@retnohening: Happy Little Soul

0 Comments
Judul Buku: Happy Little Soul
Penulis: Retno Hening Palupi
Halaman: 202
Penerbit: Gagas Media

Buku ini adalah hadiah ulang tahun terindah buat gue dari sahabat kental sekental susu manis hahahaha..

Buku ini menceritakan bagaimana ibuk Retno Hening mengasuh Mayesa Hafsah Kirana yang sekarang berusia tiga tahun.
Kirana lahir di Duri, Riau. Karena ayah Kirana bertugas di Muscat, Oman jadilah sejak usia tujuh bulan Kirana dan ibuk hijrah ke sana. Dan di sanalah awal mula kisah ibuk yang tertulis di buku ini.

Buku ini curahan hati ibuk selama menjadi teman main Kirana. Ibuk bukanlah ahli parenting tapi, ibuk tahu apa yang terbaik untuk Kirana. 24 jam ibuk selalu ada bersama Kirana. Pengalaman ibuk mengajar di taman kanak-kanak sewaktu di Jogja membantu dalam membesarkan Kirana.

Buat gue buku ini jauh dari ahli-ahli parenting yang hanya teori aja. Tulisan ibuk ini nggak hanya teori. Ibuk menulis langsung berdasarkan pengalaman. Memang setiap ibuk mempunyai cara masing-masing dalam mengasuh dan bermain bersama anaknya tapi, ibuk menuliskannya dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami.

Memiliki Kirana membuat ibuk lebih banyak belajar, bersabar, tidak egois, dan terus bersyukur (hal. 29).

Sejak usia Kirana enam bulan ibuk sudah mengenalkan buku walaupun itu hanya berisi gambar saja sampai yang berisi dengan kalimat-kalimat sederhana. Semakin bertambahnya usia Kirana, ibuk mulai mengajak Kirana berdialog. Dengan banyak mengobrol, Kirana dapat belajar banyak kata-kata, belajar bagaimana cara berbicara, belajar untuk mendengarkan, dan merespons orang lain dengan baik (hal. 44).

Ibuk juga mengajarkan Kirana mengerjakan pekerjaan rumah sambil bermain. Memberi pengertian di saat ibuk memasak dan Kirana ingin main bersama. Ibuk mengajak untuk menghargai apapun hasil kerja anak ketika bermain dan belajar.

Melibatkan Kirana dari kecil dalam mengerjakan banyak hal bukan hanya menjadi sarana belajar untuknya, tetapi juga menjadikannya merasa penting dan dibutuhkan. Ia bisa mulai mengenal fungsi sederhana partisipasi (hal. 102). Ibuk juga memberi rujukan cara membuat mainan edukasi sederhana untuk balita. Ibuk juga berbagi resep masakan yang biasa dilakukan bersama Kirana.

Ibuk juga mengajarkan rutinitas harian yang baik, terus memberikan hal-hal yang baik. Mengajarkan berbagi kepada Kirana bukan hanya tentang kegiatan berbaginya itu sendiri, yang bisa saja ibuk sebagai orang tua memaksanya untuk berbagi. Goalnya adalah melakukannya dengan "rasa", bahwa berbagi memang harus dia lakukan atas keinginannya sendiri (hal. 150).

Sejak usia dua bulan Kirana mengidap dermatitis atopi atau eksim. Kulit Kirana sangat sensitif, sering terjadi peradangan, gatal, memerah, kering dan tidak halus. Eksim yang dimiliki Kirana membuatnya menjadi spesial, banyak makanan yang tidak bisa dia makan, dan ada beberapa faktor pemicu alergi yang membuat kulitya gatal dan memerah (hal. 166). Ke-spesialan Kirana membuat jam tidurnya dan ibuk berantakan. Siang jadi malam, malam jadi siang. Kondisi ini tak ayal membuat ibuk harus berusaha keras menata emosinya, menguji kesabarannya. Untuk mengatasi itu ibuk seringkali istigfar disaat emosinya dirasa tak tertahan lagi. Ibuk belajar memposisikan diri sebagai Kirana dan sadar bahwa dia adalah seorang ibu. Ibuk juga minta bantuan dari Kirana untuk mengingatkannya kalau marah-marah.

Menjadi seorang ibu adalah tentang belajar. Belajar dari anak kecil yang tidak mengenal dendam. Kesabarannya tak terbatas, tetap cinta dan mencari meskipun sudah dimarahi. Menjadi ibu adalah tentang pantang menyerah, tentang belajar menjadi lebih baik dan belajar menghadapi kenyataan yang terkadang tidak sesuai harapan. Juga, mengajarkan kebaikan. Dan, doa-doa panjang yang tiada henti dilantunkan itu adalah ketulusan yang tak perlu imbalan (hal. 194).

Sederhana kan? Buat yang ingin melihat tingkah polah lucu Kirana, jangan lupa follow Instagram ibuk ya @retnohening :)


Tulisan Lainnya:

Tidak ada komentar: