Tujuh Tahun Yang Lalu

0 Comments
image

Kemarin tujuh tahun yang lalu, kala itu senja merangkak naik ke peraduannya. Aku ingat dengan jelas kejadian yang terjadi kemarin tujuh tahun yang lalu. Aku, papa, sepupu, dan seorang ibu yang adalah tetangga baik kami berada di satu kamar di sebuah rumah sakit. Di kamar itu terbaring lemah, bahkan sangat lemah seorang perempuan yang pernah menenun aku selama sembilan bulan di dalam rahimnya. Yang pernah berjuang antara hidup dan mati agar aku bisa melihat indahnya dunia. Yang susah payah selama tiga puluh tahunan mendidik aku, menemani aku, bahkan berusaha berjuang melawan sakitnya. Saat itu perempuan itu terbaring tanpa daya sedikitpun.

Malam sebelumnya, ku peluk kitab suci di dada. Sambil mata terpejam, ku lafalkan rangkaian doa ke hadirat-Nya supaya perempuan yang sedang terbaring lemah di bangsal rumah sakit itu di beri mukjizat dan dilepaskan dari segala sakit penyakitnya. Tenang aku melewati malam itu. Tapi, sepertinya perempuan kesayanganku itu merasuki tidurku. Dia tersenyum manis, wajah mudanya yang segar dan cantik ku lihat begitu jelas. Dia ada di satu taman yang indah dengan aneka bunga warna warni. Tidak ada wajah sedihnya, tidak ada lagi jarum infus yang selama ini ku lihat terplester di tangannya. Dia bersih, segar, tanpa terlihat menanggung kesakitan di wajahnya.

Aku terbangun di hari kemarin tujuh tahun yang lalu. Pertanda itu ada. Aku berusaha untuk menghalau pertanda itu, tapi ku pasrahkan dan ku serahkan semua kepada-Nya. Tak ku bagi pertanda itu kepada siapapun. Kemarin, tujuh tahun yang lalu di bangsal itu aku tak berani melihat nafasnya yang sepertinya sudah tinggal satu satu. Ibu baik tetangga itu memegang jemari kaki perempuan kesayanganku. Terasa dingin, katanya.

Aku tak tahan. Tak ada tangis, tapi aku bisa mendengar sangat jelas degup jantungku sendiri. Ku lihat laki-laki tegar yang selama ini selalu ada di samping perempuan kesayanganku menghampirinya, membisik di telinganya. Setelah itu tiba saatku. Aku juga membisikkan ucapan maaf dan perpisahan di telinga perempuan kesayanganku. Aku tegar, tanpa air mata ku berusaha tegar memandang wajah pucatnya. Tiba saat sepupu ku. Aku berdiri di ambang pintu bangsal. Entah apa yang dibisikkannya, aku hanya yakin doa dan juga ucapan selamat tinggal yang pasti disampaikannya. Setelah itu, dia berkata perempuan kesayanganku sudah tenang bersama Bapa di surga.

Aku terduduk lemas. Daya masih ada tapi, mata seakan kering. Lelaki tegar ku hanya terdiam. Kami hanya bisa melihat dan melepas perempuan kesayanganku di dorong menuju satu ruangan untuk dibersihkan dan dipercantik sehingga wajah pucat itu tetap terlihat hidup.

Tiba saatnya tubuh kaku itu diletakkan ke dalam peti tempat pembaringan terakhirnya. Aku diminta memastikan posisi tubuhnya apakah miring atau tidak. Saat itu pecah tangisku. Lemas nyaris pingsan. Ku panggil perempuan kesayanganku itu. "Mama! Mama!" butiran air itu mengalir deras bagai tak terbendung. Hancur sehancur-hancurnya. Aku seperti tersadar bahwa perempuan kesayanganku itu tak akan ada lagi mengisi hari-hari ku. Perempuan kesayanganku itu tak akan lagi bisa aku ciumi pipinya saat aku pulang kerja. Perempuan kesayanganku itu tak akan pernah lagi aku ajak tertawa. "Mama! Mama!" hanya kata itu yang bisa terus aku suarakan.

Hari ini, tujuh tahun yang lalu pagi hari setelah di adakan misa arwah, aku terakhir kalinya melihat wajah perempuan kesayanganku, sambil ku percikkan minyak wangi di sekeliling tubuhnya. Aku pandangi lekat-lekat wajah itu. Wajah yang selama seminggu lebih tak pernah menatapku walaupun terbaring lemah di bangsal. Mata itu tak pernah dan tak akan pernah lagi memandang wajahku. Celotehnya untuk mengingatkanku ini dan itu tak akan pernah lagi aku dengar. Hari ini, tujuh tahun yang lalu tubuh itu sudah kembali menjadi debu. Jiwanya sudah tenang, bahagia. Tak ada lagi kesakitan. Tak ada lagi keluh kesah.

Mama, seumur hidupku tidak akan pernah hilang bayang wajahmu. Sekalipun aku kehilangan masa untuk bisa selalu membelai dan mencium pipimu, rasa cintaku tak akan pernah hilang sampai kapanpun. I love you, ma. I miss you always. God keep your soul...

"Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi, tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia..."


Tulisan Lainnya:

Tidak ada komentar: