Secangkir Caffè Latte

0 Comments
Aku masih duduk termenung di sini, masih dengan imajinasi bayang dirimu yang terus bermain di kepalaku. Yang teringat hanya kamu, kamu dan kamu. Aku sudah mencoba dengan berbagai macam cara mengenyahkan kamu dari isi kepala dan hatiku. Sepertinya semua itu sia-sia. Ditambah lagi saat ini hujan mulai turun membasahi kota dan membuat bayang wajahmu semakin melekat tak mau pergi.

Sadis caramu meninggalkanku, Fauzan. Kamu sudah mempermainkan perasaanku. Kamu bohongi aku. Rasa sakit ini terlalu dalam, Zan. Kamu sudah menoreh luka. Tanpa terasa pipiku menjadi hangat karena cairan bening yang keluar dari sudut-sudut mataku. Segera ku ambil tissue yang ada di meja. Sampai lupa aku belum memesan menu satupun. Aku terlalu asik dengan sedihku. Belum sempat memesan, tiba-tiba aku melihat seorang pramusaji menghampiri mejaku dengan secangkir Caffè Latte yang di atasnya dibuat latte art dengan emoticon senyum.

"Saya belum pesan loh mas.", ujarku kepada pramusaji yang mengantar.

 "Ini hadiah dari seseorang, mba."

"Siapa?"

 "Saya nggak boleh memberitahu, mba." Lalu pramusaji itu meletakkan cangkir Caffè Latte dan ada secarik kertas yang terlipat juga.

"Kamu terlihat cantik bila tersenyum, Orensia."

Hanya sebaris kalimat yang tertulis. Orang ini tahu namaku. Tetiba mataku berkeliling mencari siapa orang yang sudah tahu minuman kesukaanku dan namaku. Tapi, sepertinya semua orang tampak wajar. Tak ada yang mencurigakan. Lalu ku dengar alunan lagu Lumpuhkanlah Ingatanku by Geisha. Apa maksud semua ini? Siapa yang sudah mengaturnya? Fauzan? Sepertinya nggak mungkin. Sekarang dia sudah tak sda lagi. Raga dan jiwanya sudah kembali kepada kekasih yang sebenarnya. Gila! Aku sudah termakan bujuk rayunya. Aku tak bisa menguasai hati dan pikiranku. Setelah dia dapatkan apa yang dia mau, dia tinggalkan aku dengan alasan nggak akan pernah bisa bersamaku karena dia masih mencintai kekasihnya. Brengsek! Bajingan! Bagiku kata-kata itu sangat tepat untuk orang yang keji seperti Fauzan. Dengan gampangnya dia minta maaf. Kata "maaf" begitu mudah diucapkan dan sepertinya dengan satu kata itu semua masalah langsung selesai.

Ku lihat pramusaji yang tadi menghampiriku dan mengulurkan secarik kertas yang terlipat. "Kenapa lattenya belum kamu minum, Orensia? Biasanya sudah tandas." Aku kembali penasaran dan memandang berkeliling. Di ruangan yang tak cukup besar ini pasti aku sudah menemukan orang yang mencurigakan. Tapi, ini tidak ada tanda-tanda apapun. Siapa sih orang ini? Akupun mulai menyeruput latte yang sudah setengah dingin. Emoticon senyum itu pun membuyar dan buihnya bercampur dengan lattenya.

Hujan deras berganti dengan rintik-rintim yang tetap saja membuatku enggan meninggalkan kafe ini. Terlalu nyaman, mungkin. Tapi, aku masih dibuat penasaran oleh seseorang yang sudah mengirimkan latte dan pesan-pesan singkatnya. Rupanya rasa penasaranku tidak cukup besar dibanding rasa sedih dan sakit yang ditorehkan Fauzan. Walaupun kedekatan kami hanya satu bulan, tapi semua itu terlalu membekas. Penyesalan selalu dayang di akhir. Nasi sudab menjadi bubur. Aku harus membuang bubur itu karena sudah berisi racun. Seenaknya dia campakkan aku. Aku hanya berpegang pada karma.

Aku berusaha semampuku untuk memaafkan dia. Aku hanya ingin Fauzan belajar bertanggung jawab atas semua perbuatannya. Aku hanya ingin dia merasakan apa yang aku rasakan. Dia tak pernah merasakan sakitnya dicampakkan oleh orang yang dicintai. Air mata ini kembali meleleh seiring rintik hujan di luar sana. Fauzan sudah membunuhku pelan-pelan. Dia berhasil membunuh jiwaku.

Lamunanku dibuyarkan oleh kehadiran sosok teman lama yang sekarang ada dihadapanku. Mordy. Mordy duduk di depanku sambil tersenyum. Akupun menjadi salah tingkah.

"Hai.", sapaku dengan nada gugup dan dengan senyum yang dipaksakan.

"Apa kabar Rensi?", sapa Mordy dengan senyum manis yang nggak berubah setelah satu atau dua tahun ini tidak bertemu.

"Kamu kapan datang? Kok aku nggak lihat kamu masuk?"

"Kamu terlalu asik dengan lamunanmu. Matamu aja masih sembab begitu." Mordy lalu memesan secangkir Caffè Latte lagi untukku dan segelas Cappucinno dingin.

"Bagaimana kamu tahu aku di sini? Kok tiba-tiba kamu bisa menyusulku ke sini?"

"Rensi, kita tetap terkoneksi di sosial media. Kamu selalu update status dan aku selalu membacanya. Aku juga tahu kamu sedang ada masalah. Aku nggak mau menghubungi kamu via telepon atau mengirim pesan hanya menanyakan keadaanmu. Aku ingin langsung bertemu denganmu. Siapa sangka ternyata hari ini aku ada waktu di tengah padatnya jadwal liputanku dan kamu ada di sini, di kafe yang dulu kita pernah singgahi bersama."

Ah Mordy...ternyata diam-diam kamu memperhatikanku. Kamu memberikan kejutan manis di hari yang mendung ini. Aku mengenal Mordy tiga tahun lalu via temanku, Nita yang bekerja di stasiun televisi yang sama dengannya. Aku dan Mordy memang berteman baik.

"Mordy, jangan-jangan kamu ya yang sedari tadi memesan latte dan mengirimkan pesan-pesan pendek untukku?" Pertanyaanku hanya dijawab dengan senyum dan diikuti tawa olehnya.

"Kenapa aku dari tadi nggak lihat ksmu?"

"Aku kan punya ilmu menghilang hahaha..."

"Mordy! Serius nih?"

"Sebelum kamu masuk ke sini, aku sudah lebih dulu di sini. Mungkin sekitar lima belas atau dua puluh menitan gitu. Terus aku ke toilet. Pas aku keluar toilet, aku lihat kamu gsudah duduk di sini. Aku perhatikan kamu dari balik tirai dapur. Aku tahu kok kamu celingukan mencari hal-hal yang mencurigakan di sekitar sini hehe. Aku nggak pernah lupa minuman kesukaan kamu karena, kamu pernah bilang tidak terlalu suka dengan rasa kopi yang terlalu pekat. Harus ditambah susu yang lebih banyak untuk menetralisir rasa kopinya."

"Kamu yaaa..." aku jadi tertawa. Baru kali ini aku bisa tertawa lagi. Hari ini Mordy berhasil mengalihkan perhatianku. Mordy sedikit mencairkan kebekuan hatiku. Secangkir Caffè Latte ditambah senyum Mordy dan semangat yang ditularkannya cukup menghibur di hari ini, di hari ke-30 sejak Fauzan mencampakkan aku.







Tulisan Lainnya:

Tidak ada komentar: