Pertama kali gue makan churros itu tahun berapa ya? Udah agak lama juga. Itu juga karena diajak sama temen gue dan itu tuh makannya di Chureria, Grand Indonesia. Waktu itu. Sekarang kalo nggak salah udah nggak ada lagi deh Chureria itu. Apa pindah tempat, gue juga nggak tahu. Tapi, di MOI juga udah ada sekarang. Katanya sih itu donat dari Itali gitu. Enak. Apalagi pake dip rasa coklat, hmm...enyakkk tapi, harganya lumayan juga hehehe

Beberapa hari yang lalu, temen gue posting resep churros gitu di path-nya. Nah, iseng. Hari ini gue nyobain bikin. Ternyata not bad hehehe...manisnya pas. Cuman toppingnya gue pake yang simpel aja gula halus dan bubuk kayu manis. Next time, gue mau beli dip nya ah :)

Setelah mencari tahu, ternyata asli snack churros itu nggak jelas. Ada teori yang mengatakan churros itu dibawa ke Eropa oleh orang Portugis. Ada teori yang lain lagi, churros itu dibuat oleh orang penggembala Spanyol sebagai pengganti roti.

Anyway, buat gue churros itu bentuk lain dari donat. Kalo donat bunder, ini panjang. Meksipun hasil gorengannya nggak secantik di restorannya, paling nggak gue nggak perlu keluar duit banyak untuk nikmatin churros ini. Satu resep bisa dapet lumayan lah, selusin lebih. Gue masih bisa share ke best friend (tetanggal sebelah) hehehe.

Trims untuk mba Uwi yang udah nge-post resepnya. Gue jadi bisa coba lagi, coba lagi sampe bisa dapet hasil yang cantik :)
Yesterday was my birthday. Getting old? As an age yes, but I'm still young anyway 😊 tapi, tahun ini ulang tahun gue penuh kejutan. Makanya gue kasih tema ulang tahun gue tahun ini: surprise...surprise!

Hari ini gue emang janjian sama writing partner untuk ngebahas project kita. Janjian udah dari minggu lalu. Singkat cerita, jadilah kita ketemuan hari ini. Ga tau kenapa, selama ngobrol sama my writing partner, gue ngebatin kok dia ga say anything di grup wasap atau secara langsung. Ah, biarin ajalah. Ga apa-apa, begitu batin gue. Ketemuan di KFC, udah ngobrol kira-kira ampir sejam, dia ngajak pindah tempat. Emang sih tadi bising banget sama alay alay.

 Pindahlah ke Angel-in-us. Abis pesen minum, duduk terus partner gue itu ngomong mau ke toilet. Gue pun ngelanjut buka laptop. Beberapa lama kemudian muncul tuh best friend gue bawa slice cake, ngucapin happy birthday sementara gue nganga. "Kok lo bisa ada di sini sih?" Tanya gue ke best friend yang disambut ketawaan sama mereka berdua.

Bener-bener surprise loh gue. Gue ga curiga sama sekali kalo bakal di kejutin kayak gini :D begini nih kalo orang yang ga ngehan, sama orang yang ga pernah curigaan dikerjain juga ga pernah nyadar apalagi curiga hahaha. Ditraktir pula sama writing partner. Bless you all dah. Muah muah... ternyata semua ini adalah ide dari si partner yang udah nyiapin dari dua minggu lalu. So sweet banget ga sih?? :)

Udah gitu yang bikin gue bahagia lagi, keluarga besar Festival Gerakan Indonesia Mengajar 2015 ngucapin di grup. Pak Hikmat Hardono (Dir. Eksekutif Indonesia Mengajar), bu Yundrie, mba Evi, ah...membahagiakan sekali :) teman-teman dari Sekolah Raya, Youth For Diffable juga ngucapin. Nggak ketinggalan someone I miss ngucapin juga.

Anyway, thanks so much for every wishes hope that will come true :) thank you Lord for giving me the caring friends...

Judul : the Time Keeper
Penulis : Mitch Albom
Halaman : 240 halaman
Penerbit : Hyperion, 2012

the Time Keeper, dari judulnya aja pasti udah tau dong ya kalo buku ini akan bercerita tentang waktu. Penjaga waktu. Lewat karyanya ini Mitch Albom ingin mengajarkan para pembacanya menghargai waktu.

Di buku ini ada tiga orang tokoh utama, yaitu Dor, manusia pertama yang menghitung waktu di bumi yang kelak menjadi sang Penjaga Waktu. Dor dihukum karena mencoba mengurkur anugerah terbesar dari Tuhan, diasingkan ke dalam gua hingga berabad-abad dan dipaksa mendengarkan suara orang-orang yang minta diberi lebih banyak waktu. Seorang gadis remaja, yang ingin mengakhiri hidupnya. Lalu seorang pengusaha kaya raya yang ingin memiliki hidup abadi.

Dor kembali ke dunia dengan membawa jam pasir ajaib dengan misi : menebus kesalahannya dan mempertemukan dua manusia di bumi untuk mengajarkan makna waktu pada mereka. Tiga orang dengan latar belakang berbeda ini bertemu dalams satu momen menjelang kematian. Dalam momen tersebut mereka melakukan perjalanan waktu yang membuat mereka mengambil keputusan yang menentukan dalam hidup masing-masing.

Dalam buku ini, Mith Albom ingin mengajak kita menghargai waktu, bukan menghitung waktu. Seperti yang tertulis dalam kisah ini, "Ada alasan Tuhan membatasi hari-hari kita. Untuk menjadikan setiap hari berharga." 

Memang nggak banyak buku Mitch Albom yang gue baca. Buku pertama yang gue baca adalah Tuesday With Morrie. Dari situ gue kurang lebih melihat bahwa Mitch menulis nggak hanya bercerita tapi, ada pesan-pesan yang disampaikan. Di sini Mitch mengubah-ubah sudut pandang cerita untuk menciptakan kisah yang inspiratif.

Untuk teman-teman yang lagi cari bacaan yang menginspirasi, buku ini gue rekomendasiin. Tapi, jujur buat gue baca buku versi Inggrisnya lebih nyaman dibanding versi terjemahannya. Bukannya apa-apa, gue udah beli versi terjemahannya tapi, kok berasa ada yang kurang pas gimana gitu. Akhirnya gue beli versi Inggrisnya dan lebih pas kalo buat gue :)

Tapi, balik lagi ini selera ya teman-teman :)