Hmm...kayaknya udah telat ya untuk review 2015. Tapi, nggak telat-telat banget kan ya? Masih kelebihan sembilan hari hehehe...

Gue mau review sedikit tahun 2015 yang buat gue tahun yang istimewa untuk urusan liburan. Gimana gue nggak grateful, Maret 2015 gue bisa liburan ke Bali dengan harga tiket pesawat pp yang murah banget. Itu semua karena desakan temen gue. Gue pesen tiket itu udah dari tahun 2014. Terus di saat udah masuk Januari 2015 gue coba cari tempat tinggal via couchsurfing dan berhasil mendapat tempat di daerah Sanur. Host di Sanur itu baik banget. Jemput gue di bandara Ngurah Rai, pas gue mau pulang juga di anter. Terus selama di Bali kemana-mana gue bareng sama temen host gue orang Mexico yang mana dia sewa motor selama di Bali. Jadilah gue untuk transport dan tempat tinggal gue nggak keluar biaya sama sekali. Gue udah jalan sampe ke Gunung Batur, ke Kuta, Ulu Watu, sempet belanja juga. Gila, gue ke Bali cuman berbekal uang Rp 500,000 untuk makan dan belanja. Seorang diri pula. Dapet pengalaman baru. Pokoknya seru lah.

Terus di penghujung tahun 2015 gue sama bokap bisa mudik bareng setelah bertahun-tahun gue nggak pernah mudik ke daerah kelahiran bokap. Sementara tante-tante gue di sana selalu nanyain kapan gue mudik sempetin nengokin tante-tante gue. Nyoba-nyoba nyari tiket kereta murah ke Surabaya dulu dan ternyata dapet tiket dengan harga Rp 90,000 jadilah pesen terus balik dari Jember naik bis langsung ke Jakarta.

Kerjaan gue juga so far so good. Keteteran, tapi bisa lah kepegang walaupun nggak sempurna banget. Semua itu karena kemurahan Tuhan. Gue nggak bisa ngandelin diri gue sendiri. Tanpa campur tangan Tuhan, gue nggak bisa nyelesain kerjaan gue selama 2015. Memang yang namanya kerjaan itu nggak akan pernah ada habisnya. Berlanjut terus sampai ke tahun 2016 tapi, sekali lagi jangan pernah sombong dengan mengandalkan diri sendiri. Tanpa tuntunan Tuhan nggak ada apa-apanya.

Semua liburan gue juga gue yakin ada campur tangan Tuhan di situ. Kalo nggak, semua nggak akan berjalan mulus gitu. Tuhan tahu kapan waktu gue butuh liburan. Semua itu pasti tepat pada waktunya. Semoga di tahun 2016, Tuhan kasih gue kesempatan untuk liburan. Mengistirahatkan diri :)

Thank God for your guidance, for your love. Praise the Lord!
Wow...finally, buku Negeri van Oranje difilm-in juga. Antusias dong gue nunggu filmnya tayang. Secara udah liat trailernya dan yang main wuiihhh...ganteng-ganteng dan cantik :)

Gue ubek-ubek lagi file buku gue di website goodreads dan ternyata buku ini udah gue baca lima tahun yang lalu. Pantesan aja lupa-lupa inget tapi, pas nonton filmnya kayak dituntun ke ingatan waktu baca bukunya. Siapa yang disukai siapa, siapa yang gay dan siapa yang jadi muara akhir.

Finally gue bisa nonton film ini bareng sama sobat baik yang sama-sama suka warna orens dan suka Netherland. Tadinya waktu film ini perdana tayang di bioskop tanggal 23 Desember 2015 sobat gue itu udah ngajakin nobar tapi, di tanggal itu gue lagi mudik dan baru tanggal 31 Desember di Jakarta. Tapi, emang udah dasar jodohnya sama tuh film, tak taunya pas tanggal 1 Januari 2016 masih tayang dan kita berhasil nonton :) Tahun 2016 diawali dengan sesuatu yang bagus tuh berasa pertanda hahaha.

Balik lagi ke film Negeri van Oranje. Emang ya di mana-mana yang namanya buku sama filmnya itu udah pasti beda ya. Berikut secuplik review gue tentang bukunya ya sebelum gue bahas filmnya.

"Membaca buku ini aku seperti ikut berpetualang dengan Banjar, Wicak, Geri, Lintang dan Daus. Aku sudah ikut menjelajah kota Amersfort, Leiden, Amsterdam, Maastricht, Utrecht, Den Haag, Wegeningen, Rotterdam, Delft, Keukenhoff dan jalan-jalan ke Brussel-Barcelona-Berlin. Hanya saja dengan kenekatan Daus akhirnya perjalanan terakhir (Berlin) ditukar dengan mengunjungi Salzburg (Austria) *this is the city i want to visit once i have chance to trip to Europe*

Lain kisah jalan-jalannya, lain pula dengan kisah persahabatan kelimanya diumana persahabatan itu dimulai tanpa sengaja. Bumbu kisah kasihnya diramu dengan sederhana. Nggak nyangka juga Geri yang ganteng, menawan ternyata seorang gay dan membuat Lintang patah hati. Bagaimana mereka menyiapkan thesis dan perjuangan mereka bertahan hidup di negeri orang dengan status pelajar. Kedetilan ceritanya menjadi nilai tersendiri buatku.

Menariknya lagi buku ini dilengkapi dengan tips-tips bertahan hidup di Belanda dan ber-backapcker ria di Eropa. Kisah ini diakhiri dengan pernikahan Wicak dan Lintang *so sweettt* Empat jempol buat Wahyuningrat, Adept W., Nisa R. Dan Rizki Pandu P."


Filmnya cukup mewakili kisah keseluruhan buku ini yang lebih menonjolkan sisi persahabatan, percintaan dari lima orang sahabat yang perkenalannya dimulai tanpa sengaja. Lintang demi mencari tahu hatinya lebih memilih kepada siapa merelakan waktunya untuk menghabiskan sehari bersama Banjar, Wicak, Geri dan Daus. Empat cowok dengan karakter yang berbeda menghidupkan persahabatan itu. 

Pemeran dari masing-masing tokoh buat gue pas aja. Aktingnya nggak ada yang kaku. Empat cowok pakai setelan jas yang warnanya sama dan untuk yang belum baca bukunya pasti nebak-nebak si Lintang milih siapa ya? Tapi, nggak empat deh. Tiga. Soalnya Geri kan nggak diitung hahaha..

Emang dari tiga cowok yang suka sama Lintang, cuman Wicak yang sikapnya nggak jauh beda dari Geri. Cool, tapi perhatian. Abimana cocok deh meranin Wicak. Sosok Geri yang perlente pas diperanin Chico Jerico. Konyolnya Daus dan Banjar juga pas diperanin Ge dan Arifin. Lintang divisualkan cantik diwakili oleh Tatjana. 

Emang ya nggak ada yang namanya persahabatan murni antara cewek dan cowok. Apalagi kalo cowok atau ceweknya ganteng dan cantik pasti ada bumbu-bumbu asmaranya. Mau itu sahabatan dari masih kecil atau sahabatan yang udah ketemu gede pasti nggak bisa murni bersahabat. Rasa ikut-ikutan main.

Ngomongin soal traveling, persahabatan dan cinta ada loh buku yang judulnya

Travelers' Tale, Belok Kanan: Barcelona!

Keempat orang bersahabat dari kecil. Di masa SMA mereka mulai saling jatuh cinta tanpa pernah tersampaikan. Retno dua kali menolak Francis padahal sebenarnya Farah memendam cinta pada pria itu. Menambah masalah jadi pelik, Jusuf juga sebenarnya menyayangi Farah.

Mereka tumbuh besar dan bekerja di negara berbeda. Masalah dimulai ketika Francis mengirimkan undangan kepada tiga sahabatnya bahwa dia akan menikah dengan gadis Spanyol di Barcelona. Masing-masing pergi menuju Barcelona meski dengan budget terbatas dari penjuru yang berbeda dengan misi tersendiri. Mencari jawaban untuk pertanyaan masing-masing.

Nggak ada yang berminat naikin ke layar lebar apa ya? ^^

Pasti nggak kalah seru dari Negeri van Oranje karena settingnya di benua Eropa. Barcelona bok. Pasti lebih indah lagi pemandangannya :)

Anyway, two thumbs up! buat Negeri van Oranje: The Movie 

Buat kalian yang belum tahu siapa Risa Saraswati, beliau adalah seorang penulis, vokalis dari Sarasvati Band. Risa memiliki kelebihan yaitu bisa melihat makhluk yang tak kasat mata. Kelebihannya ini dimiliki sejak kecil dan waktu SD beliau punya sahabat-sahabat kecil lima orang anak-anak cowok Belanda. Kisah tentang mereka bisa dibaca di review gue "Gerbang Dialog Danur".

Nah, kali ini gue penasaran pingin cari buku Risa yang lain. Akhirnya gue nemuin buku Maddah dan Sunyaruri. Maddah adalah buku kedua Risa. Maddah sendiri diambil dari bahasa arab yang artinya "dibaca panjang". Jadi, bisa dibilang Maddah ini adalah kepanjangan dari Danur. Di buku Maddah Risa menuliskan kembali kisah persahabatannya dengan "mereka" yang menurut Risa semakin beliau dewasa, merasa dijauhi oleh sahabat-sahabatnya itu. Karena semenjak Risa pindah dari rumah neneknya, sahabat-sahabatnya itu ikut pindah pula dan mendiami sebuah bangunan sekolah. Di buku ini Risa menceritakan kisah dari "teman-teman" baru yang mendatanginya sekedar untuk bercerita dan kisah "mereka" itulah yang ditulis Risa di dalam Maddah.

Maddah adalah buku yang berisi kerinduan Risa berkumpul bersama sahabat-sahabat kecilnya yang sudah bertambah dua lagi. Tak hanya Peter, William, Hans, Hendrick dan Janshen, sekarang bertambah Marianne dan Norma.

Peter dan yang lainnya tak lagi menyambangi Risa sesering dulu masih kanak-kanaknya. "Mereka" merasa bahwa Risa terus bertumbuh sementara mereka tetap seperti dulu pertama kali Risa mengenal mereka. Peter dan kawan-kawan merasa Risa sudah tidak asik lagi seperti dulu.

Rupanya kegelisahan Risa terus berlanjut hingga lahir lagi buku ketiganya yang berjudul Sunyaruri. Di buku ini Risa masih tetap menceritakan tujuh sahabatnya dan kisah-kisah dari sosok-sosok lain yang mendatanginya hanya sekedar berbagi kisah sedih mereka. Apa yang menyebabkan mereka seperti "itu". Sunyaruri adalah buku terakhir Risa yang menuliskan pengalamannya
bersama tujuh orang sahabat kecilnya.
Risa berjanji pada sahabat-sahabtnya tidak lagi menceritakan kisah mereka kepada orang lain. Di buku Sunyaruri juga disisipkan resep kue bikinan Hans yang sempat memberikan Risa penghasilan tambahan selama dua tahun. Risa berkisah bahwa rasa kue yang dibuat itu akan sangat berbeda saat ada Hans yang menemani dan Risa membuat sendiri tanpa kehadiran Hans.

Karena tiga buku Risa adalah kisah pengalaman hidupnya bikin gue nggak berhenti membalik halaman demi halaman. Buku Sunyaruri habis dalam beberapa jam, sebagai teman perjalanan balik Jember-Jakarta. Sebenarnya Maddah pun bisa gue habiskan dalam beberapa jam tapi, gue tahan-tahan biar ga cepet habis. Dua hari habis gue baca Maddah.

Risa memiliki kegalauan kalau dia dianggap gila atau aneh oleh orang-orang yang membaca bukunya tapi, nggak buat gue. Risa memiliki kelebihan dan memang nggak setiap orang bisa menerima kelebihan Risa. Gue yang punya beberapa teman yang seperti Risa nggak asing dengan kelebihan Risa. Setelah membaca tiga buku Risa, sepertinya Peter dan kawan-kawan nyata di dunia ini. Mereka layaknya anak-anak di usia itu, nakal, jail, tapi ada juga yang dewasa dalam pemikiran.

Uniknya, kisah-kisah dari "teman-teman" Risa ini yang dijadikan lagu oleh Sarasvati Band.

Ikutin deh kisahnya Risa Saraswati, kalian akan temui keasikan membaca tulisannya :)
Lanjut perjalanan liburan gue. Tanggal 23 Desember gue berangkat dari Surabaya menuju Jember. Moda transportasi yang gue gunakan yaitu bis dari terminal Bungurasih (Purabaya). Tiket bis AC Surabaya-Jember Rp 60,000 per orang. Waktu jarak tempuh 4,5 - 5 jam.

Sekitar jam 3 sore gue sampai di rumah Tante. Setelah bertahun-tahun akhirnya gue bisa liburan di kota kelahiran bokap. Gue akan cerita tentang kota kelahiran bokap. Jember.

Kabupaten Jember adalah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia yang beribukota di Jember. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Probolinggo dan Kabupaten Bondowoso di utara, Kabupaten Banyuwangi di timur.

Moto : Carya Dharma Praja Mukti (dari bahasa jawa yang artinya "berkarya dan mengabdi untuk kepentingan bangsa dan negara")

Semboyan : Jember Terbina
Slogan Pariwisata : Kota Karnaval (karena menjadi tempat penyelenggara even tahunan Jember Fashion
                              Carnival)
Julukan : Kota 1000 Bukit, Kota Tapal Kuda, Kota Pendidikan.

Geografi

Jember memiliki luas 3.293,34 Km2 dengan ketinggian antara 0 - 3.330 mdpl. Iklim Kabupaten Jember adalah tropis dengan kisaran suhu antara 23oC - 32oC. Bagian selatan wilayah Kabupaten Jember adalah dataran rendah dengan titik terluarnya adalah Pulau Barong. Pada kawasan ini terdapat Taman Nasional Meru Betiri yang berbatasan dengan wilayah administratif Kabupaten Banyuwangi. Bagian barat laut (berbatasan dengan Kabupaten Probolinggo adalah pegunungan, bagian dari Pegunungan Iyang, dengan puncaknya Gunung Argopuro (3.088 m). Bagian timur merupakan bagian dari rangkaian Dataran Tinggi Ijen. Jember memiliki beberapa sungai antara lain Sungai Bedadung yang bersumber dari Pegunungan Iyang di bagian Tengah, Sungai Mayang yang persumber dari Pegunungan Raung di bagian timur, dan Sungai Bondoyudo yang bersumber dari Pegunungan Semeru di bagian barat.

Transportasi

Kalau ke Jember nggak usah takut soal transportasi. Jember punya stasiun kereta api, terminal bis Tawangalun dan bandara. Untuk maskapai yang melayani penerbangan ke Jember yaitu, Garuda Airways (Surabaya-Jember 10 kali penerbangan dalam seminggu), Susi Air (Jember-Sumenep satu kali penerbangan dalam seminggu).

Untuk moda transportasi dalam kota, bisa menggunakan becak dengan tarif yang relatif murah dan bisa ditawar tapi, tetap mempertimbangkan jarak tempuh. Kalo nggak kasihan abang becaknya.

Hotel

Jangan khawatir soal tempat menginap selama di Jember. Hampir di sepanjang jalan dan di beberapa tempat bisa ditemui hotel. Rumah tante gue aja di belakang Hotel Safari.

Kuliner

Untuk yang satu ini gue memang nggak terlalu banyak explore-nya. Gue cuman suka sama makanan yang sama dan selalu itu yang gue cari setiap kali mudik ke Jember, yaitu rujak cingur dan nasi pecel Bu Darum. Dua hidangan ini begitu laziz. Rujak cingur langganan keluarga ada di dalam gang yang ga terlalu jauh dari rumah tante. Bumbu kacang bercampur dengan petis, irisan mangga, bengkoang, sayuran, tahu, tempe dan yang paling penting yaitu cingur, beuuhh...bikin air liur mau netes. Itu makanan wajib santap. Meskipun tante gue bisa bikin tapi, tetep rujak cingur mbok Minah itu the best! Mbok Minahnya sih udah meninggal, tapi usaha itu tetap berjalan dilanjut sama anaknya. Satu warisan yang tak ternilai harganya. Seporsi rujak cingur plus lontong dibanderol dengan harga Rp 15,000. Menurut gue itu harga yang pantas. Di Jakarta ada juga warung yang jual rujak cingur dan dibikin sama orang yang berasal dari Jawa Timur juga tapi, rasanya itu beda bener.

Terus kalo untuk sarapan, makanan yang diandalkan adalah nasi pecel Bu Darum. Nasi hangat berpadu dengan sayur labu, sayuran, bumbu pecel, empal daging dan rempeyek kacang hmm...mood booster yang cocok :)) seporsi nasi pecel dibanderol harga Rp 15,000. Sarapan pagi 15,000? Mahal memang, tapi kalo udah nyobain pasti ketagihan.

Mie Ayam Apong (dok.pribadi)
Mie ayam di Jember itu nggak sama dengan mie ayam yang ada di Jakarta. Kalo di Jakarta mie-nya keriting atau lebar sementara di Jember itu mie-nya lurus dan sedikit tebal mmm...mungkin seperti udon tapi, lebih kecilan. Yang beken (menurut bokap) yaitu Mie Apong. Kedai Mie Apong yang gue kunjungi itu di belakang Matahari Dept. Store (Plaza Johar). Ukuran mangkoknya ada yang besar (Rp 10,000) dan kecil (Rp 8,000). Untuk daging ayamnya bukan potongan besar-besar tapi, cincang halus sekali. Dilengkapi dengan taburan bawang goreng dan irisan daun bawang. Mie ayam ini disantap dengan acar timun, kalo yang suka pedas bisa ditambah acar cabe dan sambel. Tidak ada saos cabe. Gue tanya bokap, ada nggak sih mie ayam yang mie nya keriting. Kata bokap, di Jember ya khas mie nya seperti itu. Mau cari ke sudut manapun nggak akan nemuin mie keriting.

Cilok. Begitu gue lihat tukang cilok, bayangan gue ya cilok seperti khas nya Bandung. Ternyata cilok di Jember beda. Ciloknya itu bulet kecil-kecil kayak bakso upil, terus tahu goreng dipotong-potong kecil dan cilok goreng juga dengan bulatan yang kecil-kecil. Disiram pakai kuah, bumbu kacang dan sambel kalo mau pedes, kecap manis, saos sambel. Tapi, karena biasa dengan bumbu kacang, jadi kalo gue beli itu nggak mau disiram kuah.

Minuman penghangat badan yang terkenal di Jember yaitu wedang angsle. Rasa kuahnya sama seperti wedang ronde tapi, isinya ada ketan dan kacang tanah sangrai.

Oleh-oleh Khas Jember

Jember itu terkenal dengan olahan tape dari singkong. Tape Jember jangan ditanya deh rasanya. Manis legit. Dari tape itu lahir olahan kue prol tape, suwar-suwir, pia tape, brownies tape, dodol tape. Pokoknya semua olahan kue itu berbahan dasar tape.


Tempat Hiburan

Jember bisa dibilang adalah kota yang minim dengan mall. Nggak seperti di Jakarta, di Jember mall yang cukup besar, yaitu Jember Roxy Square adalah mal terbaru yg menghadirkan konsep belanja hemat, terletak di Kelurahan Sempusari, Kaliwates.

Bioskop di Jember levelnya bukan 21 atau XXI tapi, cineplex. Itupun setahu gue cuman ada satu di deket Polres, Jember.

Resto makanan siap saji di Jember hanya ada CFC, KFC dan Pizza Hut. Toko buku hanya ada Gramedia dan Toga Mas. Itupun hanya satu di pusat kota Jember.

Ada satu supermarket yang harganya miring banget jika di banding Carefour atau Hypermart dan itu letaknya nggak jauh dari rumah tante. Jadi, kalo siang ya antrian di kasirnya itu panjaaangg bener. Jadi, ya hiburannya cuman itu :)

Jember itu punya tempat wisata yang menarik loh. Pantai, pemandian, air terjun, dan lainnya. Tapi, dari kecil gue nggak pernah diajak meng-explore daerah-daerah wisata itu jadi, ya...sampai sekarang gue belum pernah ngunjungin tempat-tempat wisata itu. Cuman plesiran di dalam kota. Pertama, karena keluarga tante nggak punya kendaraan pribadi. Kedua, mereka nggak terlalu suka plesiran gitu.

Ada sih temen tante yang masih anak gaul juga tapi, karena nggak terlalu deket jadi, agak sungkan untuk ngajak jalan-jalan. Ohya, di daerah sekitar UNEJ (Universitas Jember) banyak loh tempat nongkrong :)

Kalo mau tau lebih banyak lagi tentang Jember, bisa ngunjungin wikipedia atau lebih afdol lagi kalo berkunjung langsung ke kotanya. Dijamin nggak akan nyesel :))
Tanggal 21 Desember 2015 gue mudik ke Jember, Jawa Timur. Tapi, sebelum ke sana gue mampir dulu di Surabaya untuk nginep semalem di rumah Om. Tanggal 22 Desember dini hari gue nyampe Surabaya. Tidur hanya beberapa jam, sekitar jam 6 bokap bangunin, ngajak ke Bangkalan.

Itu emang udah bagian dari rencana. Gue pingin melintas jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dengan Madura. Kota pertama yang disinggahi adalah Bangkalan. Di sana adalah rumah makan yang menyajikan bebek goreng yang endos gandos. Namanya Bebek Sinjay. Bebek Sinjay ini terkenal bingits di Surabaya dan Madura. Di Jakarta ada cabangnya di daerah Pondok Gede tapi, nggak serame di tempat asalnya.

Jembatan Suramadu (dok.pribadi)
Dari rumah Om kita berangkat jam 7 pagi, nyampe di Bangkalan sekitar jam 8 gitu. Sepanjang melintasi jembatan Suramadu entah kenapa gue ngerasa begidik. Gue sama bokap minjem motor Om. Bokap sih jalannya emang ga ngebut-ngebut banget maksudnya biar gue bisa nikmatin pemandangan. Tapi, alih-alih nikmatin pemandangan, gue pingin banget cepet-cepet nyampe di seberang. Gue emang fobia sama ketinggian dan itu tuh di bawah jembatan adalah selat Madura. Pikiran gue kalo jembatan ini roboh gimana ya? Duh...serem bener deh bayanginnya.

Begitu nyampe di pintu gerbang Madura, di sisi sebelah kiri itu banyak penjual tahu petis. Belilah
dok.pribadi
kita 5 biji tahu petis. Sampai di Bebek Sinjay, sudah ada beberapa orang pembeli. Jam 8 pagi udah buka dan jam segitu udah ada orang yang beli beberapa bungkus yang jumlahnya lebih dari 5, mungkin untuk makan siang kali ya. Harga paket bebek, nasi dan minum dibanderol dengan harga Rp 22,000. Bebek goreng di rumah makan ini begitu meresap bumbunya. Resto bebek yang terkenal rame di Jakarta itu rasanya kalah sama Bebek Sinjay. Sambelnya juga beda, yaitu sambel pencit (pencit=mangga muda). Kalo buat gue rasa sambel pencit di Bebek Sinjay juara! Aroma cabenya berasa, rasanya tuh susah di jabarkan harus dirasakan sendiri :)) Di Surabaya ada cabangnya (di salah satu mal dan di Jl. Tidar) dan
tahu petis (dok.pribadi)
harganya berbeda sama yang di Bangkalan. Di Surabaya harga paket bebek Sinjay dibanderol Rp 25,000.
dok.pribadi

Bokap tuh kalo pas nginep di Surabaya bisa bolak balik ke Bangkalan cuman buat makan bebek di Bebek Sinjay. Kalo nginep dua hari, ya dua hari itu dia sempetin ke Bangkalan. Abis makan bebek, bokap ngajak gue jalan-jalan di sekitar kota Bangkalan. Karena Om gue jam 11 mau berangkat kerja, jadinya nggak bisa lama-lama keliling Madura. Ohya ampir lupa. Begitu masuk Madura menuju Bebek Sinjay di sepanjang jalan banyak toko dan pengrajin batik. Sayang gue nggak foto. Tapi, memang corak batik Madura itu unik dan warna-warni.

Balik dari Madura, gue lanjut tidur. Ngantuk gila. Siangnya setelah bokap nganter Om kerja, kita pergi ke Museum Kapal Selam, Jl. Pemuda No.39, Genteng, Kota SBY, Jawa Timur 60271. 

MonKaSel (Monumen Kapal Selam)

adalah sebuah monumen Kapal Selam terbesar di kawasan Asia, yang dibangun di sisi sungai Kalimas, Surabaya. Monumen ini dibangun dengan ide para sesepuh Kapal Selam dari Angkatan Laut.

dok.pribadi
Konsep utama adalah:
  • Untuk membuat kawasan wisata baru di Jawa Timur
  • Sebagai warisan nilai sejarah yang mencerminkan Indonesia sebagai Negara Maritim
  • Untuk menjaga aman dan bertindak sebagai obyek konservasi
  • Sebagai kenangan yang didedikasikan untuk seorang pejuang pemberani yang berjuang gigih.
KRI Pasopati 410, termasuk tipe SS Whiskey Class, dibuat di Vladi Wostok Rusia pada tahun 1952. Kapal Selam ini berpartisipasi di Angkatan Laut sejak tanggal 29 Januari 1962, tugas utama adalah untuk menghancurkan garis musuh (anti-shipping), pengawasan dan melakukan penggerebekan secara diam-diam. KRI Pasopati 410 telah mengambil peran besar untuk mempertahankan hukum kelautan, seperti Operasi Trikora, KRI Pasopati 410 turun ke belakang garis musuh, memberi penindasan secara psikologis.

Spesifikasi :

  • Panjang: 76,6 m
  • Lebar: 6,30 m
  • Kecepatan: 18.3 knot di atas permukaan, 13,6 knot di bawah permukaan
  • Berat penuh: 1.300 tons
  • Berat kosong: 1.050 tons
  • Kemampuan penemuan: 8.500 mil laut
  • Baterai: 224 unit
  • Bahan Bakar: Diesel
  • Persenjataan: 12 Torpedo Uap Gas
  • Panjang: 7 m
  • Baling-baling: 6 lubang
  • Awak kapal: 63 termasuk Komandan
  • KRI Pasopati memiliki jumlah 7 ruangan:
    1. Ruang untuk haluan Torpedo, dipersenjatai dengan 4 torpedo propeller, juga bertindak sebagai penyimpanan untuk torpedo
    2. Ruang Komandan, Ruang Makan, dan Ruang Kerja. Di bawah dek adalah Ruang untuk Baterai I
    3. Jembatan utama dan Pusat Komando. Penyimpanan Makanan di bawah dek
    4. Ruangan Awak Kapal, Dapur, dan penyimpanan untuk Baterai II di bawah dek
    5. Ruangan Mesin Diesel dan Terminal Mesin
    6. Kamar Mesin Listrik
    7. Ruangan Torpedo untuk bagian buritan. Berisi dengan 2 buah Torpedo.
 Monumen Kapal Selam KRI Pasopati 410 adalah monumen pada skala penuh (bukan replika), kapal selam ini adalah salah satu dari Armada Divisi Timur. Konstruksi monumen dimulai pada bulan Juli 1995, pertama ditandai dengan Gubernur Jawa Timur, Bapak Basofi Soedirman melakukan peletakan batu pertama untuk pondasi. Pada saat yang sama, KRI Pasopati 410 telah diiris menjadi 16 bagian di PT. PAL Indonesia. Kemudian bagian per bagian diciptakan kembali dan diletakkan di atas pondasi monumen. Monkasel resmi dibuka pada 15 Juli 1998 dan telah beroperasi sebagai salah satu objek wisata di Surabaya.

Jam Buka:
  • Setiap hari: 08.00 - 22.00 wib.
HTM: Rp 10,000 (bisa sekalian nonton film tentang sejarah kapal selam di jam-jam yang sudah ditentukan)

(info monkassel: http://monkasel.com/)

tahu campur (dok.pribadi)
Malemnya gue sama bokap nyari makanan khas Jatim yang pingin banget gue cobain, yaitu Tahu Campur. Tahu campur adalah salah satu makanan khas kota Surabaya. Tahu campur ini  terdiri atas tahu goreng setengah matang dan lontong yang dipotong kecil-kecil tambah sayuran toge, selada air, mie kuning, daging sapi, urat kemudaian di siram dengan kuah dan ditambah dengan petis. Akhirnya dapet nggak jauh dari rumah Om. harga seporsinya Rp 15,000 tanpa lontong. Harga yang sesuai karena, rasa dan potongan daging, uratnya juga nggak terlalu sedikit.

Kurang lama explore Surabaya, soalnya besok paginya gue udah harus berangkat melanjutkan perjalanan ke Jember.

Segitu dulu liputannya. Semoga di akhir tahun 2016 gue bisa mudik lagi :))