Jumat Malam di Grand Indonesia

0 Comments
Hari ini, 25 Maret 2011. Pulang kerja aku ga berniat langsung pulang. Mengingat kondisi antrian TransJ seperti kemarin (panjang abis dan lamaa) so, aku memutuskan untuk mampir ke Grand Indonesia.

Sampe di Grand Indonesia, tanpa basa basi langsung menuju food louver. Meski dana pas-pasan, aku memuaskan perutku dengan menu paket 25ribu di Poke Sushi. Menunya gindara grilled with rice and free ocha pula, lumayan kan :)

Tadinya mau nongkrong di SeVel (seven eleven) cuman dilihat-lihat rame dan ga ada tempat. Ya sudahlah.. (kata Bondan Prakoso)

Ohya, aku mau cerita. Tadi, pas naik jembatan penyebrangan di depan kantorku, aku sempat terharu karena ada seorang bapak, rambutnya sih putih semua. Cuman ku kutaksir umurnya sekitar 40-an gitu deh. Beliau selalu menyapa setiap aku naik. "Selamat sore mbakk.." dengan senyum ramahnya dan terlihat tulus. Akupun menyahutinya "sore..." dengan ramah dan tak lupa senyum.

Pernah suatu kali saat aku pulang dengan kantong berisi makan siang yang sengaja mau kubawa pulang. Ketika melihat bapak itu, akupun langsung memberikan untuknya. Masih teringat reaksi beliau yang kaget, ga menyangka dan menerimanya dengan senyum ramahnya "terima kasih mbakk.." akupun puas melihatnya senang.

Tapi, sapaannya saat aku sampai di ruas jembatan penyebrangan itu bukan karena aku pernah memberikannya nasi, tapi memang bapak itu ramah. Aku ga tahu ya bagaimana ke penyebrang jembatan yang lain. Awal mulanya, aku berpura-pura cuek tapi, lama kelamaan aku merasa bahwa beliau itu hanya menyapa tanpa memaksa untuk membeli dagangannya. Oiya, aku lupa beliau itu berjualan peniti, lem powerglue, dll gitu.

Kali ini keharuan tiba-tiba menyergapku. Ingin nangis rasanya. Tulus senyum dan sapaannya, membuat sore tadi begitu sejuk. Apalagi ditengah macetnya ruas jalan sudirman menuju semanggi.

Ternyata masih ada orang sebaik bapak ini, yang mungkin saja sapaan hangatnya tidak selalu berbalas manis, dimana lalu lalang orang-orang sibuk, yang ingin buru-buru sampai di tempat tujuan.

Bapak itu simbol keramahan orang Indonesia yang kerap disuka oleh turis-turis mancanegara. Di sela keindividuan pekerja-pekerja di ibukota, masih ada sikap hangat dari seorang bapak, penjual asesoris, orang pinggiran yang belum tentu mendapat respon yang ramah juga.

Salam ramah,


Tulisan Lainnya:

Tidak ada komentar: