>Sore Kelabu

0 Comments
>"Van...ujan gede banget tuh", celoteh Cia.
"Terus kenapa? Masih hujan air kan belum hujan batu?", jawabku sekenanya sambil mata terus menatap komputer, jari lincah di keyboard membuat kolom-kolom rencana perjalanan si Boss ke Hongkong minggu depan.
"Iiihh Vanya..." Sepertinya Cia ngambek nih.
"Sory Ci gue lagi serius nih kalo salah si Boss bisa histeris."

Ku lanjutkan lagi ketikanku. Ketak ketik ketak ketik nggak berasa sudah jam 5 sore. Mau pulang tapi hujan masih belum selesai malah jadwal si Boss yang sudah selesai. Aiphone di meja jerit-jerit, pasti Sasha nih ngajak pulang bareng. Benar aja si Sasha ngajak pulang bareng. Anak ini memang lucu, masak sudah 1 tahun bolak balik Kelapa Gading - Bekasi masih saja bingung sama arah. Makanya kalau pergi selalu diantar sama kakaknya kalau pulang selalu cari teman dan kalau aku nggak bisa pasti dia nebeng sama Ujang yang kebetulan satu arah ke Bekasi tapi Sasha cuma sampai pinggir jalan raya nggak sampai rumah (bisa tekor si Ujang hehehe). Dia lebih rela nunggu Ujang selesai daripada pulang jam 5 tapi masih keder di jalan.

Males juga sih pulang sekarang. Tapi...nggak apa-apa deh. Ku ajak Sasha pulang bareng. Gerimis sore-sore bikin hati jadi melow nih...kok tiba-tiba aku keinget sama Didit ya? Sudah 2 minggu ini aku nggak dengar kabar darinya. Sibukkah dia dengan tugas-tugas kuliahnya? Tuh kan...hujan ini bikin aku jadi keingat sama Didit.

Didit itu teman dekatku sejak SMA dan saat ini sedang menempuh pendidikan S2nya di Semarang. Ilmu Komunikasi yang di dalaminya saat ini karena Didit tertarik dengan dunia jurnalistik. Kedekatan kami sering mengundang pertanyaan orang-orang di sekitar kami termasuk keluarga kami. Mereka semua nggak percaya kalau antara aku dan Didit hanya berteman saja, berkawan baik. Diditlah tong sampahku bila ada ganjalan-ganjalan di hati.

Hanya saja semenjak Didit hijrah ke Semarang aku seperti merasa kehilangan sesuatu. Seperti ada yang kurang dari keseharianku. Komunikasi diantara kami tetap berjalan entah lewat sms, telepon, email, chatting pokoknya segala cara lah untuk tetap saling tahu keadaan masing-masing.

Didit...Ya ampun...kenapa jadi mikirin Didit sih. Angkotku sudah sampai di komplek rumah. Aku dan Sasha berpisah di depan Indomaret.


Tulisan Lainnya:

Tidak ada komentar: