"...Silence is golden, golden.
But my eyes still see.
Talkin' is cheap
People follow like sheep.
Even tho' there is nowhere to go..."

Sepenggal lagu diatas ada benarnya juga. Diam adalah emas. Itu ungkapan banyak orang. Diam, tak banyak bicara.

Seharusnya memang itu yang dilakukan. Terkadang banyak bicara, kita tidak tahu apakah lawan bicaranya itu bisa dipercaya atau tidak. Yang ada bisa menimbulkan fitnah atau adu domba. Berarti harus pandai-pandai memilih apa yang akan diucapkan, karena kita tidak tahu efek yang ditimbulkan akibat banyak bicara.

Sulit awalnya bagi orang yang biasa 'rame' menjadi orang yang tidak banyak bicara. Orang yang terbiasa ekstrovert menjadi introvert. Tapi, belajar dari pengalaman yang tidak menyenangkan akibat banyak bicara, sedikit demi sedikit bisa mengubah perilaku. Entah benar atau tidak, hanya yang bersangkutan yang bisa merasakan.

Ah...entahlah...mungkin ini hanya cerita galau aku karena, berada dilingkungan yang tidak nyaman dan menjadikan aku mau tak mau belajar untuk menjadi orang yang tak 'bawel'. Mungkin aku harus melihat situasi dan kondisi kapan dan dimana aku bisa bawel, kapan dan dimana ke-bawelanku itu dikendalikan.
Sekedar berbagi. Kereta KRL Ekonomi Lingkar Tanah Abang dari Bekasi setiap hari ku pakai jasanya untuk mengantarku ke stasiun Sudirman. Ongkosnya hanya Rp 1,500 ekonomis sekali kan?

Dengan harga yang sangat ekonomis dan jam yang begitu pagi (jam 06.22 dari st. cakung) membuat kereta ini menjadi favorit. Semua jenis pekerja ada di situ. Yang keren, yang biasa saja, yang cuman mas mas dengan baju lusuh juga ada. Semua menjadi satu, ada yang duduk dan yang paling banyak BERDIRI. Kenapa aku tulis dengan huruf kapital? Karena memang itu lah kenyataan yang ada. Terlalu banyak manusia yang berdiri. Yang bisa kebagian pegangan, bisa menopang tubuhnya saat kereta mengayun ke kiri atau ke kanan. Kalau yang ga kebagian pegangan, ya sudah... pasrah, mengikuti arus.

Belum lagi bila berhenti di tiap-tiap stasiun kecil, penumpang lain mendesak masuk supaya terangkut dan itu membuat kondisi di dalam yang sudah berdesakan, makin terhimpit. Aku pernah merasakan semua kondisi, kalau pas ga dapat pegangan ya sudah...menyandar pada punggung orang atau benar-benar bertumpu pada kakiku.

Kadang keretaku terlambat, kadang lebih cepat. Tapi, kebanyakan terlambat. Aku juga pernah mengalami kereta yang kutumpangi mogok di stasiun Jatinegara. Itu kali pertama aku merasakan kereta mogok. Akhirnya aku mengikuti arus dan bertanya-tanya untuk menyambung kereta apa lagi untuk sampai di stasiun Sudirman.

Seperti hari ini, kereta yang ku tumpangi tiba di stasiun Cakung hampir jam setengah 7 pagi. Sempat di tahan beberapa saat karena ada kereta langsung yang lewat. Setelah kereta jalan, beberapa kali tadi berhenti sekitar 3 - 5menit-an sebelum tiba di stasiun Klender Baru dan Buaran. Keadaan kereta yang penuh sesak ditambah berhenti-berhenti dengan waktu 5-10 menit, pastinya membuat gerah seluruh penumpang. Karena hanya mengandalkan angin cepoi-cepoi.

Mau protes? Susah juga, namanya kereta ceng-go (Rp 1,500)  ya...begitu deh keadaannya. Mau nyaman dan cepat? Naik kereta ekspress dan berani bayar mahal, sayangnya tidak  berhenti di stasiun Cakung. Kalau berhenti, pastinya penumpang-penumpang yang tidak mau berdesakan akan memilih naik kereta ekspres walaupun merogoh kocek sedikit dalam. Soalnya meskipun empet-empetan masih ada AC-nya (air condition bukan angin cepoi cepoi hihihihi)

Ya...begitulah nasib penumpang kereta ceng-go. Jadi, servis pelayanannya ya seharga ceng-go juga :)
Dari judul menarik ya "1 Perempuan 14 Laki-laki" terus lanjut ke sinopsis di belakang judul, menarik juga. Ya sudah aku memutuskan membeli buku ini. Apalagi ini buku pertama mba Djenar yang ku baca.

Setelah membaca ternyata maksud dari judul buku ini yaitu, duet menulis mba Djenar dengan 14 laki-laki yang bertalenta di dunia tulis menulis. Kebanyakan ceritanya tentang indahnya hubungan antara laki-laki dan perempuan yang ditulis dengan bahasa yang sedikit vulgar, detail.

Keciri sekali duet mba Djenar dengan Sujiwo Tejo, Butet Kartaredjasa dan Romo Mudji Sutrisno. Kalo dengan Sujiwo Tejo tertanda dengan nama-nama pewayangan secara beliau adalah seorang dalang juga. Dengan Butet Kartaredjasa tertanda dengan bahasa-bahasa jawa yang buatku itu Butet banget. Dengan Romo Mudji tertanda dengan adanya unsur-unsur keagamaan.

Yang ga ada kata-kata vulgar hanya duet mba Djenar dengan Lukman Sardi yang bercerita tentang masa lalu seorang suami dimana ternyata waktu masa SMA dulu pernah menyukai perempuan lain teman sekelasnya tapi, menikahi pacar setianya semasa SMA. Curhat-an si suami diketahui istrinya lewat buku hariannya setelah puluhan tahun berlalu.

Pada bab "Kupunyakupu" ada filosofi tentang bagaimana meraih sebuah impian, begini katanya:
"Sebelum kamu menggenggam bola, ia hanyalah imajinasimu. Dan ketika kamu mendapatkannya, ia menjadi obsesimu. Namun keduanya tetap tidak akan menjadi nyata ketika kamu tidak dapat melihatnya karena terhalang oleh karton itu. Karton itu adalah dirimu. Dan diri sendiri adalah musuh terbesar pada setiap manusia. Penghalang kita untuk belajar melepaskan sesuatu yang sebenarnya hanyalah imajinasi dan obsesi saja. Tidak nyata."
Berapa hari belakangan ini aku mencoba berada di dunia lain, bukan dunia "lain" itu loh :) Tapi, aku mencoba beradaptasi dengan lingkungan yang sunyi, tanpa hingar bingar hiburan media elektronik.

Aku mencoba bagaimana rasanya seharian tanpa tivi, ternyata fine fine aja tuh. Kegiatan aku alihkan ke hal lain, baca, nge-blog atau eksis di twitterland. Selain menghemat listrik, aku bisa konsen dengan bacaan. Atau tiba-tiba keingetan mau nulis apa gitu.

Aku itu termasuk orang yang gemar sekali nonton tivi. Dulu, seneng nonton sinetron. Di stasiun tivi mana aja yang nayangin sinetron aku ikutin. Yang namanya berita...boro-boro aku ikutin. Males. Tapi, semenjak punya banyak teman di dunia pemberitaan aku pun jadi mulai ikutan update tontonan (walaupun masih jauh ketinggalan). Semenjak setahun hampir dua tahun ini deh, tontonan sinetron pelan-pelan ku tinggalkan (inget lagu Kotak: pelan pelan saja hehehe). Aku sekarang mulai sering nongkrong di stasiun tivi yang menyiarkan berita-berita, talk show politik gitu deh.

Kali ini aku ingin mencoba bagaimana rasanya di dunia tanpa tivi, dimana hampir semua orang pastinya senang nonton tivi. Katanya kalo ga nonton tivi ketinggalan berita, padahal sekarang berita itu bisa diakses dengan banyak cara. Apalagi era teknologi canggih seperti sekarang. Bisa baca berita lewat internet, headline headline di twitter, koran. Jadi, buatku kalo soal mengakses berita ga harus lewat tivi. Ya...paling kalo mau liat secara visual nya.

Selain itu, aku bisa denger lagu lewat radio di handphone. Waktu hanya ku habiskan di kamar, atau sekedar keluar cari makan dan jajan. Sepertinya aku mulai terbiasa nih hidup tanpa tivi hehehe. Mungkin aku bisa dibilang latah ya, karena aku mencoba mengikuti kebiasaan teman-temanku yang bekerja di media, bahwa mereka itu juga jarang sekali dan ada yang ga pernah nonton tivi. Dalam hatiku, ya iya lah kalian jarang dan hampir ga pernah nonton tivi karena kerjaan kalian cari berita untuk menghias tivi :)

Mudah-mudahan aku bisa betah di dunia tanpa tivi ini. Utang baca masih banyak banget bo :)

Salam sunyi,

 
Siang, panas di dalam angkot. Awalnya sih biasa aja ya, sampai di suatu pinggir jalan angkot yang kunaiki berhenti. Rupanya ada seorang mba mba dan mas mas naik.

Si mba duduk di sampingku dengan posisi miring dan dengkulnya merapat ke dengkulku. Si mba ber rok pendek ini sedikit mengesalkan tingkahnya.

Siapa suruh pakai rok pendek, batinku. Posisi duduk okelah, tapi tangannya itu loh. Sikutnya, lengannya mengenai pinggangku yang notabene aku ini orangnya geli-an. Entah buka tas, tutup tas ada-ada saja yang dikerjakannya.

Aku berdecak tanda kesal. Untung ga lama lagi turun, batinku. Sesampainya di suatu mal, aku berjalan-jalan. Ya...kurang lebih adalah sekitar setengah jam, aku memutuskan mencari tempat makan.

Duduk sambil menyantap hidangan di hadapan, mataku berjalan ke kiri dan ke depan. Saat itu juga mataku melihat si mba yang tadi diangkot dan pasangannya.

Hawa panas yang tadi diangkot muncul lagi, apalagi melihat tingkah tengilnya si mba itu. Siang panas nan nge-jreng ini rupanya pandai memainkan emosiku. Aku terusik. Kebetulan hidangan sudah tandas.

Sambil berdiri, ku jinjing tasku dan ku hampiri meja si mba dan si mas. "Permisi mba, boleh ga ku tampar pipimu yang menantang?" tangankupun mendarat, taarrr...

Si mba mba rese bingung, akupun berlalu. Terima kasih siang yang panas nan nge-jreng.
Minggu lalu, pagi-pagi aku denger di radio ada modus penipuan baru yang memakai anak sebagai umpan.

Kan modus penipuan mama, papa atau om/tante yang minta pulsa kan udah ga kena nih maksudnya orang udah ga percaya lagi sama sms sms begitu. Nah, sepertinya ada modus baru (tapi, ga tau ya menurut pembaca ini modus baru atau lama) yaitu, memakai anak sebagai umpan. Biasanya ibu-ibu nih korbannya.

Maksudnya gimana sih? Maksudnya gini, si penipu telpon ke korban bilang kalo anaknya kecelakaan, sekarang di rumah sakit dan butuh biaya. Dalam hal ini, artis Claudia Harahap pernah jadi korban, hanya penyiar radio ga nyebutin berapa nilai yang diminta si penipu. Setelah dicek ke sekolah anaknya Claudia sehat-sehat saja.

Itu paginya, siangnya temen kantorku sebelum istirahat cerita kalau adiknya baru kena tipu. Temenku bilang, ada yang telpon ke rumahnya kalo ponakan temenku itu jatuh dari tangga sekolah, banyak darah, keadaan kritis dan dirawat di RS Husada. Dokter yang menangani butuh alat yang harganya 17,2 juta. Alhasil karena panik, adik temenku itu langsung ikutin perintah si penelpon. Cuman adik temenku itu salah denger, yang ke transfer 7,2juta itu ditransfer via m-banking. Kata si penelpon sisa 10juta transfer aja lewat ATM. Setelah itu adik temenku  telpon pacarnya sambil mengarah ke ATM, lalu kata pacarnya itu penipuan kali. Jadi 10juta itu tidak sampai di transfer.

Setelah dicek ke sekolah, ponakan temanku itu sehat-sehat saja dan belajar seperti biasa. Hanya keanehannya, si penipu itu tahu nama ponakan temenku, cuman data yang salah di sekolahannya itu tidak ada tangga.

Tapi, namanya orang panik tidak akan sempat berfikir panjang, apalagi yang diatas namakan anak kecil. Cuman kata temenku, sepertinya adiknya itu dihipnotis, soalnya waktu ditanya lagi, ga ingat banyak gimana runutan awal kejadiannya.

Kasus penipuan seperti ini pastilah ada sindikatnya. Kata temenku kejadian penipuan itu seminggu sebelumnya pernah terjadi di sekolah yang sama hanya saja orang tua anak SMP yang menjadi korban. Hmm...apakah ada kerjasama orang dalam sekolah? (hanya menebak saja).

Semoga cepat tertangkap pelakunya. Dan bagi orang tua, sebelum bertindak cek ke sekolah dan usahakan jangan panik.
K dan S namanya. Mereka temanku, teman satu kantor dan satu departemen. Mereka semua baik dan sayang padaku. Terutama S, dia itu selalu kunyanyikan lagu: you know me so well, lagu band baru yang sedang booming. Karena S adalah orang yang mengerti aku.

Sementara K, adalah orang yang sangat baik, suka memberi padaku.

Satu hal yang tak kusadari sampai satu orang teman yang lain, F namanya. Dia mengingatkanku betapa K dan S ini lucu. Lucu? Apanya yang lucu? Tanyaku. Lalu F meminta K dan S berdiri berdampingan. Lalu F berkata padaku, lihat deh lucu kan? Ku amat-amati lalu aku tersenyum dan tertawa. Iya, mereka lucu. Ternyata F benar. K dan S pun ikut tertawa.

Sampai suatu kali aku yang kebetulan duduk di meja resepsionis, ngobrol dengan K dan S. Sambil tertawa cekikikan, mereka sudah tahu apa yang ku maksud. Mereka sih ga marah, karena mereka tahu maksudku hanya menggoda saja.

Baru kali ini kulihat ada yang seperti K dan S. Mereka sama tinggi dan modelnya tapi tidak sama rupa.

Aku punya cerita, cerita tentang teman tidurku. Dia kunamakan si mungil. Entah apa yang mendasari aku memanggilnya itu. Setiap malam selalu kepeluk, kuciumi dia.

Bau khasnya setelah kucium dia membuatku menjadi rileks. Kepeluk lagi, kucium lagi. Meskipun dia tidak bicara, tapi dia lah saksi hidupku. Saat aku senang, sedih. Apalagi di saat sedih, airmataku kerap membasahinya. Dia tahu itu..

Sempat terbesit di pikiranku, ketika ku mati aku ingin si mungil ada di peti matiku. Aku ingin ditemaninya tak hanya saat ku hidup, tapi sampai ku mati.

Si mungil namanya, setiap malam selalu kupeluk, selalu kucium. Bila pagi datang, rasanya enggan aku meninggalkannya. Kalau aku sakit, aku manja sekali padanya. Ku peluk terus dia erat-erat. Bau khasnya membuatku tak henti untuk selalu menciumnya. Dia seakan jimat sebelum tidurku.

Dialah mungilku, teman tidurku, kesayanganku..
Minggu lalu, pagi-pagi aku denger di radio ada modus penipuan baru yang memakai anak sebagai umpan.

Kan modus penipuan mama, papa atau om yang minta pulsa kan udah ga kena nih maksudnya orang udah ga percaya lagi sama sms sms begitu. Nah, sepertinya ada modus baru (tapi, ga tau ya menurut pembaca ini modus baru atau lama) yaitu, memakai anak sebagai umpan. Biasanya ibu-ibu nih korbannya.

Maksudnya gimana sih? Maksudnya gini, si penipu telpon ke korban bilang kalo anaknya kecelakaan, sekarang di rumah sakit dan butuh biaya. Dalam hal ini, artis Claudia Harahap pernah jadi korban, hanya penyiar radio ga nyebutin berapa nilai yang diminta si penipu. Setelah dicek ke sekolah anaknya Claudia sehat-sehat saja.

Itu paginya, siangnya temen kantorku sebelum istirahat cerita kalau adiknya baru kena tipu. Temenku bilang, ada yang telpon ke rumahnya kalo ponakan temenku itu jatuh dari tangga sekolah, banyak darah, keadaan kritis dan dirawat di RS Husada. Dokter yang menangani butuh alat yang harganya 17,2 juta. Alhasil karena panik, adik temenku itu langsung ikutin perintah si penelpon. Cuman adik temenku itu salah denger, yang ke transfer 7,2juta itu ditransfer via m-banking. Kata si penelpon sisa 10juta transfer aja lewat ATM. Setelah itu adik temenku telpon pacarnya. Jadi 10juta itu tidak sampai di transfer.

Setelah dicek ke sekolah, ponakan temanku itu sehat-sehat saja dan belajar seperti biasa. Hanya keanehannya, si penipu itu tahu nama ponakan temenku, cuman data yang salah di sekolahannya itu tidak ada tangga.

Tapi, namanya orang panik tidak akan sempat berfikir panjang, apalagi yang diatasnamakan anak kecil. Cuman kata temenku, sepertinya adiknya itu dihipnotis, soalnya waktu ditanya lagi, ga ingat banyak gimana runutan awal kejadiannya.

Kasus penipuan seperti ini pastilah ada sindikatnya. Kata temenku kejadian penipuan itu seminggu sebelumnya pernah terjadi di sekolah yang sama hanya saja orang tua anak SMP yang menjadi korban.

Semoga cepat tertangkap pelakunya. Dan bagi orang tua, sebelum bertindak cek ke sekolah dan usahakan jangan panik.
Aku punya teman di kantor, cowok. Orangnya apik, resik. Dia paling ga suka buang sampah sembaranga dan ga suka liat orang buang sampah sembarangan. Dia suka ngoceh-ngoceh kalau ada berita banjir di suatu tempat. Dia bilang, itu salah manusianya. Ada tempat sampah kenapa buang sampah sembarangan. Apa sih susahnya buang sampah di tempatnya. Kalo udah banjir ribet sendiri.

Aku termasuk orang yang taat buang sampah pada tempatnya, kadang  buang sampah sembarangan juga tergantung sikon :) hanya saja entah kenapa, temanku itu seperti jadi alarm di otak ini. Setiap aku mau buang sampah sembarangan pasti di pikiranku tuh seperti ada suara "kalau ada dia pasti bakalan ngomel nih aku buang sampah sembarangan." Kalo udah pikiran gitu niat mau buang sampah sembarangan tuh ga jadi.

Pernah kejadian minggu lalu, aku dan teman-teman kerjaku termasuk cowok resik ini jajan di gedung sebelah. Selesai minum es kelapa tanpa kusadari, kubuang aja plastiknya di deket gerobak si abang. Setelah itu, habislah aku diocehin si teman cowok ini. "Itu kan ada tempat sampah, emang susah ya buang di situ. bla..bla..bla.." Kataku, "Iya, sori..sori...ga sengaja.." Dalam hatiku, ada gitu ya buang sampah sembarangan ga sengaja. Excuse yang ga banget :)

Karena itu aku selalu ingat dan ingat kalo mau buang sampah ga boleh sembarangan. Harus buang pada tempatnya. Kalo ga ada tempat sampah, biasanya aku kantongin atau masuk dalam tas sampai ada tempat sampah baru ku buang. Tapi, suka lupa. Alhasil tuh sampah-sampah bisa berdiam di tas entah berapa lama. Biasanya sih bungkus permen, ga mungkin sampah organik.

Eh, tapi pernah ya aku punya pengalaman yang ga banget dan ga terlupakan. Waktu itu aku ikutan gerak jalan bareng dari kantor lain (undangan temen) nah, kami dikasih bekal minum dan kue-kue. Tas gemblok ku kiri kanan ada kantongnya. Di kantong kiri aku taro teh kotak, kantong kanan ada risol yang dibungkus. Jalan punya jalan, pasca berapa hari tuh aku bingung kok kalo aku taruh tas gemblok ku di kantor (diatas dus di bawah meja), dus nya itu seperti ada bekas minyak. Terus agak ada bau-bau ga sedap gitu. Aku lupa deh udah seminggu atau selisih berapa hari dari acara gerak jalan itu. Akupun investigasi, bau darimana itu.

Setelah diselidiki, ternyata... alamak.. bau itu berasal dari risol yang masih ada di kantong kanan tasku yang tertindih teh kotak lagi. Astaga dragonnn...itu baunya busuk abiezzz. Sampai mau muntah aku ngeluarin dan bersihin kantong itu.

Lupa makan akhirnya jadi sampah. Lupa buang akhirnya jadi busuk. Itulah pengalaman terburuk tentang sampah.

Jadi, buang sampah pada tempatnya itu banyak untungnya. Lagian buang sampah sembarangan itu tidak berarti memberikan pekerjaan bagi pekerja pembersih jalanan. Terlalu banyak sampah berserakan juga membuat petugas dinas kebersihan ga istirahat dong sekalipun mereka dibayar untuk itu.

Yuk, mulai biasakan hidup bersih :)
Ini postingan tadi siang :)

Sabtu sabtu gini, baru gajian pula emang paling asik jalan ke mal. Mal yang ku tujupun adalah mal favorit, MKG. Sampai di mal pas mendekati makan siang. Udah gitu, nih si hape cilik juga ikut-ikutan teriak minta diisi.

Alhasil langsung ku tuju cafe tempat biasa aku nongkrong juga. Ku cari meja yang dekat dengan colokan listrik supaya aku bisa kasih makan si hape cilik. Setelah si hape cilik mulai mengisi, aku juga ikutan mengisi. Ku pesan segelas es coklat jeruk kegemaranku, untuk makan ku pesan yang tidak terlalu berat, sup krim ayam. Sup krim ayam cafe ini buatku is the best.

Sambil seruput, nyam nyam mataku puas berkeliling ke kiri dan ke kanan. Akhirnya mataku bertemu dengan meja yang berisi seorang ibu dan anak perempuannyanya, kira-kira anaknya berumur 3 tahunlah.

Mataku tak bisa tak melirik, karena anaknya lucu. Untung si ibu membelakangiku, jadi aku bisa puas melirik ke arah anaknya :)

Rupanya si ibu memesankan anaknya segelas besar es coklat yang di blender. Demi dapat menyendok es coklatnya, si anak berdiri lalu mulai menyendoki es nya.

Sambil tetap ku sedot es coklat jerukku, aku tetap melirik ke meja itu. Ibunya asik dengan blackberry nya, si anak menikmati es coklatnya yang masih tampak penuh. Si ibu mulai menikmati santapannya, setelah itu si anakpun siap menikmati santapannya. Sepiring besar fettucini sepertinya. Si ibu mengaduk-aduk fettucini itu supaya rata dengan sausnya.

Si anak masih duduk-duduk memandang sekelilingnya, lalu muncul seorang laki-laki yang mengambil tempat tepat di depan si ibu. Oo..rupanya itu ayah si anak.

Jadi, segelas besar coklat dan sepiring besar fettucini itu?? Aku jadi senyum-senyum sendiri. Ku sedot lagi es coklat jerukku dan tak berani ku lirik lagi meja yang ada anak perempuan kecil, si ibu dan si ayah :)
Sabtu sabtu gini, baru gajian pula emang paling asik jalan ke mal. Mal yang ku tujupun adalah mal favorit, MKG. Sampai di mal pas mendekati makan siang. Udah gitu, nih si hape cilik juga ikut-ikutan teriak minta diisi.

Alhasil langsung ku tuju cafe tempat biasa aku nongkrong juga. Ku cari meja yang dekat dengan colokan listrik supaya aku bisa kasih makan si hape cilik. Setelah si hape cilik mulai mengisi, aku juga ikutan mengisi. Ku pesan segelas es coklat jeruk kegemaranku, untuk makan ku pesan yang tidak terlalu berat, sup krim ayam. Sup krim ayam cafe ini buatku is the best.

Sambil seruput, nyam nyam mataku puas berkeliling ke kiri dan ke kanan. Akhirnya mataku bertemu dengan meja yang berisi seorang ibu dan anak perempuannyanya, kira-kira anaknya berumur 3 tahunlah.

Mataku tak bisa tak melirik, karena anaknya lucu. Untung si ibu membelakangiku, jadi aku bisa puas melirik ke arah anaknya :)

Rupanya si ibu memesankan anaknya segelas besar es coklat yang di blender. Demi dapat menyendok es coklatnya, si anak berdiri lalu mulai menyendoki es nya.

Sambil tetap ku sedot es coklat jerukku, aku tetap melirik ke meja itu. Ibunya asik dengan blackberry nya, si anak menikmati es coklatnya yang masih tampak penuh. Si ibu mulai menikmati santapannya, setelah itu si anakpun siap menikmati santapannya. Sepiring besar fettucini sepertinya. Si ibu mengaduk-aduk fettucini itu supaya rata dengan sausnya.

Si anak masih duduk-duduk memandang sekelilingnya, lalu muncul seorang laki-laki yang mengambil tempat tepat di depan si ibu. Oo..rupanya itu ayah si anak.

Jadi, segelas besar coklat dan sepiring besar fettucini itu?? Aku jadi senyum-senyum sendiri. Ku sedot lagi es coklat jerukku dan tak berani ku lirik lagi meja yang ada anak perempuan kecil, si ibu dan si ayah :)