Pagi Yang Nggak Jelas

0 Comments
Hoooaaammm...nyam nyam...haruskah hari ini aku kerja? Rasanya enggan aku meninggalkan kemesraan dengan bantal dan gulingku. Sudah jam 05.30. Kucek-kucek mata, merenggangkan badan, minum seteguk dua teguk air putih, baru deh keluar kamar.

Sial...adikku masih di kamar mandi. "Hariiii...cepetan dikit dong. Mandi kayak perawan aja." Kudengar sahutan "heemmmm..." dari kamar mandi. Leyeh-leyeh...ku nyalakan televisi. Bosan...beritanya itu lagi itu lagi...banyak kasus yang nggak selesai di negeri ini. Lewat 5 menit adikku keluar dari kamar mandi. Estafet, langsung ku gantungkan handuk lalu jebyar jebyur.

"Pak, waktunya berangkat nih." kataku pada ayah yang sedang menikmati pewartaan di televisi. Akupun pamitan dan melenggangkan kaki menuju pangkalan angkot yang siap mengantarku ke terminal Pulo Gadung.

Slogan "I don't like Monday" benar-benar ku rasakan. Rasa malas menderaku dan jalananpun tak bersahabat. Macetnyaaaa bikin keringat bercucuran bercampur aroma asap yang keluar dari knalpot mobil, bis, sesama angkot dan motor. Uggghhh..menyebalkan.

Jarak tempuh 1,5 jam mengantarku sampai di depan kantorku yang kusayang (lebay.com). Hari ini kantor libur apa nggak ya? Kok tampak sepi-sepi saja cuma ada si Ujang, office boy yang lagi bersih-bersih.

"Pagi mba Vanya, mau dibelikan sarapan apa?" dengan ramah Ujang menyapaku. "Mmm...apa ya Jang, rasanya bosan juga aku tiap sarapan bubur, nasi kuning, bubur, nasi uduk. Pingin makan omelet sama sosis ayam rasanya kok kemewahan ya.."
"Mba Vanya sudah terserang penyakit bosan ya?" Ujang senyum-senyum.
"Beliin aku pisang goreng, tahu goreng sama tolong bikinin aku kopi susu ya Jang."

Ujang pun menjauh dari hadapanku. Ku nyalakan komputer, hmm...kerjaan apa ya yang belum ku selesaikan? Saat mengobrak abrik meja ku dengar suara cempreng Cia memanggilku.

"Cia...bisa nggak pagi-pagi gini jangan berisik."
"Oopss sory Van, kan masih sepi. Sarapan apa pagi ini?"
"Gue udah minta tolong Ujang beli gorengan sama bikin kopi susu"
"Hahahaha..." Cia tertawa mendengar jawabanku.
"Aneh?"
"Kayak nenek-nenek aja loe"

Lama-lama suasana kantor kembali normal dengan segudang aktivitas di pagi hari. Ternyata nggak libur tho...pupus sudah harapanku untuk bisa kembali bercengkrama dengan bantal dan gulingku. Penat badan ini rasanya setelah kemarin seharian jalan sama ayah tercinta mengunjungi teman masa kecilnya di Bogor.

Hmm...si Boss belum datang nih, padahal hari ini kan ada meeting sama tamunya yang dari Amerika. Tak Tuk Tak Tuk...wah langkah si Boss tuh. Benar saja begitu sampai bukannya langsung ke ruangannya tapi mampir dulu nongolin mukanya di cubical-ku dan serta merta menanyakan bahan buat meeting hari ini. Oh ya...si Boss ini orangnya rada-rada pelupa dan setiap kali aku yang ketempuan harus jadi hard disk-nya dengan memori lebih dari 2GB.

"Vanya, materinya mana?" tanya si Boss.
"Jumat kemarin saya sudah taruh di meja bapak."
"Mana?? Nggak ada kok? Mapnya apa?"
Duuhh...si Boss nih, bikin orang panik aja. Aku jadi nggak percaya diri. Ku acak-acak laci mejaku, tapi tak kutemukan. Lalu aku permisi ke ruangan si Boss untuk mengacak-acak mejanya.

Setelah 10 menit mengacak-acak akhirnya ku temukan juga map yang berisi materi meeting hari ini. Duh...pak Boss pak Boss nggak jelas banget sih. Sudah disiapkan rapi-rapi tak tahunya ditumpuk sama dokumen-dokumen yang nggak kepake.


Tulisan Lainnya:

Tidak ada komentar: