Lelaki Sunyi...

0 Comments
Di ujung jalan sana nampak bayang sosok seorang laki-laki. Berjalan gontai dengan menyampirkan jaket di pundaknya. Ku lihat samar kepulan asap ke udara, hmm...sedang merokok dia rupanya. Ku perhatikan langkahnya makin dekat ke arahku yang sedang duduk santai di pos ronda. Malam ini dingin karena habis hujan.

"Mas...", ku sapa laki-laki itu.

"Mari mampir mas. Kebetulan saya punya kopi panas.", sambil ku acungkan termos tanggung yang tadi sengaja ku bawa untuk menemaniku jaga malam.

"Dari mana mas?", ku perhatikan laki-laki ini masih bungkam, hanya kepulan asap yang keluar dari mulutnya. Jaket lusuhnya seperti sudah berbulan-bulan tak dicuci. Lalu ku tuangkan kopi dari termos ke dalam gelas kosong yang ada di sebelah gelasku. Ku angsurkan gelas itu ke dekat kakinya. Masih tanpa reaksi laki-laki itu meneguk isi gelasnya. Kalau dilihat dari penampilannya dengan memakai kaos abu-abu, jins setengah belel dan sepatu kets warna hitam, aku menaksir umur laki-laki ini masih dibawah 30 tahun, hanya saja karena rambutnya yang sedikit gondrong, kumisan seperti nampak usia 30 tahun.

"Saya belum pernah melihat mas, sepertinya mas bukan warga sini ya?", tanyaku dengan harapan akan keluar kata-kata pengganti kepulan asap. Ku dengar tarikan nafasnya.

"Iya, saya mau ke rumah teman saya di perempatan jalan sana." Fiuh...akhirnya keluar juga kata-kata dari mulutnya, berarti laki-laki ini tidak bisu. Kuulurkan tanganku untuk berkenalan.

"War...", katanya.

"Dan...", kataku.

"Terima kasih untuk kopinya.", dengan nada datar War mengucap terima kasih.

"Mmmm...kalau boleh tahu mas War mau ketemu siapa?", tanyaku ingin tahu.

"Saya mau ketemu Sigit."

"Ooo...Sigit sang pujangga." satu RT kami ini siapa yang tidak kenal Sigit, seniman nyentrik yang masih setia dengan celana model cutbrai, baju ketat dipadu vest dan tak lupa topi petnya. Tapi, sepertinya War ini teman barunya Sigit karena aku tahu siapa-siapa saja yang suka nongkrong di rumah Sigit.

"Tapi mas kalau sudah tengah malam begini orangnya sudah tidur. Kalau nggak keberatan masnya bisa istirahat di sini, nanti kalau matahari sudah muncul baru ke rumah Sigit." Setelah mendengar penawaranku War lalu mencopot sepatunya dan menyenderkan badannya di tembok pos ronda. Ku lihat tatapan matanya seperti tak bergairah, raut wajahnya menyiratkan beban hidup yang berat sedang ditanggungnya.

Kami berdua terdiam dalam sepi. Aku penasaran tapi...entah apa yang akan ku tanyakan. Laki-laki ini diam tapi air mukanya seakan bercerita dan aku bisa membaca apa yang terjadi. Sepertinya War sedang punya masalah dengan pasangan. Lelah, sedih nampak berbaur jadi satu. Jangan-jangan habis putus cinta...

Perempuan itu sepertinya tidak tahan dengan gaya hidup War yang bebas tanpa aturan, berusaha berubah tapi tak berubah. War sayang dengan perempuan itu, dia nggak mau kehilangannya tapi apa daya...perempuan itu...

"Mas..mas...", aku merasa ada tepukan di pundakku. Aku lalu mengerjapkan mata dan ya ampun...kenapa aku jadi bernarasi sendiri?

"Kenapa mas Dan dari tadi memandangi saya seperti melihat orang aneh?"

"Mmm...maaf mas. Sepertinya mas War sedang ada masalah ya?"

"Tahu darimana kamu?"

"Maaf mas, raut wajah mas mengisyaratkan seperti itu."

War terdiam dan menghela nafas panjang. Waduh...aku salah bicara sepertinya. Hembusan nafas panjangnya seperti mengeluarkan beban beratnya dan kembali terdiam beberapa saat.

"Sepi mas...", tiba-tiba deretan kata itu keluar dari mulutnya.

"Apanya yang sepi mas?"

"Kamu pernah merasakan kehilangan?"

"Mmm...pernah."

"Seperti apa rasanya?"

"Hampa, kosong, sedih."

"Lalu kamu berusaha mencari yang hilang nggak?"

"Ya...saya cari dulu mas."

"Kalau nggak ketemu?"

"Ya...saya ikhlaskan."

Kembali ku dengar tarikan nafas panjang, lalu ku dengar dia menggumamkan kata ikhlas. Ku katakan padanya bila kita kehilangan, kita harus mengikhlaskannya karena pasti akan ada penggantinya yang jauh lebih baik. Buat War ikhlas itu berat, saat ini hatinya sepi, gamang dan entah apa yang akan dikisahkannya dengan Sigit.

Pagi itu ternyata terakhir kalinya aku melihat War, karena beberapa hari kemudian ku dengar dari Sigit War mengakhiri hidupnya di lintasan kereta api. Tragis...lelaki sunyi itu memilih jalan tidak terhormat hanya karena masalah hati. Ternyata masih ada laki-laki bodoh yang rela mengorbankan hidupnya karena perempuan. Memang belajar ikhlas itu tidak mudah. War, si lelaki sunyi...sudah memilih jalan hidupnya. Semoga Tuhan mengampuni dan janganlah seperti War yang pendek pikirannya.


Tulisan Lainnya:

Tidak ada komentar: