kasih cicilan ya udah jgn memberiku harapan, toh kalo ga bisa aku jg akan beli sepatu ini.

Pelajaran yg sangat berharga. Berdirilah diatas kemampuan sendiri, jgn mengandalkan orang lain. Kelicikannya membuatku harus super hati2 dan menjaga jarak dengannya.

Biar Tuhan saja yg memenuhi kebutuhanku bukan orang lain. Siapa menabur, dia akan menuai.
>Wew...hari ini aku terbangun dari tidur tapi tidak di tempat tidur ku sendiri hehehe.. Aku nginep di tempat Roos (anak GRI yg baru 3 bulan lalu). She's nice dan aku seneng bisa temenan sama dia. Baik dan tidak sombong anaknya.

Koleksi bukunya booo...banyak gila...aku aja minder ngeliatnya. Apartemen Roos a.k.a kosan di Jl. Tanah Kusir 2, Ra-Dal. Kamarnya bener2 di penthouse a.k.a lantai paling atas hehehe...tapi enak. Kamarnya nyaman (AC bow..) dah kayak stay di hotel nih aku.

Apa aja ada terutama buku (ya iyalah anak GRI gitu loh) rencananya mau pinjem beberapa buku nih dari Roos (padahal utang baca masih buanyak hehehe) habis jujur aku kalo liat buku ijo banget matanya (padahal bacanya ntar-ntaran).

Thanks ya Roos. Even dirimu tak bisa baca tulisanku ini, tapi aku senang berteman denganmu (apalagi kalo boleh pinjem buku2nya hehehe)you are the best lah. Senangnya punya rumah kedua nih hehehe...
Wew...hari ini aku terbangun dari tidur tapi tidak di tempat tidur ku sendiri hehehe.. Aku nginep di tempat Roos (anak GRI yg baru 3 bulan lalu). She's nice dan aku seneng bisa temenan sama dia. Baik dan tidak sombong anaknya.

Koleksi bukunya booo...banyak gila...aku aja minder ngeliatnya. Apartemen Roos a.k.a kosan di Jl. Tanah Kusir 2, Ra-Dal. Kamarnya bener2 di penthouse a.k.a lantai paling atas hehehe...tapi enak. Kamarnya nyaman (AC bow..) dah kayak stay di hotel nih aku.

Apa aja ada terutama buku (ya iyalah anak GRI gitu loh) rencananya mau pinjem beberapa buku nih dari Roos (padahal utang baca masih buanyak hehehe) habis jujur aku kalo liat buku ijo banget matanya (padahal bacanya ntar-ntaran).

Thanks ya Roos. Even dirimu tak bisa baca tulisanku ini, tapi aku senang berteman denganmu (apalagi kalo boleh pinjem buku2nya hehehe)you are the best lah. Senangnya punya rumah kedua nih hehehe...
>
Film kartun animasi yang berdurasi kurang lebih 90 menit ini menurut saya memiliki jalan cerita yang simple, sederhana. Berkisah tentang seorang penjahat nomor 2 bernama Gru yang sudah berhasil mencuri patung Liberti, menara Eifel, layar besar di kota New York dengan bantuan tentara minion miliknya. Kali ini Gru mempunyai misi untuk mengalahkan pesaingnya poenjahat nomor 1 bernama Vector untuk mencuri bulan.

Keadaan justru sedikit demi sedikit berubah saat Gru mengadopsi tiga gadis kecil yatim piatu (Margo, Edith dan Agnes). Ternyata Gru mempunyai naluri orang tua yang baik saat mengasuh ketiga anak adopsinya. Keasikannya berperan sebagai seorang ayah hampir menggagalkan misinya mencuri bulan. Sampai-sampai profesor yang membantu Gru terpaksa memulangkan kembali ketiga gadis kecil itu ke panti asuhannya, melihat Gru kehilangan konsentrasi.

Hal yang menarik dan menyentuh yaitu, saat misi Gru mencuri bulan berhasil bertepatan dengan resital balet ketiga putrinya, Gru berusaha untuk menghadirinya tapi sayang Gru terlambat, acara sudah selesai dan ketiga anaknya diculik oleh Vector.

Demi membebaskan anak-anaknya, Gru rela memberi bulan yang dicurinya pada Vektor. Dengan segala cara Gru berupaya membebaskan ketiga anaknya. Sayang alat yang digunakan untuk mengecilkan bulan itu (hasil curiannya dari Vector) tidak membuat kecil permanen sehingga dalam waktu yang mungkin tidak terlalu lama bulan itupun kembali ke ukuran aslinya dan pada posisinya semula.

Cerita berakhir dengan Gru mulai bisa lebih enjoy menjadi seorang ayah, membacakan cerita sebelum tidur, memberi ciuman selamat malam untuk ketiga putrinya. Sampai-sampai tentara minionnya juga minta diberi ciuman selamat malam.

Adegan-adegan lucu saat Gru menemani ketiga putrinya bermain di taman hiburan dan tingkah polah pasukan minionnya membuat film ini cukup menghibur dan mengundang tawa penontonnya termasuk saya.

Satu hal yang saya lihat dari film ini bahwa tingkah polah anak kecil yang polos, ceria bisa membawa perubahan sikap sekalipun ia seorang penjahat.

Film kartun animasi yang berdurasi kurang lebih 90 menit ini menurut saya memiliki jalan cerita yang simple, sederhana. Berkisah tentang seorang penjahat nomor 2 bernama Gru yang sudah berhasil mencuri patung Liberti, menara Eifel, layar besar di kota New York dengan bantuan tentara minion miliknya. Kali ini Gru mempunyai misi untuk mengalahkan pesaingnya poenjahat nomor 1 bernama Vector untuk mencuri bulan.

Keadaan justru sedikit demi sedikit berubah saat Gru mengadopsi tiga gadis kecil yatim piatu (Margo, Edith dan Agnes). Ternyata Gru mempunyai naluri orang tua yang baik saat mengasuh ketiga anak adopsinya. Keasikannya berperan sebagai seorang ayah hampir menggagalkan misinya mencuri bulan. Sampai-sampai profesor yang membantu Gru terpaksa memulangkan kembali ketiga gadis kecil itu ke panti asuhannya, melihat Gru kehilangan konsentrasi.

Hal yang menarik dan menyentuh yaitu, saat misi Gru mencuri bulan berhasil bertepatan dengan resital balet ketiga putrinya, Gru berusaha untuk menghadirinya tapi sayang Gru terlambat, acara sudah selesai dan ketiga anaknya diculik oleh Vector.

Demi membebaskan anak-anaknya, Gru rela memberi bulan yang dicurinya pada Vektor. Dengan segala cara Gru berupaya membebaskan ketiga anaknya. Sayang alat yang digunakan untuk mengecilkan bulan itu (hasil curiannya dari Vector) tidak membuat kecil permanen sehingga dalam waktu yang mungkin tidak terlalu lama bulan itupun kembali ke ukuran aslinya dan pada posisinya semula.

Cerita berakhir dengan Gru mulai bisa lebih enjoy menjadi seorang ayah, membacakan cerita sebelum tidur, memberi ciuman selamat malam untuk ketiga putrinya. Sampai-sampai tentara minionnya juga minta diberi ciuman selamat malam.

Adegan-adegan lucu saat Gru menemani ketiga putrinya bermain di taman hiburan dan tingkah polah pasukan minionnya membuat film ini cukup menghibur dan mengundang tawa penontonnya termasuk saya.

Satu hal yang saya lihat dari film ini bahwa tingkah polah anak kecil yang polos, ceria bisa membawa perubahan sikap sekalipun ia seorang penjahat.
>
Salah satu program ajang pencarian bakat yang ditayangkan Trans TV setiap hari Sabtu - Minggu jam 20.00, menurut Saya bagus, kreatif dan beda dari ajang pencarian bakat lainnya yang hanya mengkhususkan pada oleh vokal. Bagaimana hasilnya?

Di ajang Indonesia Mencari Bakat (IMB) beragam bakat yang ditampilkan tidak hanya olah vokal tapi juga ada tari hingga memainkan alat musik. Tiap peserta menyuguhkan bakat unik yang dimiliki dan juga mewakili daerahnya masing-masing.
Jadi, benar-benar bakat yang dicari Indonesia. Usianya pun bervariasi mulai dari anak-anak hingga dewasa. Mereka berkompetisi untuk menunjukkan yang terbaik.

Ide kreatif ini mulai ditayangkan 7 Maret 2010 dengan meng-audisi peserta dari berbagai kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan dan Makassar. Peserta dari tiap daerah yang terpilih lanjut ke babak penyaringan berikutnya di Jakarta dan dibagi menjadi beberapa group.

Peserta terpilih dari seleksi group inilah yang berhak lanjut ke babak semifinal. Akhirnya di babak semifinal minggu ini (5/6/10 - 6/6/10) menyisakan 12 peserta yang masih terus berkompetisi sampai lahir bakat baru yang dicari Indonesia.

Proses perjalanan masing-masing peserta tidaklah mudah, untuk bisa terus bertahan sampai di babak semifinal tiap minggunya mereka harus terus menunjukkan yang terbaik dan harus tetap konsisten karena mereka inilah calon-calon entertaint yang diharapkan bisa membawa nuansa baru di ranah hiburan.

Hudson

Pokoknya acara IMB ini bakat-bakat yang ditampilkan para pesertanya membuat saya berdecak kagum mungkin juga masyarakat Indonesia lainnya. Menurut saya keunikan Hudson dengan aksi muka duanya, dandanan yang separuh perempuan separuh laki-laki dan busana yang dikenakan sangat mengesankan ditambah lagi dengan kemampuannya dalam menyanyi.

Anak-anak kecil sekarang yang begitu berpotensi dalam hal meliuk-liukkan tubuh seperti Fay Nabila dan Brandon membuat decak kagum penonton. Juga dengan adanya Lius dan Putri Ayu diharapkan bisa mengajak anak muda sekarang menyukai musik klasik yang identik dengan orang-orang tua.

Saya juga suka dengan penampilan Rumingkang, group tari asal Bandung ini ditiap minggunya mengenakan kostum yang berbeda-beda, cerah dan perpaduan modern dan tradisionalnya ada. Begitu juga perpaduan dalam tariannya sehingga menjadikan tari tradisional kontemporer.

Juga keahlian Belda, peserta dari Bali yang menunjukkan bakatnya dalam Fire Dance terlihat keren ditunjang dengan kostum dan dandanan yang berbeda-beda di tiap minggunya. Sampai alat musik khas Kupang, Sasando juga bisa dinikmati di ajang ini dan dimainkan langsung oleh putra Kupang, Berto.

Berharap pihak Trans TV bisa terus melanjutkan program ini untuk menggali lagi potensi atau bakat-bakat yang dimiliki putra putri Indonesia.

Salah satu program ajang pencarian bakat yang ditayangkan Trans TV setiap hari Sabtu - Minggu jam 20.00, menurut Saya bagus, kreatif dan beda dari ajang pencarian bakat lainnya yang hanya mengkhususkan pada oleh vokal. Bagaimana hasilnya?

Di ajang Indonesia Mencari Bakat (IMB) beragam bakat yang ditampilkan tidak hanya olah vokal tapi juga ada tari hingga memainkan alat musik. Tiap peserta menyuguhkan bakat unik yang dimiliki dan juga mewakili daerahnya masing-masing.
Jadi, benar-benar bakat yang dicari Indonesia. Usianya pun bervariasi mulai dari anak-anak hingga dewasa. Mereka berkompetisi untuk menunjukkan yang terbaik.

Ide kreatif ini mulai ditayangkan 7 Maret 2010 dengan meng-audisi peserta dari berbagai kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan dan Makassar. Peserta dari tiap daerah yang terpilih lanjut ke babak penyaringan berikutnya di Jakarta dan dibagi menjadi beberapa group.

Peserta terpilih dari seleksi group inilah yang berhak lanjut ke babak semifinal. Akhirnya di babak semifinal minggu ini (5/6/10 - 6/6/10) menyisakan 12 peserta yang masih terus berkompetisi sampai lahir bakat baru yang dicari Indonesia.

Proses perjalanan masing-masing peserta tidaklah mudah, untuk bisa terus bertahan sampai di babak semifinal tiap minggunya mereka harus terus menunjukkan yang terbaik dan harus tetap konsisten karena mereka inilah calon-calon entertaint yang diharapkan bisa membawa nuansa baru di ranah hiburan.

Hudson

Pokoknya acara IMB ini bakat-bakat yang ditampilkan para pesertanya membuat saya berdecak kagum mungkin juga masyarakat Indonesia lainnya. Menurut saya keunikan Hudson dengan aksi muka duanya, dandanan yang separuh perempuan separuh laki-laki dan busana yang dikenakan sangat mengesankan ditambah lagi dengan kemampuannya dalam menyanyi.

Anak-anak kecil sekarang yang begitu berpotensi dalam hal meliuk-liukkan tubuh seperti Fay Nabila dan Brandon membuat decak kagum penonton. Juga dengan adanya Lius dan Putri Ayu diharapkan bisa mengajak anak muda sekarang menyukai musik klasik yang identik dengan orang-orang tua.

Saya juga suka dengan penampilan Rumingkang, group tari asal Bandung ini ditiap minggunya mengenakan kostum yang berbeda-beda, cerah dan perpaduan modern dan tradisionalnya ada. Begitu juga perpaduan dalam tariannya sehingga menjadikan tari tradisional kontemporer.

Juga keahlian Belda, peserta dari Bali yang menunjukkan bakatnya dalam Fire Dance terlihat keren ditunjang dengan kostum dan dandanan yang berbeda-beda di tiap minggunya. Sampai alat musik khas Kupang, Sasando juga bisa dinikmati di ajang ini dan dimainkan langsung oleh putra Kupang, Berto.

Berharap pihak Trans TV bisa terus melanjutkan program ini untuk menggali lagi potensi atau bakat-bakat yang dimiliki putra putri Indonesia.
>Hmm...hari ini hari terakhir kerja karena besok libur nasional dan hari ini juga aku, Cia, Meta, Risa dan Fanny sudah bersiap-siap mau jalan-jalan ke Jogja untuk melepas penat setelah sebulan penuh berkutat dengan pekerjaan (udah kayak puasa aja sebulan penuh hehehehe...) Rencananya perjalanan ke Jogja hari ini akan ditempuh dengan mobil sewaan karena tiket kereta, tiket bis semua sudah habis meskipun sebulan sebelumnya kami sudah mencari tahu kesana kemari. Untung penginapan nggak ikutan semrawut juga karena kami akan menginap di rumah kakenya Cia. Tapi...semua ada sangkut pautnya sama Fanny sih, padahal sudah dikasih tahu jauh-jauh hari tiket kendaraan itu sudah harus dipesan tapi Fanny dengan pe-de nya bilang "Nggak usah segitunya kali. Dua minggu sebelumnya juga masih bisa." akhirnya kami pun mengalah dan hasil yang didapat apa? semua tiket habis dan akhirnya sewa mobil. Untung saja mobil yang mau disewa masih ada dan tinggal satu-satunya. Long weekend begini semua moda transportasi rata-rata sudah laris manis.

Semua sudah siap dengan gembolan masing-masing. Kali ini yang ditugasi untuk mengurus mobil Risa karena Risa lebih mendingan dibanding Fanny yang selalu menggampangkan situasi dan kondisi. Sekarang yang jadi masalah mobil sewaan itu yang seharusnya sudah nongkrong di kantor jam 6 sore belum muncul-muncul juga. Risa bolak balik telepon ke supirnya menanyakan posisi mobil. Dengar punya dengar ternyata mobil itu terjebak macet di tol dalam kota dan diperkirakan baru tiba di kantor sekitar jam 9 malam. Alamakkk...masih tiga jam lagi, apakah yang akan kami perbuat?

Si Boss yang masih kedengeran suaranya tiba-tiba menghampiri mejaku.
"Vanya, kamu nggak jadi berangkat ke Jogja? katanya jam 6 mau jalan, ini sudah jam 7 kamu masih di sini?"
"Iya nih pak, mobilnya kena macet di tol dalam kota katanya jam 9an baru sampai."
"Oooo...ya sudah. Sebentar lagi saya pulang, kamu jangan lupa ya nanti matikan semua lampu dan kunci pintu yang benar soalnya kita libur 3 hari nih."
"Kalau soal itu beres pak, tidak perlu khawatir.", jawabku sambil senyum-senyum.

Jam 19.30 si Boss meninggalkan ruangannya. OB nggak ada, alhasil nanti jadi tugasku sepenuhnya untuk mengunci kantor.
"Woiii teman-temans...nggak ada yang lapar ya?" teriakku memenuhi seisi ruangan, karena memang tinggal kami ber-5.
"Mau makan apa Van?", tanya Cia.
"Nasi goreng kek, apa kek yang penting isi perut dulu nih."
Akhirnya Cia, Meta, Risa dan Fanny menghampiri cubical aku.

Sambil mengisi waktu kami makan malam dulu, sesekali Risa memantau posisi mobil sewaan itu.
"Teman-temans, syukurlah mobilnya sudah hampir sampai kira-kira setengah jam lagi."
"Horeee...", kami menyambut dengan sukacita.

Pucuk dicinta ulampun tiba. Mobil yang akan mengangkut kami ke Jogja sampai juga. Buru-buru kami siapkan semua gembolan, matikan lampu-lampu kemudian yang paling terakhir kunci pintu. Lift masih nyala sampai batas terakhir jam 22.00.

"Maaf ya mbak-mbak, macetnya minta ampuuunnn...", ucapan pertama yang diucapkan si supir untuk menenangkan hati kami dan gaya ngomongnya itu loh...seru aja hehehe.
"Iya pak, nggak apa-apa yang penting sudah sampai dengan selamat dan sekarang siap mengantar kami semua.", ujarku dengan senyuman.

Menunggu itu memang pekerjaan yang membosankan. Sekarang kami semua sudah dimobil dan perjalananpun dimulai. Hmmm...leganya...
Hmm...hari ini hari terakhir kerja karena besok libur nasional dan hari ini juga aku, Cia, Meta, Risa dan Fanny sudah bersiap-siap mau jalan-jalan ke Jogja untuk melepas penat setelah sebulan penuh berkutat dengan pekerjaan (udah kayak puasa aja sebulan penuh hehehehe...) Rencananya perjalanan ke Jogja hari ini akan ditempuh dengan mobil sewaan karena tiket kereta, tiket bis semua sudah habis meskipun sebulan sebelumnya kami sudah mencari tahu kesana kemari. Untung penginapan nggak ikutan semrawut juga karena kami akan menginap di rumah kakenya Cia. Tapi...semua ada sangkut pautnya sama Fanny sih, padahal sudah dikasih tahu jauh-jauh hari tiket kendaraan itu sudah harus dipesan tapi Fanny dengan pe-de nya bilang "Nggak usah segitunya kali. Dua minggu sebelumnya juga masih bisa." akhirnya kami pun mengalah dan hasil yang didapat apa? semua tiket habis dan akhirnya sewa mobil. Untung saja mobil yang mau disewa masih ada dan tinggal satu-satunya. Long weekend begini semua moda transportasi rata-rata sudah laris manis.

Semua sudah siap dengan gembolan masing-masing. Kali ini yang ditugasi untuk mengurus mobil Risa karena Risa lebih mendingan dibanding Fanny yang selalu menggampangkan situasi dan kondisi. Sekarang yang jadi masalah mobil sewaan itu yang seharusnya sudah nongkrong di kantor jam 6 sore belum muncul-muncul juga. Risa bolak balik telepon ke supirnya menanyakan posisi mobil. Dengar punya dengar ternyata mobil itu terjebak macet di tol dalam kota dan diperkirakan baru tiba di kantor sekitar jam 9 malam. Alamakkk...masih tiga jam lagi, apakah yang akan kami perbuat?

Si Boss yang masih kedengeran suaranya tiba-tiba menghampiri mejaku.
"Vanya, kamu nggak jadi berangkat ke Jogja? katanya jam 6 mau jalan, ini sudah jam 7 kamu masih di sini?"
"Iya nih pak, mobilnya kena macet di tol dalam kota katanya jam 9an baru sampai."
"Oooo...ya sudah. Sebentar lagi saya pulang, kamu jangan lupa ya nanti matikan semua lampu dan kunci pintu yang benar soalnya kita libur 3 hari nih."
"Kalau soal itu beres pak, tidak perlu khawatir.", jawabku sambil senyum-senyum.

Jam 19.30 si Boss meninggalkan ruangannya. OB nggak ada, alhasil nanti jadi tugasku sepenuhnya untuk mengunci kantor.
"Woiii teman-temans...nggak ada yang lapar ya?" teriakku memenuhi seisi ruangan, karena memang tinggal kami ber-5.
"Mau makan apa Van?", tanya Cia.
"Nasi goreng kek, apa kek yang penting isi perut dulu nih."
Akhirnya Cia, Meta, Risa dan Fanny menghampiri cubical aku.

Sambil mengisi waktu kami makan malam dulu, sesekali Risa memantau posisi mobil sewaan itu.
"Teman-temans, syukurlah mobilnya sudah hampir sampai kira-kira setengah jam lagi."
"Horeee...", kami menyambut dengan sukacita.

Pucuk dicinta ulampun tiba. Mobil yang akan mengangkut kami ke Jogja sampai juga. Buru-buru kami siapkan semua gembolan, matikan lampu-lampu kemudian yang paling terakhir kunci pintu. Lift masih nyala sampai batas terakhir jam 22.00.

"Maaf ya mbak-mbak, macetnya minta ampuuunnn...", ucapan pertama yang diucapkan si supir untuk menenangkan hati kami dan gaya ngomongnya itu loh...seru aja hehehe.
"Iya pak, nggak apa-apa yang penting sudah sampai dengan selamat dan sekarang siap mengantar kami semua.", ujarku dengan senyuman.

Menunggu itu memang pekerjaan yang membosankan. Sekarang kami semua sudah dimobil dan perjalananpun dimulai. Hmmm...leganya...
>
Buku Oeroeg ditulis oleh Hella S. Haasse, seorang Belanda yang lahir di Batavia (Jakarta) 12 Februari 1918 dan sampai sekarang beliau masih ada dan bermukim di Belanda. Buku ini ditulis beliau karena latar belakang sosial yang ada pada saat itu.

Sedikit tentang penulis, debut pertama beliau adalah "Oeroeg" yang terbit tahun 1948, lalu beliau juga menulis tentang autobiografi tentang kehidupannya selama di Hindia Timur "Krassen Op Een Rots" tahun 1970. Ibu Hella seorang pianis Katherina Diehm Winzenhohler, ayahnya seorang Inspektur Keuangan Pemerintah Kolonial Belanda Willem Hendrik Haasse, karena pekerjaan ayahnya itulah Hella sempat tinggal di Batavia selama 20 tahun. Hella memakai nama tokoh "Oeroeg" yang sebenarnya tidak terdengar seperti nama orang Sunda karena memiliki kenangan bawah sadar yang tidak bisa dilepaskan dari ingatan. Makna dari nama Oeroeg adalah menyimpan, menimbun kenangan.

Oeroeg adalah cerita tentang persahabatan, kesetiaan maupun kesetaraan antara orang pribumi dengan orang Belanda antara Oeroeg dan Aku bermula di Kebon Jati. Persahabatan itu tumbuh sejak mereka kecil bahkan Aku merasa kenapa Oeroeg harus dibedakan dengan dirinya? Saat mulai menginjak usia sekolah, Aku belajar private dengan Mijnheer Bollineger sementara Oeroeg hanya melihat dari kejauhan.

Tokoh Aku ini merasakan tidak ada perbedaan ras antara dirinya dan Oeroeg karena begitu menyatunya mereka. Sampai untuk pertama kalinya Aku menyadari perbedaan antara Oeroeg dengan dirinya dan orang tuanya menimbulkan cemoohan dan penolakan antara para pembantu rumah tangga.

Oeroeg bisa bersekolah tinggi di MULO (setara dengan SMA) atas balasan terhadap jasa ayah Oeroeg yang sudah menyelamatkan Aku saat hendak tenggelam di Telaga Hideung. Lulus dari MULO Oeroeg melanjutkan ke Nederlands Indische Artsenschool di Surabaya. Karena Lida (guru private Oeroeg) penampilan Oeroeg bisa berubah, saat itulah Oeroeg merasa identitasnya menjadi bagian dari orang kulit putih. Bertahun-tahun sekolah di MULO Oeroeg kehilangan semua sifat yang di Sukabumi yang menunjukkan ia anak desa. Ia hanya berbahasa Belanda, pakaiannya kebarat-baratan. Oeroeg rela melakukan apapun demi menjadi anak Indo bahkan Oeroeg sempat ingin memakai nama keluarga Lida. Begitu inginnya Oeroeg berasimilasi dengan dunia Eropa.

Persahabatan Aku dan Oeroeg mulai rusak ketika Oeroeg mulai menyadari sikap Belanda yang suka merendahkan bangsa pribumi, seperti saat mereka menonton film dimana ras pribumi menonton di balik layar sehingga semua tulisan terbaca terbalik sementara ras kulit putih menonton dengan posisi normal. Saat kuliah di kedokteran Oeroeg berkembang menjadi seorang orator.

Beginilah gambaran tentang kisah antara Aku dan Oeroeg.

Beberapa perbedaan di dalam filmnya

Di filmnya tokoh Aku ini bernama Johan. Film OEROEG yang dibuat tahun 1993 dan dibintangi diantaranya oleh Ayu Azhari, Tuti Heru ini menurut saya seperti melupakan detil yang ada dibukunya. Cerita Oeroeg ini kan berlatar belakang daerah Sukabumi dimana penduduknya berbahasa Sunda, tetapi ibu Oeroeg berlogat Jawa. Begitu juga dengan tokoh Oeroeg sendiri, logat Sunda-nya tidak kentara. Lalu pertemuan antara Oeroeg dan Johan saat terjadi pertukaran tawanan itu tidak tergambar di dalam buku.

Agresi Militer Belanda itu tidak terlalu di tonjolkan dalam bukunya. Malah di dalam buku itu hanya diceritakan saat Johan pergi untuk belajar ke Holland dan ketika kembali ke Hindia Timur menemukan keadaan yang begitu kacau, bahkan mengunjungi Kebon Jatipun suasana di sana sudah banyak berubah. Kedatangannya kembali ingin bertemu dengan Oeroeg sahabat dan "saudara"nya.


Sumber: buku "OEROEG", Wikipedia.com, indonesiabuku.com, rumahbaca.wordpress.com, sudahkahkaubaca.multiply.com

Buku Oeroeg ditulis oleh Hella S. Haasse, seorang Belanda yang lahir di Batavia (Jakarta) 12 Februari 1918 dan sampai sekarang beliau masih ada dan bermukim di Belanda. Buku ini ditulis beliau karena latar belakang sosial yang ada pada saat itu.

Sedikit tentang penulis, debut pertama beliau adalah "Oeroeg" yang terbit tahun 1948, lalu beliau juga menulis tentang autobiografi tentang kehidupannya selama di Hindia Timur "Krassen Op Een Rots" tahun 1970. Ibu Hella seorang pianis Katherina Diehm Winzenhohler, ayahnya seorang Inspektur Keuangan Pemerintah Kolonial Belanda Willem Hendrik Haasse, karena pekerjaan ayahnya itulah Hella sempat tinggal di Batavia selama 20 tahun. Hella memakai nama tokoh "Oeroeg" yang sebenarnya tidak terdengar seperti nama orang Sunda karena memiliki kenangan bawah sadar yang tidak bisa dilepaskan dari ingatan. Makna dari nama Oeroeg adalah menyimpan, menimbun kenangan.

Oeroeg adalah cerita tentang persahabatan, kesetiaan maupun kesetaraan antara orang pribumi dengan orang Belanda antara Oeroeg dan Aku bermula di Kebon Jati. Persahabatan itu tumbuh sejak mereka kecil bahkan Aku merasa kenapa Oeroeg harus dibedakan dengan dirinya? Saat mulai menginjak usia sekolah, Aku belajar private dengan Mijnheer Bollineger sementara Oeroeg hanya melihat dari kejauhan.

Tokoh Aku ini merasakan tidak ada perbedaan ras antara dirinya dan Oeroeg karena begitu menyatunya mereka. Sampai untuk pertama kalinya Aku menyadari perbedaan antara Oeroeg dengan dirinya dan orang tuanya menimbulkan cemoohan dan penolakan antara para pembantu rumah tangga.

Oeroeg bisa bersekolah tinggi di MULO (setara dengan SMA) atas balasan terhadap jasa ayah Oeroeg yang sudah menyelamatkan Aku saat hendak tenggelam di Telaga Hideung. Lulus dari MULO Oeroeg melanjutkan ke Nederlands Indische Artsenschool di Surabaya. Karena Lida (guru private Oeroeg) penampilan Oeroeg bisa berubah, saat itulah Oeroeg merasa identitasnya menjadi bagian dari orang kulit putih. Bertahun-tahun sekolah di MULO Oeroeg kehilangan semua sifat yang di Sukabumi yang menunjukkan ia anak desa. Ia hanya berbahasa Belanda, pakaiannya kebarat-baratan. Oeroeg rela melakukan apapun demi menjadi anak Indo bahkan Oeroeg sempat ingin memakai nama keluarga Lida. Begitu inginnya Oeroeg berasimilasi dengan dunia Eropa.

Persahabatan Aku dan Oeroeg mulai rusak ketika Oeroeg mulai menyadari sikap Belanda yang suka merendahkan bangsa pribumi, seperti saat mereka menonton film dimana ras pribumi menonton di balik layar sehingga semua tulisan terbaca terbalik sementara ras kulit putih menonton dengan posisi normal. Saat kuliah di kedokteran Oeroeg berkembang menjadi seorang orator.

Beginilah gambaran tentang kisah antara Aku dan Oeroeg.

Beberapa perbedaan di dalam filmnya

Di filmnya tokoh Aku ini bernama Johan. Film OEROEG yang dibuat tahun 1993 dan dibintangi diantaranya oleh Ayu Azhari, Tuti Heru ini menurut saya seperti melupakan detil yang ada dibukunya. Cerita Oeroeg ini kan berlatar belakang daerah Sukabumi dimana penduduknya berbahasa Sunda, tetapi ibu Oeroeg berlogat Jawa. Begitu juga dengan tokoh Oeroeg sendiri, logat Sunda-nya tidak kentara. Lalu pertemuan antara Oeroeg dan Johan saat terjadi pertukaran tawanan itu tidak tergambar di dalam buku.

Agresi Militer Belanda itu tidak terlalu di tonjolkan dalam bukunya. Malah di dalam buku itu hanya diceritakan saat Johan pergi untuk belajar ke Holland dan ketika kembali ke Hindia Timur menemukan keadaan yang begitu kacau, bahkan mengunjungi Kebon Jatipun suasana di sana sudah banyak berubah. Kedatangannya kembali ingin bertemu dengan Oeroeg sahabat dan "saudara"nya.


Sumber: buku "OEROEG", Wikipedia.com, indonesiabuku.com, rumahbaca.wordpress.com, sudahkahkaubaca.multiply.com
>
Buku hasil kolaborasi empat penulis yang juga traveler: Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidajat dan Ninit Yunita membuatku seperti ikut bersama mereka berkeliling negara-negara dari Asia, Afrika, Eropa.

Gara-gara Undangan Pernikahan

Empat orang sahabat Farah, Jusuf, Retno dan Francis sudah saling mengenal sejak mereka masih di Sekolah Dasar. Meskipun kebersamaan itu tidak lagi menjadi rutinitas karena mereka bekerja di belahan dunia yang berbeda tak menyulutkan niat mereka untuk menghadiri pernikahan Francis. Francis...gara-gara undangan pernikahan darinya membuat tiga sahabat lainnya memutuskan untuk menghadirinya. Tak ayal undangan pernikahan itu membuat Farah dan Retno kecewa, karena diam-diam Farah menyimpan rasa terhadap Francis dan penyesalan Retno yang dulu sempat dua kali menolak Francis hanya karena berbeda keyakinan. Hmm...peyesalan memang selalu datang belakangan.

Dari Hoi An - Nairobi - Kopenhagen - New York - Barcelona

Kisah dimulai dari Farah yang ditugaskan dan menetap di Hoi An, Vietnam oleh Boss-nya ditugaskan untuk menghadiri meeting di Amman dan Budapest. Saat mengecek e-mail dan mendapat undangan dari Francis, Farah langsung mencari info biaya perjalanan dari Budapest ke Barcelona.

Lalu berlanjut dengan Jusuf yang bekerja di perusahaan jasa kirim surat cabang Cape Town ditugaskan oleh kantornya untuk mengecek performa sales di Nairobi. Setelah menerima e-mail Francis mulai menghitung-hitung biaya perjalan ke Barcelona.

Lain lagi cerita Retno yang bekerja sebagai staff KBRI di Kopenhagen, Denmark. Setelah menerima undangan dari Francis menjadi sedih tapi tetap memutuskan untuk datang selain bisa bertemu dengan dua sahabat lainnya. Untuk itu Retno memutuskan untuk melakukan perjalanan ke beberapa negara di Eropa. Perjalanan akan dimulai dari Amsterdam dan berakhir di Barcelona.

Francis sang calon pengantin, adalah seorang pianis yang menetap di Kansas City, Amerika dan setelah itu akan terbang ke Barcelona untuk menikah. Perkenalannya dengan Inez, calon isterinya yang berasal dari Catalunya berawal saat Francis sedang berlatih Chopin Etude Opus 10 no.3 di Practice Room Conservatory of Music University of Missouri. Francis kesal karena tidak bisa memainkannya dengan mulus hingga berteriak dan suaranya memenuhi lorong sepanjang ruangan itu. Saat itulah Francis berkenalan dengan Inez.

Perasaan dan Perasaan

Empat sahabat yang sudah saling mengenal sejak kecil ini ternyata setelah belasan tahun bersama-sama menyembulkan benih-benih kasih yang tak terduga satu sama lain. Farah memendam rasa cintanya pada Francis sejak masih SD, Francis menyukai Retno bahkan sempat dua kali menyatakan perasaannya dan dua kali itu juga ditolak Retno. Sementara Jusuf yang menyukai Farah harus rela menjadi tempat curhat Farah soal Francis.

Pengakuan perasaan ini terkuak saat mereka bertemu di Starbuck La Rambla. Di kafe ini jugalah Francis menyatakan satu hal yang mengejutkan ketiga sahabatnya.

Trip and Trip

Yang membuat aku terkesan dengan buku ini adalah catatan perjalan masing-masing sahabat menuju Barcelona.

Jusuf dalam perjalanannya dari Kenya ke Abidjan sempat mengalami pendaratan di rumput (grass landing) di Aeroport International Felix Houphouet-Boigny karena pesawat yang ditumpanginya mengalami kerusakan mesin. Lalu dari Abidjan menuju Casablanca, Maroko menumpang pesawat Hercules. Mereka sempat istirahat 1 hari di Dakar. Ternyata menuju Barcelona tidaklah mudah, butuh perjuangan karena sambung menyambung moda transportasi. Sesampai di Casablanca Jusuf melanjutkan perjalanan dengan kereta api menuju Rabat, Tangier dan dari sana lanjut dengan kapal feri ke Algeciras atau Salamanca. Sesampainya di sana Jusuf akan mencari transportasi lain ke Barcelona. Tiba di Puerte de Algeciras Jusuf disambut dengan tidak ramah bahkan sempat disetrum segala karena namanya dan dia berasal dari Indonesia, maka pihak imigran mengira Jusuf termasuk jaringan Al-Qaeda. Ada nikmat dibalik musibah karena insiden itu Jusuf bisa menginap 3 hari di kamar suite Novotel Algeciras, tiket kelas bisnis ke Barcelona dan uang 2000 Euro.

Retno Perjalanan Retno dimulai dari Amsterdam. Retno sempat menyusuri daerah Red Light (daerah terlarang untuk disinggahi) lalu mampir ke museum Nusantara di Delft dan Euro Mast di Rotterdam. Setelah Belanda Retno menyambangi Milan, Italia. Di Milan ini Retno ingin melihat lukisan terkenalnya Leonardo da Vinci "The Last Supper" di Piazza S. Maria delle Grazie. Untuk melihat lukisan ini tidak sembarangan harus booking dulu dan pengunjung juga dibatasi hanya 25 orang setiap 15 menit. Wow...
Setelah itu mengunjungi Katedral The Duomo yang bisa dikatakan sebagai simbol kota Milan. Dari Milan menuju Venesia dengan kereta. Moda transportasi di Venesia yang dikenal dengan kota terapung adalah bus air dan gondola. Dari Venesia Retno kembali ke Milan dan lanjut ke Seville, Spanyol. Di Seville terdapat makam Christopher Colombus di depan The Gate of San Cristobal. Dari Seville Retno sampai di tujuan akhir yaitu Barcelona.

Francis Karena Francis seorang pianis dia banyak mengikuti konser seperti dari Cleaveland, Georgia menuju Miami untuk konser berikutnya setelah itu menuju New York untuk sebuah resital duo dan juga mengurus jas pengantinnya. Setelah 9 jam mengudara dari New York, Francis tiba juga di Barcelona. Francis diundang Friends of Pablo Picasso untuk mengadakan sebuah konser di Museu Picasso.

Farah melakukan perjalanan dengan kereta api dari Budapest ke Paris. Dalam perjalanan Farah berkenalan dengan Andre, dari Brazil yang satu kompartemen dengannya. Andre in ternyata akan bertemu teman-temannya di Wina lalu akan menuju daerah-daerah di Andalusia, Spanyol dengan mobil dan akan melintasi Barcelona juga. Farahpun bersedia gabung.

Masing-masing sahabat ini pergi untuk berkumpul dengan membawa perasaan yang entah harus senang atau sedih. Semua akan terjawab di bagian akhir buku. Mungkin pernyataan kalau sudah lama bersahabat tidak akan ada rasa cinta tidak berlaku untuk Farah, Jusuf, Retno dan Francis.

Buku hasil kolaborasi empat penulis yang juga traveler: Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidajat dan Ninit Yunita membuatku seperti ikut bersama mereka berkeliling negara-negara dari Asia, Afrika, Eropa.

Gara-gara Undangan Pernikahan

Empat orang sahabat Farah, Jusuf, Retno dan Francis sudah saling mengenal sejak mereka masih di Sekolah Dasar. Meskipun kebersamaan itu tidak lagi menjadi rutinitas karena mereka bekerja di belahan dunia yang berbeda tak menyulutkan niat mereka untuk menghadiri pernikahan Francis. Francis...gara-gara undangan pernikahan darinya membuat tiga sahabat lainnya memutuskan untuk menghadirinya. Tak ayal undangan pernikahan itu membuat Farah dan Retno kecewa, karena diam-diam Farah menyimpan rasa terhadap Francis dan penyesalan Retno yang dulu sempat dua kali menolak Francis hanya karena berbeda keyakinan. Hmm...peyesalan memang selalu datang belakangan.

Dari Hoi An - Nairobi - Kopenhagen - New York - Barcelona

Kisah dimulai dari Farah yang ditugaskan dan menetap di Hoi An, Vietnam oleh Boss-nya ditugaskan untuk menghadiri meeting di Amman dan Budapest. Saat mengecek e-mail dan mendapat undangan dari Francis, Farah langsung mencari info biaya perjalanan dari Budapest ke Barcelona.

Lalu berlanjut dengan Jusuf yang bekerja di perusahaan jasa kirim surat cabang Cape Town ditugaskan oleh kantornya untuk mengecek performa sales di Nairobi. Setelah menerima e-mail Francis mulai menghitung-hitung biaya perjalan ke Barcelona.

Lain lagi cerita Retno yang bekerja sebagai staff KBRI di Kopenhagen, Denmark. Setelah menerima undangan dari Francis menjadi sedih tapi tetap memutuskan untuk datang selain bisa bertemu dengan dua sahabat lainnya. Untuk itu Retno memutuskan untuk melakukan perjalanan ke beberapa negara di Eropa. Perjalanan akan dimulai dari Amsterdam dan berakhir di Barcelona.

Francis sang calon pengantin, adalah seorang pianis yang menetap di Kansas City, Amerika dan setelah itu akan terbang ke Barcelona untuk menikah. Perkenalannya dengan Inez, calon isterinya yang berasal dari Catalunya berawal saat Francis sedang berlatih Chopin Etude Opus 10 no.3 di Practice Room Conservatory of Music University of Missouri. Francis kesal karena tidak bisa memainkannya dengan mulus hingga berteriak dan suaranya memenuhi lorong sepanjang ruangan itu. Saat itulah Francis berkenalan dengan Inez.

Perasaan dan Perasaan

Empat sahabat yang sudah saling mengenal sejak kecil ini ternyata setelah belasan tahun bersama-sama menyembulkan benih-benih kasih yang tak terduga satu sama lain. Farah memendam rasa cintanya pada Francis sejak masih SD, Francis menyukai Retno bahkan sempat dua kali menyatakan perasaannya dan dua kali itu juga ditolak Retno. Sementara Jusuf yang menyukai Farah harus rela menjadi tempat curhat Farah soal Francis.

Pengakuan perasaan ini terkuak saat mereka bertemu di Starbuck La Rambla. Di kafe ini jugalah Francis menyatakan satu hal yang mengejutkan ketiga sahabatnya.

Trip and Trip

Yang membuat aku terkesan dengan buku ini adalah catatan perjalan masing-masing sahabat menuju Barcelona.

Jusuf dalam perjalanannya dari Kenya ke Abidjan sempat mengalami pendaratan di rumput (grass landing) di Aeroport International Felix Houphouet-Boigny karena pesawat yang ditumpanginya mengalami kerusakan mesin. Lalu dari Abidjan menuju Casablanca, Maroko menumpang pesawat Hercules. Mereka sempat istirahat 1 hari di Dakar. Ternyata menuju Barcelona tidaklah mudah, butuh perjuangan karena sambung menyambung moda transportasi. Sesampai di Casablanca Jusuf melanjutkan perjalanan dengan kereta api menuju Rabat, Tangier dan dari sana lanjut dengan kapal feri ke Algeciras atau Salamanca. Sesampainya di sana Jusuf akan mencari transportasi lain ke Barcelona. Tiba di Puerte de Algeciras Jusuf disambut dengan tidak ramah bahkan sempat disetrum segala karena namanya dan dia berasal dari Indonesia, maka pihak imigran mengira Jusuf termasuk jaringan Al-Qaeda. Ada nikmat dibalik musibah karena insiden itu Jusuf bisa menginap 3 hari di kamar suite Novotel Algeciras, tiket kelas bisnis ke Barcelona dan uang 2000 Euro.

Retno Perjalanan Retno dimulai dari Amsterdam. Retno sempat menyusuri daerah Red Light (daerah terlarang untuk disinggahi) lalu mampir ke museum Nusantara di Delft dan Euro Mast di Rotterdam. Setelah Belanda Retno menyambangi Milan, Italia. Di Milan ini Retno ingin melihat lukisan terkenalnya Leonardo da Vinci "The Last Supper" di Piazza S. Maria delle Grazie. Untuk melihat lukisan ini tidak sembarangan harus booking dulu dan pengunjung juga dibatasi hanya 25 orang setiap 15 menit. Wow...
Setelah itu mengunjungi Katedral The Duomo yang bisa dikatakan sebagai simbol kota Milan. Dari Milan menuju Venesia dengan kereta. Moda transportasi di Venesia yang dikenal dengan kota terapung adalah bus air dan gondola. Dari Venesia Retno kembali ke Milan dan lanjut ke Seville, Spanyol. Di Seville terdapat makam Christopher Colombus di depan The Gate of San Cristobal. Dari Seville Retno sampai di tujuan akhir yaitu Barcelona.

Francis Karena Francis seorang pianis dia banyak mengikuti konser seperti dari Cleaveland, Georgia menuju Miami untuk konser berikutnya setelah itu menuju New York untuk sebuah resital duo dan juga mengurus jas pengantinnya. Setelah 9 jam mengudara dari New York, Francis tiba juga di Barcelona. Francis diundang Friends of Pablo Picasso untuk mengadakan sebuah konser di Museu Picasso.

Farah melakukan perjalanan dengan kereta api dari Budapest ke Paris. Dalam perjalanan Farah berkenalan dengan Andre, dari Brazil yang satu kompartemen dengannya. Andre in ternyata akan bertemu teman-temannya di Wina lalu akan menuju daerah-daerah di Andalusia, Spanyol dengan mobil dan akan melintasi Barcelona juga. Farahpun bersedia gabung.

Masing-masing sahabat ini pergi untuk berkumpul dengan membawa perasaan yang entah harus senang atau sedih. Semua akan terjawab di bagian akhir buku. Mungkin pernyataan kalau sudah lama bersahabat tidak akan ada rasa cinta tidak berlaku untuk Farah, Jusuf, Retno dan Francis.
>Hari ini seperti biasa sebelum memulai dengan rutinitas bersama si Boss aku menyempatkan diri membuka buku muka alias face book dan mengaktifkan yahoo messanger-ku. Saat ku lihat postingan-postingan teman salah satunya ada berita duka meninggalnya kakek dari pengarang buku "Travelling Murah" Rangga Dirgantara. Berita tersebut diposting oleh seorang temannya yang sama-sama tergabung di komunitas backpacker, Nana Mardiana. Di catatannya selain meminta partisipasi materiil dari teman-teman juga memerlukan informasi tentang dokumentasi dan biaya pengiriman jenazah dari Malaysia ke Jakarta dan dari Jakarta ke Makassar.

Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap tugas-tugas dari si Boss, aku langsung kirim pesan ke teman yang kerja di perusahaan perkapalan nanyain tentang dokumen dan biaya pengiriman jenazah. Walaupun aku tidak berteman dekat dengan Rangga, tapi sebagai fans-nya aku ingin membantu.

"Eheeem...heemmm..." sepertinya aku kenal suara "dehem" itu. Pas ku angkat mukaku ternyata si Boss sudah berdiri di depanku.
"Sedang apa Van?"
"Mmm..ini pak...saya sedang mencari tahu tentang prosedur dan biaya pengiriman jenazah dari luar negeri ke indonesia."
"Memang jenazah siapa yang mau dikirim?"
"Kakek teman saya pak."
"Oooo..." Lalu si Boss kembali ke ruangannya. Nggak jelas banget kan? Cuma nanya aku sedang apa habis itu kembali ke ruangan.

Dalam hati aku hanya berdoa semoga saja almarhum kakeknya Rangga diterima disisi-Nya dan Rangga sekeluarga diberi kekuatan. Semua yang berhubungan dengan kematian adalah takdir Ilahi dan tak ada satu orangpun yang mampu mencegahnya.
Hari ini seperti biasa sebelum memulai dengan rutinitas bersama si Boss aku menyempatkan diri membuka buku muka alias face book dan mengaktifkan yahoo messanger-ku. Saat ku lihat postingan-postingan teman salah satunya ada berita duka meninggalnya kakek dari pengarang buku "Travelling Murah" Rangga Dirgantara. Berita tersebut diposting oleh seorang temannya yang sama-sama tergabung di komunitas backpacker, Nana Mardiana. Di catatannya selain meminta partisipasi materiil dari teman-teman juga memerlukan informasi tentang dokumentasi dan biaya pengiriman jenazah dari Malaysia ke Jakarta dan dari Jakarta ke Makassar.

Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap tugas-tugas dari si Boss, aku langsung kirim pesan ke teman yang kerja di perusahaan perkapalan nanyain tentang dokumen dan biaya pengiriman jenazah. Walaupun aku tidak berteman dekat dengan Rangga, tapi sebagai fans-nya aku ingin membantu.

"Eheeem...heemmm..." sepertinya aku kenal suara "dehem" itu. Pas ku angkat mukaku ternyata si Boss sudah berdiri di depanku.
"Sedang apa Van?"
"Mmm..ini pak...saya sedang mencari tahu tentang prosedur dan biaya pengiriman jenazah dari luar negeri ke indonesia."
"Memang jenazah siapa yang mau dikirim?"
"Kakek teman saya pak."
"Oooo..." Lalu si Boss kembali ke ruangannya. Nggak jelas banget kan? Cuma nanya aku sedang apa habis itu kembali ke ruangan.

Dalam hati aku hanya berdoa semoga saja almarhum kakeknya Rangga diterima disisi-Nya dan Rangga sekeluarga diberi kekuatan. Semua yang berhubungan dengan kematian adalah takdir Ilahi dan tak ada satu orangpun yang mampu mencegahnya.
>"Van...ujan gede banget tuh", celoteh Cia.
"Terus kenapa? Masih hujan air kan belum hujan batu?", jawabku sekenanya sambil mata terus menatap komputer, jari lincah di keyboard membuat kolom-kolom rencana perjalanan si Boss ke Hongkong minggu depan.
"Iiihh Vanya..." Sepertinya Cia ngambek nih.
"Sory Ci gue lagi serius nih kalo salah si Boss bisa histeris."

Ku lanjutkan lagi ketikanku. Ketak ketik ketak ketik nggak berasa sudah jam 5 sore. Mau pulang tapi hujan masih belum selesai malah jadwal si Boss yang sudah selesai. Aiphone di meja jerit-jerit, pasti Sasha nih ngajak pulang bareng. Benar aja si Sasha ngajak pulang bareng. Anak ini memang lucu, masak sudah 1 tahun bolak balik Kelapa Gading - Bekasi masih saja bingung sama arah. Makanya kalau pergi selalu diantar sama kakaknya kalau pulang selalu cari teman dan kalau aku nggak bisa pasti dia nebeng sama Ujang yang kebetulan satu arah ke Bekasi tapi Sasha cuma sampai pinggir jalan raya nggak sampai rumah (bisa tekor si Ujang hehehe). Dia lebih rela nunggu Ujang selesai daripada pulang jam 5 tapi masih keder di jalan.

Males juga sih pulang sekarang. Tapi...nggak apa-apa deh. Ku ajak Sasha pulang bareng. Gerimis sore-sore bikin hati jadi melow nih...kok tiba-tiba aku keinget sama Didit ya? Sudah 2 minggu ini aku nggak dengar kabar darinya. Sibukkah dia dengan tugas-tugas kuliahnya? Tuh kan...hujan ini bikin aku jadi keingat sama Didit.

Didit itu teman dekatku sejak SMA dan saat ini sedang menempuh pendidikan S2nya di Semarang. Ilmu Komunikasi yang di dalaminya saat ini karena Didit tertarik dengan dunia jurnalistik. Kedekatan kami sering mengundang pertanyaan orang-orang di sekitar kami termasuk keluarga kami. Mereka semua nggak percaya kalau antara aku dan Didit hanya berteman saja, berkawan baik. Diditlah tong sampahku bila ada ganjalan-ganjalan di hati.

Hanya saja semenjak Didit hijrah ke Semarang aku seperti merasa kehilangan sesuatu. Seperti ada yang kurang dari keseharianku. Komunikasi diantara kami tetap berjalan entah lewat sms, telepon, email, chatting pokoknya segala cara lah untuk tetap saling tahu keadaan masing-masing.

Didit...Ya ampun...kenapa jadi mikirin Didit sih. Angkotku sudah sampai di komplek rumah. Aku dan Sasha berpisah di depan Indomaret.
"Van...ujan gede banget tuh", celoteh Cia.
"Terus kenapa? Masih hujan air kan belum hujan batu?", jawabku sekenanya sambil mata terus menatap komputer, jari lincah di keyboard membuat kolom-kolom rencana perjalanan si Boss ke Hongkong minggu depan.
"Iiihh Vanya..." Sepertinya Cia ngambek nih.
"Sory Ci gue lagi serius nih kalo salah si Boss bisa histeris."

Ku lanjutkan lagi ketikanku. Ketak ketik ketak ketik nggak berasa sudah jam 5 sore. Mau pulang tapi hujan masih belum selesai malah jadwal si Boss yang sudah selesai. Aiphone di meja jerit-jerit, pasti Sasha nih ngajak pulang bareng. Benar aja si Sasha ngajak pulang bareng. Anak ini memang lucu, masak sudah 1 tahun bolak balik Kelapa Gading - Bekasi masih saja bingung sama arah. Makanya kalau pergi selalu diantar sama kakaknya kalau pulang selalu cari teman dan kalau aku nggak bisa pasti dia nebeng sama Ujang yang kebetulan satu arah ke Bekasi tapi Sasha cuma sampai pinggir jalan raya nggak sampai rumah (bisa tekor si Ujang hehehe). Dia lebih rela nunggu Ujang selesai daripada pulang jam 5 tapi masih keder di jalan.

Males juga sih pulang sekarang. Tapi...nggak apa-apa deh. Ku ajak Sasha pulang bareng. Gerimis sore-sore bikin hati jadi melow nih...kok tiba-tiba aku keinget sama Didit ya? Sudah 2 minggu ini aku nggak dengar kabar darinya. Sibukkah dia dengan tugas-tugas kuliahnya? Tuh kan...hujan ini bikin aku jadi keingat sama Didit.

Didit itu teman dekatku sejak SMA dan saat ini sedang menempuh pendidikan S2nya di Semarang. Ilmu Komunikasi yang di dalaminya saat ini karena Didit tertarik dengan dunia jurnalistik. Kedekatan kami sering mengundang pertanyaan orang-orang di sekitar kami termasuk keluarga kami. Mereka semua nggak percaya kalau antara aku dan Didit hanya berteman saja, berkawan baik. Diditlah tong sampahku bila ada ganjalan-ganjalan di hati.

Hanya saja semenjak Didit hijrah ke Semarang aku seperti merasa kehilangan sesuatu. Seperti ada yang kurang dari keseharianku. Komunikasi diantara kami tetap berjalan entah lewat sms, telepon, email, chatting pokoknya segala cara lah untuk tetap saling tahu keadaan masing-masing.

Didit...Ya ampun...kenapa jadi mikirin Didit sih. Angkotku sudah sampai di komplek rumah. Aku dan Sasha berpisah di depan Indomaret.
>Hoooaaammm...nyam nyam...haruskah hari ini aku kerja? Rasanya enggan aku meninggalkan kemesraan dengan bantal dan gulingku. Sudah jam 05.30. Kucek-kucek mata, merenggangkan badan, minum seteguk dua teguk air putih, baru deh keluar kamar.

Sial...adikku masih di kamar mandi. "Hariiii...cepetan dikit dong. Mandi kayak perawan aja." Kudengar sahutan "heemmmm..." dari kamar mandi. Leyeh-leyeh...ku nyalakan televisi. Bosan...beritanya itu lagi itu lagi...banyak kasus yang nggak selesai di negeri ini. Lewat 5 menit adikku keluar dari kamar mandi. Estafet, langsung ku gantungkan handuk lalu jebyar jebyur.

"Pak, waktunya berangkat nih." kataku pada ayah yang sedang menikmati pewartaan di televisi. Akupun pamitan dan melenggangkan kaki menuju pangkalan angkot yang siap mengantarku ke terminal Pulo Gadung.

Slogan "I don't like Monday" benar-benar ku rasakan. Rasa malas menderaku dan jalananpun tak bersahabat. Macetnyaaaa bikin keringat bercucuran bercampur aroma asap yang keluar dari knalpot mobil, bis, sesama angkot dan motor. Uggghhh..menyebalkan.

Jarak tempuh 1,5 jam mengantarku sampai di depan kantorku yang kusayang (lebay.com). Hari ini kantor libur apa nggak ya? Kok tampak sepi-sepi saja cuma ada si Ujang, office boy yang lagi bersih-bersih.

"Pagi mba Vanya, mau dibelikan sarapan apa?" dengan ramah Ujang menyapaku. "Mmm...apa ya Jang, rasanya bosan juga aku tiap sarapan bubur, nasi kuning, bubur, nasi uduk. Pingin makan omelet sama sosis ayam rasanya kok kemewahan ya.."
"Mba Vanya sudah terserang penyakit bosan ya?" Ujang senyum-senyum.
"Beliin aku pisang goreng, tahu goreng sama tolong bikinin aku kopi susu ya Jang."

Ujang pun menjauh dari hadapanku. Ku nyalakan komputer, hmm...kerjaan apa ya yang belum ku selesaikan? Saat mengobrak abrik meja ku dengar suara cempreng Cia memanggilku.

"Cia...bisa nggak pagi-pagi gini jangan berisik."
"Oopss sory Van, kan masih sepi. Sarapan apa pagi ini?"
"Gue udah minta tolong Ujang beli gorengan sama bikin kopi susu"
"Hahahaha..." Cia tertawa mendengar jawabanku.
"Aneh?"
"Kayak nenek-nenek aja loe"

Lama-lama suasana kantor kembali normal dengan segudang aktivitas di pagi hari. Ternyata nggak libur tho...pupus sudah harapanku untuk bisa kembali bercengkrama dengan bantal dan gulingku. Penat badan ini rasanya setelah kemarin seharian jalan sama ayah tercinta mengunjungi teman masa kecilnya di Bogor.

Hmm...si Boss belum datang nih, padahal hari ini kan ada meeting sama tamunya yang dari Amerika. Tak Tuk Tak Tuk...wah langkah si Boss tuh. Benar saja begitu sampai bukannya langsung ke ruangannya tapi mampir dulu nongolin mukanya di cubical-ku dan serta merta menanyakan bahan buat meeting hari ini. Oh ya...si Boss ini orangnya rada-rada pelupa dan setiap kali aku yang ketempuan harus jadi hard disk-nya dengan memori lebih dari 2GB.

"Vanya, materinya mana?" tanya si Boss.
"Jumat kemarin saya sudah taruh di meja bapak."
"Mana?? Nggak ada kok? Mapnya apa?"
Duuhh...si Boss nih, bikin orang panik aja. Aku jadi nggak percaya diri. Ku acak-acak laci mejaku, tapi tak kutemukan. Lalu aku permisi ke ruangan si Boss untuk mengacak-acak mejanya.

Setelah 10 menit mengacak-acak akhirnya ku temukan juga map yang berisi materi meeting hari ini. Duh...pak Boss pak Boss nggak jelas banget sih. Sudah disiapkan rapi-rapi tak tahunya ditumpuk sama dokumen-dokumen yang nggak kepake.