Critical Eleven

0 Comments
dok. http://www.21cineplex.com
Bukunya belum sampai gue baca tau-taunya udah dibikin film aja. Buku Ika Natassa yang gue baca baru satu, yaitu Antalogi Rasa. Seru, bagus, menarik jalan cerita dan cara penuturan Ika. Tapi, untuk Critical Eleven ini belum tertarik hati ini untuk membacanya.

Tapi, begitu muncul filmnya, gue terpanggil untuk nonton. Dari mulai launching di bioskop 10 Mei lalu gue pingin langsung nonton tapi, ketahan rasa malas dan lain-lain akhirnya berapa hari lalu berhasil nonton juga. Jujur gue tertarik untuk nonton filmnya karena Reza Rahadian pemeran utamanya. Yang mana gue sangat amat suka sama aktingnya yang natural dan keren banget!

Awal cerita dibuka dari pertemuan yang tidak disengaja antara Tanya Baskoro (Adinia Wirasti) dengan Aldebaran Risjad (Reza Rahadian) yang biasa disapa Ale di dalam pesawat saat perjalanan Jakarta-Sydney. Critical Eleven yang mana untuk penumpang pesawat adalah sebelas menit paling kritis di dalam pesawat. Tiga menit pertama sebelum take off dan delapan menit pertama sebelum landing karena biasanya 80% kecelakan pesawat terjadi dalam rentang waktu itu. Gue juga baru tau ada istilah itu (atau gue yang kudet). Memang sih saat-saat sebelum take off di mana pesawat udah mulai jalan di landasan itu doa-doa mulai dipanjatkan tapi, gue juga hitung berapa menitnya. Terus waktu mau landing juga gitu, saat pesawat udah mulai sedikit-sedikit turun dari ketinggiannya sampai roda mulai turun itu juga saatnya doa-doa dipanjatkan dan lagi-lagi gue juga nggak hitung berapa menitnya.

Dari pertemuan yang nggak disengaja itu rupanya berlanjut sampai akhirnya Anya bertemu dengan keluarga besar Ale dan keduanya memutuskan untuk menikah. Anya pun memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya yang mapan untuk ikut bersama Ale ke New York. Setelah menikmati masa-masa bulan madu, akhirnya Ale harus kembali bekerja di kilang minyak di Mexico. Hari-hari Anya selama ditinggal Ale terasa membosankan sampai pada akhirnya Anya mencari kerja paruh waktu untuk mengisi waktu.

Konflik kecil mulai timbul saat Anya hamil dan sempat kecelakaan tertabrak sepeda sampai jatuh. Ale yang sangat menjaga kehamilan Anya berusaha untuk meminta pindah tugas ke Indonesia demi kelancaran kehamilan Anya sampai melahirkan. Anya yang sudah merasa cocok tinggal di New York tadinya keberatan untuk kembali ke Indonesia tapi, karena Ale sudah mendapat ijin untuk pindah tugas ke Indonesia mau nggak mau bersedia kembali pulang.

Sekembalinya ke Jakarta, Anya juga kembali bekerja di kantor lamanya. Saat kehamilan Anya semakin membesar, tiba-tiba muncul kecemasan Anya karena pergerakan bayi di kandungannya tidak biasa. Anyapun memeriksakan diri ke dokter dan ternyata bayinya meninggal di kandungan karena simpul usus sehingga oksigen tidak mengalir lancar ke bayi. Anyapun diinduksi untuk mengeluarkan bayi tersebut. Meninggalnya Aidan (nama yang diberikan untuk si jabang bayi) membuat keduanya larut dalam kesedihan masing-masing dan saling menyalahkan. Kurangnya komunikasi di antara Anya dan Ale sempat merenggangkan hubungan mereka, sampai akhirnya orang tua Ale berbagi pengalaman yang sama dengan apa yang Anya-Ale hadapi. Pelan-pelan ke-egoan mereka berkurang apalagi di saat diam-diam Anya memutuskan untuk menerima pekerjaan di Sydney dan Ale berusaha menyusulnya sampai kecelakaan, Anya menyadari bahwa mereka harus berubah. Kenyataan Aidan sudah meninggal nggak akan bisa menghidupkannya kembali dengan apa yang terjadi di antara mereka berdua.

Anya dan Ale sama-sama bisa menerima kenyataan dan berdamai dengan keadaan sehingga akhirnya pernikahan mereka pun selamat.

Buat gue filmnya menguras emosi. Ada bahagia (masa-masa setelah menikah), sedih, kecewa (saat Aidan meninggal) dan kembali bahagia. Akting Reza dan Adinia bisa membangun suasana. Gue ikutan ngerasain sedih dan kecewanya. Udah gitu pemain pendukung lainnya juga keren-keren. Slamet Rahardjo, Widyawati, Revalina S. Temat, Refal Hady, Hanna Al Rashid, Astrid Tiar, Hamish Daud, akting mereka nggak perlu dipertanyakan lagi lah. Terus film ini rupanya jadi debut pertamanya Aci Resti pemenang Stand Up Comedy Academy. Ada pemain tambahan juga seperti Mikha Tambayong dan Nino Fernandez yang muncul di akhir-akhir cerita.

Monty Tiwa sebagai sutradara film ini menurut gue sukses mengemas film ini. Ditambah lagi Ika Natassa juga terlibat dalam pembuatan skenarionya. Durasi film ini panjang juga loh 2 jam 15 menit. Tapi, nggak berasa lama dan juga nggak merasa bosan. Kalo liat akting Reza nangis beuuhh dijamin dah nggak mungkin nggak ikut nangis. Rasanya tuh pilu banget. Nggak rugi nonton filmnya. Tapi, kepingin baca bukunya nggak ya? Hmm...masih tetap dalam pertimbangan :))

Pastikan nggak ketinggalan baca buku sama nonton filmnya ya ;)


Tulisan Lainnya:

Tidak ada komentar: