#KampusFiksi - Catatan Asean Literary Festival

0 Comments
Dok. Pribadi
Menurut gue ini bisa dibilang oleh-oleh waktu Sabtu kemarin (21/03/2015) gue dateng ke acara #AFL. Gue nyampe TIM udah cukup siang. Banyak acara talkshow yang kelewat jadi, ya gue cuman keliling-keliling gitu aja.

Perhatian gue tertuju sama banner yang ada tulisannya Kampus Fiksi. Kalo Kampung Fiksi gue pernah denger walaupun belum tau banyak kegiatannya. Nah ini beda lagi. Kampus. Gue baca kampusnya ada di Jogja. Et busett...jauh aja. Lalu gue mulai tanya-tanya.

Setelah kenalan, gue berbicara langsung sama salah satu pengajar di #KampusFiksi itu. Nisrina, namanya. Kerennya lagi mba Rina ini adalah Redaktur Pelaksana Fiksi di Diva Press yang notabene sponsor #KampusFiksi.

#KampusFiksi ini memberi pelatihan kepada calon penulis fiksi selama dua hari aja di Sabtu-Minggu, di bulan ke dua dan minggu terakhir di bulan tersebut. Pelatihan ini FREE dan peserta juga mendapat fasilitas penginapan dan makan siang. Buat gue ini tuh bener-bener keren dan menurut mba Rina kuota pendaftaran sampe tahun 2017 udah full. Gilak!

Nyesel banget gue baru tau soal #KampusFiksi ini. Tapi, gue akan coba daftar. Meskipun masuk waiting list. Soalnya menurut mba Rina kalo ada peserta yang batal, tempatnya itu akan diisi sama peserta yang waiting list. Yah...untung-untungan sih :)

Tapi, gue dapet buku Silabus Menulis Fiksi dan Non-Fiksi (panduan praktis belajar menulis) ditulis oleh Edi Akhiles (Founder Diva Press) yang dibagiin secara cuma-cuma.

Secara gue ketemu langsung sama salah satu pengajar #KampusFiksi, gue tanya-tanya sama beliau yang menjadi kendala gue dalam menulis. Emang selama ini kan gue belum berani nulis novel sendiri karena, merasa ribet sama detil dan gue belum bisa jaga konsistensi cerita sama mood nulis (menejemen waktu).

Menurut mba Rina nggak ada yang perlu ditakutin yang penting disiplin diri, ikutin outline yang udah dibikin. Sarannya sebelum membuat outline, riset dulu sebanyak-banyaknya, sedalamnya. Abis itu baru bikin outline. Setelah outline baru nulis. Jangan pusingin judul. Paling nggak kasih judul sementara dulu. Toh judul nantinya bisa diganti sama editor kalo memang nggak cocok dan kurang komersil.

 Kalo udah selesai nulis, kasih ke first reader yang bisa "ngebantai" tulisan kita. Dari situ nanti baru bisa ada perubahan-perubahan. Setelah gue baca buku silabusnya ternyata disitu berisi jawaban-jawaban pertanyaan gue:)

Ayolah, wake up! Buang malesnya! Ga ada tuh istilah writer's block. Itu hanya pemakluman diri yang nggak penting, yang direkayasa sendiri. Wanna be a writer? So, start writing from now on! *lagi ngomong ke diri sendiri hehehe*



Tulisan Lainnya:

Tidak ada komentar: