Kalau cuaca panas-panas paling enak minum es jeruk ya. Segerrr... :) Jeruk yang warnanya orange gitu, eye catching. Kesan segernya dapat banget.

Orange, kalo menurut bahasa indonesianya oranye. Oranye mengadaptasi bahasa belanda yang penulisannya oranje (ejaan lama kalau menurut pelajaran bahasa indonesia). Bagi orang belanda warna oranye itu punya makna inovatif, enerjik, cemerlang, dinamis.

Aku bukan pecinta oranye sejati. Aku menyukai oranye saat melihat timnas belanda berlaga di piala dunia 2010. Melihat timnas belanda di lapangan hijau, seperti melihat jeruk bergulir-gulir. Suegerrr :)

Aku penyuka warna pink dan warna soft lainnya. Tapi, sebenarnya tanpa aku sadari, aku menyukai warna oranye. Buktinya aku suka sunset. Melihat matahari tenggelam kesannya romantis gimana gitu. Lalu saat semua bentuk terlihat seperti bayangan. Nampak terlihat siluet-siluet, bagiku itu indah. Oranye di sunset seperti memberi tanda saat siang tak lagi berkuasa, malam mulai merayap menggeser perannya, saat itu aktivitas tak lagi bersemangat. Tanda raga minta rehat sejenak.

Aku juga suka sunrise. Walau warna oranye saat matahari mulai menyembul malu tak setegas saat matahari merunduk, aku suka. Saat tanda penghuni-penghuni bumi bergeliat, disitulah makna oranye terlihat.

Orange, oranye. Aku menyukai warna itu. Semoga aku bisa seperti filosofi oranye di kehidupan. Oranye tidak akan menjadi sendu biru.
Kantor di Sudirman, rumah di Bekasi. Hmm...jarak yang tidak dekat bukan? Bayangkan setiap hari aku harus melakukan rute yang sama. Awalnya jam kantor 08.30 - 17.30, aku pun nebeng dengan manager-ku yang rumahnya di daerah Galaxi, Bekasi. Kami pas 3 orang, jadi ga melanggar 3 in 1. Sempat merasakan macet yang ga karu-karuan selama beberapa bulan. Sampai kantor pasti lewat jam 08.30 bahkan pernah jam 09.30 baru tiba di kantor. Fiuuuhh...benar-benar perjuangan dan bikin bete. Selama perjalanan aku hanya tidur, karena kalau melihat macetnya jalan bisa stress.

Mungkin lama kelamaan manager aku juga ngerasa ga enak sama teman-teman yang lain, akhirnya beliau memutuskan untuk mencoba moda transportasi yang lebih cepat, yaitu kereta. Akhirnya setiap berangkat kami naik kereta dari stasiun yang berbeda dan jenis kereta yang berbeda pula, yang penting sampai di kantor masih bisa sarapan atau sekedar ngobrol-ngobrol. Terasa sekali sih perbedaan waktunya.

Tapi, kalau pulang masih bareng managerku untuk menghindari 3 in 1. Keadaan ini berjalan berbulan-bulan sampai di awal bulan Mei ini, jam kantor berubah menjadi jam 08.00 - 17.00. Akupun menyambut dengan sangat antusias perubahan jam kerja ini. Suatu ketika aku coba pulang jam 5 lewat lah, saat itu aku hendak naik TransJ. Waktu sampai di halte dukuh atas, alamak..itu antrian udah lebih dari uler naga panjangnya deh. Parah. Akhirnya aku lanjutkan ke stasiun Sudirman (naik kereta ekspres). Pas aku sampai, kereta juga sampai. Buru-buru ku langkahkan kaki, walaupun kereta penuh dan berdiri tak mengapa bagiku, yang penting terangkut dan bisa tiba di rumah cepat.

Benar aja, sampai rumah bisa 18.30. Mantap kan? Sejak itu aku merasakan enaknya pulang dengan kereta yang jam 17.25. Alhasil aku harus meninggalkan manager-ku dan tidak pernah nebeng beliau lagi. Sekarang aku berpikir gini, jam kerja sudah berakhir jam 5 kalau aku tetap bareng manager sama aja bohong. Kalau pekerjaan sudah bisa ditinggal, buat apa menunggu lama-lama di kantor hanya untuk bareng dengan managerku yang kalau pulang bisa jam 6-an. Dengan berat hati ku katakan pada beliau kalau aku sekarang lebih memilih pulang dengan kereta. Walaupun mengeluarkan ongkos lebih, tapi aku bisa punya banyak waktu di rumah. Kecuali ada pekerjaan yang harus selesai hari itu, mau tak mau aku tidak bisa pulang on time. Itu sudah menjadi bagian tanggung jawab.

Sekarang yang aku lebih baik mengorbankan uang untuk mendapatkan waktu. Bagiku waktu begitu berharga. Aku tidak mau menghabiskan waktu berlama-lama di jalan. Lebih cepat sampai rumah, lebih baik.
Minggu lalu, tepatnya tanggal 30 April 2011. Aku dan papaku mengunjungi Indonesia dalam bentuk mini di Taman Mini Indonesia Indah.

Hmm...sudah lama sekali aku tidak ke sana. Terakhir ke sana itu... waktu aku masih SMP (kalau tidak salah ingat). Tidak ada perubahan yang berarti di lingkungan Taman Mini Indonesia Indah itu. Semuanya masih tampak sama. Mungkin tiket masuknya saja yang mengalami perubahan. Dulu aku tidak ingat lagi berapa harga tiket masuknya. Kalau sekarang per orang dikenakan biaya Rp 9,000, motor Rp 6000 dan mobil Rp 10,000.

Dengan luas tanah kurang lebih 100 hektar dan atas prakarsa ibu Tien Soeharto, dibangunlah Taman Mini Indonesia Indah. Pembangunan TMII ini berlangsung selama 3 tahun (30 Juni 1972 - 20 April 1975). Ibu Tien Soeharto sebagai penggagas berdirinya TMII ini sepertinya berkeinginan membangkitkan rasa nasionalitas dan kecintaan terhadap tanah air, Indonesia.

Di atas tanah yang luas ini dibangunlah miniatur rumah-rumah adat dari 27 propinsi (kala itu) yang ada di Indonesia. Ada museum-museum, seperti : museum perangko, museum penerangan, museum alat transportasi, museum reptil, dan lain-lain. Juga ada anjungan untuk anak-anak, Istana Anak. Komplek rumah-rumah ibadat seperti: pura, gereja, vihara. Ada juga taman apotik hidup, tempat-tempat rekreasi lainnya, hotel dan tempat-tempat makan. Yang menjadi ciri khas TMII adalah Teater Imax Keong Mas. Teater Imax Keong Mas ini berbentuk seperti keong raksasa berwarna kuning emas, dimana di dalamnya disediakan ruang pertunjukan dengan layar raksasa dengan menggunakan kecanggihan teknologi sinematografi modem proyektor IMAX. Menonton film di teater ini, penonton seperti ikut berperan dan bermain di dalamnya.

Disediakan pula fasilitas kereta gantung (skylift) dan kereta mono rail. Jadi, kalau kita mau melihat secara keseluruhan area TMII, tinggal memilih salah satu fasilitas transportasi itu. Apalagi kalau ingin melihat pulau-pulau yang ada di Indonesia di tengah-tengah danau di area TMII, dengan fasilitas Skylift akan terlihat jelas dan indah. Tak hanya itu, ada juga penyewaan motor untuk mengelilingi kompleks TMII bagi pengunjung yang tidak membawa kendaraan sendiri.

Konsep mengenalkan Indonesia dengan segala macam bentuk kebudayaan, keragaman suku, adat istiadat dan juga keragaman kepercayaan yang dianut masyarakatnya begitu mengena dan sangat berterima kasih pada almarhum ibu Tien Soeharto. Dimana saat gagasan ini dilontarkan beliau dan menuai berbagai macam bentuk protes tapi, beliau tetap melaksanakan pembangunan TMII ini. Tapi, pada akhirnya masyarakat juga menikmati adanya TMII ini sebagai sarana hiburan dan bila ada turis dari mancanegara, mereka bisa melihat keseluruhan  Indonesia di sini.

Hanya saja seperti yang aku lihat, kondisi dari gedung-gedung museum terlihat seperti kurang perawatan. Lalu waktu aku mengunjungi museum reptil (komodo), aku melihat ada seekor kura-kura buaya yang tempurungnya itu seperti lumutan, tak terawat. Ada juga kura-kura yang tempurungnya retak-retak. Hmm...sedikit miris sih, tapi pengelola TMII pastinya sudah menjalankan tugasnya sebaik mungkin.

Sebagai informasi, untuk masuk ke anjungan-anjungan daerah tidak dipungut biaya alias gratis. Tapi, kalau masuk ke museum-museum atau area rekreasi akan dikenakan biaya yang kisarannya berbeda ditiap-tiap tempat. Seperti beberapa tempat yang aku kunjungi, museum reptil (komodo) dikenakan biaya Rp 10,000/orang, museum alat transportasi Rp 2,000/orang, istana anak Rp 5,000/orang, kereta gantung (skylift) Rp 25,000/orang, teater imax keong mas Rp 30,000/orang.

Menarik buatku saat mengunjungi museum alat transportasi, di sana bisa dilihat kereta api yang pernah mengangkut Presiden dan Wakil Presiden I RI (Soekarno - Hatta) saat hijrah dari Jakarta menuju Yogyakarta. Ada juga pesawat Garuda DC-9, helikopter tim SAR, bis PPD dan bis tingkat yang pertama ada di Jakarta. Pokoknya kita bisa bernostalgia dengan alat-alat transportasi di era-era masa orde lama sampai orde baru.

Jadi, daripada weekend dipergunakan hanya untuk jalan-jalan ke mal, yuk sekali-kali dipakai untuk berjalan-jalan mengunjungi seluruh Indonesia, mengenal ragam budaya, suku dan agama di negara yang kita diami ini. Tidak rugi kok, malah akan menambah pengetahuan.