Judul Buku: The Coffee Shop Chronicles
Penulis: Aditya Yudis, Wangi Mutiara Susilo, Yuska Vinita, dkk.
Halaman: 187
Penerbit: ByPASS

Buku ini gue beli di pameran buku tahun lalu di Jember. Gue tertarik karena judulnya yang beraroma kopi. Tapi, yang bikin lebih tertarik lagi yaitu tulisan: 33 Kisah, 22 Penulis dan 1 benang merah. Gila men, 22 penulis!

Satu kata yang bisa gue bilang untuk buku ini, keren! Gue setuju di kedai kopi (baca: coffee shop) bisa banyak hal terjadi. Pengunjungnya pun bisa beraneka ragam. Ada yang berkelompok, berpasangan dan tak sedikit juga yang datang sendiri. Kegiatannya pun bisa berbeda-beda. Ada yang ngobrol, terpaku di depan laptop, baca buku dan ada juga yang bengong-bengong ga jelas.

33 cerita yang saling mengisi satu sama yang lain membuat unik. Bisa saling bercerita dari sudut pandang masing-masing tokohnya dan buat gue asik aja bacanya, sampe ga perlu waktu berhari-hari untuk menghabiskannya.

Yang menjadi sentral dalam cerita ini adalah pasangan suami istri dengan profesi yang berbeda, pasangan backpacker (menurut gue). Rata-rata pengunjung dibuat iri dengan kemesraan yang mereka tunjukkan. Masing-masing pengunjung hanyut dalam kenangan masing-masing. Walaupun ada pergantian nama cafe dan pemiliknya, tidak mengurangi keasikan membacanya.

Gue penyuka kopi jadi, kalo ada buku-buku yang berlatar belakang kopi pasti gue beli. Setuju, because every sip of your coffee keeps secret!
Judul Buku: Happy Little Soul
Penulis: Retno Hening Palupi
Halaman: 202
Penerbit: Gagas Media

Buku ini adalah hadiah ulang tahun terindah buat gue dari sahabat kental sekental susu manis hahahaha..

Buku ini menceritakan bagaimana ibuk Retno Hening mengasuh Mayesa Hafsah Kirana yang sekarang berusia tiga tahun.
Kirana lahir di Duri, Riau. Karena ayah Kirana bertugas di Muscat, Oman jadilah sejak usia tujuh bulan Kirana dan ibuk hijrah ke sana. Dan di sanalah awal mula kisah ibuk yang tertulis di buku ini.

Buku ini curahan hati ibuk selama menjadi teman main Kirana. Ibuk bukanlah ahli parenting tapi, ibuk tahu apa yang terbaik untuk Kirana. 24 jam ibuk selalu ada bersama Kirana. Pengalaman ibuk mengajar di taman kanak-kanak sewaktu di Jogja membantu dalam membesarkan Kirana.

Buat gue buku ini jauh dari ahli-ahli parenting yang hanya teori aja. Tulisan ibuk ini nggak hanya teori. Ibuk menulis langsung berdasarkan pengalaman. Memang setiap ibuk mempunyai cara masing-masing dalam mengasuh dan bermain bersama anaknya tapi, ibuk menuliskannya dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami.

Memiliki Kirana membuat ibuk lebih banyak belajar, bersabar, tidak egois, dan terus bersyukur (hal. 29).

Sejak usia Kirana enam bulan ibuk sudah mengenalkan buku walaupun itu hanya berisi gambar saja sampai yang berisi dengan kalimat-kalimat sederhana. Semakin bertambahnya usia Kirana, ibuk mulai mengajak Kirana berdialog. Dengan banyak mengobrol, Kirana dapat belajar banyak kata-kata, belajar bagaimana cara berbicara, belajar untuk mendengarkan, dan merespons orang lain dengan baik (hal. 44).

Ibuk juga mengajarkan Kirana mengerjakan pekerjaan rumah sambil bermain. Memberi pengertian di saat ibuk memasak dan Kirana ingin main bersama. Ibuk mengajak untuk menghargai apapun hasil kerja anak ketika bermain dan belajar.

Melibatkan Kirana dari kecil dalam mengerjakan banyak hal bukan hanya menjadi sarana belajar untuknya, tetapi juga menjadikannya merasa penting dan dibutuhkan. Ia bisa mulai mengenal fungsi sederhana partisipasi (hal. 102). Ibuk juga memberi rujukan cara membuat mainan edukasi sederhana untuk balita. Ibuk juga berbagi resep masakan yang biasa dilakukan bersama Kirana.

Ibuk juga mengajarkan rutinitas harian yang baik, terus memberikan hal-hal yang baik. Mengajarkan berbagi kepada Kirana bukan hanya tentang kegiatan berbaginya itu sendiri, yang bisa saja ibuk sebagai orang tua memaksanya untuk berbagi. Goalnya adalah melakukannya dengan "rasa", bahwa berbagi memang harus dia lakukan atas keinginannya sendiri (hal. 150).

Sejak usia dua bulan Kirana mengidap dermatitis atopi atau eksim. Kulit Kirana sangat sensitif, sering terjadi peradangan, gatal, memerah, kering dan tidak halus. Eksim yang dimiliki Kirana membuatnya menjadi spesial, banyak makanan yang tidak bisa dia makan, dan ada beberapa faktor pemicu alergi yang membuat kulitya gatal dan memerah (hal. 166). Ke-spesialan Kirana membuat jam tidurnya dan ibuk berantakan. Siang jadi malam, malam jadi siang. Kondisi ini tak ayal membuat ibuk harus berusaha keras menata emosinya, menguji kesabarannya. Untuk mengatasi itu ibuk seringkali istigfar disaat emosinya dirasa tak tertahan lagi. Ibuk belajar memposisikan diri sebagai Kirana dan sadar bahwa dia adalah seorang ibu. Ibuk juga minta bantuan dari Kirana untuk mengingatkannya kalau marah-marah.

Menjadi seorang ibu adalah tentang belajar. Belajar dari anak kecil yang tidak mengenal dendam. Kesabarannya tak terbatas, tetap cinta dan mencari meskipun sudah dimarahi. Menjadi ibu adalah tentang pantang menyerah, tentang belajar menjadi lebih baik dan belajar menghadapi kenyataan yang terkadang tidak sesuai harapan. Juga, mengajarkan kebaikan. Dan, doa-doa panjang yang tiada henti dilantunkan itu adalah ketulusan yang tak perlu imbalan (hal. 194).

Sederhana kan? Buat yang ingin melihat tingkah polah lucu Kirana, jangan lupa follow Instagram ibuk ya @retnohening :)
Judul postingan ini berasa sangat kaku sekali ya hehehe... Tapi, emang gue nggak pandai ngasih judul yang "cantik" ^___^ Gue hanya mau share pengalaman gue di tempat kerja di mana gue punya relasi dengan para atasan yang menurut gue baik. Sekali lagi ini menurut pengalaman gue, sudut pandang gue.

Gue sempet request sama temen seorang blogger yang kemampuan menulisnya nggak diragukan lagi, tentang chemistry antara atasan dan bawahan dari sudut pandang bawahan. Menurut pengalaman kerja gue selama ini yang namanya atasan buat gue itu ya untuk dihormati, dihargai dan apapun yang diminta atasan gue selama itu berelasi dengan pekerjaan ya gue kerjain semaksimal mungkin (baca: your wishes is my command). Gue termasuk bawahan yang mengikuti aturan kerja? Ya. Itu gue akui sendiri dan mungkin teman-teman gue sama atasan-atasan gue selama gue kerja bisa melihat itu.

Di perusahaan manapun gue kerja nggak pernah gue tricky sama aturan kerja. Puji Tuhan selama ini gue nggak punya relasi buruk sama mantan-mantan atasan gue. Buat gue menjalin relasi yang baik dengan atasan di tempat kerja itu sangat penting. Membangun kepercayaan dengan atasan di tempat kita kerja itu sangat penting. Tapii...cara membangun kepercayaannya itu dengan pembuktian kerja yang baik. Ikutin aturan yang ada. Bekerja semaksimal mungkin, memberi yang terbaik itu bisa menjadi salah satu nilai tambah di mata para atasan.

Di tempat kerja yang sekarang ini gue bener-bener kerja dengan semaksimal mungkin, memberi yang terbaik tanpa menghitung untung ruginya buat gue. Mungkin pembaca menilai gue terlalu naif, sok loyal, atau apalah ya nggak apa-apa. Pembaca berhak menilai apa aja. Menurut gue dengan kerja all out, atasan juga nggak akan tutup mata. Mereka bisa liat pencapaian gue selama ini gimana. Gue kerja all out tanpa mikirin ruginya buat gue apa, gue hanya yakin bahwa atasan itu nggak kurang pengertiannya.

Itu terbukti di tempat gue kerja ini. Di saat gue mengalami kesusahan waktu tante gue dying, waktu bokap gue sakit sampai meninggal, atasan-atasan gue nggak tutup mata. Mereka membantu gue banget-banget dengan ngasih ijin terus ngirim ucapan duka cita. Pengertian-pengertian seperti itu yang gue perlukan dari atasan dimanapun gue kerja. Betul gue juga butuh kenaikan penghasilan sebagai timbal balik atas kerja keras gue tapi, nggak melulu hanya itu. Pengertian atasan itu nggak kalah penting. Gue ngeliat kerja keras gue selama ini nggak sia-sia. Mungkin untuk sebagian karyawan nggak bisa melihat itu. Buat mereka kerja mati-matianpun nggak menghasilkan apa-apa. Buat gue, penilaian seperti itu salah. Pengalaman masing-masing orang memang berbeda dan apa yang gue rasa selama hampir empat tahun kerja ini respect antara gue ke atasan dan atasan ke gue itu berjalan baik. Gue ngerasa kerja keras gue selama ini nggak hanya "searah" tapi, gue merasakan "dua arah". Jadi, buat temen-temen yang ngerasa kerja keras mereka selama ini hanya "searah" coba deh direnungin lagi apa yang terlewat sampe nggak menjadi "dua arah".

Membangun kepercayaan (baca: chemistry) dengan atasan itu nggak mudah. Butuh proses, butuh waktu yang nggak sebentar dan gue merasakan itu di tempat gue kerja sekarang. Jadi, kalo sampai chemistry itu pudar itu udah tanda-tanda buat gue angkat kaki. Buat gue, chemistry dengan atasan itu yang bikin suasana kerja nyaman dan menentukan lamanya gue kerja di suatu perusahaan. Apalagi gue itu orangnya kalo udah feeling guilty butuh waktu untuk bisa recovery meskipun atasan gue bilang "nggak apa-apa" tapi, gue tetep nggak enak dan nyesel banget. Gue sangat amat ngejaga chemistry sama atasan-atasan gue.

Dulu waktu kerja di pabrik furniture, gue udah ngalamin punya General Manager yang udah sehati sama gue dan itu tuh bener-bener sampe yang gue nggak perlu banyak ngomong untuk atasan gue itu ngerti apa yang terjadi sama gue. Gue kerja di manapun nggak pernah nuntut ini dan itu ke atasan. Mungkin pembaca nilai gue adalah orang yang nggak punya ambisi, nggak punya goals. Ya inilah gue. Kalo gue kerja di satu posisi, gue akan kerja sebaik mungkin, give the best I could. Kalopun jenjang karir gue bisa naik itu bukan karena ambisi gue tapi, gue akan senang kalo itu karena atasan-atasan gue menilai gue udah mampu mencapai di situ. Buat gue itu lebih fair dibanding ambisi. Kalo ambisi gue takutnya gue bisa nyakitin rekan kerja yang lain. Lagian gue itu orangnya nggak bisa ngomong "Iya, saya sanggup!", "Iya, pasti bisa!" kalo dikasih tugas sama atasan. Gue nggak mau ngomong bisa, sanggup tapi, pada akhirnya gue ngecewain mereka. Gue lebih baik nggak menjanjikan bisa, sanggup tapi, gue akan kerjain semaksimal gue dan atasan-atasan ngenilai gue sanggup dan ada hasilnya. I know my capacity. Ada kalanya gue pede untuk bilang bisa, sanggup! It depends on the task it self.

So, mulai bangun chemistry dengan atasan di tempat kerja. Yakin deh para atasan itu pasti melihat upaya kerja keras bawahannya. Nggak ada yang sia-sia. Nggak ada yang percuma. Gue hanya berpegang pada apa yang tertulis di alkitab.

Efesus 6:5-7:
Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, 6 jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, 7 dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia. 

Jadi, buat gue bagaimanapun sikap para atasan, gue nggak akan berhitung-hitung. Just give the best. Balik lagi ikutin apa yang tertulis di alkitab. If you follow the words of God, be sure that you will received what should yours. Nggak mudah memang. Butuh kerendah hatian untuk bisa ngejalaninnya.

Sekali lagi ini sharing pengalaman aja. Pembaca punya pendapat masing-masing dan pastinya punya pengalaman yang berbeda juga. Mau sharing? Boleh loh. Silahkan sharing pengalaman di kolom comment ^__^
Sebagai pejalan kaki, gue menginginkan di Jakarta ini bisa ramah sama pejalan kaki bukan dalam hal menyediakan trotoar di sepanjang jalan ya tapi, hargailah pejalan kaki di saat menyeberang di zebra cross. Penghargaan ini loh yang menurut gue sangat amat kurang di Jakarta ini. Gue selalu kesel tiap kali mau menyeberang jalan. Kalo mau bandingin sama Singapura, Jakarta itu jauuuhhh sekali penghargaannya. Di Singapura itu ya, zebra cross banyak juga dan pengendara motor, mobil, dan bis itu sangat amat menghargai pejalan kaki. Traffic light untuk pejalan kaki yang menyeberang itu berguna banget.

Di Singapura itu ya, kalo udah liat orang mau nyebrang mobil, motor, langsung berhenti. Kalau di Jakarta, beuuhhh...boro-boro berhenti kalo bisa jalan terus nggak kasih kesempatan untuk nyebrang. Kesadaran, mind set orang-orang di Jakarta ini bener-bener rendah sekali (menurut gue). Ini gue kasih perbandingan Jakarta-Singapura karena sebagian hidup gue, aktivitas gue ada di Jakarta. Gue ngerasa zebra cross yang ada di seluruh jalan-jalan di Jakarta raya ini nggak begitu berfungsi. Jujur gue kesel banget kalo udah ngomongin penyeberangan jalan.

Di Singapura kalo mau nyebrang jalan di zebra cross, gerakan tangan untuk menghentikan laju kendaraan itu udah nggak perlu lagi. Kalo di Jakarta, biar kata tangan udah ikutan juga tapi, banyak pengendara yang nggak begitu peduli. Gue, kalo nyebrang di zebra cross udah nggak pake tangan lagi. Kalo sampe gue dilanggar juga berarti ketauan siapa yang salah.

Kemarin sore, gue mau nyebrang jalan dari Mall Lotte, Kuningan ke ITC Kuningan itu sampe dibantu sama security loh, gue nggak ngeh ya traffic light untuk pejalan kakinya itu berfungsi apa nggak. Tapi, menurut gue itu sama sekali hal yang harusnya nggak perlu. Kalo aja semua pengendara kendaraan bermotor di Jakarta raya ini tau, ngerti fungsinya zebra cross, mereka nggak akan jalan terus di saat udah ngeliat banyak orang yang mau nyebrang. Otomatis mereka ngasih hak kami pejalan kaki ini untuk nyebrang.

Kalo untuk hak pejalan kaki, gue akuin Singapura sangat amat menghargai. Mau satu orang atau lebih yang nyebrang, pengendara kendaraan bermotor itu sangat amat pasti menghentikan laju kendaraannya. Di Jakarta ini orang untuk tertib aturan dan saling menghargai di jalan ini kesadarannya bisa dibilang rata-rata. Oya, di Bali aja masih bisa menghargai pejalan kaki yang mau menyebrang. Traffic light pejalan kaki yang berfungsi benar-benar dihargai oleh pengendara kendaraan bermotor. Mereka akan memberikan kesempatan pejalan kaki melintar terlebih dulu.

Kira-kira kapan ya pengendara kendaraan bermotor di Jakarta raya ini bisa menghargai pejalan kaki. Terus ya kalo diperhatiin lagi, di setiap tangga jalan (eskalator) di stasiun MRT, LRT, pertokoan, mall-mall begitu kaki mulai menapak, orang-orang itu akan langsung mengambil sisi kiri. Nggak ada tuh naik eskalator misalnya berdua, dua-duannya langsung disisi kiri-kanan. Mau berdua atau berame-rame begitu naik eskalator akan langsung mengambil sisi kiri, karena sisi kanan diperuntukkan untuk orang-orang yang buru-buru atau yang ingin cepat-cepat. Sangat amat berbeda dengan Jakarta. Di Jakarta, begitu naik eskalator orang langsung memenuhi semua sisi tangga yang ada, seakan nggak peduli apakah nantinya akan ada orang yang terburu-buru atau nggak. Mereka hanya menganggap kalo ada yang mau buru-buru ya mereka bisa minggir. Kenapa hal-hal positif seperti itu nggak bisa di adaptasi di Jakarta ini? Kalo menurut gue semua balik lagi ke soal budaya. Di Jakarta budaya pengertian akan orang lain itu kurang. Betul di Singapura itu nggak semua-semuanya sempurna.

Ada hal-hal lain yang mereka di sana lebih individualistis di banding di Jakarta. Tapi, yang sangat gue suka penghargaan mereka terhadap pejalan kaki. Gue merasa sangat amat di hargai begitu mau menyebrang jalan di Singapura. Nggak perlu merasa was-was, buru-buru nyebrangnya. Coba deh pengendara kendaraan bermotor di Jakarta ini bisa meniru atau senggaknya mulai deh bangun kesadaraan untuk menghargai pejalan kaki, penyebrang jalan. Terus kalo naik eskalator itu coba deh mulai ambil sisi sebelah kiri. Mulai pelan-pelan dari diri sendiri. Seperti yang sering kali gue alamin waktu nyebrang jalan di depan Lulu Hypermart di Cakung, traffic light untuk pejalan kakinya memang nggak berfungsi baik tapi, waktu di tekan ketika kita mau nyebrang, traffic light untuk kendaraannya itu berfungsi. Di saat semua lampu udah merah, itu adalah waktu buat gue nyebrang dong tapi, apa yang terjadi? Semua kendaraan yang melintas itu nggak perduli sama lampu merah yang ada. Mereka terbiasa untuk nggak berhenti karena penyeberang yang melintas hanya seorang dan buat mereka itu nggak penting. Sementara gue, gue tetap melintas karena di saat itu adalah waktu buat gue nyebrang dan nggak ada aturan yang gue langgar. Kalo sampe gue kena tabrak lari, itu sangat amat jelas pengendara kendaraan lah yang salah. Lampu merah sudah nyala dan gue nyebrang di atas zebra cross. Apa lagi yang gue langgar? Gemes sama hal yang kayak gini? IYA! Gue sangat amat peduli sama penyebrang jalan. Buat sebagian orang mungkin ngerasa itu hal yang sepele, menghargai penyebrang jalan. Tapi, buat gue itu suatu hal yang sangat amat nggak sepele!

Tolong lah saling bangun pengertian menghargai pejalan kaki, penyebrang jalan. Kita pasti bisa seperti masyarakat di Singapura. Memang nggak seperti membalik telapak tangan mengharapkan kesadaran pengendara kendaraan bermotor. Tapi, paling nggak coba yuk. Berbuat baik itu bisa menular dan lama-lama bisa jadi budaya tanpa harus ada aturan tertulis untuk itu. Semoga ada lembaga yang bisa membantu mengkampanyekan kesadaran berkendara ini.

Salam Pejalan Kaki,
Beberapa minggu lalu gue nonton film The Mummy yang dibintangi sama Tom Cruise. Tadinya gue pikir ini sequel dari film The Mummy yang dulu dibintangi Brendan Fraser, tak taunya ini re-boot. Jujur gue sih lupa ya The Mummy yang 1999 itu ceritanya tentang apa tapi, kalo yang versi 2017 ini menceritakan tentang penemuan makam kuno seorang ratu Mesir yang bernama Ahmanet yang mati karena dikhianati semasa hidupnya.

Sarkofagus yang berisi mummy ratu Ahmanet yang ditemukan itu kemudian dibawa seorang arkeolog ke London. Arkeolog tersebut adalah Jenny Halsey (Anabelle Wallis) dibantu oleh Nick Morton (Tom Cruiese) dan Sgt. Vail (Jake Johnson). Di dalam pesawat Sgt. Vail mengalami semacam kerasukan dan membunuh Col. Gideon Forster lalu berusaha untuk membunuh orang-orang yang berada di pesawat tersebut. Akhirnya Nick berhasil membunuh Vail. Tapi, Vail hidup lagi menjelma hantu yang hanya bisa dilihat oleh Nick.

Pesawat yang mengangkut sarkofagus tersebut jatuh dan yang berhasil lolos hanya Jenny karena memakai parasut yang dipakaikan Nick. Semua penumpang pesawat tersebut tewas dan ketika di ruang jenazah, tiba-tiba Nick bangun dan tanpa luka sedikitpun. Jenny yang melihat kejadian tersebut bingung dan membawa Nick bertemu dengan Dr. Henry Jekyll (Russel Crow).

Setelah bertemu dengan Dr. Henry Jekyll, mereka pun bersama-sama memburu mummy ratu Ahmanet yang sudah sudah hidup kembali dengan menyedot nyawa dari orang-orang yang ditemuinya. Orang-orang yang nyawanya disedot oleh ratu Ahmanet berubah menjadi zombi. Ratu Ahmanet berhasil ditangkap dan dibawa ke tempat penelitian Dr. Henry. Dari awal sarkofagus ditemukan rupanya Nick sudah dipilih oleh ratu Ahmanet untuk menjadi raga bagi dewa Set (dewa kematian). Yang harus ditemukan adalah belati dewa Set yang mana batu permata yang ada di atas belati tersebut dikubur bersamaan dengan prajurit yang mati saat perang salib.

Mampukah Nick melawan ratu Ahmanet? Kalo yang belum nonton dan penasaran buruan nonton filmnya di bioskop kesayangan. Mumpung masih ada :))

Menurut gue The Mummy 2017 ini banyak adegan-adegan yang ngagetin apalagi gue nontonnya di teater IMAX berasa deket banget ke mata. Apalagi waktu adegan pesawat yang diserbu burung-burung gagak, beuuhh...berasa bener kayak kena ke muka gue hehehe... Tapi, ending dari film ini bikin gimanaa gitu. Nggak diceritain deh biar pada nonton sendiri dan ngerasain sendiri hehehe...Yang pasti film ini pingin gue tonton karena ada Tom Cruise-nya. Dia tuh bener-bener ye, makin tua makin keren aksinya :))
Siapa yang nggak tau kalo air dan minyak itu nggak bisa nyatu? Pembuktian ilmiah dari ilmuwan sepintar apapun nggak akan bisa membuat air dan minyak menyatu.
Jumat lalu gue baru ngobrol cantik sama sohib lulusan psikologi. Dia bilang air itu lambang segala sesuatu yang positif, minyak lambang segala sesuatu yang negatif. Kita lagi ngebahas tentang karakter individu. 

Setiap kita memiliki sisi positif dan negatif. Individu itu diibaratkan dengan botol plastik. Botol plastik itu diisi air setelah itu diisi minyak. Tanpa diapa-apain air dan minyak itu akan memisahkan diri. Lalu botol itu dikocok, yang terjadi tampilan cairan itu menjadi keruh karena air dan minyak menyatu. Kalo botol itu dikocok tanpa tutup maka air dan minyak dari dalam botol itu akan menyembur keluar begitu juga setelah botol itu dikocok dalam keadaan tertutup tapi botolnya ditusuk-tusuk maka air dan minyak juga akan menyembur keluar. Lalu yang harusnya dilakukan setelah botol itu it dikocok apa? Kembalikan botol itu dalam keadaan berdiri biasa tanpa disentuh. Biarkan air dan minyak dalam botol itu tenang. Setelah tenang, buka tutup botol itu dan pelan-pelan tuang air ke dalam botol itu sampai sedikit-sedikit minyaknya keluar dan tergantikan dengan air.

Ada yang mengerti maksud analogi di atas? Oke, gini penjelasannya. Botol itu adalah diri kita. Air dan minyak adalah hal-hal positif dan negatif dalam diri kita. Kalau hal-hal negatif dalam diri kita sedang dominan, lebih baik berdiam diri. Kalau meledak-ledak keluar yang ada akan berdampak pada orang lain. Atau jangan ada yang memancing atau memperkeruh keadaan sehingga memperparah keadaan. Biarkan diri tenang atau biarkan suasana tenang, setelah itu barulah orang lain memberikan masukan-masukan yang positif. 

Analogi tersebut benar adanya.
Seperti itulah manusia. Paling nggak kita bersedia membuka diri untuk menerima hal-hal yang positif dari orang lain kalo dirasa sulit untuk mengeluarkan hal-hal negatif itu sendiri. Biarkan botol kita ditambahkan air supaya sedikit-sedikit minyak yang ada keluar. Tidak mudah membuka diri tapi, setidaknya dicoba sedikit demi sedikit. Hal ini nggak cuma gue bagiin ke pembaca sekalian tapi, sekaligus gue ngomong ke diri sendiri :)