Chemistry Antara Atasan dan Bawahan Di Tempat Kerja

0 Comments
Judul postingan ini berasa sangat kaku sekali ya hehehe... Tapi, emang gue nggak pandai ngasih judul yang "cantik" ^___^ Gue hanya mau share pengalaman gue di tempat kerja di mana gue punya relasi dengan para atasan yang menurut gue baik. Sekali lagi ini menurut pengalaman gue, sudut pandang gue.

Gue sempet request sama temen seorang blogger yang kemampuan menulisnya nggak diragukan lagi, tentang chemistry antara atasan dan bawahan dari sudut pandang bawahan. Menurut pengalaman kerja gue selama ini yang namanya atasan buat gue itu ya untuk dihormati, dihargai dan apapun yang diminta atasan gue selama itu berelasi dengan pekerjaan ya gue kerjain semaksimal mungkin (baca: your wishes is my command). Gue termasuk bawahan yang mengikuti aturan kerja? Ya. Itu gue akui sendiri dan mungkin teman-teman gue sama atasan-atasan gue selama gue kerja bisa melihat itu.

Di perusahaan manapun gue kerja nggak pernah gue tricky sama aturan kerja. Puji Tuhan selama ini gue nggak punya relasi buruk sama mantan-mantan atasan gue. Buat gue menjalin relasi yang baik dengan atasan di tempat kerja itu sangat penting. Membangun kepercayaan dengan atasan di tempat kita kerja itu sangat penting. Tapii...cara membangun kepercayaannya itu dengan pembuktian kerja yang baik. Ikutin aturan yang ada. Bekerja semaksimal mungkin, memberi yang terbaik itu bisa menjadi salah satu nilai tambah di mata para atasan.

Di tempat kerja yang sekarang ini gue bener-bener kerja dengan semaksimal mungkin, memberi yang terbaik tanpa menghitung untung ruginya buat gue. Mungkin pembaca menilai gue terlalu naif, sok loyal, atau apalah ya nggak apa-apa. Pembaca berhak menilai apa aja. Menurut gue dengan kerja all out, atasan juga nggak akan tutup mata. Mereka bisa liat pencapaian gue selama ini gimana. Gue kerja all out tanpa mikirin ruginya buat gue apa, gue hanya yakin bahwa atasan itu nggak kurang pengertiannya.

Itu terbukti di tempat gue kerja ini. Di saat gue mengalami kesusahan waktu tante gue dying, waktu bokap gue sakit sampai meninggal, atasan-atasan gue nggak tutup mata. Mereka membantu gue banget-banget dengan ngasih ijin terus ngirim ucapan duka cita. Pengertian-pengertian seperti itu yang gue perlukan dari atasan dimanapun gue kerja. Betul gue juga butuh kenaikan penghasilan sebagai timbal balik atas kerja keras gue tapi, nggak melulu hanya itu. Pengertian atasan itu nggak kalah penting. Gue ngeliat kerja keras gue selama ini nggak sia-sia. Mungkin untuk sebagian karyawan nggak bisa melihat itu. Buat mereka kerja mati-matianpun nggak menghasilkan apa-apa. Buat gue, penilaian seperti itu salah. Pengalaman masing-masing orang memang berbeda dan apa yang gue rasa selama hampir empat tahun kerja ini respect antara gue ke atasan dan atasan ke gue itu berjalan baik. Gue ngerasa kerja keras gue selama ini nggak hanya "searah" tapi, gue merasakan "dua arah". Jadi, buat temen-temen yang ngerasa kerja keras mereka selama ini hanya "searah" coba deh direnungin lagi apa yang terlewat sampe nggak menjadi "dua arah".

Membangun kepercayaan (baca: chemistry) dengan atasan itu nggak mudah. Butuh proses, butuh waktu yang nggak sebentar dan gue merasakan itu di tempat gue kerja sekarang. Jadi, kalo sampai chemistry itu pudar itu udah tanda-tanda buat gue angkat kaki. Buat gue, chemistry dengan atasan itu yang bikin suasana kerja nyaman dan menentukan lamanya gue kerja di suatu perusahaan. Apalagi gue itu orangnya kalo udah feeling guilty butuh waktu untuk bisa recovery meskipun atasan gue bilang "nggak apa-apa" tapi, gue tetep nggak enak dan nyesel banget. Gue sangat amat ngejaga chemistry sama atasan-atasan gue.

Dulu waktu kerja di pabrik furniture, gue udah ngalamin punya General Manager yang udah sehati sama gue dan itu tuh bener-bener sampe yang gue nggak perlu banyak ngomong untuk atasan gue itu ngerti apa yang terjadi sama gue. Gue kerja di manapun nggak pernah nuntut ini dan itu ke atasan. Mungkin pembaca nilai gue adalah orang yang nggak punya ambisi, nggak punya goals. Ya inilah gue. Kalo gue kerja di satu posisi, gue akan kerja sebaik mungkin, give the best I could. Kalopun jenjang karir gue bisa naik itu bukan karena ambisi gue tapi, gue akan senang kalo itu karena atasan-atasan gue menilai gue udah mampu mencapai di situ. Buat gue itu lebih fair dibanding ambisi. Kalo ambisi gue takutnya gue bisa nyakitin rekan kerja yang lain. Lagian gue itu orangnya nggak bisa ngomong "Iya, saya sanggup!", "Iya, pasti bisa!" kalo dikasih tugas sama atasan. Gue nggak mau ngomong bisa, sanggup tapi, pada akhirnya gue ngecewain mereka. Gue lebih baik nggak menjanjikan bisa, sanggup tapi, gue akan kerjain semaksimal gue dan atasan-atasan ngenilai gue sanggup dan ada hasilnya. I know my capacity. Ada kalanya gue pede untuk bilang bisa, sanggup! It depends on the task it self.

So, mulai bangun chemistry dengan atasan di tempat kerja. Yakin deh para atasan itu pasti melihat upaya kerja keras bawahannya. Nggak ada yang sia-sia. Nggak ada yang percuma. Gue hanya berpegang pada apa yang tertulis di alkitab.

Efesus 6:5-7:
Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, 6 jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, 7 dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia. 

Jadi, buat gue bagaimanapun sikap para atasan, gue nggak akan berhitung-hitung. Just give the best. Balik lagi ikutin apa yang tertulis di alkitab. If you follow the words of God, be sure that you will received what should yours. Nggak mudah memang. Butuh kerendah hatian untuk bisa ngejalaninnya.

Sekali lagi ini sharing pengalaman aja. Pembaca punya pendapat masing-masing dan pastinya punya pengalaman yang berbeda juga. Mau sharing? Boleh loh. Silahkan sharing pengalaman di kolom comment ^__^


Tulisan Lainnya:

Tidak ada komentar: