First Time Bangkok!

0 Comments
Ga tau harus mulai dari mana ini cerita. Bulan Februari 2016 adalah bulan terakhir buat rekan kerja gue. Di kantor dia handle School Information Software. Gue juga assist dia di pengelolaan informasinya. Tapi, tetep main brain nya itu dia. Alhasil begitu dia resign full kerjaan dia di oper ke gue.

Nah, tanggal 21-22 Maret software informasi itu ngadain training di Bangkok untuk fitur baru dan juga ngebangun network antar sekolah-sekolah di Asia yang make software yang sama. Direktur gue udah nanya kesediaan gue untuk ke sana. Sumpah gue ragu-ragu. Bukan karena ketemu orang-orang baru di sana ya, tapi lebih karena gue nggak percaya diri dengan software yang belum gue kuasai sepenuhnya.

Rekan kerja gue itu berkali-kali meyakinkan gue untuk pergi. Setelah sehari direnungkan, dipikirkan akhirnya gue bilang sama Direktur gue kalo gue bersedia ikut training itu. What ever will be, will be... itu lah yang ada di pikiran gue saat itu. Abis itu gue langsung perpanjang passport yang udah mati belasan tahun lalu. Ternyata gue nggak sendirian pergi, rekan kerja gue yang lain juga di utus untuk pergi. Jadilah gue berdua ikut training itu.

Rekan kerja gue yang satu itu begitu semangat mempersiapkan segala sesuatunya. Gue bersyukur ada temennya, selain dia ngebantu untuk nyusun semua budgeting plan nya, dia juga nyiapin segala informasi yang dibutuhkan selama kita di Bangkok. Secara gue adalah orang yang sibuk bingits di kantor. Kalo gue pergi sendiri, pasti bakal keteteran nyiapin segala sesuatunya.

Perjalanan Jakarta-Bangkok-Jakarta dari tanggal 19-22 Maret 2016.

Day 1 (19 Maret 2016)

Kami berangkat dengan penerbangan pertama jam 06.55-10.45. Setibanya di bandara Don Muang, kami langsung mengambil rute bis menuju MoChit 2 untuk mengarah ke Pattaya. Bis yang kami naiki yaitu A1.
Harga tiketnya 30 bath per orang. Sesampainya di MoChit 2 kami berganti bis menuju Pattaya dengan harga tiket 117 bath per orang.
Jarak tempuhnya nggak bisa dikatakan. Jauh bangettt.. Nyampe di hotel Pattaya jam setengah empat sore. Kalo kira-kira gue, Don Muang-Pattaya itu sama kayak Jakarta-Cirebon tapi nggak lewat tol Cipali ya.
Dari terminal bis Pattaya kami naik angkot menuju kawasan tempat penginapan. Harga angkot itu 50bath per orang.
Sampe di hotel, istarahat bentar, mandi terus abis itu jalan di pinggir pantainya. Kalo kata gue, pantai Pattaya itu nggak ubahnya kayak pantai Sanur, Bali. Nggak terlalu rame. Banyak orang jualan di situ. Mie goreng, kwetiau goreng, bihun goreng, babi goreng, ayam di panggang, duh pokoknya banyak banget deh. Nggak bisa gue sebutin satu-satu.
Sayangnya rekan kerja yang bareng lagi sakit, jadi nggak bisa sampe malem jalan-jalan di situ. Jam enaman kami balik ke hotel. Tidur. Jam tujuh-an gue bangunin rekan gue itu untuk makan malem supaya bisa minum obat. Jadilah kami pesen makanan di hotel. Oiya, kami menginap di hotel A-One Star. Di sana hotel A-One itu ada tiga jenis. Yang mahal, sedang dan murah. Kami menginap di hotel A-One yang murah dan no breakfast.

Day 2 (20 Maret 2016)

Kami berangkat dari hotel menuju Bangkok City sekitar 8.30 pagi. Moda transportasinya sama seperti waktu datang. Tapi, kali ini begitu sampai di terminal bis Pattaya, kami mengambil jurusan Pattaya-Ekkamai dengan harga tiket 108bath per orang. Kalo perjalanan balik gue ngerasanya ga terlalu lama. Mungkin karena langsung ke daerah kotanya.
Bis kami turun di dekat BTS Ekkamai. Tapi, sebelum kami naik kereta kami cari kedai dulu untuk isi tengki. Kami menemukan kedai ramen. Harga ramennya nggak beda jauh sama Jakarta menurut gue. Atau murah di Bangkok ya? Gue makan ramen dengan irisan daging babi seporsi harganya 79bath. Temen gue makan ramen dengan irisan daging sapi seporsi harganya 80bath. Rasa ramennya enak bangetttt...
Kami sampai di Bangkok City sekitar jam 11 atau 11.30 gitu. Setelah makan kami naik kereta menuju BTS Asok yang mana dekat dengan hotel tempat kami nginap (Dream Hotel). Dari Ekkamai ke Asok harga tiket keretanya 25bath per orang.
Sampai hotel sekitar jam 12 atau 12.30 gitu. Abis naro luggage terus langsung menuju Wat Arun, Wat Pho. Mau liat sleeping Budha. Dari pada ribet bayar kereta ngecer, akhirnya kami mutusin beli kartu aja seharga 180bath. Pake kartu kan lebih enak, nggak perlu ngantri.

Dari BTS Asok kami ambil rute ke BTS Siam. Dari sana kami ganti arah menuju BTS Saphan Taksin. Dari Asok-Saphan Taksin kalo ga salah sekitar 48bath. Sesampainya di Saphan Taksin, kami menuju ke dermaga untuk nyebrang ke Wat Arun melintasi sungai Chao Praya. Harga tiket perahunya 40bath. Sampai di dermaga mau ke Wat Arun kami harus nyebrang lagi dengan perahu dan harga tiketnya 3bath. Di Watu Arun kami melihat kuil yang bagus banget interior nya. Orang Thailand ya kalo soal ngukir kayaknya jago bener. Detil. Dari Wat Arun kami mau ke Wat Pho liat sleeping Budha dan itu harus nyebrang lagi dan bayar 3bath lagi. Oh ya tiket masuk di kuil Wat Arun itu 50bath.

Akhirnya sampailah kami di Wat Pho. Dengan membayar 100bath setiap pengunjung dapat free mineral water. Wow...akhirnya bisa liat patung Budha tidur yang terkenal itu. Nggak nyangka gue bisa nyampe di Thailand. Kami menyumbang 20bath yang ditukar dengan semangkuk kecil koin yang disebar di mangkuk-mangkuk besar di sepanjang jalan di dalam kuil. Kami nggak sempat ke Grand Palace karena waktunya yang nggak cukup.

Kami memutuskan ke Koshan Road dengan jalan darat (baca: bis). Kalo nggak salah nomor bis-nya 44 dari Wat Pho-Koshan Road dan harga tiketnya 13bath. Koshan road ini menurut gue kayak Pasar Baru, Jakarta. Banyak pertokoan, jajanan pinggir jalan. Kami nyobain Pad Thai Chiken. Kalo di Jakarta ya serupa dengan kwetiau goreng lah. Tapi, sori ya.. rasanya buat gue nggak banget. Muanisss banget. Kayaknya udah pake kecap manis ditambah gula lagi deh. Harganya 50bath per porsi. Selain itu kami beli kayak lumpia goreng gitu harga seporsinya 30bath isinya dua buah dan di potong jadi enam buah. Dengan menyesal gue nggak abisin itu Pad Thai. Gue makan daging ayamnya aja.

Di Koshan road gue beli tas ukuran sedang besarnya dengan harga 200bath. Terus beli dompet koin 100bath isi 4pcs. Beli 2pcs kaos yang harga per piece nya 80bath. Itu ya penjualnya ternyata bisa bahasa Melayu. Seneng juga ya bisa ngobrol bahasa dengan penjual di sana hahaha. Bapaknya baik, kaos yang sama gue ditawarin 150bath per piece di lapak-lapak lain, di Bapak itu cuman 80bath. Orang Thailand ya, kalo soal nawar, beuuhh...lebih kekeh dari pembelinya loh. Nggak mau gerak banyak. Salut gue.

Dari Koshan sekitar jam tujuh atau setengah delapan gitu. Dikasih tau sama Bapak yang punya lapak naik bis nomor 79 ke arah Siam. Harga tiketnya 13bath. Dari Siam kami udah tau arah ke hotel kami. Kami harus istirahat karena besoknya kami harus training dan bangun pagi.

Day 3-4 (21-22 Maret 2016)

Hari ketiga nggak terlalu banyak yang bisa diceritain. Di hari ini gue mulai training. Ketemu sama sekolah-sekolah lain yang membuat gue terkagum-kagum karena pengetahuan software mereka jauh di atas gue. Sementara gue yang berasa oon banget. Emang seharusnya bukan gue yang pergi ke training ini.

Malem di hari ketiga, makan malem bareng di restoran India gitu. Tapi, tetep ya ujung-ujungnya Sevel juga (Seven Eleven) buat beli cemilan-cemilan sama minuman senang (baca: susu).

Hari keempat, kami selesai training jam 3 sore. Abis itu kami menuju MBK yang berada di daerah Siam. MBK itu mirip sama ITC-ITC yang ada di Jakarta. Di sana kami belanja seperlunya mengingat waktu yang nggak banyak. Kami harus udah berangkat ke bandara Don Muang jam 6 sore. Tapi, dari MBK kami harus balik lagi ke hotel untuk ambil barang-barang. Tapi, sebelum balik ke hotel sesampainya di BTS kami ke mal dulu cari makan. Food court di mal itu bagus juga dan harga makanannya juga standard lah. Gue makan nasi goreng tom yam seharga 40bath. Abis itu gue liat ada orang beli egg tart dengan kardus bertuliskan KFC. Gue tanya dong tanpa ragu dan ternyata benar egg tart itu dibelinya di gerai KFC. Ternyata KFC di Bangkok jual cemilan macam itu. Harga per piece nya 22bath. Tadinya gue mau beli 6pcs tapi, cuman ada 5pcs ya sudah lah ya, bungkus aja. Pokoknya gue beli cemilan, minuman yang nggak ada di Jakarta.

Akhirnya setengah tujuh malem kami berangkat menuju bandara. Melalui perjalanan yang lumayan panjang, kami sampai bandara Don Muang jam 7.45 malam. Penerbangan kami jam 20.55-00.30.

Ohya, untuk jarak tempuh yang tidak terlalu jauh kami juga menggunakan jasa ojek setempat. Untuk jarak pendek kami bayar 10bath per orang dan untuk jarak menengah kami bayar 20bath per orang.

Selama di Bangkok gue jadi anak Sevel dah. Di sana tuh Sevel udah menjamur kayak indomaret atau alfamart di Jakarta. Selain Sevel ada Family Mart juga. Di Jakarta aja Sevel tuh masih kayak ekslusif gitu.

Terus kalo mau narik bath di Thailand, bank yang rate-nya bagus cuman CIMB Niaga. Kalo bisa punya akun Niaga deh. Rate 1 IDR=0.0025bath.

Masih kurang nih waktu untuk eksplor Bangkok City. Nabung! Next time harus ke Bangkok lagi. Soalnya belum kesampaian nyobain mango sticky rice, jajanan-jajanan pinggir jalan.

Satu lagi yang mau gue komentarin tentang Thailand. BTS nya itu loh atau kata lainnya Skytrain. Itu ya yang namanya orang antri itu ke belakang dan ada jalurnya. Nggak kayak di Jakarta, orang antri di stasiun itu udah nggak aturan, begitu kereta dateng semua berdiri di depan pintu kereta ngalangin yang mau keluar. Kalo di sana nggak, Yang keluar ada sendiri pintunya dan tertib nunggu semua yang keluar dulu baru yang naik, naik. Kayaknya PT. KAI perlu ngadopsi sistem kayak gitu deh. Udah gitu ya jarak kereta yang satu dan yang berikutnya nggak sampai lama. Paling sekitar 3-5 menit. Keren dah.

Terus bis nya ya, meskipun dari luar keliatannya nggak bagus-bagus amat tapi, AC dalamnya. Ada tiketnya, terus naik turun penumpang nggak sembarangan. Tertib, sesuai halte. Bisnya bersih. Nggak ada yang buang sampah sembarangan atau ngeludah sembarangan. Sampah? Nggak nemuin gue sampah di jalan-jalan protokol. Terus orang-orang nggak ada yang nyebrang sembarangan, semua pake jembatan penyebrangan.

Mantep ye. Sama-sama negara berkembang tapi, untuk hal-hal tertentu seperti itu Thailand jauh lebih rapih dan tertib dari Indonesia. Harusnya kita bisa nyontoh hal-hal yang positip.

Anyway, thanks to my Director for the opportunity so, I can go abroad. And this is my first experience to go abroad. I'm really appreciate it.








Tulisan Lainnya:

Tidak ada komentar: