[caption id="attachment_139" align="alignleft" width="300" caption="buku baruku 30/03/2011"][/caption]

Ngomongin soal buku, hmmm...berapa buku ya yang aku miliki tapi masih terbungkus rapi a.k.a belum dibuka segelnya? :) Aku senang membaca, terlebih lagi senang membeli buku. Tiap bulan ada aja buku yang aku beli entah satu atau dua. Jenisnya pun variatif. Tapi, dulu waktu jaman-jaman SMA sampai udah kerja sasaran bacanya genre novel. Tapi, semenjak hampir 2 tahun terakhir ini genre bacaan mulai berubah, novel masih cuman sekarang ditambah yang berbau-bau sosial, sejarah, traveling, sastra.

Apalagi semenjak join di goodreads, dimana itu adalah situs jejaring sosial khusus pencinta buku jadi, tambah banyak lagi dapat referensi-referensi buku yang menarik untuk dibaca. Entah itu rekomendasi teman atau aku baca review dari teman-teman yang terkait denganku.

Biasanya kalau aku ke toko buku, aku bisa betah berlama-lama apalagi kalau tempatnya nyaman dan koleksinya banyak. Toko buku favoritku apalagi kalau bukan Gramedia :) Aku rasa itu juga adalah toko buku favorit semua orang Indonesia. Gramedia yang nyaman menurutku hanya 2, yang di Matraman dan Grand Indonesia.

Kalau ke toko buku biasanya aku lebih senang sendiri, kalaupun ada barengannya itu harus yang sama-sama pecinta buku juga jadi, ga risih kalau harus berlama-lama. Kalau ke mal beramai-ramai juga ga masalah, kalau temen-temen yang mau enjoy cuci mata soal fashion dan lain-lain, aku titipin aja di toko buku nanti kalau sudah selesai kita ketemuan lagi.

Saking gemarnya membeli buku, aku sampai bingung mau baca yang mana dulu ya.. tapi, in the end buku-buku yang baru ku beli bisa kubaca duluan, yang lama-lama masih menumpuk menunggu giliran. Satu keinginan ku yang belum kesampaian yaitu, membeli container untuk nyimpan buku. Soalnya sampai saat ini buku-buku itu masih pada bertengger di lemari bufet, sementara kalau disimpan di container bisa terhindar dari debu dan bisa dipindah-pindah penyimpannya (maklum ruang di rumahku terbatas).

Apalagi kalo denger ada diskon di gramedia, pastilah tak terhindari untuk membeli. Entah dibacanya kapan yang penting beli dulu, mumpung murah hehehe. Kemarin aku ke gramedia, grand indonesia. Mendekati hari terakhir diskon ulang tahun gramedia 20% aku ga menyia-nyiakan. Kubeli 3 buku sekaligus. Buku yang kubeli pastinya bagus dan menarik :) Gambarnya akan kubagikan biar ga penasaran.

Yang suka protes kalau aku beli buku cuman papa. Mungkin karena pengalaman dulu aku juga pernah punya beberapa buku akhirnya semua ludes karena banjir bandang 2007 lalu. Menyesal? Sangat menyesal. Aku beli buku dengan mencicil sebuku demi sebuku. Apalagi buku harry potter-ku. Entah yang tertinggal seri berapa aja (dulu aku punya seri 1-4, seri 5 pinjam, seri 6punya, seri 7 pinjam). Buku cerita berbahasa inggris juga ada. Sekarang aku mulai mencicil untuk mengoleksi lagi.

Buku itu buatku adalah jembatan atau jendela ilmu (ceile...) aku bisa tahu banyak hal lewat membaca. That's why aku suka traveling book. Meskipun aku belum pernah traveling jauh-jauh menjelajah Indonesia dan luar negeri (paling deket Bandung, paling jauh Jember, Surabaya--->karena kampung halaman hehehe) tapi, aku bisa tahu beberapa negara lain seperti Belanda, Paris, Barcelona dll berikut jalan-jalannya, apa aja yang ada disana, kebiasaan orang-orangnya dari membaca itu. Selain juga dengar cerita beberapa teman atau browsing di internet.

Lagipula ya, nanti kan bisa kutunjukin sama anak-anakku dan hobi membaca ini akan kuturunkan pada generasiku kelak. Membaca itu ga akan pernah merugikan apapun. Nilai uang yang dikeluarkan tak sebanding dengan kepuasan akan informasi yang diperoleh.

Salam buku,
>Buku ini berisi 10 kisah yang berbeda-beda (ya iyalah, namanya juga kumpulan cerpen :) ) dengan ending yang mengejutkan. Membaca buku ini mengingatkanku kembali pada buku '100 Kata'.

Modelnya sama, hanya buku '100 Kata' itu adalah kumpulan cerita 100 kata. Ending cerita-ceritanya juga mengejutkan.

Menarik memang, saat membaca cerita disuguhi ending yang tak terduga. Aku ga tau sih, kumpulan cerita-cerita based on true story atau hanya fiksi tapi, kejadiannya bisa saja terjadi di keseharian.

Kisah tentang perselingkuhan, hubungan sesama jenis, horor ada di buku ini. Judul buku ini rupanya diambil dari judul cerita di bab terakhir. Kisah tragis dari seorang wanita kedua yang ingin menguasai harta suaminya, sampai rela mengatur pembunuhannya. Sayang seluruh hartanya jatuh ke tangan istri pertamanya. Kisah ini hadir karena secangkir teh.

Pokoknya kumpulan cerpen ini menarik untuk disimak :)

salam secangkir teh,

Sayang, kelemahannya ada di penerbit menurut aku. Karena ada cerita yang halamannya tertukar jadi, agak sedikit repot membacanya. Harus bolak balik halaman.
Buku ini berisi 10 kisah yang berbeda-beda (ya iyalah, namanya juga kumpulan cerpen :) ) dengan ending yang mengejutkan. Membaca buku ini mengingatkanku kembali pada buku '100 Kata'.

Modelnya sama, hanya buku '100 Kata' itu adalah kumpulan cerita 100 kata. Ending cerita-ceritanya juga mengejutkan.

Menarik memang, saat membaca cerita disuguhi ending yang tak terduga. Aku ga tau sih, kumpulan cerita-cerita based on true story atau hanya fiksi tapi, kejadiannya bisa saja terjadi di keseharian.

Kisah tentang perselingkuhan, hubungan sesama jenis, horor ada di buku ini. Judul buku ini rupanya diambil dari judul cerita di bab terakhir. Kisah tragis dari seorang wanita kedua yang ingin menguasai harta suaminya, sampai rela mengatur pembunuhannya. Sayang seluruh hartanya jatuh ke tangan istri pertamanya. Kisah ini hadir karena secangkir teh.

Pokoknya kumpulan cerpen ini menarik untuk disimak :)

salam secangkir teh,

Sayang, kelemahannya ada di penerbit menurut aku. Karena ada cerita yang halamannya tertukar jadi, agak sedikit repot membacanya. Harus bolak balik halaman.

Kumpulan Cerpen-Kisah Secangkir Teh by Softi Tresna
>Membaca Travellous part 2 tidak semenarik Travellous. Kalau pada buku pertama (Travellous) terasa sekali aroma jalan-jalannya, bagaimana Andrei (Rei) berjuang meraih mimpi kanak-kanaknya untuk melihat menara Eifel, di buku kedua ini lebih pada kisah percintaan Rei.

Jujur aku lebih menyukai buku Travellous pertama dibanding yang kedua. Bukannya tidak menarik kisah percintaan Rei, tapi untuk buku ke-2 mungkin lebih tepat judulnya Travellous of Love. Ada sih kisah perjalanannya yaitu waktu Rei dan teman-temannya nonton konser Pearl Jam dari kota Lyon ke Antwerpen. Juga perjalanan yang lain.

Satu yang menarik, yaitu waktu Rei jadi wartawan gadungan meliput perayaan hari kemerdekaan Indonesia di KBRI Perancis. Awal kenekatan Rei karena, rasa lapar yang mendera. Tapi, hasil akhirnya membanggakan juga karena, liputan Rei menjadi headline di koran lokal Banjarmasin dan membuat ibunya bangga. Jadi, selain dapat makan gratis, bertatap muka langsung dengan orang-orang penting di Eropa, jadi satu-satunya jurnalis dari Indonesia yang meliput, Rei bisa membanggakan orang tuanya :).

Tapi, maaf ya Rei, aku lebih suka Travellous pertama.
Membaca Travellous part 2 tidak semenarik Travellous. Kalau pada buku pertama (Travellous) terasa sekali aroma jalan-jalannya, bagaimana Andrei (Rei) berjuang meraih mimpi kanak-kanaknya untuk melihat menara Eifel, di buku kedua ini lebih pada kisah percintaan Rei.

Jujur aku lebih menyukai buku Travellous pertama dibanding yang kedua. Bukannya tidak menarik kisah percintaan Rei, tapi untuk buku ke-2 mungkin lebih tepat judulnya Travellous of Love. Ada sih kisah perjalanannya yaitu waktu Rei dan teman-temannya nonton konser Pearl Jam dari kota Lyon ke Antwerpen. Juga perjalanan yang lain.

Satu yang menarik, yaitu waktu Rei jadi wartawan gadungan meliput perayaan hari kemerdekaan Indonesia di KBRI Perancis. Awal kenekatan Rei karena, rasa lapar yang mendera. Tapi, hasil akhirnya membanggakan juga karena, liputan Rei menjadi headline di koran lokal Banjarmasin dan membuat ibunya bangga. Jadi, selain dapat makan gratis, bertatap muka langsung dengan orang-orang penting di Eropa, jadi satu-satunya jurnalis dari Indonesia yang meliput, Rei bisa membanggakan orang tuanya :).

Tapi, maaf ya Rei, aku lebih suka Travellous pertama.

Travellous part 2 by Andrei Budiman
>Bicara tentang remaja usia 13-18 tahun, apa yang terbesit? Rebel (pemeberontak) dan pencarian jati diri. Di usia-usia itu rasa keingin tahuan akan hal-hal yang sewaktu kecil tidak boleh diketahuinya mulai dicari tahu. Entah dari teman, buku atau siapa saja yang bisa membantu agar rasa ingin tahunya terpuaskan.

Keadaan seperti itu berjalan terus menerus, dari jaman ke jaman dan dibelahan dunia manapun. Remaja, adalah usia dimana sesorang bukan lagi anak kecil, tapi belum lagi dewasa. Istilah kerennya Anak Baru Gede (ABG).

Mengutip sinopsis di belakang buku ini "Dengarlah Nyanyian Angin bercerita tentang anak-anak muda dalam arus perbenturan nilai-nilai tradisional dan modern di Jepang tahun 1960-1970-an."

Nilai-nilai itu terbaca dari sikap Nezumi, teman si Aku yang tidak menyukai orang kaya (padahal Nezumi anak orang kaya) "kukatakan dengan tegas ya, aku membenci orang kaya karena mereka tidak memikirkan apapun. Jika tidak ada senter dan mistar, tak bakal bisa mereka menggaruk pantat sendiri."

awalnya Nezumu mencemooh Aku yang gemar membaca buku, tapi pada akhirnya Nezumi tertarik juga membaca bahkan bisa menulis novel.

Menurutku penceritaannya maju mundur, cuman Haruki ingin menggambarkan sosok kaum muda Jepang yang antikemapanan dan tidak memiliki bayangan ideal tentang masa depannya.

Ada beberapa kutipan-kutipan yang menurutku menarik. "dimanapun tidak akan ada manusia yang tangguh. Yang ada hanyalah manusia yang pura-pura tangguh.", "orang yang memberi dengan penuh keikhlasan akan selalu memperoleh gantinya.", "orang yang berhati gelap hanya akan melihat mimpi yang gelap. Apabila hatinya lebih gelap lagi, mimpipun dia tak bisa." Kalimat pada kutipan terakhir terkesan menyeramkan ya.

Buku ini baik dibaca oleh anak-anak remaja sebagai referensi bahwa mulai sekarang menetapkan goal atau tujuan di dalam hidup begitu berarti untuk dimasa depan.
Bicara tentang remaja usia 13-18 tahun, apa yang terbesit? Rebel (pemeberontak) dan pencarian jati diri. Di usia-usia itu rasa keingin tahuan akan hal-hal yang sewaktu kecil tidak boleh diketahuinya mulai dicari tahu. Entah dari teman, buku atau siapa saja yang bisa membantu agar rasa ingin tahunya terpuaskan.

Keadaan seperti itu berjalan terus menerus, dari jaman ke jaman dan dibelahan dunia manapun. Remaja, adalah usia dimana sesorang bukan lagi anak kecil, tapi belum lagi dewasa. Istilah kerennya Anak Baru Gede (ABG).

Mengutip sinopsis di belakang buku ini "Dengarlah Nyanyian Angin bercerita tentang anak-anak muda dalam arus perbenturan nilai-nilai tradisional dan modern di Jepang tahun 1960-1970-an."

Nilai-nilai itu terbaca dari sikap Nezumi, teman si Aku yang tidak menyukai orang kaya (padahal Nezumi anak orang kaya) "kukatakan dengan tegas ya, aku membenci orang kaya karena mereka tidak memikirkan apapun. Jika tidak ada senter dan mistar, tak bakal bisa mereka menggaruk pantat sendiri."

awalnya Nezumu mencemooh Aku yang gemar membaca buku, tapi pada akhirnya Nezumi tertarik juga membaca bahkan bisa menulis novel.

Menurutku penceritaannya maju mundur, cuman Haruki ingin menggambarkan sosok kaum muda Jepang yang antikemapanan dan tidak memiliki bayangan ideal tentang masa depannya.

Ada beberapa kutipan-kutipan yang menurutku menarik. "dimanapun tidak akan ada manusia yang tangguh. Yang ada hanyalah manusia yang pura-pura tangguh.", "orang yang memberi dengan penuh keikhlasan akan selalu memperoleh gantinya.", "orang yang berhati gelap hanya akan melihat mimpi yang gelap. Apabila hatinya lebih gelap lagi, mimpipun dia tak bisa." Kalimat pada kutipan terakhir terkesan menyeramkan ya.

Buku ini baik dibaca oleh anak-anak remaja sebagai referensi bahwa mulai sekarang menetapkan goal atau tujuan di dalam hidup begitu berarti untuk dimasa depan.
>Ini adalah buku ke empat alias buku terakhir dari tetralogi sisi lain SBY. Warna sampulnya merah. Seperti yang pernah dijelaskan mas Inu (akun twitternya @beginu) warna merah pada buku terakhir menandakan pertalian darah.

Siapa-siapa saja yang diceritakan di buku ini ya, pastinya keluarga pak beye. Ada kisah tentang orang tua pa beye, kisah tentang ibu Ani, mas Ibas, mas Agus, mba Anisa dan Aira (cucu pertama pak beye).

Menariknya lagi di buku ini, mas Inu menulis tentang bapaknya Nobita di serial doraemon yang model rambutnya mirip pak beye (membuat aku senyum-senyum membayangkannya). Juga bagaimana mas Inu menyebut mas Ibas dengan sebutan 'putra mahkota' keluarga Yudhoyono (jadi teringat pangeran William yang akan menikah nanti).

Terus ada potongan kata-kata pak Jusuf Kalla (JK) mengenai kemacetan. Pak Kalla menyebut sebagai tanda keberhasilan pemerintah meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara. Menarik bukan? :)

Ada juga ditulis mengenai makanan kegemaran pak beye dan bagaimana majunya Cikeas semenjak ada 'puri' di sana. Pembaca juga disuguhkan foto-foto hasil jepretan mas Inu dengan kamera pinjaman kantor yang kerap ngadat (begitu beliau suka memposting kata-kata itu :) ) kegiatan pak beye dan keluarganya.

Menarik untuk disimak kisah sisi lain SBY yang tidak semua orang tahu selain wartawan keprisedan dan mas Inu yang sudah mau membagi secara cuma-cuma pengalaman yang didapatnya secara cuma-cuma juga :). Saya menamakan 4 buku mas Inu ini dengan istilah 4 sehat. Belum menjadi 5 sempurna karena saya belum membaca buku pamungkasnya yang berjudul: Pak Kalla dan Presidennya.

Selamat membaca..
Ini adalah buku ke empat alias buku terakhir dari tetralogi sisi lain SBY. Warna sampulnya merah. Seperti yang pernah dijelaskan mas Inu (akun twitternya @beginu) warna merah pada buku terakhir menandakan pertalian darah.

Siapa-siapa saja yang diceritakan di buku ini ya, pastinya keluarga pak beye. Ada kisah tentang orang tua pa beye, kisah tentang ibu Ani, mas Ibas, mas Agus, mba Anisa dan Aira (cucu pertama pak beye).

Menariknya lagi di buku ini, mas Inu menulis tentang bapaknya Nobita di serial doraemon yang model rambutnya mirip pak beye (membuat aku senyum-senyum membayangkannya). Juga bagaimana mas Inu menyebut mas Ibas dengan sebutan 'putra mahkota' keluarga Yudhoyono (jadi teringat pangeran William yang akan menikah nanti).

Terus ada potongan kata-kata pak Jusuf Kalla (JK) mengenai kemacetan. Pak Kalla menyebut sebagai tanda keberhasilan pemerintah meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara. Menarik bukan? :)

Ada juga ditulis mengenai makanan kegemaran pak beye dan bagaimana majunya Cikeas semenjak ada 'puri' di sana. Pembaca juga disuguhkan foto-foto hasil jepretan mas Inu dengan kamera pinjaman kantor yang kerap ngadat (begitu beliau suka memposting kata-kata itu :) ) kegiatan pak beye dan keluarganya.

Menarik untuk disimak kisah sisi lain SBY yang tidak semua orang tahu selain wartawan keprisedan dan mas Inu yang sudah mau membagi secara cuma-cuma pengalaman yang didapatnya secara cuma-cuma juga :). Saya menamakan 4 buku mas Inu ini dengan istilah 4 sehat. Belum menjadi 5 sempurna karena saya belum membaca buku pamungkasnya yang berjudul: Pak Kalla dan Presidennya.

Selamat membaca..
>Ini adalah postingan kedua dengan judul yang sama, karena postingan sebelumnya hilang karena kesalahan sendiri. Jadi, mohon maaf bila ada perubahan kata-kata atau kalimat dari posting sebelumnya bagi teman-teman yang sempat membacanya.

Siapa yang pernah merasakan kehilangan orang yang dicintai atau dikasihi? Baik itu orang tua, sahabat, saudara, suami/istri, pacar. Apa yang dirasakan saat kehilangan orang yang dikasihi? Pertanyaan seperti ini tidaklah perlu dipertanyakan. Pasti rasa sedih, kehilangan yang dirasakan.

Aku pernah merasakan kehilangan. Kehilangan seorang ibu yang begitu aku kasihi. Penyakit kencing manis sudah merenggut beliau dari sisiku. Saat itu rasa hancur, sedih kurasakan saat aku diminta melihat posisi beliau saat hendak dimasukkan ke peti mati. Aku lemas, menangis meraung raung karena, ibu yang begitu ku kasihi tidak lagi tidur di ranjang kamarnya.

Itulah gambaran rasa sedih kehilangan orang yang dikasihi/dicintai. Epitaph, buku yang ditulis oleh Daniel Mahendra (akun twitternya @penganyamkata) ingin menggambarkan rasa kehilangan itu.

Kisah seorang pemuda, Haikal yang ditinggal mati kekasihnya, Laras dalam kecelakaan helikopter di Sibayak. Bagaimana menyikapi rasa kehilangan yang dirasakan Haikal dan keluarga Laras adalah sama yang dirasakan kebanyakan orang.

Penantian kepastian berita yang ditunggu berbulan-bulan bahkan sampai 2 tahun akhinya terjawab sampai ditemukannya bangkai helikopter dan penumpangnya yang sudah tinggal tulang belulang.

Walaupun cerita ini fiksi, tapi gambaran akan rasa kehilangan itu membuat emosi pembaca terlibat. Perbedaan antara fiksi atau kenyataan terbaca ketika ada catatan-catatan berita dari beberapa media yang memuat kecelakaan helikopter itu.

Ilustrasi buku ini juga seperti melambangkan kedukaan, memoar dibaliknya (gambar jembatan seperti di tengah hutan dengan pohon dikiri kanan serta tanaman perdu, juga warna gambar yang hijau suram).

Dialog antara Haikal dan bapak penjual buah tentang arti menunggu membuatku terkesan. "banyak orang bosan melewati penungguan itu. Bagiku disitulah seninya hidup. Ada harapan yang terus menyala. Itu yang terkadang tak semua otang mau memahami, bahwa menunggu adalah suatu kenikmatan tersendiri. Suatu seni tersendiri..." menarik bukan?

Menurut aku, intisari dari buku ini adalah belajar ikhlas menerima kehilangan orang yang dicintai/dikasihi dan biarkan memoar indah tetap terpatri di hati dan batu nisan mereka.
Ini adalah postingan kedua dengan judul yang sama, karena postingan sebelumnya hilang karena kesalahan sendiri. Jadi, mohon maaf bila ada perubahan kata-kata atau kalimat dari posting sebelumnya bagi teman-teman yang sempat membacanya.

Siapa yang pernah merasakan kehilangan orang yang dicintai atau dikasihi? Baik itu orang tua, sahabat, saudara, suami/istri, pacar. Apa yang dirasakan saat kehilangan orang yang dikasihi? Pertanyaan seperti ini tidaklah perlu dipertanyakan. Pasti rasa sedih, kehilangan yang dirasakan.

Aku pernah merasakan kehilangan. Kehilangan seorang ibu yang begitu aku kasihi. Penyakit kencing manis sudah merenggut beliau dari sisiku. Saat itu rasa hancur, sedih kurasakan saat aku diminta melihat posisi beliau saat hendak dimasukkan ke peti mati. Aku lemas, menangis meraung raung karena, ibu yang begitu ku kasihi tidak lagi tidur di ranjang kamarnya.

Itulah gambaran rasa sedih kehilangan orang yang dikasihi/dicintai. Epitaph, buku yang ditulis oleh Daniel Mahendra (akun twitternya @penganyamkata) ingin menggambarkan rasa kehilangan itu.

Kisah seorang pemuda, Haikal yang ditinggal mati kekasihnya, Laras dalam kecelakaan helikopter di Sibayak. Bagaimana menyikapi rasa kehilangan yang dirasakan Haikal dan keluarga Laras adalah sama yang dirasakan kebanyakan orang.

Penantian kepastian berita yang ditunggu berbulan-bulan bahkan sampai 2 tahun akhinya terjawab sampai ditemukannya bangkai helikopter dan penumpangnya yang sudah tinggal tulang belulang.

Walaupun cerita ini fiksi, tapi gambaran akan rasa kehilangan itu membuat emosi pembaca terlibat. Perbedaan antara fiksi atau kenyataan terbaca ketika ada catatan-catatan berita dari beberapa media yang memuat kecelakaan helikopter itu.

Ilustrasi buku ini juga seperti melambangkan kedukaan, memoar dibaliknya (gambar jembatan seperti di tengah hutan dengan pohon dikiri kanan serta tanaman perdu, juga warna gambar yang hijau suram).

Dialog antara Haikal dan bapak penjual buah tentang arti menunggu membuatku terkesan. "banyak orang bosan melewati penungguan itu. Bagiku disitulah seninya hidup. Ada harapan yang terus menyala. Itu yang terkadang tak semua otang mau memahami, bahwa menunggu adalah suatu kenikmatan tersendiri. Suatu seni tersendiri..." menarik bukan?

Menurut aku, intisari dari buku ini adalah belajar ikhlas menerima kehilangan orang yang dicintai/dikasihi dan biarkan memoar indah tetap terpatri di hati dan batu nisan mereka.
>Hari ini, 25 Maret 2011. Pulang kerja aku ga berniat langsung pulang. Mengingat kondisi antrian TransJ seperti kemarin (panjang abis dan lamaa) so, aku memutuskan untuk mampir ke Grand Indonesia.

Sampe di Grand Indonesia, tanpa basa basi langsung menuju food louver. Meski dana pas-pasan, aku memuaskan perutku dengan menu paket 25ribu di Poke Sushi. Menunya gindara grilled with rice and free ocha pula, lumayan kan :)

Tadinya mau nongkrong di SeVel (seven eleven) cuman dilihat-lihat rame dan ga ada tempat. Ya sudahlah.. (kata Bondan Prakoso)

Ohya, aku mau cerita. Tadi, pas naik jembatan penyebrangan di depan kantorku, aku sempat terharu karena ada seorang bapak, rambutnya sih putih semua. Cuman ku kutaksir umurnya sekitar 40-an gitu deh. Beliau selalu menyapa setiap aku naik. "Selamat sore mbakk.." dengan senyum ramahnya dan terlihat tulus. Akupun menyahutinya "sore..." dengan ramah dan tak lupa senyum.

Pernah suatu kali saat aku pulang dengan kantong berisi makan siang yang sengaja mau kubawa pulang. Ketika melihat bapak itu, akupun langsung memberikan untuknya. Masih teringat reaksi beliau yang kaget, ga menyangka dan menerimanya dengan senyum ramahnya "terima kasih mbakk.." akupun puas melihatnya senang.

Tapi, sapaannya saat aku sampai di ruas jembatan penyebrangan itu bukan karena aku pernah memberikannya nasi, tapi memang bapak itu ramah. Aku ga tahu ya bagaimana ke penyebrang jembatan yang lain. Awal mulanya, aku berpura-pura cuek tapi, lama kelamaan aku merasa bahwa beliau itu hanya menyapa tanpa memaksa untuk membeli dagangannya. Oiya, aku lupa beliau itu berjualan peniti, lem powerglue, dll gitu.

Kali ini keharuan tiba-tiba menyergapku. Ingin nangis rasanya. Tulus senyum dan sapaannya, membuat sore tadi begitu sejuk. Apalagi ditengah macetnya ruas jalan sudirman menuju semanggi.

Ternyata masih ada orang sebaik bapak ini, yang mungkin saja sapaan hangatnya tidak selalu berbalas manis, dimana lalu lalang orang-orang sibuk, yang ingin buru-buru sampai di tempat tujuan.

Bapak itu simbol keramahan orang Indonesia yang kerap disuka oleh turis-turis mancanegara. Di sela keindividuan pekerja-pekerja di ibukota, masih ada sikap hangat dari seorang bapak, penjual asesoris, orang pinggiran yang belum tentu mendapat respon yang ramah juga.

Salam ramah,
Hari ini, 25 Maret 2011. Pulang kerja aku ga berniat langsung pulang. Mengingat kondisi antrian TransJ seperti kemarin (panjang abis dan lamaa) so, aku memutuskan untuk mampir ke Grand Indonesia.

Sampe di Grand Indonesia, tanpa basa basi langsung menuju food louver. Meski dana pas-pasan, aku memuaskan perutku dengan menu paket 25ribu di Poke Sushi. Menunya gindara grilled with rice and free ocha pula, lumayan kan :)

Tadinya mau nongkrong di SeVel (seven eleven) cuman dilihat-lihat rame dan ga ada tempat. Ya sudahlah.. (kata Bondan Prakoso)

Ohya, aku mau cerita. Tadi, pas naik jembatan penyebrangan di depan kantorku, aku sempat terharu karena ada seorang bapak, rambutnya sih putih semua. Cuman ku kutaksir umurnya sekitar 40-an gitu deh. Beliau selalu menyapa setiap aku naik. "Selamat sore mbakk.." dengan senyum ramahnya dan terlihat tulus. Akupun menyahutinya "sore..." dengan ramah dan tak lupa senyum.

Pernah suatu kali saat aku pulang dengan kantong berisi makan siang yang sengaja mau kubawa pulang. Ketika melihat bapak itu, akupun langsung memberikan untuknya. Masih teringat reaksi beliau yang kaget, ga menyangka dan menerimanya dengan senyum ramahnya "terima kasih mbakk.." akupun puas melihatnya senang.

Tapi, sapaannya saat aku sampai di ruas jembatan penyebrangan itu bukan karena aku pernah memberikannya nasi, tapi memang bapak itu ramah. Aku ga tahu ya bagaimana ke penyebrang jembatan yang lain. Awal mulanya, aku berpura-pura cuek tapi, lama kelamaan aku merasa bahwa beliau itu hanya menyapa tanpa memaksa untuk membeli dagangannya. Oiya, aku lupa beliau itu berjualan peniti, lem powerglue, dll gitu.

Kali ini keharuan tiba-tiba menyergapku. Ingin nangis rasanya. Tulus senyum dan sapaannya, membuat sore tadi begitu sejuk. Apalagi ditengah macetnya ruas jalan sudirman menuju semanggi.

Ternyata masih ada orang sebaik bapak ini, yang mungkin saja sapaan hangatnya tidak selalu berbalas manis, dimana lalu lalang orang-orang sibuk, yang ingin buru-buru sampai di tempat tujuan.

Bapak itu simbol keramahan orang Indonesia yang kerap disuka oleh turis-turis mancanegara. Di sela keindividuan pekerja-pekerja di ibukota, masih ada sikap hangat dari seorang bapak, penjual asesoris, orang pinggiran yang belum tentu mendapat respon yang ramah juga.

Salam ramah,
>Udah seminggu ini aku sendirian di rumah, semenjak bokap mudik karena ada saudara jauh yang meninggal.

Hmm...serasa kos deh jadinya. Ga ada nasi, ga ada lauk pauk. Karena cuman sendiri di rumah, makan sesuka hati. Mau makan boleh, ga juga ga apa-apa. Bawaannya malesss..

Angan-angan, cita-cita, keinginan kalo wiken itu mau baca buku, melalap buku-buku yang masih belum tersentuh selalu ada tapi, realisasinya nol.. Selalu kehilangan passion di hari H.

Apalagi sekarang, babe lagi ga di rumah. Mm...sabtu besok mau ngapain ya? Paling melanjut baca Pak Beye dan Keluarganya, disambi nonton tivi. Soal makan, besok makan apa ya? Ohya, gado-gado ah, udah lama ga makan gado-gado :)

Cemilan ada, kopi ada so... besok ga kemana-mana ah. Baca, baca, baca. Beres-beres rumah. Udah tengah bulan gini, udah waktunya berhemat hehehe..

Home alone, ga masalah... Banyak yang bisa dikerjain. Ayo Evi, semangat!! Aku ga boleh kalah sama rasa malas. Dvd juga masih ada yang belum rampung di tonton. Malam ini mau begadang sambil baca juga oke. Thank God its friday lah... Besok mau bangun siangan juga ga apa-apa.

Oke deh, salam semangat!
Udah seminggu ini aku sendirian di rumah, semenjak bokap mudik karena ada saudara jauh yang meninggal.

Hmm...serasa kos deh jadinya. Ga ada nasi, ga ada lauk pauk. Karena cuman sendiri di rumah, makan sesuka hati. Mau makan boleh, ga juga ga apa-apa. Bawaannya malesss..

Angan-angan, cita-cita, keinginan kalo wiken itu mau baca buku, melalap buku-buku yang masih belum tersentuh selalu ada tapi, realisasinya nol.. Selalu kehilangan passion di hari H.

Apalagi sekarang, babe lagi ga di rumah. Mm...sabtu besok mau ngapain ya? Paling melanjut baca Pak Beye dan Keluarganya, disambi nonton tivi. Soal makan, besok makan apa ya? Ohya, gado-gado ah, udah lama ga makan gado-gado :)

Cemilan ada, kopi ada so... besok ga kemana-mana ah. Baca, baca, baca. Beres-beres rumah. Udah tengah bulan gini, udah waktunya berhemat hehehe..

Home alone, ga masalah... Banyak yang bisa dikerjain. Ayo Evi, semangat!! Aku ga boleh kalah sama rasa malas. Dvd juga masih ada yang belum rampung di tonton. Malam ini mau begadang sambil baca juga oke. Thank God its friday lah... Besok mau bangun siangan juga ga apa-apa.

Oke deh, salam semangat!
>Aku tertarik menulis posting ini karena, semalam ada teman baru (kenal di twitter) yang mention di twitterku begini: hello, @Oranjeholic :) kamu sungguh mencintai orange? (akun twitterku @Oranjeholic). Dalam hati aku berkata 'this is the first time ada orang yang menanyakan hal ini padaku.'

Akun twitter ku bernama seperti itu karena semata-mata kesukaanku pada timnas Belanda yang identik dengan warna orange (imbas euphoria piala dunia 2010). Sedangkan orange dalam bahasa Belanda adalah 'oranje' jadilah penulisannya ke-Belanda Belandaan. Kalau warna kesukaan, aku lebih menyukai warna-warna kalem/soft atau yang muda. Aku tidak terlalu suka dengan warna-warna cerah mencolok.

Sementara bagi teman baruku, warna orange itu sudah sampai ke dalam hidupnya, dia pecinta orange. Membaca di blog pribadinya yang baru saja diunduh soal warna orange, ternyata ada filosofinya. Orange itu identik dengan kesegaran, ceria, dan kalau menurut temanku warna orange itu sangat bersahabat, akrab, karib, merangkul, tanpa jarak.

Hm...lagipula aku suka sunset jadi, semestinya aku menyukai warna orange ini ya :) So... Aku ga salah menyukai warna orange dan belajar mencintainya yang selalu memberikan kesegaran, kehangatan dan manfaat bagi penyukanya.

Salam orange,
Aku tertarik menulis posting ini karena, semalam ada teman baru (kenal di twitter) yang mention di twitterku begini: hello, @Oranjeholic :) kamu sungguh mencintai orange? (akun twitterku @Oranjeholic). Dalam hati aku berkata 'this is the first time ada orang yang menanyakan hal ini padaku.'

Akun twitter ku bernama seperti itu karena semata-mata kesukaanku pada timnas Belanda yang identik dengan warna orange (imbas euphoria piala dunia 2010). Sedangkan orange dalam bahasa Belanda adalah 'oranje' jadilah penulisannya ke-Belanda Belandaan. Kalau warna kesukaan, aku lebih menyukai warna-warna kalem/soft atau yang muda. Aku tidak terlalu suka dengan warna-warna cerah mencolok.

Sementara bagi teman baruku, warna orange itu sudah sampai ke dalam hidupnya, dia pecinta orange. Membaca di blog pribadinya yang baru saja diunduh soal warna orange, ternyata ada filosofinya. Orange itu identik dengan kesegaran, ceria, dan kalau menurut temanku warna orange itu sangat bersahabat, akrab, karib, merangkul, tanpa jarak.

Hm...lagipula aku suka sunset jadi, semestinya aku menyukai warna orange ini ya :) So... Aku ga salah menyukai warna orange dan belajar mencintainya yang selalu memberikan kesegaran, kehangatan dan manfaat bagi penyukanya.

Salam orange,
>
Pagi-pagi yang dicari orang apa? Sarapan... Hampir kebanyakan orang setiap pagi, sebelum memulai aktivitas mengisi bahan bakar dulu alias sarapan atau kalo orang bule sana bilang breakfast Sarapan yang dikonsumsi bisa berbeda-beda tergantung selera. Ada yang bawa bekal dari rumah, ada juga yang beli di kedai pinggir jalan, di stasiun atau dimana saja yang menjual kelengkapan pengganjal perut.

Jenis sarapan yang dikonsumsi pun beragam, ada yang ringan hingga yang berat. Yang termasuk sarapan ringan: bubur ayam, roti, goreng-gorengan, kue-kue jajan pasar, lupis, dll. Yang termasuk sarapan berat: nasi uduk, nasi rames, lontong sayur, ketoprak, gado-gado, mie ayam, dll. Akupun termasuk yang terkadang sarapan ringan, terkadang sarapan berat, tergantung mood :)

Menurut ahli gizi, dengan sarapan dulu sebelum beraktivitas akan membuat kita lebih berkonsentrasi. Buat aku sihh...sama aja hehehe. Sarapan itu pilihan, ada yang harus sarapan karena kalo nggak sarapan lemes, ada juga yang nggak terbiasa sarapan, kalo sarapan perutnya sakit.

Kebetulan aku jenis pe-nyarap pagi yang flexibel, bisa makan, bisa juga tidak :)
So, kalau mau konsentrasi kerja di pagi hari.. jangan lupa sarapan ya..

Salam sarapan,

Pagi-pagi yang dicari orang apa? Sarapan... Hampir kebanyakan orang setiap pagi, sebelum memulai aktivitas mengisi bahan bakar dulu alias sarapan atau kalo orang bule sana bilang breakfast Sarapan yang dikonsumsi bisa berbeda-beda tergantung selera. Ada yang bawa bekal dari rumah, ada juga yang beli di kedai pinggir jalan, di stasiun atau dimana saja yang menjual kelengkapan pengganjal perut.

Jenis sarapan yang dikonsumsi pun beragam, ada yang ringan hingga yang berat. Yang termasuk sarapan ringan: bubur ayam, roti, goreng-gorengan, kue-kue jajan pasar, lupis, dll. Yang termasuk sarapan berat: nasi uduk, nasi rames, lontong sayur, ketoprak, gado-gado, mie ayam, dll. Akupun termasuk yang terkadang sarapan ringan, terkadang sarapan berat, tergantung mood :)

Menurut ahli gizi, dengan sarapan dulu sebelum beraktivitas akan membuat kita lebih berkonsentrasi. Buat aku sihh...sama aja hehehe. Sarapan itu pilihan, ada yang harus sarapan karena kalo nggak sarapan lemes, ada juga yang nggak terbiasa sarapan, kalo sarapan perutnya sakit.

Kebetulan aku jenis pe-nyarap pagi yang flexibel, bisa makan, bisa juga tidak :)
So, kalau mau konsentrasi kerja di pagi hari.. jangan lupa sarapan ya..

Salam sarapan,