Epitaph : Memoar Batu Nisan

2 Comments
Ini adalah postingan kedua dengan judul yang sama, karena postingan sebelumnya hilang karena kesalahan sendiri. Jadi, mohon maaf bila ada perubahan kata-kata atau kalimat dari posting sebelumnya bagi teman-teman yang sempat membacanya.

Siapa yang pernah merasakan kehilangan orang yang dicintai atau dikasihi? Baik itu orang tua, sahabat, saudara, suami/istri, pacar. Apa yang dirasakan saat kehilangan orang yang dikasihi? Pertanyaan seperti ini tidaklah perlu dipertanyakan. Pasti rasa sedih, kehilangan yang dirasakan.

Aku pernah merasakan kehilangan. Kehilangan seorang ibu yang begitu aku kasihi. Penyakit kencing manis sudah merenggut beliau dari sisiku. Saat itu rasa hancur, sedih kurasakan saat aku diminta melihat posisi beliau saat hendak dimasukkan ke peti mati. Aku lemas, menangis meraung raung karena, ibu yang begitu ku kasihi tidak lagi tidur di ranjang kamarnya.

Itulah gambaran rasa sedih kehilangan orang yang dikasihi/dicintai. Epitaph, buku yang ditulis oleh Daniel Mahendra (akun twitternya @penganyamkata) ingin menggambarkan rasa kehilangan itu.

Kisah seorang pemuda, Haikal yang ditinggal mati kekasihnya, Laras dalam kecelakaan helikopter di Sibayak. Bagaimana menyikapi rasa kehilangan yang dirasakan Haikal dan keluarga Laras adalah sama yang dirasakan kebanyakan orang.

Penantian kepastian berita yang ditunggu berbulan-bulan bahkan sampai 2 tahun akhinya terjawab sampai ditemukannya bangkai helikopter dan penumpangnya yang sudah tinggal tulang belulang.

Walaupun cerita ini fiksi, tapi gambaran akan rasa kehilangan itu membuat emosi pembaca terlibat. Perbedaan antara fiksi atau kenyataan terbaca ketika ada catatan-catatan berita dari beberapa media yang memuat kecelakaan helikopter itu.

Ilustrasi buku ini juga seperti melambangkan kedukaan, memoar dibaliknya (gambar jembatan seperti di tengah hutan dengan pohon dikiri kanan serta tanaman perdu, juga warna gambar yang hijau suram).

Dialog antara Haikal dan bapak penjual buah tentang arti menunggu membuatku terkesan. "banyak orang bosan melewati penungguan itu. Bagiku disitulah seninya hidup. Ada harapan yang terus menyala. Itu yang terkadang tak semua otang mau memahami, bahwa menunggu adalah suatu kenikmatan tersendiri. Suatu seni tersendiri..." menarik bukan?

Menurut aku, intisari dari buku ini adalah belajar ikhlas menerima kehilangan orang yang dicintai/dikasihi dan biarkan memoar indah tetap terpatri di hati dan batu nisan mereka.


Tulisan Lainnya:

2 komentar:

  1. huhuhuhuhuhu....
    kita sama samakehilangan orang yang disayangi mba
    Maybe our mom meet in the heaven like us on the earth.

    BalasHapus
  2. Sorry to hear that Hel.. Yups, they will be friends like us :)

    BalasHapus