>Hmm...hari ini hari terakhir kerja karena besok libur nasional dan hari ini juga aku, Cia, Meta, Risa dan Fanny sudah bersiap-siap mau jalan-jalan ke Jogja untuk melepas penat setelah sebulan penuh berkutat dengan pekerjaan (udah kayak puasa aja sebulan penuh hehehehe...) Rencananya perjalanan ke Jogja hari ini akan ditempuh dengan mobil sewaan karena tiket kereta, tiket bis semua sudah habis meskipun sebulan sebelumnya kami sudah mencari tahu kesana kemari. Untung penginapan nggak ikutan semrawut juga karena kami akan menginap di rumah kakenya Cia. Tapi...semua ada sangkut pautnya sama Fanny sih, padahal sudah dikasih tahu jauh-jauh hari tiket kendaraan itu sudah harus dipesan tapi Fanny dengan pe-de nya bilang "Nggak usah segitunya kali. Dua minggu sebelumnya juga masih bisa." akhirnya kami pun mengalah dan hasil yang didapat apa? semua tiket habis dan akhirnya sewa mobil. Untung saja mobil yang mau disewa masih ada dan tinggal satu-satunya. Long weekend begini semua moda transportasi rata-rata sudah laris manis.

Semua sudah siap dengan gembolan masing-masing. Kali ini yang ditugasi untuk mengurus mobil Risa karena Risa lebih mendingan dibanding Fanny yang selalu menggampangkan situasi dan kondisi. Sekarang yang jadi masalah mobil sewaan itu yang seharusnya sudah nongkrong di kantor jam 6 sore belum muncul-muncul juga. Risa bolak balik telepon ke supirnya menanyakan posisi mobil. Dengar punya dengar ternyata mobil itu terjebak macet di tol dalam kota dan diperkirakan baru tiba di kantor sekitar jam 9 malam. Alamakkk...masih tiga jam lagi, apakah yang akan kami perbuat?

Si Boss yang masih kedengeran suaranya tiba-tiba menghampiri mejaku.
"Vanya, kamu nggak jadi berangkat ke Jogja? katanya jam 6 mau jalan, ini sudah jam 7 kamu masih di sini?"
"Iya nih pak, mobilnya kena macet di tol dalam kota katanya jam 9an baru sampai."
"Oooo...ya sudah. Sebentar lagi saya pulang, kamu jangan lupa ya nanti matikan semua lampu dan kunci pintu yang benar soalnya kita libur 3 hari nih."
"Kalau soal itu beres pak, tidak perlu khawatir.", jawabku sambil senyum-senyum.

Jam 19.30 si Boss meninggalkan ruangannya. OB nggak ada, alhasil nanti jadi tugasku sepenuhnya untuk mengunci kantor.
"Woiii teman-temans...nggak ada yang lapar ya?" teriakku memenuhi seisi ruangan, karena memang tinggal kami ber-5.
"Mau makan apa Van?", tanya Cia.
"Nasi goreng kek, apa kek yang penting isi perut dulu nih."
Akhirnya Cia, Meta, Risa dan Fanny menghampiri cubical aku.

Sambil mengisi waktu kami makan malam dulu, sesekali Risa memantau posisi mobil sewaan itu.
"Teman-temans, syukurlah mobilnya sudah hampir sampai kira-kira setengah jam lagi."
"Horeee...", kami menyambut dengan sukacita.

Pucuk dicinta ulampun tiba. Mobil yang akan mengangkut kami ke Jogja sampai juga. Buru-buru kami siapkan semua gembolan, matikan lampu-lampu kemudian yang paling terakhir kunci pintu. Lift masih nyala sampai batas terakhir jam 22.00.

"Maaf ya mbak-mbak, macetnya minta ampuuunnn...", ucapan pertama yang diucapkan si supir untuk menenangkan hati kami dan gaya ngomongnya itu loh...seru aja hehehe.
"Iya pak, nggak apa-apa yang penting sudah sampai dengan selamat dan sekarang siap mengantar kami semua.", ujarku dengan senyuman.

Menunggu itu memang pekerjaan yang membosankan. Sekarang kami semua sudah dimobil dan perjalananpun dimulai. Hmmm...leganya...
Hmm...hari ini hari terakhir kerja karena besok libur nasional dan hari ini juga aku, Cia, Meta, Risa dan Fanny sudah bersiap-siap mau jalan-jalan ke Jogja untuk melepas penat setelah sebulan penuh berkutat dengan pekerjaan (udah kayak puasa aja sebulan penuh hehehehe...) Rencananya perjalanan ke Jogja hari ini akan ditempuh dengan mobil sewaan karena tiket kereta, tiket bis semua sudah habis meskipun sebulan sebelumnya kami sudah mencari tahu kesana kemari. Untung penginapan nggak ikutan semrawut juga karena kami akan menginap di rumah kakenya Cia. Tapi...semua ada sangkut pautnya sama Fanny sih, padahal sudah dikasih tahu jauh-jauh hari tiket kendaraan itu sudah harus dipesan tapi Fanny dengan pe-de nya bilang "Nggak usah segitunya kali. Dua minggu sebelumnya juga masih bisa." akhirnya kami pun mengalah dan hasil yang didapat apa? semua tiket habis dan akhirnya sewa mobil. Untung saja mobil yang mau disewa masih ada dan tinggal satu-satunya. Long weekend begini semua moda transportasi rata-rata sudah laris manis.

Semua sudah siap dengan gembolan masing-masing. Kali ini yang ditugasi untuk mengurus mobil Risa karena Risa lebih mendingan dibanding Fanny yang selalu menggampangkan situasi dan kondisi. Sekarang yang jadi masalah mobil sewaan itu yang seharusnya sudah nongkrong di kantor jam 6 sore belum muncul-muncul juga. Risa bolak balik telepon ke supirnya menanyakan posisi mobil. Dengar punya dengar ternyata mobil itu terjebak macet di tol dalam kota dan diperkirakan baru tiba di kantor sekitar jam 9 malam. Alamakkk...masih tiga jam lagi, apakah yang akan kami perbuat?

Si Boss yang masih kedengeran suaranya tiba-tiba menghampiri mejaku.
"Vanya, kamu nggak jadi berangkat ke Jogja? katanya jam 6 mau jalan, ini sudah jam 7 kamu masih di sini?"
"Iya nih pak, mobilnya kena macet di tol dalam kota katanya jam 9an baru sampai."
"Oooo...ya sudah. Sebentar lagi saya pulang, kamu jangan lupa ya nanti matikan semua lampu dan kunci pintu yang benar soalnya kita libur 3 hari nih."
"Kalau soal itu beres pak, tidak perlu khawatir.", jawabku sambil senyum-senyum.

Jam 19.30 si Boss meninggalkan ruangannya. OB nggak ada, alhasil nanti jadi tugasku sepenuhnya untuk mengunci kantor.
"Woiii teman-temans...nggak ada yang lapar ya?" teriakku memenuhi seisi ruangan, karena memang tinggal kami ber-5.
"Mau makan apa Van?", tanya Cia.
"Nasi goreng kek, apa kek yang penting isi perut dulu nih."
Akhirnya Cia, Meta, Risa dan Fanny menghampiri cubical aku.

Sambil mengisi waktu kami makan malam dulu, sesekali Risa memantau posisi mobil sewaan itu.
"Teman-temans, syukurlah mobilnya sudah hampir sampai kira-kira setengah jam lagi."
"Horeee...", kami menyambut dengan sukacita.

Pucuk dicinta ulampun tiba. Mobil yang akan mengangkut kami ke Jogja sampai juga. Buru-buru kami siapkan semua gembolan, matikan lampu-lampu kemudian yang paling terakhir kunci pintu. Lift masih nyala sampai batas terakhir jam 22.00.

"Maaf ya mbak-mbak, macetnya minta ampuuunnn...", ucapan pertama yang diucapkan si supir untuk menenangkan hati kami dan gaya ngomongnya itu loh...seru aja hehehe.
"Iya pak, nggak apa-apa yang penting sudah sampai dengan selamat dan sekarang siap mengantar kami semua.", ujarku dengan senyuman.

Menunggu itu memang pekerjaan yang membosankan. Sekarang kami semua sudah dimobil dan perjalananpun dimulai. Hmmm...leganya...
>
Buku Oeroeg ditulis oleh Hella S. Haasse, seorang Belanda yang lahir di Batavia (Jakarta) 12 Februari 1918 dan sampai sekarang beliau masih ada dan bermukim di Belanda. Buku ini ditulis beliau karena latar belakang sosial yang ada pada saat itu.

Sedikit tentang penulis, debut pertama beliau adalah "Oeroeg" yang terbit tahun 1948, lalu beliau juga menulis tentang autobiografi tentang kehidupannya selama di Hindia Timur "Krassen Op Een Rots" tahun 1970. Ibu Hella seorang pianis Katherina Diehm Winzenhohler, ayahnya seorang Inspektur Keuangan Pemerintah Kolonial Belanda Willem Hendrik Haasse, karena pekerjaan ayahnya itulah Hella sempat tinggal di Batavia selama 20 tahun. Hella memakai nama tokoh "Oeroeg" yang sebenarnya tidak terdengar seperti nama orang Sunda karena memiliki kenangan bawah sadar yang tidak bisa dilepaskan dari ingatan. Makna dari nama Oeroeg adalah menyimpan, menimbun kenangan.

Oeroeg adalah cerita tentang persahabatan, kesetiaan maupun kesetaraan antara orang pribumi dengan orang Belanda antara Oeroeg dan Aku bermula di Kebon Jati. Persahabatan itu tumbuh sejak mereka kecil bahkan Aku merasa kenapa Oeroeg harus dibedakan dengan dirinya? Saat mulai menginjak usia sekolah, Aku belajar private dengan Mijnheer Bollineger sementara Oeroeg hanya melihat dari kejauhan.

Tokoh Aku ini merasakan tidak ada perbedaan ras antara dirinya dan Oeroeg karena begitu menyatunya mereka. Sampai untuk pertama kalinya Aku menyadari perbedaan antara Oeroeg dengan dirinya dan orang tuanya menimbulkan cemoohan dan penolakan antara para pembantu rumah tangga.

Oeroeg bisa bersekolah tinggi di MULO (setara dengan SMA) atas balasan terhadap jasa ayah Oeroeg yang sudah menyelamatkan Aku saat hendak tenggelam di Telaga Hideung. Lulus dari MULO Oeroeg melanjutkan ke Nederlands Indische Artsenschool di Surabaya. Karena Lida (guru private Oeroeg) penampilan Oeroeg bisa berubah, saat itulah Oeroeg merasa identitasnya menjadi bagian dari orang kulit putih. Bertahun-tahun sekolah di MULO Oeroeg kehilangan semua sifat yang di Sukabumi yang menunjukkan ia anak desa. Ia hanya berbahasa Belanda, pakaiannya kebarat-baratan. Oeroeg rela melakukan apapun demi menjadi anak Indo bahkan Oeroeg sempat ingin memakai nama keluarga Lida. Begitu inginnya Oeroeg berasimilasi dengan dunia Eropa.

Persahabatan Aku dan Oeroeg mulai rusak ketika Oeroeg mulai menyadari sikap Belanda yang suka merendahkan bangsa pribumi, seperti saat mereka menonton film dimana ras pribumi menonton di balik layar sehingga semua tulisan terbaca terbalik sementara ras kulit putih menonton dengan posisi normal. Saat kuliah di kedokteran Oeroeg berkembang menjadi seorang orator.

Beginilah gambaran tentang kisah antara Aku dan Oeroeg.

Beberapa perbedaan di dalam filmnya

Di filmnya tokoh Aku ini bernama Johan. Film OEROEG yang dibuat tahun 1993 dan dibintangi diantaranya oleh Ayu Azhari, Tuti Heru ini menurut saya seperti melupakan detil yang ada dibukunya. Cerita Oeroeg ini kan berlatar belakang daerah Sukabumi dimana penduduknya berbahasa Sunda, tetapi ibu Oeroeg berlogat Jawa. Begitu juga dengan tokoh Oeroeg sendiri, logat Sunda-nya tidak kentara. Lalu pertemuan antara Oeroeg dan Johan saat terjadi pertukaran tawanan itu tidak tergambar di dalam buku.

Agresi Militer Belanda itu tidak terlalu di tonjolkan dalam bukunya. Malah di dalam buku itu hanya diceritakan saat Johan pergi untuk belajar ke Holland dan ketika kembali ke Hindia Timur menemukan keadaan yang begitu kacau, bahkan mengunjungi Kebon Jatipun suasana di sana sudah banyak berubah. Kedatangannya kembali ingin bertemu dengan Oeroeg sahabat dan "saudara"nya.


Sumber: buku "OEROEG", Wikipedia.com, indonesiabuku.com, rumahbaca.wordpress.com, sudahkahkaubaca.multiply.com

Buku Oeroeg ditulis oleh Hella S. Haasse, seorang Belanda yang lahir di Batavia (Jakarta) 12 Februari 1918 dan sampai sekarang beliau masih ada dan bermukim di Belanda. Buku ini ditulis beliau karena latar belakang sosial yang ada pada saat itu.

Sedikit tentang penulis, debut pertama beliau adalah "Oeroeg" yang terbit tahun 1948, lalu beliau juga menulis tentang autobiografi tentang kehidupannya selama di Hindia Timur "Krassen Op Een Rots" tahun 1970. Ibu Hella seorang pianis Katherina Diehm Winzenhohler, ayahnya seorang Inspektur Keuangan Pemerintah Kolonial Belanda Willem Hendrik Haasse, karena pekerjaan ayahnya itulah Hella sempat tinggal di Batavia selama 20 tahun. Hella memakai nama tokoh "Oeroeg" yang sebenarnya tidak terdengar seperti nama orang Sunda karena memiliki kenangan bawah sadar yang tidak bisa dilepaskan dari ingatan. Makna dari nama Oeroeg adalah menyimpan, menimbun kenangan.

Oeroeg adalah cerita tentang persahabatan, kesetiaan maupun kesetaraan antara orang pribumi dengan orang Belanda antara Oeroeg dan Aku bermula di Kebon Jati. Persahabatan itu tumbuh sejak mereka kecil bahkan Aku merasa kenapa Oeroeg harus dibedakan dengan dirinya? Saat mulai menginjak usia sekolah, Aku belajar private dengan Mijnheer Bollineger sementara Oeroeg hanya melihat dari kejauhan.

Tokoh Aku ini merasakan tidak ada perbedaan ras antara dirinya dan Oeroeg karena begitu menyatunya mereka. Sampai untuk pertama kalinya Aku menyadari perbedaan antara Oeroeg dengan dirinya dan orang tuanya menimbulkan cemoohan dan penolakan antara para pembantu rumah tangga.

Oeroeg bisa bersekolah tinggi di MULO (setara dengan SMA) atas balasan terhadap jasa ayah Oeroeg yang sudah menyelamatkan Aku saat hendak tenggelam di Telaga Hideung. Lulus dari MULO Oeroeg melanjutkan ke Nederlands Indische Artsenschool di Surabaya. Karena Lida (guru private Oeroeg) penampilan Oeroeg bisa berubah, saat itulah Oeroeg merasa identitasnya menjadi bagian dari orang kulit putih. Bertahun-tahun sekolah di MULO Oeroeg kehilangan semua sifat yang di Sukabumi yang menunjukkan ia anak desa. Ia hanya berbahasa Belanda, pakaiannya kebarat-baratan. Oeroeg rela melakukan apapun demi menjadi anak Indo bahkan Oeroeg sempat ingin memakai nama keluarga Lida. Begitu inginnya Oeroeg berasimilasi dengan dunia Eropa.

Persahabatan Aku dan Oeroeg mulai rusak ketika Oeroeg mulai menyadari sikap Belanda yang suka merendahkan bangsa pribumi, seperti saat mereka menonton film dimana ras pribumi menonton di balik layar sehingga semua tulisan terbaca terbalik sementara ras kulit putih menonton dengan posisi normal. Saat kuliah di kedokteran Oeroeg berkembang menjadi seorang orator.

Beginilah gambaran tentang kisah antara Aku dan Oeroeg.

Beberapa perbedaan di dalam filmnya

Di filmnya tokoh Aku ini bernama Johan. Film OEROEG yang dibuat tahun 1993 dan dibintangi diantaranya oleh Ayu Azhari, Tuti Heru ini menurut saya seperti melupakan detil yang ada dibukunya. Cerita Oeroeg ini kan berlatar belakang daerah Sukabumi dimana penduduknya berbahasa Sunda, tetapi ibu Oeroeg berlogat Jawa. Begitu juga dengan tokoh Oeroeg sendiri, logat Sunda-nya tidak kentara. Lalu pertemuan antara Oeroeg dan Johan saat terjadi pertukaran tawanan itu tidak tergambar di dalam buku.

Agresi Militer Belanda itu tidak terlalu di tonjolkan dalam bukunya. Malah di dalam buku itu hanya diceritakan saat Johan pergi untuk belajar ke Holland dan ketika kembali ke Hindia Timur menemukan keadaan yang begitu kacau, bahkan mengunjungi Kebon Jatipun suasana di sana sudah banyak berubah. Kedatangannya kembali ingin bertemu dengan Oeroeg sahabat dan "saudara"nya.


Sumber: buku "OEROEG", Wikipedia.com, indonesiabuku.com, rumahbaca.wordpress.com, sudahkahkaubaca.multiply.com
>
Buku hasil kolaborasi empat penulis yang juga traveler: Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidajat dan Ninit Yunita membuatku seperti ikut bersama mereka berkeliling negara-negara dari Asia, Afrika, Eropa.

Gara-gara Undangan Pernikahan

Empat orang sahabat Farah, Jusuf, Retno dan Francis sudah saling mengenal sejak mereka masih di Sekolah Dasar. Meskipun kebersamaan itu tidak lagi menjadi rutinitas karena mereka bekerja di belahan dunia yang berbeda tak menyulutkan niat mereka untuk menghadiri pernikahan Francis. Francis...gara-gara undangan pernikahan darinya membuat tiga sahabat lainnya memutuskan untuk menghadirinya. Tak ayal undangan pernikahan itu membuat Farah dan Retno kecewa, karena diam-diam Farah menyimpan rasa terhadap Francis dan penyesalan Retno yang dulu sempat dua kali menolak Francis hanya karena berbeda keyakinan. Hmm...peyesalan memang selalu datang belakangan.

Dari Hoi An - Nairobi - Kopenhagen - New York - Barcelona

Kisah dimulai dari Farah yang ditugaskan dan menetap di Hoi An, Vietnam oleh Boss-nya ditugaskan untuk menghadiri meeting di Amman dan Budapest. Saat mengecek e-mail dan mendapat undangan dari Francis, Farah langsung mencari info biaya perjalanan dari Budapest ke Barcelona.

Lalu berlanjut dengan Jusuf yang bekerja di perusahaan jasa kirim surat cabang Cape Town ditugaskan oleh kantornya untuk mengecek performa sales di Nairobi. Setelah menerima e-mail Francis mulai menghitung-hitung biaya perjalan ke Barcelona.

Lain lagi cerita Retno yang bekerja sebagai staff KBRI di Kopenhagen, Denmark. Setelah menerima undangan dari Francis menjadi sedih tapi tetap memutuskan untuk datang selain bisa bertemu dengan dua sahabat lainnya. Untuk itu Retno memutuskan untuk melakukan perjalanan ke beberapa negara di Eropa. Perjalanan akan dimulai dari Amsterdam dan berakhir di Barcelona.

Francis sang calon pengantin, adalah seorang pianis yang menetap di Kansas City, Amerika dan setelah itu akan terbang ke Barcelona untuk menikah. Perkenalannya dengan Inez, calon isterinya yang berasal dari Catalunya berawal saat Francis sedang berlatih Chopin Etude Opus 10 no.3 di Practice Room Conservatory of Music University of Missouri. Francis kesal karena tidak bisa memainkannya dengan mulus hingga berteriak dan suaranya memenuhi lorong sepanjang ruangan itu. Saat itulah Francis berkenalan dengan Inez.

Perasaan dan Perasaan

Empat sahabat yang sudah saling mengenal sejak kecil ini ternyata setelah belasan tahun bersama-sama menyembulkan benih-benih kasih yang tak terduga satu sama lain. Farah memendam rasa cintanya pada Francis sejak masih SD, Francis menyukai Retno bahkan sempat dua kali menyatakan perasaannya dan dua kali itu juga ditolak Retno. Sementara Jusuf yang menyukai Farah harus rela menjadi tempat curhat Farah soal Francis.

Pengakuan perasaan ini terkuak saat mereka bertemu di Starbuck La Rambla. Di kafe ini jugalah Francis menyatakan satu hal yang mengejutkan ketiga sahabatnya.

Trip and Trip

Yang membuat aku terkesan dengan buku ini adalah catatan perjalan masing-masing sahabat menuju Barcelona.

Jusuf dalam perjalanannya dari Kenya ke Abidjan sempat mengalami pendaratan di rumput (grass landing) di Aeroport International Felix Houphouet-Boigny karena pesawat yang ditumpanginya mengalami kerusakan mesin. Lalu dari Abidjan menuju Casablanca, Maroko menumpang pesawat Hercules. Mereka sempat istirahat 1 hari di Dakar. Ternyata menuju Barcelona tidaklah mudah, butuh perjuangan karena sambung menyambung moda transportasi. Sesampai di Casablanca Jusuf melanjutkan perjalanan dengan kereta api menuju Rabat, Tangier dan dari sana lanjut dengan kapal feri ke Algeciras atau Salamanca. Sesampainya di sana Jusuf akan mencari transportasi lain ke Barcelona. Tiba di Puerte de Algeciras Jusuf disambut dengan tidak ramah bahkan sempat disetrum segala karena namanya dan dia berasal dari Indonesia, maka pihak imigran mengira Jusuf termasuk jaringan Al-Qaeda. Ada nikmat dibalik musibah karena insiden itu Jusuf bisa menginap 3 hari di kamar suite Novotel Algeciras, tiket kelas bisnis ke Barcelona dan uang 2000 Euro.

Retno Perjalanan Retno dimulai dari Amsterdam. Retno sempat menyusuri daerah Red Light (daerah terlarang untuk disinggahi) lalu mampir ke museum Nusantara di Delft dan Euro Mast di Rotterdam. Setelah Belanda Retno menyambangi Milan, Italia. Di Milan ini Retno ingin melihat lukisan terkenalnya Leonardo da Vinci "The Last Supper" di Piazza S. Maria delle Grazie. Untuk melihat lukisan ini tidak sembarangan harus booking dulu dan pengunjung juga dibatasi hanya 25 orang setiap 15 menit. Wow...
Setelah itu mengunjungi Katedral The Duomo yang bisa dikatakan sebagai simbol kota Milan. Dari Milan menuju Venesia dengan kereta. Moda transportasi di Venesia yang dikenal dengan kota terapung adalah bus air dan gondola. Dari Venesia Retno kembali ke Milan dan lanjut ke Seville, Spanyol. Di Seville terdapat makam Christopher Colombus di depan The Gate of San Cristobal. Dari Seville Retno sampai di tujuan akhir yaitu Barcelona.

Francis Karena Francis seorang pianis dia banyak mengikuti konser seperti dari Cleaveland, Georgia menuju Miami untuk konser berikutnya setelah itu menuju New York untuk sebuah resital duo dan juga mengurus jas pengantinnya. Setelah 9 jam mengudara dari New York, Francis tiba juga di Barcelona. Francis diundang Friends of Pablo Picasso untuk mengadakan sebuah konser di Museu Picasso.

Farah melakukan perjalanan dengan kereta api dari Budapest ke Paris. Dalam perjalanan Farah berkenalan dengan Andre, dari Brazil yang satu kompartemen dengannya. Andre in ternyata akan bertemu teman-temannya di Wina lalu akan menuju daerah-daerah di Andalusia, Spanyol dengan mobil dan akan melintasi Barcelona juga. Farahpun bersedia gabung.

Masing-masing sahabat ini pergi untuk berkumpul dengan membawa perasaan yang entah harus senang atau sedih. Semua akan terjawab di bagian akhir buku. Mungkin pernyataan kalau sudah lama bersahabat tidak akan ada rasa cinta tidak berlaku untuk Farah, Jusuf, Retno dan Francis.

Buku hasil kolaborasi empat penulis yang juga traveler: Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidajat dan Ninit Yunita membuatku seperti ikut bersama mereka berkeliling negara-negara dari Asia, Afrika, Eropa.

Gara-gara Undangan Pernikahan

Empat orang sahabat Farah, Jusuf, Retno dan Francis sudah saling mengenal sejak mereka masih di Sekolah Dasar. Meskipun kebersamaan itu tidak lagi menjadi rutinitas karena mereka bekerja di belahan dunia yang berbeda tak menyulutkan niat mereka untuk menghadiri pernikahan Francis. Francis...gara-gara undangan pernikahan darinya membuat tiga sahabat lainnya memutuskan untuk menghadirinya. Tak ayal undangan pernikahan itu membuat Farah dan Retno kecewa, karena diam-diam Farah menyimpan rasa terhadap Francis dan penyesalan Retno yang dulu sempat dua kali menolak Francis hanya karena berbeda keyakinan. Hmm...peyesalan memang selalu datang belakangan.

Dari Hoi An - Nairobi - Kopenhagen - New York - Barcelona

Kisah dimulai dari Farah yang ditugaskan dan menetap di Hoi An, Vietnam oleh Boss-nya ditugaskan untuk menghadiri meeting di Amman dan Budapest. Saat mengecek e-mail dan mendapat undangan dari Francis, Farah langsung mencari info biaya perjalanan dari Budapest ke Barcelona.

Lalu berlanjut dengan Jusuf yang bekerja di perusahaan jasa kirim surat cabang Cape Town ditugaskan oleh kantornya untuk mengecek performa sales di Nairobi. Setelah menerima e-mail Francis mulai menghitung-hitung biaya perjalan ke Barcelona.

Lain lagi cerita Retno yang bekerja sebagai staff KBRI di Kopenhagen, Denmark. Setelah menerima undangan dari Francis menjadi sedih tapi tetap memutuskan untuk datang selain bisa bertemu dengan dua sahabat lainnya. Untuk itu Retno memutuskan untuk melakukan perjalanan ke beberapa negara di Eropa. Perjalanan akan dimulai dari Amsterdam dan berakhir di Barcelona.

Francis sang calon pengantin, adalah seorang pianis yang menetap di Kansas City, Amerika dan setelah itu akan terbang ke Barcelona untuk menikah. Perkenalannya dengan Inez, calon isterinya yang berasal dari Catalunya berawal saat Francis sedang berlatih Chopin Etude Opus 10 no.3 di Practice Room Conservatory of Music University of Missouri. Francis kesal karena tidak bisa memainkannya dengan mulus hingga berteriak dan suaranya memenuhi lorong sepanjang ruangan itu. Saat itulah Francis berkenalan dengan Inez.

Perasaan dan Perasaan

Empat sahabat yang sudah saling mengenal sejak kecil ini ternyata setelah belasan tahun bersama-sama menyembulkan benih-benih kasih yang tak terduga satu sama lain. Farah memendam rasa cintanya pada Francis sejak masih SD, Francis menyukai Retno bahkan sempat dua kali menyatakan perasaannya dan dua kali itu juga ditolak Retno. Sementara Jusuf yang menyukai Farah harus rela menjadi tempat curhat Farah soal Francis.

Pengakuan perasaan ini terkuak saat mereka bertemu di Starbuck La Rambla. Di kafe ini jugalah Francis menyatakan satu hal yang mengejutkan ketiga sahabatnya.

Trip and Trip

Yang membuat aku terkesan dengan buku ini adalah catatan perjalan masing-masing sahabat menuju Barcelona.

Jusuf dalam perjalanannya dari Kenya ke Abidjan sempat mengalami pendaratan di rumput (grass landing) di Aeroport International Felix Houphouet-Boigny karena pesawat yang ditumpanginya mengalami kerusakan mesin. Lalu dari Abidjan menuju Casablanca, Maroko menumpang pesawat Hercules. Mereka sempat istirahat 1 hari di Dakar. Ternyata menuju Barcelona tidaklah mudah, butuh perjuangan karena sambung menyambung moda transportasi. Sesampai di Casablanca Jusuf melanjutkan perjalanan dengan kereta api menuju Rabat, Tangier dan dari sana lanjut dengan kapal feri ke Algeciras atau Salamanca. Sesampainya di sana Jusuf akan mencari transportasi lain ke Barcelona. Tiba di Puerte de Algeciras Jusuf disambut dengan tidak ramah bahkan sempat disetrum segala karena namanya dan dia berasal dari Indonesia, maka pihak imigran mengira Jusuf termasuk jaringan Al-Qaeda. Ada nikmat dibalik musibah karena insiden itu Jusuf bisa menginap 3 hari di kamar suite Novotel Algeciras, tiket kelas bisnis ke Barcelona dan uang 2000 Euro.

Retno Perjalanan Retno dimulai dari Amsterdam. Retno sempat menyusuri daerah Red Light (daerah terlarang untuk disinggahi) lalu mampir ke museum Nusantara di Delft dan Euro Mast di Rotterdam. Setelah Belanda Retno menyambangi Milan, Italia. Di Milan ini Retno ingin melihat lukisan terkenalnya Leonardo da Vinci "The Last Supper" di Piazza S. Maria delle Grazie. Untuk melihat lukisan ini tidak sembarangan harus booking dulu dan pengunjung juga dibatasi hanya 25 orang setiap 15 menit. Wow...
Setelah itu mengunjungi Katedral The Duomo yang bisa dikatakan sebagai simbol kota Milan. Dari Milan menuju Venesia dengan kereta. Moda transportasi di Venesia yang dikenal dengan kota terapung adalah bus air dan gondola. Dari Venesia Retno kembali ke Milan dan lanjut ke Seville, Spanyol. Di Seville terdapat makam Christopher Colombus di depan The Gate of San Cristobal. Dari Seville Retno sampai di tujuan akhir yaitu Barcelona.

Francis Karena Francis seorang pianis dia banyak mengikuti konser seperti dari Cleaveland, Georgia menuju Miami untuk konser berikutnya setelah itu menuju New York untuk sebuah resital duo dan juga mengurus jas pengantinnya. Setelah 9 jam mengudara dari New York, Francis tiba juga di Barcelona. Francis diundang Friends of Pablo Picasso untuk mengadakan sebuah konser di Museu Picasso.

Farah melakukan perjalanan dengan kereta api dari Budapest ke Paris. Dalam perjalanan Farah berkenalan dengan Andre, dari Brazil yang satu kompartemen dengannya. Andre in ternyata akan bertemu teman-temannya di Wina lalu akan menuju daerah-daerah di Andalusia, Spanyol dengan mobil dan akan melintasi Barcelona juga. Farahpun bersedia gabung.

Masing-masing sahabat ini pergi untuk berkumpul dengan membawa perasaan yang entah harus senang atau sedih. Semua akan terjawab di bagian akhir buku. Mungkin pernyataan kalau sudah lama bersahabat tidak akan ada rasa cinta tidak berlaku untuk Farah, Jusuf, Retno dan Francis.
>Hari ini seperti biasa sebelum memulai dengan rutinitas bersama si Boss aku menyempatkan diri membuka buku muka alias face book dan mengaktifkan yahoo messanger-ku. Saat ku lihat postingan-postingan teman salah satunya ada berita duka meninggalnya kakek dari pengarang buku "Travelling Murah" Rangga Dirgantara. Berita tersebut diposting oleh seorang temannya yang sama-sama tergabung di komunitas backpacker, Nana Mardiana. Di catatannya selain meminta partisipasi materiil dari teman-teman juga memerlukan informasi tentang dokumentasi dan biaya pengiriman jenazah dari Malaysia ke Jakarta dan dari Jakarta ke Makassar.

Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap tugas-tugas dari si Boss, aku langsung kirim pesan ke teman yang kerja di perusahaan perkapalan nanyain tentang dokumen dan biaya pengiriman jenazah. Walaupun aku tidak berteman dekat dengan Rangga, tapi sebagai fans-nya aku ingin membantu.

"Eheeem...heemmm..." sepertinya aku kenal suara "dehem" itu. Pas ku angkat mukaku ternyata si Boss sudah berdiri di depanku.
"Sedang apa Van?"
"Mmm..ini pak...saya sedang mencari tahu tentang prosedur dan biaya pengiriman jenazah dari luar negeri ke indonesia."
"Memang jenazah siapa yang mau dikirim?"
"Kakek teman saya pak."
"Oooo..." Lalu si Boss kembali ke ruangannya. Nggak jelas banget kan? Cuma nanya aku sedang apa habis itu kembali ke ruangan.

Dalam hati aku hanya berdoa semoga saja almarhum kakeknya Rangga diterima disisi-Nya dan Rangga sekeluarga diberi kekuatan. Semua yang berhubungan dengan kematian adalah takdir Ilahi dan tak ada satu orangpun yang mampu mencegahnya.
Hari ini seperti biasa sebelum memulai dengan rutinitas bersama si Boss aku menyempatkan diri membuka buku muka alias face book dan mengaktifkan yahoo messanger-ku. Saat ku lihat postingan-postingan teman salah satunya ada berita duka meninggalnya kakek dari pengarang buku "Travelling Murah" Rangga Dirgantara. Berita tersebut diposting oleh seorang temannya yang sama-sama tergabung di komunitas backpacker, Nana Mardiana. Di catatannya selain meminta partisipasi materiil dari teman-teman juga memerlukan informasi tentang dokumentasi dan biaya pengiriman jenazah dari Malaysia ke Jakarta dan dari Jakarta ke Makassar.

Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap tugas-tugas dari si Boss, aku langsung kirim pesan ke teman yang kerja di perusahaan perkapalan nanyain tentang dokumen dan biaya pengiriman jenazah. Walaupun aku tidak berteman dekat dengan Rangga, tapi sebagai fans-nya aku ingin membantu.

"Eheeem...heemmm..." sepertinya aku kenal suara "dehem" itu. Pas ku angkat mukaku ternyata si Boss sudah berdiri di depanku.
"Sedang apa Van?"
"Mmm..ini pak...saya sedang mencari tahu tentang prosedur dan biaya pengiriman jenazah dari luar negeri ke indonesia."
"Memang jenazah siapa yang mau dikirim?"
"Kakek teman saya pak."
"Oooo..." Lalu si Boss kembali ke ruangannya. Nggak jelas banget kan? Cuma nanya aku sedang apa habis itu kembali ke ruangan.

Dalam hati aku hanya berdoa semoga saja almarhum kakeknya Rangga diterima disisi-Nya dan Rangga sekeluarga diberi kekuatan. Semua yang berhubungan dengan kematian adalah takdir Ilahi dan tak ada satu orangpun yang mampu mencegahnya.
>"Van...ujan gede banget tuh", celoteh Cia.
"Terus kenapa? Masih hujan air kan belum hujan batu?", jawabku sekenanya sambil mata terus menatap komputer, jari lincah di keyboard membuat kolom-kolom rencana perjalanan si Boss ke Hongkong minggu depan.
"Iiihh Vanya..." Sepertinya Cia ngambek nih.
"Sory Ci gue lagi serius nih kalo salah si Boss bisa histeris."

Ku lanjutkan lagi ketikanku. Ketak ketik ketak ketik nggak berasa sudah jam 5 sore. Mau pulang tapi hujan masih belum selesai malah jadwal si Boss yang sudah selesai. Aiphone di meja jerit-jerit, pasti Sasha nih ngajak pulang bareng. Benar aja si Sasha ngajak pulang bareng. Anak ini memang lucu, masak sudah 1 tahun bolak balik Kelapa Gading - Bekasi masih saja bingung sama arah. Makanya kalau pergi selalu diantar sama kakaknya kalau pulang selalu cari teman dan kalau aku nggak bisa pasti dia nebeng sama Ujang yang kebetulan satu arah ke Bekasi tapi Sasha cuma sampai pinggir jalan raya nggak sampai rumah (bisa tekor si Ujang hehehe). Dia lebih rela nunggu Ujang selesai daripada pulang jam 5 tapi masih keder di jalan.

Males juga sih pulang sekarang. Tapi...nggak apa-apa deh. Ku ajak Sasha pulang bareng. Gerimis sore-sore bikin hati jadi melow nih...kok tiba-tiba aku keinget sama Didit ya? Sudah 2 minggu ini aku nggak dengar kabar darinya. Sibukkah dia dengan tugas-tugas kuliahnya? Tuh kan...hujan ini bikin aku jadi keingat sama Didit.

Didit itu teman dekatku sejak SMA dan saat ini sedang menempuh pendidikan S2nya di Semarang. Ilmu Komunikasi yang di dalaminya saat ini karena Didit tertarik dengan dunia jurnalistik. Kedekatan kami sering mengundang pertanyaan orang-orang di sekitar kami termasuk keluarga kami. Mereka semua nggak percaya kalau antara aku dan Didit hanya berteman saja, berkawan baik. Diditlah tong sampahku bila ada ganjalan-ganjalan di hati.

Hanya saja semenjak Didit hijrah ke Semarang aku seperti merasa kehilangan sesuatu. Seperti ada yang kurang dari keseharianku. Komunikasi diantara kami tetap berjalan entah lewat sms, telepon, email, chatting pokoknya segala cara lah untuk tetap saling tahu keadaan masing-masing.

Didit...Ya ampun...kenapa jadi mikirin Didit sih. Angkotku sudah sampai di komplek rumah. Aku dan Sasha berpisah di depan Indomaret.
"Van...ujan gede banget tuh", celoteh Cia.
"Terus kenapa? Masih hujan air kan belum hujan batu?", jawabku sekenanya sambil mata terus menatap komputer, jari lincah di keyboard membuat kolom-kolom rencana perjalanan si Boss ke Hongkong minggu depan.
"Iiihh Vanya..." Sepertinya Cia ngambek nih.
"Sory Ci gue lagi serius nih kalo salah si Boss bisa histeris."

Ku lanjutkan lagi ketikanku. Ketak ketik ketak ketik nggak berasa sudah jam 5 sore. Mau pulang tapi hujan masih belum selesai malah jadwal si Boss yang sudah selesai. Aiphone di meja jerit-jerit, pasti Sasha nih ngajak pulang bareng. Benar aja si Sasha ngajak pulang bareng. Anak ini memang lucu, masak sudah 1 tahun bolak balik Kelapa Gading - Bekasi masih saja bingung sama arah. Makanya kalau pergi selalu diantar sama kakaknya kalau pulang selalu cari teman dan kalau aku nggak bisa pasti dia nebeng sama Ujang yang kebetulan satu arah ke Bekasi tapi Sasha cuma sampai pinggir jalan raya nggak sampai rumah (bisa tekor si Ujang hehehe). Dia lebih rela nunggu Ujang selesai daripada pulang jam 5 tapi masih keder di jalan.

Males juga sih pulang sekarang. Tapi...nggak apa-apa deh. Ku ajak Sasha pulang bareng. Gerimis sore-sore bikin hati jadi melow nih...kok tiba-tiba aku keinget sama Didit ya? Sudah 2 minggu ini aku nggak dengar kabar darinya. Sibukkah dia dengan tugas-tugas kuliahnya? Tuh kan...hujan ini bikin aku jadi keingat sama Didit.

Didit itu teman dekatku sejak SMA dan saat ini sedang menempuh pendidikan S2nya di Semarang. Ilmu Komunikasi yang di dalaminya saat ini karena Didit tertarik dengan dunia jurnalistik. Kedekatan kami sering mengundang pertanyaan orang-orang di sekitar kami termasuk keluarga kami. Mereka semua nggak percaya kalau antara aku dan Didit hanya berteman saja, berkawan baik. Diditlah tong sampahku bila ada ganjalan-ganjalan di hati.

Hanya saja semenjak Didit hijrah ke Semarang aku seperti merasa kehilangan sesuatu. Seperti ada yang kurang dari keseharianku. Komunikasi diantara kami tetap berjalan entah lewat sms, telepon, email, chatting pokoknya segala cara lah untuk tetap saling tahu keadaan masing-masing.

Didit...Ya ampun...kenapa jadi mikirin Didit sih. Angkotku sudah sampai di komplek rumah. Aku dan Sasha berpisah di depan Indomaret.
>Hoooaaammm...nyam nyam...haruskah hari ini aku kerja? Rasanya enggan aku meninggalkan kemesraan dengan bantal dan gulingku. Sudah jam 05.30. Kucek-kucek mata, merenggangkan badan, minum seteguk dua teguk air putih, baru deh keluar kamar.

Sial...adikku masih di kamar mandi. "Hariiii...cepetan dikit dong. Mandi kayak perawan aja." Kudengar sahutan "heemmmm..." dari kamar mandi. Leyeh-leyeh...ku nyalakan televisi. Bosan...beritanya itu lagi itu lagi...banyak kasus yang nggak selesai di negeri ini. Lewat 5 menit adikku keluar dari kamar mandi. Estafet, langsung ku gantungkan handuk lalu jebyar jebyur.

"Pak, waktunya berangkat nih." kataku pada ayah yang sedang menikmati pewartaan di televisi. Akupun pamitan dan melenggangkan kaki menuju pangkalan angkot yang siap mengantarku ke terminal Pulo Gadung.

Slogan "I don't like Monday" benar-benar ku rasakan. Rasa malas menderaku dan jalananpun tak bersahabat. Macetnyaaaa bikin keringat bercucuran bercampur aroma asap yang keluar dari knalpot mobil, bis, sesama angkot dan motor. Uggghhh..menyebalkan.

Jarak tempuh 1,5 jam mengantarku sampai di depan kantorku yang kusayang (lebay.com). Hari ini kantor libur apa nggak ya? Kok tampak sepi-sepi saja cuma ada si Ujang, office boy yang lagi bersih-bersih.

"Pagi mba Vanya, mau dibelikan sarapan apa?" dengan ramah Ujang menyapaku. "Mmm...apa ya Jang, rasanya bosan juga aku tiap sarapan bubur, nasi kuning, bubur, nasi uduk. Pingin makan omelet sama sosis ayam rasanya kok kemewahan ya.."
"Mba Vanya sudah terserang penyakit bosan ya?" Ujang senyum-senyum.
"Beliin aku pisang goreng, tahu goreng sama tolong bikinin aku kopi susu ya Jang."

Ujang pun menjauh dari hadapanku. Ku nyalakan komputer, hmm...kerjaan apa ya yang belum ku selesaikan? Saat mengobrak abrik meja ku dengar suara cempreng Cia memanggilku.

"Cia...bisa nggak pagi-pagi gini jangan berisik."
"Oopss sory Van, kan masih sepi. Sarapan apa pagi ini?"
"Gue udah minta tolong Ujang beli gorengan sama bikin kopi susu"
"Hahahaha..." Cia tertawa mendengar jawabanku.
"Aneh?"
"Kayak nenek-nenek aja loe"

Lama-lama suasana kantor kembali normal dengan segudang aktivitas di pagi hari. Ternyata nggak libur tho...pupus sudah harapanku untuk bisa kembali bercengkrama dengan bantal dan gulingku. Penat badan ini rasanya setelah kemarin seharian jalan sama ayah tercinta mengunjungi teman masa kecilnya di Bogor.

Hmm...si Boss belum datang nih, padahal hari ini kan ada meeting sama tamunya yang dari Amerika. Tak Tuk Tak Tuk...wah langkah si Boss tuh. Benar saja begitu sampai bukannya langsung ke ruangannya tapi mampir dulu nongolin mukanya di cubical-ku dan serta merta menanyakan bahan buat meeting hari ini. Oh ya...si Boss ini orangnya rada-rada pelupa dan setiap kali aku yang ketempuan harus jadi hard disk-nya dengan memori lebih dari 2GB.

"Vanya, materinya mana?" tanya si Boss.
"Jumat kemarin saya sudah taruh di meja bapak."
"Mana?? Nggak ada kok? Mapnya apa?"
Duuhh...si Boss nih, bikin orang panik aja. Aku jadi nggak percaya diri. Ku acak-acak laci mejaku, tapi tak kutemukan. Lalu aku permisi ke ruangan si Boss untuk mengacak-acak mejanya.

Setelah 10 menit mengacak-acak akhirnya ku temukan juga map yang berisi materi meeting hari ini. Duh...pak Boss pak Boss nggak jelas banget sih. Sudah disiapkan rapi-rapi tak tahunya ditumpuk sama dokumen-dokumen yang nggak kepake.
Hoooaaammm...nyam nyam...haruskah hari ini aku kerja? Rasanya enggan aku meninggalkan kemesraan dengan bantal dan gulingku. Sudah jam 05.30. Kucek-kucek mata, merenggangkan badan, minum seteguk dua teguk air putih, baru deh keluar kamar.

Sial...adikku masih di kamar mandi. "Hariiii...cepetan dikit dong. Mandi kayak perawan aja." Kudengar sahutan "heemmmm..." dari kamar mandi. Leyeh-leyeh...ku nyalakan televisi. Bosan...beritanya itu lagi itu lagi...banyak kasus yang nggak selesai di negeri ini. Lewat 5 menit adikku keluar dari kamar mandi. Estafet, langsung ku gantungkan handuk lalu jebyar jebyur.

"Pak, waktunya berangkat nih." kataku pada ayah yang sedang menikmati pewartaan di televisi. Akupun pamitan dan melenggangkan kaki menuju pangkalan angkot yang siap mengantarku ke terminal Pulo Gadung.

Slogan "I don't like Monday" benar-benar ku rasakan. Rasa malas menderaku dan jalananpun tak bersahabat. Macetnyaaaa bikin keringat bercucuran bercampur aroma asap yang keluar dari knalpot mobil, bis, sesama angkot dan motor. Uggghhh..menyebalkan.

Jarak tempuh 1,5 jam mengantarku sampai di depan kantorku yang kusayang (lebay.com). Hari ini kantor libur apa nggak ya? Kok tampak sepi-sepi saja cuma ada si Ujang, office boy yang lagi bersih-bersih.

"Pagi mba Vanya, mau dibelikan sarapan apa?" dengan ramah Ujang menyapaku. "Mmm...apa ya Jang, rasanya bosan juga aku tiap sarapan bubur, nasi kuning, bubur, nasi uduk. Pingin makan omelet sama sosis ayam rasanya kok kemewahan ya.."
"Mba Vanya sudah terserang penyakit bosan ya?" Ujang senyum-senyum.
"Beliin aku pisang goreng, tahu goreng sama tolong bikinin aku kopi susu ya Jang."

Ujang pun menjauh dari hadapanku. Ku nyalakan komputer, hmm...kerjaan apa ya yang belum ku selesaikan? Saat mengobrak abrik meja ku dengar suara cempreng Cia memanggilku.

"Cia...bisa nggak pagi-pagi gini jangan berisik."
"Oopss sory Van, kan masih sepi. Sarapan apa pagi ini?"
"Gue udah minta tolong Ujang beli gorengan sama bikin kopi susu"
"Hahahaha..." Cia tertawa mendengar jawabanku.
"Aneh?"
"Kayak nenek-nenek aja loe"

Lama-lama suasana kantor kembali normal dengan segudang aktivitas di pagi hari. Ternyata nggak libur tho...pupus sudah harapanku untuk bisa kembali bercengkrama dengan bantal dan gulingku. Penat badan ini rasanya setelah kemarin seharian jalan sama ayah tercinta mengunjungi teman masa kecilnya di Bogor.

Hmm...si Boss belum datang nih, padahal hari ini kan ada meeting sama tamunya yang dari Amerika. Tak Tuk Tak Tuk...wah langkah si Boss tuh. Benar saja begitu sampai bukannya langsung ke ruangannya tapi mampir dulu nongolin mukanya di cubical-ku dan serta merta menanyakan bahan buat meeting hari ini. Oh ya...si Boss ini orangnya rada-rada pelupa dan setiap kali aku yang ketempuan harus jadi hard disk-nya dengan memori lebih dari 2GB.

"Vanya, materinya mana?" tanya si Boss.
"Jumat kemarin saya sudah taruh di meja bapak."
"Mana?? Nggak ada kok? Mapnya apa?"
Duuhh...si Boss nih, bikin orang panik aja. Aku jadi nggak percaya diri. Ku acak-acak laci mejaku, tapi tak kutemukan. Lalu aku permisi ke ruangan si Boss untuk mengacak-acak mejanya.

Setelah 10 menit mengacak-acak akhirnya ku temukan juga map yang berisi materi meeting hari ini. Duh...pak Boss pak Boss nggak jelas banget sih. Sudah disiapkan rapi-rapi tak tahunya ditumpuk sama dokumen-dokumen yang nggak kepake.
>"Wow"...satu kata yang bisa aku ungkapkan hari ini. Bagaimana tidak? dari kemarin-kemarin aku ingin sekali nge-add fb mas Jojo (waktu itu dikenalin sama mas Anta di bandara) baru terealisasi hari ini. Sebelum diconfirm pun aku sudah melihat album foto mas Jojo yang berjudul "Europe, Here I am" wah...banyak foto-foto selama di Belanda dan juga foto waktu mereka di kelas. Huhuhuhu...jadi iri deh :-(

Aku seneng banget akhirnya dikonfirm sama mas Jojo. Terus aku baca note-note mas Jojo selama di Belanda wa...serasa aku disana juga :-)

Trims banget mas Jojo atas liputannya. Aku bener-bener seneng punya teman baru dan beberapa orang teman yang aku ingat saat dikenalin sama mas Anta aku add aja fb-nya masalah dikonfirm atau nggak urusan belakangan hehehe...sok kenal banget ya...

Tapi aku berterima kasih banget sama mas Anta yang sudah mengenalkan aku pada teman-teman satu groupnya yang ikutan shortcourse jurnalis di Hilversum. Bertambah lagi lah teman-teman jurnalis aku. Makin terbuka kesempatan aku untuk belajar dari mereka. Sekalipun tidak bisa berprofesi langsung sebagai jurnalis di salah satu media cukuplah aku bisa menjadi citizen journalist yang tulisanku bisa dibaca semua orang.

Thanks JC, i believe Your way...
Senangnya punya teman baru ^_^
"Wow"...satu kata yang bisa aku ungkapkan hari ini. Bagaimana tidak? dari kemarin-kemarin aku ingin sekali nge-add fb mas Jojo (waktu itu dikenalin sama mas Anta di bandara) baru terealisasi hari ini. Sebelum diconfirm pun aku sudah melihat album foto mas Jojo yang berjudul "Europe, Here I am" wah...banyak foto-foto selama di Belanda dan juga foto waktu mereka di kelas. Huhuhuhu...jadi iri deh :-(

Aku seneng banget akhirnya dikonfirm sama mas Jojo. Terus aku baca note-note mas Jojo selama di Belanda wa...serasa aku disana juga :-)

Trims banget mas Jojo atas liputannya. Aku bener-bener seneng punya teman baru dan beberapa orang teman yang aku ingat saat dikenalin sama mas Anta aku add aja fb-nya masalah dikonfirm atau nggak urusan belakangan hehehe...sok kenal banget ya...

Tapi aku berterima kasih banget sama mas Anta yang sudah mengenalkan aku pada teman-teman satu groupnya yang ikutan shortcourse jurnalis di Hilversum. Bertambah lagi lah teman-teman jurnalis aku. Makin terbuka kesempatan aku untuk belajar dari mereka. Sekalipun tidak bisa berprofesi langsung sebagai jurnalis di salah satu media cukuplah aku bisa menjadi citizen journalist yang tulisanku bisa dibaca semua orang.

Thanks JC, i believe Your way...
Senangnya punya teman baru ^_^
>Mmmm...kalau bicarain tentang seninya hidup itu bisa saja tentang warna-warna dalam kehidupan. Yang namanya hidup itu penuh warna tidak hanya hitam dan putih tapi seperti pelangi. Bahkan dalam satu hari manusia itu bisa menikmati warna-warna itu secara bergantian. Mungkin ada yang konstan, mungkin juga ada yang berfluktuatif. Pagi bisa menikmati warna biru, siang bisa berubah merah, malam bisa berubah menjadi biru lagi.

Tuhan menciptakan manusia dengan segenap akal budinya dan manusia juga diberi kebebasan untuk memilih. Hasil karya Tuhan inilah yang menghadirkan warna/seni dalam hidup manusia itu sendiri.

Manusia itu banyak maunya, banyak inginnya juga mimpinya. Tapi ada juga manusia-manusia yang terlalu kreatif sampai-sampai bisa mengadu domba orang lain. Dinamika kehidupan...Ada saja manusia-manusia usil yang suka ngurusin urusan orang lain, sibuk mencibir, sibuk mencela, sibuk menggunjing, padahal kehidupan pribadi orang itu belum tentu seratus persen benar.

Kenapa manusia itu hidup tidak bisa berdampingan dengan damai? Kenapa tidak bisa mengurusi urusan masing-masing? Kembangkanlah sikap toleransi, kan enak tuh kalau ada damai sekalipun kita ini hidup dengan beragam jenis perbedaan.

Seperti halnya berpasangan banyak aku mendengar keluhan dari teman-teman tentang pasangan hidupnya tak luput juga aku. Terkadang sampai terpikir pasangan seperti apa sih yang diinginkan sebenarnya? Apakah seorang pangeran yang sempurna seperti di dongeng-dongeng klasik? Kita ada di dunia nyata bukan di dunia khayal dan harusnya mensyukuri dan menerima kelebihan kekurangan pasangan kita. Tapi ya terkadang bagi seseorang yang terbiasa sendiri disaat mempunyai pasangan merasa seperti ada ruang gerak yang dibatasi. Padahal bila semua disikapi secara wajar, komunikasi yang baik tidak ada kendala yang berarti antara saat sendiri atau saat mempunyai pasangan.

Ketidak puasan dalam pencapaian hidup juga menjadi bagian seninya hidup, karena akan ada banyak cara dilakukan untuk mencapai suatu tujuan tertentu dan caranya ini bisa bersih, bisa kotor semua itu terpulang lagi kepada individu yang menjalankannya.

Menurut saya dinikmati sajalah proses kehidupan ini toh semua yang terjadi di dalam hidup ini sudah pasti seijin yang Diatas dan tinggal pandai-pandainya manusia dalam memilih dan menjalankannya. Selama hayat dikandung badan seninya hidup itu akan terus mengikuti dan tak terpisah...
Mmmm...kalau bicarain tentang seninya hidup itu bisa saja tentang warna-warna dalam kehidupan. Yang namanya hidup itu penuh warna tidak hanya hitam dan putih tapi seperti pelangi. Bahkan dalam satu hari manusia itu bisa menikmati warna-warna itu secara bergantian. Mungkin ada yang konstan, mungkin juga ada yang berfluktuatif. Pagi bisa menikmati warna biru, siang bisa berubah merah, malam bisa berubah menjadi biru lagi.

Tuhan menciptakan manusia dengan segenap akal budinya dan manusia juga diberi kebebasan untuk memilih. Hasil karya Tuhan inilah yang menghadirkan warna/seni dalam hidup manusia itu sendiri.

Manusia itu banyak maunya, banyak inginnya juga mimpinya. Tapi ada juga manusia-manusia yang terlalu kreatif sampai-sampai bisa mengadu domba orang lain. Dinamika kehidupan...Ada saja manusia-manusia usil yang suka ngurusin urusan orang lain, sibuk mencibir, sibuk mencela, sibuk menggunjing, padahal kehidupan pribadi orang itu belum tentu seratus persen benar.

Kenapa manusia itu hidup tidak bisa berdampingan dengan damai? Kenapa tidak bisa mengurusi urusan masing-masing? Kembangkanlah sikap toleransi, kan enak tuh kalau ada damai sekalipun kita ini hidup dengan beragam jenis perbedaan.

Seperti halnya berpasangan banyak aku mendengar keluhan dari teman-teman tentang pasangan hidupnya tak luput juga aku. Terkadang sampai terpikir pasangan seperti apa sih yang diinginkan sebenarnya? Apakah seorang pangeran yang sempurna seperti di dongeng-dongeng klasik? Kita ada di dunia nyata bukan di dunia khayal dan harusnya mensyukuri dan menerima kelebihan kekurangan pasangan kita. Tapi ya terkadang bagi seseorang yang terbiasa sendiri disaat mempunyai pasangan merasa seperti ada ruang gerak yang dibatasi. Padahal bila semua disikapi secara wajar, komunikasi yang baik tidak ada kendala yang berarti antara saat sendiri atau saat mempunyai pasangan.

Ketidak puasan dalam pencapaian hidup juga menjadi bagian seninya hidup, karena akan ada banyak cara dilakukan untuk mencapai suatu tujuan tertentu dan caranya ini bisa bersih, bisa kotor semua itu terpulang lagi kepada individu yang menjalankannya.

Menurut saya dinikmati sajalah proses kehidupan ini toh semua yang terjadi di dalam hidup ini sudah pasti seijin yang Diatas dan tinggal pandai-pandainya manusia dalam memilih dan menjalankannya. Selama hayat dikandung badan seninya hidup itu akan terus mengikuti dan tak terpisah...
>Tgl. 1/5/10 lalu aku jalan-jalan lagi ke Kota Kembang tapi, kali ini tidak sendiri tapi ber-5 sama teman kantor.

Ada senangnya juga jalan ramai-ramai tapi, buat aku ternyata lebih enak jalan sendiri atau berdua sama "soulmate" aku, Linda namanya. Kalau urusan jalan kami lebih sehati dibanding sama teman-teman kantor. Mungkin karena aku dan Linda sudah berteman lebih lama dibanding teman-teman kantor, lagipula kegemaran kami sama jadi klop deh..

Jalan-jalan di Kota Kembang seperti biasa aku pasti mengunjungi Jl. Braga. Kali ini aku kembali lagi ke toko kue Sumber Hidangan. Toko yang sudah berdiri dari tahun 1929 itu sepertinya masih mempertahankan kesan "kuno" nya. Mulai dari timbangan kue, tata ruangannya, kasirnya, cara membungkus roti tawarnya bahkan pelayannya juga yang sepuh-sepuh. Ini seperti menandakan eksistensi toko kue ini yang berpuluh-puluh tahun mendiami kawasan Braga tersebut. Aku menyukai es krim home made yang ada di Sumber Hidangan yang berlabel "Marasquino". Itu adalah es krim vanilla dipadu dengan rhum. Rasa rhum-nya itu bener-bener mak nyuuuusss kalau kata Pak Bondan. Ngga ada yang bisa menandinginya. Aku sudah pernah mencoba es krim rasa rhum raisin di gerai es krim manapun tidak ada yang bisa menandingi rasa rhum seperti di es krim Sumber Hidangan. Hmmm....nikmatnya...

Lalu aku juga kembali menyambangi Yoghurt Cisangkuy yang terkenal itu. Ini kali kedua aku datang dan menikmati menu yoghurt yang berbeda. Aku sudah mencoba special yoghurtnya, campuran moka dan rhum lalu kemarin aku mencoba tomato yoghurt juice. Hmm...ternyata aku lebih suka special yoghurt-nya karena rasa rhum-nya yang sempat membuat tenggorokanku kaget waktu pertama kali menyeruput ternyata memberi cita rasa tersendiri di yoghurt itu.

Bandung itu pantas kalau di juluki kota fashion dan kuliner karena semua kegiatan itu terpusat di sana. Factory outlet bertebaran dimana-mana begitu juga dengan kulinernya. Jenis kuliner apa saja ada di Bandung mulai dari batagor, nasi timbel, sop buah, nasi bakar, nasi bancakan, nasi kalong wah pokoknya bagi pecinta kuliner cocoklah untuk wis-kul di Bandung.

Jarak tempuh Bekasi-Bandung yang sudah bisa dijangkau dalam waktu kurang lebih 2-3jam, juga moda transportasi yang beragam membuat aku betah bolak-balik Bandung. Seandainya Jogja bisa sedekat Bandung mungkin akan berlaku hal yang sama ^_^
Tgl. 1/5/10 lalu aku jalan-jalan lagi ke Kota Kembang tapi, kali ini tidak sendiri tapi ber-5 sama teman kantor.

Ada senangnya juga jalan ramai-ramai tapi, buat aku ternyata lebih enak jalan sendiri atau berdua sama "soulmate" aku, Linda namanya. Kalau urusan jalan kami lebih sehati dibanding sama teman-teman kantor. Mungkin karena aku dan Linda sudah berteman lebih lama dibanding teman-teman kantor, lagipula kegemaran kami sama jadi klop deh..

Jalan-jalan di Kota Kembang seperti biasa aku pasti mengunjungi Jl. Braga. Kali ini aku kembali lagi ke toko kue Sumber Hidangan. Toko yang sudah berdiri dari tahun 1929 itu sepertinya masih mempertahankan kesan "kuno" nya. Mulai dari timbangan kue, tata ruangannya, kasirnya, cara membungkus roti tawarnya bahkan pelayannya juga yang sepuh-sepuh. Ini seperti menandakan eksistensi toko kue ini yang berpuluh-puluh tahun mendiami kawasan Braga tersebut. Aku menyukai es krim home made yang ada di Sumber Hidangan yang berlabel "Marasquino". Itu adalah es krim vanilla dipadu dengan rhum. Rasa rhum-nya itu bener-bener mak nyuuuusss kalau kata Pak Bondan. Ngga ada yang bisa menandinginya. Aku sudah pernah mencoba es krim rasa rhum raisin di gerai es krim manapun tidak ada yang bisa menandingi rasa rhum seperti di es krim Sumber Hidangan. Hmmm....nikmatnya...

Lalu aku juga kembali menyambangi Yoghurt Cisangkuy yang terkenal itu. Ini kali kedua aku datang dan menikmati menu yoghurt yang berbeda. Aku sudah mencoba special yoghurtnya, campuran moka dan rhum lalu kemarin aku mencoba tomato yoghurt juice. Hmm...ternyata aku lebih suka special yoghurt-nya karena rasa rhum-nya yang sempat membuat tenggorokanku kaget waktu pertama kali menyeruput ternyata memberi cita rasa tersendiri di yoghurt itu.

Bandung itu pantas kalau di juluki kota fashion dan kuliner karena semua kegiatan itu terpusat di sana. Factory outlet bertebaran dimana-mana begitu juga dengan kulinernya. Jenis kuliner apa saja ada di Bandung mulai dari batagor, nasi timbel, sop buah, nasi bakar, nasi bancakan, nasi kalong wah pokoknya bagi pecinta kuliner cocoklah untuk wis-kul di Bandung.

Jarak tempuh Bekasi-Bandung yang sudah bisa dijangkau dalam waktu kurang lebih 2-3jam, juga moda transportasi yang beragam membuat aku betah bolak-balik Bandung. Seandainya Jogja bisa sedekat Bandung mungkin akan berlaku hal yang sama ^_^