Judul Buku: William
Penulis: Risa Saraswati
Halaman: 206
Penerbit: Bukune
Bagi pembaca yang sudah pernah baca Danur, Sunyaruri atau buku Risa yang lain pasti nggak asing dengan nama William. Salah satu dari lima sahabat tak kasat mata Risa.

Namanya William van Kemmen, keturunan asli Belanda. Ayahnya, Johan van Kemmen ditugaskan ke Hindia Belanda. Ibunya Maria Ann Zyl adalah keturunan keluarga kaya di Netherland. Sehingga sewaktu datang ke Hindia Belanda memandang rendah kaum pribumi.

William adalah seorang anak kecil yang tampan, apalagi dengan biola yang selalu menemaninya. Namun, dalam hatinya ia merasa kesepian. Semua itu karena perpindahan keluarganya ke Hindia Belanda. Kini matanya kosong karena kesedihan, tidak ada yang mau berteman dengannya.

Karena permintaan ibunya, keluarga William pindah ke tanah pasundan. Bandoeng, tepatnya. Di Bandoeng William bersekolah di tempat yang berisi anak-anak keluarga Belanda yang kaya. Karena William begitu pendiam tak ada teman yang mendekatinya.

Meskipun William dari keluarga terpandang, William adalah seorang anak yang rendah hati. Tidak sombong, mau bergaul dengan orang-orang pribumi tapi tanpa sepengetahuan ibunya. Di usia yang begitu muda William tumbuh menjadi seorang anak dengan pemikiran yang sangat dewasa. Karenanya, Risa juga lebih senang curhat dengan William :) Ibunya yang setiap saat selalu kumpul-kumpul dengan teman-temannya tak pernah menghiraukan William. Ayahnya terkadang menghampiri William untuk menanyakan kabarnya. Ayahnya lebih takut kepada ibunya. William dianggap seperti tak ada oleh ibunya.

Orang tua William hanya memikirkan harta, harta dan harta.
Sampai suatu ketika William mendengar salah seorang pelayan di rumahnya melantunkan lagu khas Sunda:

"Abdi teh ayeuna gaduh hiji boneka
Teu kinten saena, sareng lucuna
Ku abdi di erokan, erokna sae pisan
Cing mangga tingali
Boneka abdi..."

Williampun mencoba memainkan musiknya dengan biola kesayangannya.
Inilah adalah kisah tentangnya, kisah yang selama ini William dekap dengan erat. Siapkah kamu untuk mendengarkan rahasia terdalamnya?
Judul Buku: Air Akar - Kumpulan Finalis Cerita Pendek Kompetisi Menulis Tulis Nusantara 2012
Halaman: 146
Penulis: Benny Arnas, Maria Jeanindya Wahyudi, dkk.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Sesuai dengan judul bukunya, buku ini adalah kumpulan cerpen dari para finalis kompetisi menulis tulis nusantara. Buku ini berisi 10 cerita dari 10 penulis berbakat yang ceritanya bagus-bagus.

Air Akar berlatar kisah dari Lubuklinggau. Kisah seorang ibu guru yang tidak hanya mengajar tapi, juga dipercaya warga setempat untuk mengobati orang sakit dengan ramuan air akarnya. Nggak hanya mengobati, air akar inipun bisa membawa bencana.

Untaian Salam dari Pulau Tak Berbentuk berlatar kisah dari pedalaman Papua, Arguni nama daerahnya. Kisah surat menyurat antar siswa sekolah dasar di Arguni dan Bandung ini diantarai oleh seorang ibu guru. Selama membaca kisahnya ada kecurigaan kalo ini adalah kisah nyata seorang pengajar muda yang ditugaskan di sana. Ternyata benar. Membaca pengalaman teman-teman pengajar muda di daerah penepatan selalu menyentuh.

Bunga Kebun Tanjong berlatar kisah dari Lhokseumawe. Bercerita tentang seorang anak yang akhirnya mengetahui kisah dibalik kebiasaan ibunya selama 17 tahun setiap senin dan kamis selalu berziarah ke makam ayahnya.

Barongsai Merah Putih berlatar kisah dari Semarang di mana ada dua orang anak keturunan Tionghoa yang berusaha keras untuk bisa menjadi pemain barongsai sampai tingkat dunia. Usahanya dalam berlatih bahkan sampai memisahkan diri dari perkumpulannya.

Arti Kematian Sedulur Sikep berlatar kisah dari Cepu. Kematian seorang teman baik mengenalkan Tono pada artinya kekeluargaan. Nggak hanya keluarga dalam arti sebenarnya tapi, juga menyangkut orang lain, tetangga bertetangga.

Sepasang Kupu-kupu Hitam Putih berlatar kisah tentang sepasang kupu-kupu berwarna hitam putih yang merupakan sepasang kekasih. Sisi nusantara yang ingin diangkat penulis yaitu bahwa di Indonesia ini banyak sekali beragam jenis kupu-kupu yang tersebar di seluruh Indonesia dan janganlah mereka ditangkap kemudian dibiarkan mati hanya untuk kesenangan manusia.

Warisan (Cerita dari Dieng) berlatar kisah dari Dieng bercerita tentang anak gimbal bernama Laras yang harus melalui proses ruwatan untuk memotong rambut gimbalnya dan pada akhirnya ada sesuatu hal yang mengejutkan dari Laras :)

Penulis Biografi kisah tentang seorang penulis biografi yang menulis tentang mantan Jenderal yang memilih tinggal di pedalaman dan menghibahkan sebagian kekayaannya untuk membangun sekolah bagi orang-orang pedalaman. Sampai suatu ketika seorang cowok yang sedang dekat dengan seorang cewek yang punya hobi baca buku terperangah dengan apa yang ditemukannya.

Tandan Sawit berlatar kisah dari Riau merupakan cerpen yang diangkat dari fenomena kisah para buruh petani Sawit yang hidup dalam kesenjangan ekonomi dengan para pemilik kebun kelapa sawit.

Protokol Karimata adalah serangkaian aturan terkait eksperimen yang ditujukan bagi eksplorasi sebuah renggangan pada ruang waktu yang terjadi di Selat Karimata puluhan tahun lalu.

Menarik di tiap kisahnya. Yang berminat baca, semoga masih bisa mendapatkan di toko-toko buku terdekat :)
Judul Buku: The Coffee Shop Chronicles
Penulis: Aditya Yudis, Wangi Mutiara Susilo, Yuska Vinita, dkk.
Halaman: 187
Penerbit: ByPASS

Buku ini gue beli di pameran buku tahun lalu di Jember. Gue tertarik karena judulnya yang beraroma kopi. Tapi, yang bikin lebih tertarik lagi yaitu tulisan: 33 Kisah, 22 Penulis dan 1 benang merah. Gila men, 22 penulis!

Satu kata yang bisa gue bilang untuk buku ini, keren! Gue setuju di kedai kopi (baca: coffee shop) bisa banyak hal terjadi. Pengunjungnya pun bisa beraneka ragam. Ada yang berkelompok, berpasangan dan tak sedikit juga yang datang sendiri. Kegiatannya pun bisa berbeda-beda. Ada yang ngobrol, terpaku di depan laptop, baca buku dan ada juga yang bengong-bengong ga jelas.

33 cerita yang saling mengisi satu sama yang lain membuat unik. Bisa saling bercerita dari sudut pandang masing-masing tokohnya dan buat gue asik aja bacanya, sampe ga perlu waktu berhari-hari untuk menghabiskannya.

Yang menjadi sentral dalam cerita ini adalah pasangan suami istri dengan profesi yang berbeda, pasangan backpacker (menurut gue). Rata-rata pengunjung dibuat iri dengan kemesraan yang mereka tunjukkan. Masing-masing pengunjung hanyut dalam kenangan masing-masing. Walaupun ada pergantian nama cafe dan pemiliknya, tidak mengurangi keasikan membacanya.

Gue penyuka kopi jadi, kalo ada buku-buku yang berlatar belakang kopi pasti gue beli. Setuju, because every sip of your coffee keeps secret!
Judul Buku: Happy Little Soul
Penulis: Retno Hening Palupi
Halaman: 202
Penerbit: Gagas Media

Buku ini adalah hadiah ulang tahun terindah buat gue dari sahabat kental sekental susu manis hahahaha..

Buku ini menceritakan bagaimana ibuk Retno Hening mengasuh Mayesa Hafsah Kirana yang sekarang berusia tiga tahun.
Kirana lahir di Duri, Riau. Karena ayah Kirana bertugas di Muscat, Oman jadilah sejak usia tujuh bulan Kirana dan ibuk hijrah ke sana. Dan di sanalah awal mula kisah ibuk yang tertulis di buku ini.

Buku ini curahan hati ibuk selama menjadi teman main Kirana. Ibuk bukanlah ahli parenting tapi, ibuk tahu apa yang terbaik untuk Kirana. 24 jam ibuk selalu ada bersama Kirana. Pengalaman ibuk mengajar di taman kanak-kanak sewaktu di Jogja membantu dalam membesarkan Kirana.

Buat gue buku ini jauh dari ahli-ahli parenting yang hanya teori aja. Tulisan ibuk ini nggak hanya teori. Ibuk menulis langsung berdasarkan pengalaman. Memang setiap ibuk mempunyai cara masing-masing dalam mengasuh dan bermain bersama anaknya tapi, ibuk menuliskannya dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami.

Memiliki Kirana membuat ibuk lebih banyak belajar, bersabar, tidak egois, dan terus bersyukur (hal. 29).

Sejak usia Kirana enam bulan ibuk sudah mengenalkan buku walaupun itu hanya berisi gambar saja sampai yang berisi dengan kalimat-kalimat sederhana. Semakin bertambahnya usia Kirana, ibuk mulai mengajak Kirana berdialog. Dengan banyak mengobrol, Kirana dapat belajar banyak kata-kata, belajar bagaimana cara berbicara, belajar untuk mendengarkan, dan merespons orang lain dengan baik (hal. 44).

Ibuk juga mengajarkan Kirana mengerjakan pekerjaan rumah sambil bermain. Memberi pengertian di saat ibuk memasak dan Kirana ingin main bersama. Ibuk mengajak untuk menghargai apapun hasil kerja anak ketika bermain dan belajar.

Melibatkan Kirana dari kecil dalam mengerjakan banyak hal bukan hanya menjadi sarana belajar untuknya, tetapi juga menjadikannya merasa penting dan dibutuhkan. Ia bisa mulai mengenal fungsi sederhana partisipasi (hal. 102). Ibuk juga memberi rujukan cara membuat mainan edukasi sederhana untuk balita. Ibuk juga berbagi resep masakan yang biasa dilakukan bersama Kirana.

Ibuk juga mengajarkan rutinitas harian yang baik, terus memberikan hal-hal yang baik. Mengajarkan berbagi kepada Kirana bukan hanya tentang kegiatan berbaginya itu sendiri, yang bisa saja ibuk sebagai orang tua memaksanya untuk berbagi. Goalnya adalah melakukannya dengan "rasa", bahwa berbagi memang harus dia lakukan atas keinginannya sendiri (hal. 150).

Sejak usia dua bulan Kirana mengidap dermatitis atopi atau eksim. Kulit Kirana sangat sensitif, sering terjadi peradangan, gatal, memerah, kering dan tidak halus. Eksim yang dimiliki Kirana membuatnya menjadi spesial, banyak makanan yang tidak bisa dia makan, dan ada beberapa faktor pemicu alergi yang membuat kulitya gatal dan memerah (hal. 166). Ke-spesialan Kirana membuat jam tidurnya dan ibuk berantakan. Siang jadi malam, malam jadi siang. Kondisi ini tak ayal membuat ibuk harus berusaha keras menata emosinya, menguji kesabarannya. Untuk mengatasi itu ibuk seringkali istigfar disaat emosinya dirasa tak tertahan lagi. Ibuk belajar memposisikan diri sebagai Kirana dan sadar bahwa dia adalah seorang ibu. Ibuk juga minta bantuan dari Kirana untuk mengingatkannya kalau marah-marah.

Menjadi seorang ibu adalah tentang belajar. Belajar dari anak kecil yang tidak mengenal dendam. Kesabarannya tak terbatas, tetap cinta dan mencari meskipun sudah dimarahi. Menjadi ibu adalah tentang pantang menyerah, tentang belajar menjadi lebih baik dan belajar menghadapi kenyataan yang terkadang tidak sesuai harapan. Juga, mengajarkan kebaikan. Dan, doa-doa panjang yang tiada henti dilantunkan itu adalah ketulusan yang tak perlu imbalan (hal. 194).

Sederhana kan? Buat yang ingin melihat tingkah polah lucu Kirana, jangan lupa follow Instagram ibuk ya @retnohening :)
Judul postingan ini berasa sangat kaku sekali ya hehehe... Tapi, emang gue nggak pandai ngasih judul yang "cantik" ^___^ Gue hanya mau share pengalaman gue di tempat kerja di mana gue punya relasi dengan para atasan yang menurut gue baik. Sekali lagi ini menurut pengalaman gue, sudut pandang gue.

Gue sempet request sama temen seorang blogger yang kemampuan menulisnya nggak diragukan lagi, tentang chemistry antara atasan dan bawahan dari sudut pandang bawahan. Menurut pengalaman kerja gue selama ini yang namanya atasan buat gue itu ya untuk dihormati, dihargai dan apapun yang diminta atasan gue selama itu berelasi dengan pekerjaan ya gue kerjain semaksimal mungkin (baca: your wishes is my command). Gue termasuk bawahan yang mengikuti aturan kerja? Ya. Itu gue akui sendiri dan mungkin teman-teman gue sama atasan-atasan gue selama gue kerja bisa melihat itu.

Di perusahaan manapun gue kerja nggak pernah gue tricky sama aturan kerja. Puji Tuhan selama ini gue nggak punya relasi buruk sama mantan-mantan atasan gue. Buat gue menjalin relasi yang baik dengan atasan di tempat kerja itu sangat penting. Membangun kepercayaan dengan atasan di tempat kita kerja itu sangat penting. Tapii...cara membangun kepercayaannya itu dengan pembuktian kerja yang baik. Ikutin aturan yang ada. Bekerja semaksimal mungkin, memberi yang terbaik itu bisa menjadi salah satu nilai tambah di mata para atasan.

Di tempat kerja yang sekarang ini gue bener-bener kerja dengan semaksimal mungkin, memberi yang terbaik tanpa menghitung untung ruginya buat gue. Mungkin pembaca menilai gue terlalu naif, sok loyal, atau apalah ya nggak apa-apa. Pembaca berhak menilai apa aja. Menurut gue dengan kerja all out, atasan juga nggak akan tutup mata. Mereka bisa liat pencapaian gue selama ini gimana. Gue kerja all out tanpa mikirin ruginya buat gue apa, gue hanya yakin bahwa atasan itu nggak kurang pengertiannya.

Itu terbukti di tempat gue kerja ini. Di saat gue mengalami kesusahan waktu tante gue dying, waktu bokap gue sakit sampai meninggal, atasan-atasan gue nggak tutup mata. Mereka membantu gue banget-banget dengan ngasih ijin terus ngirim ucapan duka cita. Pengertian-pengertian seperti itu yang gue perlukan dari atasan dimanapun gue kerja. Betul gue juga butuh kenaikan penghasilan sebagai timbal balik atas kerja keras gue tapi, nggak melulu hanya itu. Pengertian atasan itu nggak kalah penting. Gue ngeliat kerja keras gue selama ini nggak sia-sia. Mungkin untuk sebagian karyawan nggak bisa melihat itu. Buat mereka kerja mati-matianpun nggak menghasilkan apa-apa. Buat gue, penilaian seperti itu salah. Pengalaman masing-masing orang memang berbeda dan apa yang gue rasa selama hampir empat tahun kerja ini respect antara gue ke atasan dan atasan ke gue itu berjalan baik. Gue ngerasa kerja keras gue selama ini nggak hanya "searah" tapi, gue merasakan "dua arah". Jadi, buat temen-temen yang ngerasa kerja keras mereka selama ini hanya "searah" coba deh direnungin lagi apa yang terlewat sampe nggak menjadi "dua arah".

Membangun kepercayaan (baca: chemistry) dengan atasan itu nggak mudah. Butuh proses, butuh waktu yang nggak sebentar dan gue merasakan itu di tempat gue kerja sekarang. Jadi, kalo sampai chemistry itu pudar itu udah tanda-tanda buat gue angkat kaki. Buat gue, chemistry dengan atasan itu yang bikin suasana kerja nyaman dan menentukan lamanya gue kerja di suatu perusahaan. Apalagi gue itu orangnya kalo udah feeling guilty butuh waktu untuk bisa recovery meskipun atasan gue bilang "nggak apa-apa" tapi, gue tetep nggak enak dan nyesel banget. Gue sangat amat ngejaga chemistry sama atasan-atasan gue.

Dulu waktu kerja di pabrik furniture, gue udah ngalamin punya General Manager yang udah sehati sama gue dan itu tuh bener-bener sampe yang gue nggak perlu banyak ngomong untuk atasan gue itu ngerti apa yang terjadi sama gue. Gue kerja di manapun nggak pernah nuntut ini dan itu ke atasan. Mungkin pembaca nilai gue adalah orang yang nggak punya ambisi, nggak punya goals. Ya inilah gue. Kalo gue kerja di satu posisi, gue akan kerja sebaik mungkin, give the best I could. Kalopun jenjang karir gue bisa naik itu bukan karena ambisi gue tapi, gue akan senang kalo itu karena atasan-atasan gue menilai gue udah mampu mencapai di situ. Buat gue itu lebih fair dibanding ambisi. Kalo ambisi gue takutnya gue bisa nyakitin rekan kerja yang lain. Lagian gue itu orangnya nggak bisa ngomong "Iya, saya sanggup!", "Iya, pasti bisa!" kalo dikasih tugas sama atasan. Gue nggak mau ngomong bisa, sanggup tapi, pada akhirnya gue ngecewain mereka. Gue lebih baik nggak menjanjikan bisa, sanggup tapi, gue akan kerjain semaksimal gue dan atasan-atasan ngenilai gue sanggup dan ada hasilnya. I know my capacity. Ada kalanya gue pede untuk bilang bisa, sanggup! It depends on the task it self.

So, mulai bangun chemistry dengan atasan di tempat kerja. Yakin deh para atasan itu pasti melihat upaya kerja keras bawahannya. Nggak ada yang sia-sia. Nggak ada yang percuma. Gue hanya berpegang pada apa yang tertulis di alkitab.

Efesus 6:5-7:
Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, 6 jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, 7 dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia. 

Jadi, buat gue bagaimanapun sikap para atasan, gue nggak akan berhitung-hitung. Just give the best. Balik lagi ikutin apa yang tertulis di alkitab. If you follow the words of God, be sure that you will received what should yours. Nggak mudah memang. Butuh kerendah hatian untuk bisa ngejalaninnya.

Sekali lagi ini sharing pengalaman aja. Pembaca punya pendapat masing-masing dan pastinya punya pengalaman yang berbeda juga. Mau sharing? Boleh loh. Silahkan sharing pengalaman di kolom comment ^__^
Sebagai pejalan kaki, gue menginginkan di Jakarta ini bisa ramah sama pejalan kaki bukan dalam hal menyediakan trotoar di sepanjang jalan ya tapi, hargailah pejalan kaki di saat menyeberang di zebra cross. Penghargaan ini loh yang menurut gue sangat amat kurang di Jakarta ini. Gue selalu kesel tiap kali mau menyeberang jalan. Kalo mau bandingin sama Singapura, Jakarta itu jauuuhhh sekali penghargaannya. Di Singapura itu ya, zebra cross banyak juga dan pengendara motor, mobil, dan bis itu sangat amat menghargai pejalan kaki. Traffic light untuk pejalan kaki yang menyeberang itu berguna banget.

Di Singapura itu ya, kalo udah liat orang mau nyebrang mobil, motor, langsung berhenti. Kalau di Jakarta, beuuhhh...boro-boro berhenti kalo bisa jalan terus nggak kasih kesempatan untuk nyebrang. Kesadaran, mind set orang-orang di Jakarta ini bener-bener rendah sekali (menurut gue). Ini gue kasih perbandingan Jakarta-Singapura karena sebagian hidup gue, aktivitas gue ada di Jakarta. Gue ngerasa zebra cross yang ada di seluruh jalan-jalan di Jakarta raya ini nggak begitu berfungsi. Jujur gue kesel banget kalo udah ngomongin penyeberangan jalan.

Di Singapura kalo mau nyebrang jalan di zebra cross, gerakan tangan untuk menghentikan laju kendaraan itu udah nggak perlu lagi. Kalo di Jakarta, biar kata tangan udah ikutan juga tapi, banyak pengendara yang nggak begitu peduli. Gue, kalo nyebrang di zebra cross udah nggak pake tangan lagi. Kalo sampe gue dilanggar juga berarti ketauan siapa yang salah.

Kemarin sore, gue mau nyebrang jalan dari Mall Lotte, Kuningan ke ITC Kuningan itu sampe dibantu sama security loh, gue nggak ngeh ya traffic light untuk pejalan kakinya itu berfungsi apa nggak. Tapi, menurut gue itu sama sekali hal yang harusnya nggak perlu. Kalo aja semua pengendara kendaraan bermotor di Jakarta raya ini tau, ngerti fungsinya zebra cross, mereka nggak akan jalan terus di saat udah ngeliat banyak orang yang mau nyebrang. Otomatis mereka ngasih hak kami pejalan kaki ini untuk nyebrang.

Kalo untuk hak pejalan kaki, gue akuin Singapura sangat amat menghargai. Mau satu orang atau lebih yang nyebrang, pengendara kendaraan bermotor itu sangat amat pasti menghentikan laju kendaraannya. Di Jakarta ini orang untuk tertib aturan dan saling menghargai di jalan ini kesadarannya bisa dibilang rata-rata. Oya, di Bali aja masih bisa menghargai pejalan kaki yang mau menyebrang. Traffic light pejalan kaki yang berfungsi benar-benar dihargai oleh pengendara kendaraan bermotor. Mereka akan memberikan kesempatan pejalan kaki melintar terlebih dulu.

Kira-kira kapan ya pengendara kendaraan bermotor di Jakarta raya ini bisa menghargai pejalan kaki. Terus ya kalo diperhatiin lagi, di setiap tangga jalan (eskalator) di stasiun MRT, LRT, pertokoan, mall-mall begitu kaki mulai menapak, orang-orang itu akan langsung mengambil sisi kiri. Nggak ada tuh naik eskalator misalnya berdua, dua-duannya langsung disisi kiri-kanan. Mau berdua atau berame-rame begitu naik eskalator akan langsung mengambil sisi kiri, karena sisi kanan diperuntukkan untuk orang-orang yang buru-buru atau yang ingin cepat-cepat. Sangat amat berbeda dengan Jakarta. Di Jakarta, begitu naik eskalator orang langsung memenuhi semua sisi tangga yang ada, seakan nggak peduli apakah nantinya akan ada orang yang terburu-buru atau nggak. Mereka hanya menganggap kalo ada yang mau buru-buru ya mereka bisa minggir. Kenapa hal-hal positif seperti itu nggak bisa di adaptasi di Jakarta ini? Kalo menurut gue semua balik lagi ke soal budaya. Di Jakarta budaya pengertian akan orang lain itu kurang. Betul di Singapura itu nggak semua-semuanya sempurna.

Ada hal-hal lain yang mereka di sana lebih individualistis di banding di Jakarta. Tapi, yang sangat gue suka penghargaan mereka terhadap pejalan kaki. Gue merasa sangat amat di hargai begitu mau menyebrang jalan di Singapura. Nggak perlu merasa was-was, buru-buru nyebrangnya. Coba deh pengendara kendaraan bermotor di Jakarta ini bisa meniru atau senggaknya mulai deh bangun kesadaraan untuk menghargai pejalan kaki, penyebrang jalan. Terus kalo naik eskalator itu coba deh mulai ambil sisi sebelah kiri. Mulai pelan-pelan dari diri sendiri. Seperti yang sering kali gue alamin waktu nyebrang jalan di depan Lulu Hypermart di Cakung, traffic light untuk pejalan kakinya memang nggak berfungsi baik tapi, waktu di tekan ketika kita mau nyebrang, traffic light untuk kendaraannya itu berfungsi. Di saat semua lampu udah merah, itu adalah waktu buat gue nyebrang dong tapi, apa yang terjadi? Semua kendaraan yang melintas itu nggak perduli sama lampu merah yang ada. Mereka terbiasa untuk nggak berhenti karena penyeberang yang melintas hanya seorang dan buat mereka itu nggak penting. Sementara gue, gue tetap melintas karena di saat itu adalah waktu buat gue nyebrang dan nggak ada aturan yang gue langgar. Kalo sampe gue kena tabrak lari, itu sangat amat jelas pengendara kendaraan lah yang salah. Lampu merah sudah nyala dan gue nyebrang di atas zebra cross. Apa lagi yang gue langgar? Gemes sama hal yang kayak gini? IYA! Gue sangat amat peduli sama penyebrang jalan. Buat sebagian orang mungkin ngerasa itu hal yang sepele, menghargai penyebrang jalan. Tapi, buat gue itu suatu hal yang sangat amat nggak sepele!

Tolong lah saling bangun pengertian menghargai pejalan kaki, penyebrang jalan. Kita pasti bisa seperti masyarakat di Singapura. Memang nggak seperti membalik telapak tangan mengharapkan kesadaran pengendara kendaraan bermotor. Tapi, paling nggak coba yuk. Berbuat baik itu bisa menular dan lama-lama bisa jadi budaya tanpa harus ada aturan tertulis untuk itu. Semoga ada lembaga yang bisa membantu mengkampanyekan kesadaran berkendara ini.

Salam Pejalan Kaki,
Beberapa minggu lalu gue nonton film The Mummy yang dibintangi sama Tom Cruise. Tadinya gue pikir ini sequel dari film The Mummy yang dulu dibintangi Brendan Fraser, tak taunya ini re-boot. Jujur gue sih lupa ya The Mummy yang 1999 itu ceritanya tentang apa tapi, kalo yang versi 2017 ini menceritakan tentang penemuan makam kuno seorang ratu Mesir yang bernama Ahmanet yang mati karena dikhianati semasa hidupnya.

Sarkofagus yang berisi mummy ratu Ahmanet yang ditemukan itu kemudian dibawa seorang arkeolog ke London. Arkeolog tersebut adalah Jenny Halsey (Anabelle Wallis) dibantu oleh Nick Morton (Tom Cruiese) dan Sgt. Vail (Jake Johnson). Di dalam pesawat Sgt. Vail mengalami semacam kerasukan dan membunuh Col. Gideon Forster lalu berusaha untuk membunuh orang-orang yang berada di pesawat tersebut. Akhirnya Nick berhasil membunuh Vail. Tapi, Vail hidup lagi menjelma hantu yang hanya bisa dilihat oleh Nick.

Pesawat yang mengangkut sarkofagus tersebut jatuh dan yang berhasil lolos hanya Jenny karena memakai parasut yang dipakaikan Nick. Semua penumpang pesawat tersebut tewas dan ketika di ruang jenazah, tiba-tiba Nick bangun dan tanpa luka sedikitpun. Jenny yang melihat kejadian tersebut bingung dan membawa Nick bertemu dengan Dr. Henry Jekyll (Russel Crow).

Setelah bertemu dengan Dr. Henry Jekyll, mereka pun bersama-sama memburu mummy ratu Ahmanet yang sudah sudah hidup kembali dengan menyedot nyawa dari orang-orang yang ditemuinya. Orang-orang yang nyawanya disedot oleh ratu Ahmanet berubah menjadi zombi. Ratu Ahmanet berhasil ditangkap dan dibawa ke tempat penelitian Dr. Henry. Dari awal sarkofagus ditemukan rupanya Nick sudah dipilih oleh ratu Ahmanet untuk menjadi raga bagi dewa Set (dewa kematian). Yang harus ditemukan adalah belati dewa Set yang mana batu permata yang ada di atas belati tersebut dikubur bersamaan dengan prajurit yang mati saat perang salib.

Mampukah Nick melawan ratu Ahmanet? Kalo yang belum nonton dan penasaran buruan nonton filmnya di bioskop kesayangan. Mumpung masih ada :))

Menurut gue The Mummy 2017 ini banyak adegan-adegan yang ngagetin apalagi gue nontonnya di teater IMAX berasa deket banget ke mata. Apalagi waktu adegan pesawat yang diserbu burung-burung gagak, beuuhh...berasa bener kayak kena ke muka gue hehehe... Tapi, ending dari film ini bikin gimanaa gitu. Nggak diceritain deh biar pada nonton sendiri dan ngerasain sendiri hehehe...Yang pasti film ini pingin gue tonton karena ada Tom Cruise-nya. Dia tuh bener-bener ye, makin tua makin keren aksinya :))
Siapa yang nggak tau kalo air dan minyak itu nggak bisa nyatu? Pembuktian ilmiah dari ilmuwan sepintar apapun nggak akan bisa membuat air dan minyak menyatu.
Jumat lalu gue baru ngobrol cantik sama sohib lulusan psikologi. Dia bilang air itu lambang segala sesuatu yang positif, minyak lambang segala sesuatu yang negatif. Kita lagi ngebahas tentang karakter individu. 

Setiap kita memiliki sisi positif dan negatif. Individu itu diibaratkan dengan botol plastik. Botol plastik itu diisi air setelah itu diisi minyak. Tanpa diapa-apain air dan minyak itu akan memisahkan diri. Lalu botol itu dikocok, yang terjadi tampilan cairan itu menjadi keruh karena air dan minyak menyatu. Kalo botol itu dikocok tanpa tutup maka air dan minyak dari dalam botol itu akan menyembur keluar begitu juga setelah botol itu dikocok dalam keadaan tertutup tapi botolnya ditusuk-tusuk maka air dan minyak juga akan menyembur keluar. Lalu yang harusnya dilakukan setelah botol itu it dikocok apa? Kembalikan botol itu dalam keadaan berdiri biasa tanpa disentuh. Biarkan air dan minyak dalam botol itu tenang. Setelah tenang, buka tutup botol itu dan pelan-pelan tuang air ke dalam botol itu sampai sedikit-sedikit minyaknya keluar dan tergantikan dengan air.

Ada yang mengerti maksud analogi di atas? Oke, gini penjelasannya. Botol itu adalah diri kita. Air dan minyak adalah hal-hal positif dan negatif dalam diri kita. Kalau hal-hal negatif dalam diri kita sedang dominan, lebih baik berdiam diri. Kalau meledak-ledak keluar yang ada akan berdampak pada orang lain. Atau jangan ada yang memancing atau memperkeruh keadaan sehingga memperparah keadaan. Biarkan diri tenang atau biarkan suasana tenang, setelah itu barulah orang lain memberikan masukan-masukan yang positif. 

Analogi tersebut benar adanya.
Seperti itulah manusia. Paling nggak kita bersedia membuka diri untuk menerima hal-hal yang positif dari orang lain kalo dirasa sulit untuk mengeluarkan hal-hal negatif itu sendiri. Biarkan botol kita ditambahkan air supaya sedikit-sedikit minyak yang ada keluar. Tidak mudah membuka diri tapi, setidaknya dicoba sedikit demi sedikit. Hal ini nggak cuma gue bagiin ke pembaca sekalian tapi, sekaligus gue ngomong ke diri sendiri :)
dok. http://www.21cineplex.com
Bukunya belum sampai gue baca tau-taunya udah dibikin film aja. Buku Ika Natassa yang gue baca baru satu, yaitu Antalogi Rasa. Seru, bagus, menarik jalan cerita dan cara penuturan Ika. Tapi, untuk Critical Eleven ini belum tertarik hati ini untuk membacanya.

Tapi, begitu muncul filmnya, gue terpanggil untuk nonton. Dari mulai launching di bioskop 10 Mei lalu gue pingin langsung nonton tapi, ketahan rasa malas dan lain-lain akhirnya berapa hari lalu berhasil nonton juga. Jujur gue tertarik untuk nonton filmnya karena Reza Rahadian pemeran utamanya. Yang mana gue sangat amat suka sama aktingnya yang natural dan keren banget!

Awal cerita dibuka dari pertemuan yang tidak disengaja antara Tanya Baskoro (Adinia Wirasti) dengan Aldebaran Risjad (Reza Rahadian) yang biasa disapa Ale di dalam pesawat saat perjalanan Jakarta-Sydney. Critical Eleven yang mana untuk penumpang pesawat adalah sebelas menit paling kritis di dalam pesawat. Tiga menit pertama sebelum take off dan delapan menit pertama sebelum landing karena biasanya 80% kecelakan pesawat terjadi dalam rentang waktu itu. Gue juga baru tau ada istilah itu (atau gue yang kudet). Memang sih saat-saat sebelum take off di mana pesawat udah mulai jalan di landasan itu doa-doa mulai dipanjatkan tapi, gue juga hitung berapa menitnya. Terus waktu mau landing juga gitu, saat pesawat udah mulai sedikit-sedikit turun dari ketinggiannya sampai roda mulai turun itu juga saatnya doa-doa dipanjatkan dan lagi-lagi gue juga nggak hitung berapa menitnya.

Dari pertemuan yang nggak disengaja itu rupanya berlanjut sampai akhirnya Anya bertemu dengan keluarga besar Ale dan keduanya memutuskan untuk menikah. Anya pun memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya yang mapan untuk ikut bersama Ale ke New York. Setelah menikmati masa-masa bulan madu, akhirnya Ale harus kembali bekerja di kilang minyak di Mexico. Hari-hari Anya selama ditinggal Ale terasa membosankan sampai pada akhirnya Anya mencari kerja paruh waktu untuk mengisi waktu.

Konflik kecil mulai timbul saat Anya hamil dan sempat kecelakaan tertabrak sepeda sampai jatuh. Ale yang sangat menjaga kehamilan Anya berusaha untuk meminta pindah tugas ke Indonesia demi kelancaran kehamilan Anya sampai melahirkan. Anya yang sudah merasa cocok tinggal di New York tadinya keberatan untuk kembali ke Indonesia tapi, karena Ale sudah mendapat ijin untuk pindah tugas ke Indonesia mau nggak mau bersedia kembali pulang.

Sekembalinya ke Jakarta, Anya juga kembali bekerja di kantor lamanya. Saat kehamilan Anya semakin membesar, tiba-tiba muncul kecemasan Anya karena pergerakan bayi di kandungannya tidak biasa. Anyapun memeriksakan diri ke dokter dan ternyata bayinya meninggal di kandungan karena simpul usus sehingga oksigen tidak mengalir lancar ke bayi. Anyapun diinduksi untuk mengeluarkan bayi tersebut. Meninggalnya Aidan (nama yang diberikan untuk si jabang bayi) membuat keduanya larut dalam kesedihan masing-masing dan saling menyalahkan. Kurangnya komunikasi di antara Anya dan Ale sempat merenggangkan hubungan mereka, sampai akhirnya orang tua Ale berbagi pengalaman yang sama dengan apa yang Anya-Ale hadapi. Pelan-pelan ke-egoan mereka berkurang apalagi di saat diam-diam Anya memutuskan untuk menerima pekerjaan di Sydney dan Ale berusaha menyusulnya sampai kecelakaan, Anya menyadari bahwa mereka harus berubah. Kenyataan Aidan sudah meninggal nggak akan bisa menghidupkannya kembali dengan apa yang terjadi di antara mereka berdua.

Anya dan Ale sama-sama bisa menerima kenyataan dan berdamai dengan keadaan sehingga akhirnya pernikahan mereka pun selamat.

Buat gue filmnya menguras emosi. Ada bahagia (masa-masa setelah menikah), sedih, kecewa (saat Aidan meninggal) dan kembali bahagia. Akting Reza dan Adinia bisa membangun suasana. Gue ikutan ngerasain sedih dan kecewanya. Udah gitu pemain pendukung lainnya juga keren-keren. Slamet Rahardjo, Widyawati, Revalina S. Temat, Refal Hady, Hanna Al Rashid, Astrid Tiar, Hamish Daud, akting mereka nggak perlu dipertanyakan lagi lah. Terus film ini rupanya jadi debut pertamanya Aci Resti pemenang Stand Up Comedy Academy. Ada pemain tambahan juga seperti Mikha Tambayong dan Nino Fernandez yang muncul di akhir-akhir cerita.

Monty Tiwa sebagai sutradara film ini menurut gue sukses mengemas film ini. Ditambah lagi Ika Natassa juga terlibat dalam pembuatan skenarionya. Durasi film ini panjang juga loh 2 jam 15 menit. Tapi, nggak berasa lama dan juga nggak merasa bosan. Kalo liat akting Reza nangis beuuhh dijamin dah nggak mungkin nggak ikut nangis. Rasanya tuh pilu banget. Nggak rugi nonton filmnya. Tapi, kepingin baca bukunya nggak ya? Hmm...masih tetap dalam pertimbangan :))

Pastikan nggak ketinggalan baca buku sama nonton filmnya ya ;)

Dok. pribadi
Kemarin gue nonton film Danur yang diadaptasi dari bukunya Risa Saraswati. Durasi filmnya nggak terlalu lama sepertinya. Nggak sampai dua jam lah.

Gue tertarik nonton filmnya karena udah baca bukunya. Awal film dikisahkan Risa kecil yang tinggal di rumah besar milik neneknya di daerah Bandung. Ayah, ibunya sibuk sehingga Risa lebih sering sendirian di rumah, walaupun ada asisten rumah tangga tapi Risa nggak punya teman main. Sampai tiba Risa ulang tahun, keinginan yang dia panjatkan yaitu punya teman main. Akhirnya keinginan Risa terkabul.

Risa pun kedatangan tiga orang teman kecil yang adalah keturunan Belanda. Mereka adalah Peter, William dan Jansen.
Sejak berteman dengan mereka, ibu dan asisten rumah tangga suka melihat Risa ngomong sendiri, tertawa sendiri, bermain seolah ada beberapa orang bersamanya. Dipanggilnya orang 'pintar' dan sejak itu diketahui bahwa Risa punya indra ke-enam karena tulang rusuknya yang renggang. Risa diperlihatkan sosok asli tiga orang temannya dan sejak itu mereka menjauh dari Risa.

Saat Risa dewasa, masalah baru muncul di rumah neneknya itu. Adik Risa yang masih kecil ternyata memiliki kemampuan yang sama seperti Risa dan membawa masalah. Riri, adik Risa menemukan sisir di bawah pohon besar dekat rumah waktu main sepeda. Ternyata sisir tersebut memunculkan sosok Asih, kuntilanak penunggu pohon tersebut.

Kejadian demi kejadian menegangkan bermunculan. Gue nggak akan beberkan di sini soalnya biar pembaca penasaran hehehe..

Gue nonton berdua sahabat yang 'spesial'. Genre-nya film horor tapi, jadinya komedi dan gue nggak takut sama sekali. Sepanjang film sohib gue selalu komen, itu kuntinya di situ, itu si Peter ada di situ lagi nyengir, dan gue nggak ngeliat apa-apa.

Gue salut sama Shareefa Danis yang berperan sebagai Asih. Tatap matanya, mimik mukanya itu menyeramkan. Akting Prilly sebagai Risa oke, nggak lebay.

Yang mengganggu buat gue, film ini nggak persis sama seperti bukunya. Teman-teman spesial Risa harusnya empat: Peter, William, Hans dan Jansen. Tapi, di film sosok Hans nggak muncul dan nggak kesebut sama sekali. Kenapa begitu? Gue juga nggak tau. Udah nge-twitt ke Risa Saraswati nanyain hal itu tapi, belum di respon.

Sohib gue kasih info, waktu premier di barisan paling depan di biarkan empat kursi kosong untuk teman-teman spesial Risa. Casting untuk memerankan Peter, William dan Jansen harus anak-anak bule, bukan anak-anak Indonesia yang di cat bule rambutnya. Nggak mau ada darah-darah dan nggak mau ada pemain film yang keturunan orang jepang. Kenapa Prilly yang dipilih nenjadi Risa karena Peter, dkk suka sama Prilly. Prilly juga minta dibuka mata batinnya sama Risa dan sampe sekarang Prilly jadi bisa melihat hal-hal yang tak kasat mata.

Peter, dkk tidak mau ada orang keturunan jepang karena mereka mati dibunuh tentara jepang waktu jepang masuk ke Indonesia. Apa yang dilihat sohib gue tentang sosok Peter, dkk di film itu sama seperti yang digambarkan Risa. Yang beda sosok Peter dan William. Kalo Jansen, pemeran di film dan 'asli'nya nggak jauh beda. Jansen menggemaskan :)

Silahkan baca bukunya dan tonton filmnya :)