Singapura, Kota Ramah Bagi Pejalan Kaki

0 Comments
Sebagai pejalan kaki, gue menginginkan di Jakarta ini bisa ramah sama pejalan kaki bukan dalam hal menyediakan trotoar di sepanjang jalan ya tapi, hargailah pejalan kaki di saat menyeberang di zebra cross. Penghargaan ini loh yang menurut gue sangat amat kurang di Jakarta ini. Gue selalu kesel tiap kali mau menyeberang jalan. Kalo mau bandingin sama Singapura, Jakarta itu jauuuhhh sekali penghargaannya. Di Singapura itu ya, zebra cross banyak juga dan pengendara motor, mobil, dan bis itu sangat amat menghargai pejalan kaki. Traffic light untuk pejalan kaki yang menyeberang itu berguna banget.

Di Singapura itu ya, kalo udah liat orang mau nyebrang mobil, motor, langsung berhenti. Kalau di Jakarta, beuuhhh...boro-boro berhenti kalo bisa jalan terus nggak kasih kesempatan untuk nyebrang. Kesadaran, mind set orang-orang di Jakarta ini bener-bener rendah sekali (menurut gue). Ini gue kasih perbandingan Jakarta-Singapura karena sebagian hidup gue, aktivitas gue ada di Jakarta. Gue ngerasa zebra cross yang ada di seluruh jalan-jalan di Jakarta raya ini nggak begitu berfungsi. Jujur gue kesel banget kalo udah ngomongin penyeberangan jalan.

Di Singapura kalo mau nyebrang jalan di zebra cross, gerakan tangan untuk menghentikan laju kendaraan itu udah nggak perlu lagi. Kalo di Jakarta, biar kata tangan udah ikutan juga tapi, banyak pengendara yang nggak begitu peduli. Gue, kalo nyebrang di zebra cross udah nggak pake tangan lagi. Kalo sampe gue dilanggar juga berarti ketauan siapa yang salah.

Kemarin sore, gue mau nyebrang jalan dari Mall Lotte, Kuningan ke ITC Kuningan itu sampe dibantu sama security loh, gue nggak ngeh ya traffic light untuk pejalan kakinya itu berfungsi apa nggak. Tapi, menurut gue itu sama sekali hal yang harusnya nggak perlu. Kalo aja semua pengendara kendaraan bermotor di Jakarta raya ini tau, ngerti fungsinya zebra cross, mereka nggak akan jalan terus di saat udah ngeliat banyak orang yang mau nyebrang. Otomatis mereka ngasih hak kami pejalan kaki ini untuk nyebrang.

Kalo untuk hak pejalan kaki, gue akuin Singapura sangat amat menghargai. Mau satu orang atau lebih yang nyebrang, pengendara kendaraan bermotor itu sangat amat pasti menghentikan laju kendaraannya. Di Jakarta ini orang untuk tertib aturan dan saling menghargai di jalan ini kesadarannya bisa dibilang rata-rata. Oya, di Bali aja masih bisa menghargai pejalan kaki yang mau menyebrang. Traffic light pejalan kaki yang berfungsi benar-benar dihargai oleh pengendara kendaraan bermotor. Mereka akan memberikan kesempatan pejalan kaki melintar terlebih dulu.

Kira-kira kapan ya pengendara kendaraan bermotor di Jakarta raya ini bisa menghargai pejalan kaki. Terus ya kalo diperhatiin lagi, di setiap tangga jalan (eskalator) di stasiun MRT, LRT, pertokoan, mall-mall begitu kaki mulai menapak, orang-orang itu akan langsung mengambil sisi kiri. Nggak ada tuh naik eskalator misalnya berdua, dua-duannya langsung disisi kiri-kanan. Mau berdua atau berame-rame begitu naik eskalator akan langsung mengambil sisi kiri, karena sisi kanan diperuntukkan untuk orang-orang yang buru-buru atau yang ingin cepat-cepat. Sangat amat berbeda dengan Jakarta. Di Jakarta, begitu naik eskalator orang langsung memenuhi semua sisi tangga yang ada, seakan nggak peduli apakah nantinya akan ada orang yang terburu-buru atau nggak. Mereka hanya menganggap kalo ada yang mau buru-buru ya mereka bisa minggir. Kenapa hal-hal positif seperti itu nggak bisa di adaptasi di Jakarta ini? Kalo menurut gue semua balik lagi ke soal budaya. Di Jakarta budaya pengertian akan orang lain itu kurang. Betul di Singapura itu nggak semua-semuanya sempurna.

Ada hal-hal lain yang mereka di sana lebih individualistis di banding di Jakarta. Tapi, yang sangat gue suka penghargaan mereka terhadap pejalan kaki. Gue merasa sangat amat di hargai begitu mau menyebrang jalan di Singapura. Nggak perlu merasa was-was, buru-buru nyebrangnya. Coba deh pengendara kendaraan bermotor di Jakarta ini bisa meniru atau senggaknya mulai deh bangun kesadaraan untuk menghargai pejalan kaki, penyebrang jalan. Terus kalo naik eskalator itu coba deh mulai ambil sisi sebelah kiri. Mulai pelan-pelan dari diri sendiri. Seperti yang sering kali gue alamin waktu nyebrang jalan di depan Lulu Hypermart di Cakung, traffic light untuk pejalan kakinya memang nggak berfungsi baik tapi, waktu di tekan ketika kita mau nyebrang, traffic light untuk kendaraannya itu berfungsi. Di saat semua lampu udah merah, itu adalah waktu buat gue nyebrang dong tapi, apa yang terjadi? Semua kendaraan yang melintas itu nggak perduli sama lampu merah yang ada. Mereka terbiasa untuk nggak berhenti karena penyeberang yang melintas hanya seorang dan buat mereka itu nggak penting. Sementara gue, gue tetap melintas karena di saat itu adalah waktu buat gue nyebrang dan nggak ada aturan yang gue langgar. Kalo sampe gue kena tabrak lari, itu sangat amat jelas pengendara kendaraan lah yang salah. Lampu merah sudah nyala dan gue nyebrang di atas zebra cross. Apa lagi yang gue langgar? Gemes sama hal yang kayak gini? IYA! Gue sangat amat peduli sama penyebrang jalan. Buat sebagian orang mungkin ngerasa itu hal yang sepele, menghargai penyebrang jalan. Tapi, buat gue itu suatu hal yang sangat amat nggak sepele!

Tolong lah saling bangun pengertian menghargai pejalan kaki, penyebrang jalan. Kita pasti bisa seperti masyarakat di Singapura. Memang nggak seperti membalik telapak tangan mengharapkan kesadaran pengendara kendaraan bermotor. Tapi, paling nggak coba yuk. Berbuat baik itu bisa menular dan lama-lama bisa jadi budaya tanpa harus ada aturan tertulis untuk itu. Semoga ada lembaga yang bisa membantu mengkampanyekan kesadaran berkendara ini.

Salam Pejalan Kaki,


Tulisan Lainnya:

Tidak ada komentar: