Dengarlah Nyanyian Angin by Haruki Murakami

0 Comments
Bicara tentang remaja usia 13-18 tahun, apa yang terbesit? Rebel (pemeberontak) dan pencarian jati diri. Di usia-usia itu rasa keingin tahuan akan hal-hal yang sewaktu kecil tidak boleh diketahuinya mulai dicari tahu. Entah dari teman, buku atau siapa saja yang bisa membantu agar rasa ingin tahunya terpuaskan.

Keadaan seperti itu berjalan terus menerus, dari jaman ke jaman dan dibelahan dunia manapun. Remaja, adalah usia dimana sesorang bukan lagi anak kecil, tapi belum lagi dewasa. Istilah kerennya Anak Baru Gede (ABG).

Mengutip sinopsis di belakang buku ini "Dengarlah Nyanyian Angin bercerita tentang anak-anak muda dalam arus perbenturan nilai-nilai tradisional dan modern di Jepang tahun 1960-1970-an."

Nilai-nilai itu terbaca dari sikap Nezumi, teman si Aku yang tidak menyukai orang kaya (padahal Nezumi anak orang kaya) "kukatakan dengan tegas ya, aku membenci orang kaya karena mereka tidak memikirkan apapun. Jika tidak ada senter dan mistar, tak bakal bisa mereka menggaruk pantat sendiri."

awalnya Nezumu mencemooh Aku yang gemar membaca buku, tapi pada akhirnya Nezumi tertarik juga membaca bahkan bisa menulis novel.

Menurutku penceritaannya maju mundur, cuman Haruki ingin menggambarkan sosok kaum muda Jepang yang antikemapanan dan tidak memiliki bayangan ideal tentang masa depannya.

Ada beberapa kutipan-kutipan yang menurutku menarik. "dimanapun tidak akan ada manusia yang tangguh. Yang ada hanyalah manusia yang pura-pura tangguh.", "orang yang memberi dengan penuh keikhlasan akan selalu memperoleh gantinya.", "orang yang berhati gelap hanya akan melihat mimpi yang gelap. Apabila hatinya lebih gelap lagi, mimpipun dia tak bisa." Kalimat pada kutipan terakhir terkesan menyeramkan ya.

Buku ini baik dibaca oleh anak-anak remaja sebagai referensi bahwa mulai sekarang menetapkan goal atau tujuan di dalam hidup begitu berarti untuk dimasa depan.


Tulisan Lainnya:

Tidak ada komentar: