Apa yang terlintas bila mendengar nama Pak Raden? Ya.. Pastinya seorang tokoh orang tua yang memakai blankon, baju beskap dengan alis dan kumis yang tebal, orang tua pelit dan suka marah-marah di serial Si Unyil.

Dibalik tokoh Pak Raden ini adalah seorang bernama Drs. Suyadi, seniman serba bisa yang tak hanya menciptakan karakter tokoh-tokoh di serial Si Unyil, tapi beliau juga seorang ilustrator belasan buku anak, pendongeng, membuat sketsa dan melukis.

Saat ini Pak Raden menyelenggarakan pameran sketsa tentang kehidupan masyarakat di Paris saat beliau belajar animasi tahun 1961-1964. Pameran tersebut berlangsung di Bentara Budaya Jakarta, 25 April-5 Mei 2013. Sketsa-sketsa itu menjadi "buku harian" mengesankan dengan gaya klasiknya.

Coretan sketsa yang dilukiskan oleh Pak Raden begitu deskriptif dengan wajah dan ekspresinya. Sebagai penonton, saya ikut melihat seperti apa kehidupan di kota Paris dari kacamata seorang Pak Raden, orang Jawa yang melukis dan menggambar di tengah gemerlapnya kota Paris.

Pengalaman bertemu dengan banyak hal, dari yang membuatnya tersenyum geli sendiri, juga ada yang membuatnya bertanya-tanya di dalam hati, kadang membuatnya terkejut. Awalnya Pak Raden mau mencurahkannya ke dalam bentuk tulisan, tapi ternyata lebih cepat menggambar.

Gambar-gambar tersebut dituangkannya dalam puluhan kertas. Pak Raden tak hanya membuat 'catatan harian' dalam bentuk sketsa, hasil rekamannya layak dijadikan arsip sosiologi seorang Indonesia di kota seni, Paris di era '60-an.

Banyak kejadian kocak, membingungkan, shock culture, bahkan satir. Kesemuanya memberikan panorama budaya yang kental. Tentunya peristiwa gesekan budaya Perancis dan Jawa dalam diri Pak Raden di era '60-an.

Tema pameran ini dinamakan 'Noir et Blanc' (hitam dan putih), karena karya yang dipamerkan adalah sketsa yang diguratkan dengan batang pinsil. Di mana karya tersebut tidak hanya dinikmati oleh kreatornya tapi, juga dapat dinikmati/dilihat oleh banyak orang. Hidup bukan sekedar 'sketsa' tetapi kongkret.

Selamat menikmati!

Sumber: Katalog Pameran Tunggal Drs. Suyadi (60 Tahun Pak Raden Berkarya)
dok.pribadi

dok.pribadi

dok.pribadi

dok.pribadi

Tanggal 13 April 2013 lalu, gerakan Indonesia Menyala bersama dengan teman-teman Indonesia Mengajar dan JNE mengadakan acara Pack Your Spirit yang ke-2.

Acara yang sama sudah pernah digelar pada tahun 2012. Pada acara Pack Your Spirit pertama, konsepnya adalah sortir buku dan packing bersama volunteer untuk 14 daerah Kabupaten yang ada di jaringan Indonesia Mengajar.

Kali ini konsep Pack Your Spirit (PYS) sedikit berbeda. Kami mengajak volunteer untuk membawa buku baru untuk mereka packing sendiri dan dikirim sendiri ke salah satu daerah dari 17 kabupaten yang ada di jaringan Indonesia Mengajar. Biaya pengiriman sangat terjangkau. Dengan Rp 1,000 para volunteer dapat mengirimkan berapapun jumlah buku yang ingin mereka donasi kepada adik-adik di pelosok.

Fokus Indonesia Menyala kali ini tidak semata mengembangkan penyediaan buku atau perpustakaan, tetapi juga berfokus pada peningkatan perilaku membaca siswa, hingga akhirnya menjadi budaya. Titik beratnya saat ini memang masih pada siswa/anak-anak, namun tidak menutup kemungkinan untuk mengembangkan budaya membaca ini di lingkungan siswa, mulai dari keluarga, guru/kepala sekolah, hingga masyarakat.

Target audiens PYS 2013 secara spesifik adalah kalangan profesional, anak muda, dan keluarga. Pada kesempatan kali ini, kami ingin mengajak volunteer atau yang kita sebut juga sebagai Penyala untuk:
* Mengalami aktivitas mulai dari membeli/membawa, mengemas, menitipkan pesan semangat, sampai mengirim buku.
* Berdiskusi mengenai efektivitas peningkatan minat dan kemampuan membaca melalui program-program yang ada.
* Menjadi duta peningkatan minat baca melalui pendekatan multiaktor.

Yang spesial di acara ini, yaitu hadirnya Pak Raden (Drs. Suyadi). Beliau hadir untuk mendongeng sambil menggambar. Sosok beliau yang sudah berusia 80tahun tidak menyurutkan semangatnya dalam bercerita. Beliau juga membawa beberapa boneka si Unyil yang memang hasil karya beliau sendiri.

Kehadiran Bapak Anies Baswedan yang memberikan informasi Mengetahui problema terkini berkaitan dengan budaya membaca.

Teman-teman Pengajar Muda juga memberikan testimoni bagaimana adik-adik di daerah juga antusias dalam membaca buku.

Untuk adik-adik atau volunteer yang membawa anak-anak, kami juga menyediakan Kid Zone. Di Kid Zone anak-anak diajarkan membuat boneka jari atau finger puppets dan mereka juga belajar bercerita dengan media finger puppets tersebut.

Pack Your Spirit kali ini seru. Banyak ragam acaranya dan yang perlu diingat, acara Pack Your Spirit ini tidak hanya berlangsung di Jakarta tapi, simultan di beberapa kota seperti Jogja, Solo, Malang, Ambon sampai Makassar. Semoga budaya membaca bisa menjadi budaya bangsa Indonesia.

Untuk mengetahui informasi lebih lanjut bisa membacanya di www.indonesia-menyala.org atau bisa follow kami di @Penyala.

Salam membaca!
Ga apa-apa ya judulnya kebarat-baratan tapi, isinya keindonesia-indonesiaan hehehe..

Ngomongin seseorang yang disukai. Aku punya kisah untuk terus mengenang orang ini. Ga perlu sebut nama ya, ga etis jadi aku menamainya mas keren.

Aku mengenal dirinya 3 tahun lalu lewat salah satu jejaring sosial. Perkenalan yang tak disengaja dan akhirnya menjadikan kami berteman bahkan sampai sekarang.

Selama satu tahun pertama aku mengenalnya, timbul suatu rasa di hati ini. Mas keren seseorang yang pintar. Wawasannya luas sekali. Terpesona? Hmm.. Jujur iya. Aku suka dengan pria yang berwawasan luas dan enak diajak ngobrol. Selama setahun mengenalnya kami belum pernah bertemu.

Akhirnya diaturlah waktu untuk kopi darat (kopdar). Sebelumnya memang sudah melihat wajah mas keren dari foto. Dan kekagumanku pada dirinya semakin bertambah saat kami ketemu.

Sosok mas keren sedang-sedang saja. Tidak gemuk dan tingginya mungkin sekitar 170-an cm. Warna kulitnya sawo matang dan rambutnya pendek cepak biasa. Bagiku pribadi selain kepandaiannya, yang ku suka adalah senyumnya. Kalau mas keren tersenyum manis sekali (lebih manis dari gula jawa *lebay* hehehe) dan memperlihatkan deretan rapi gigi geliginya.

Mas keren bisa dibilang seorang pendengar yang baik. Selalu memperhatikan saat aku bercerita. Pun sebaliknya aku. Memandang wajahnya tak pernah bosan.

Aku suka dia, tapi tak pernah bisa diungkapkan. Aku tak ingin kehilangannya, aku ingin selalu bisa melihat senyumnya, menatap matanya. Selama 3 tahun berteman dengannya hanya beberapa kali pertemuan saja, tak pernah bisa melenyapkan rasa ini padanya dan tak akan menghilangkan gambaran wajahnya.

Mas keren selamanya tetap keren buatku :))

Jakarta, 21 April 2013