dok. kaskus
Film baru garapan Hanung Bramantyo ini release tanggal 24 Mei 2018 dan begitu release gue langsung nonton. Film ini kalo menurut gue jalan ceritanya bagus, alurnya maju mundur tapi, masih bisa diikutin.

Cerita yang cukup sederhana menurut gue. Seorang penulis bernama Tiana yang sedang merehatkan dirinya ke Jogja. Mungkin sambil cari inspirasi untuk buku barunya. Di Jogja, Tiana tinggal di paviliun ya..seperti kos-kosan gitu lah. Sejak kedatangan Tiana tidak ada sesuatu yang aneh terjadi sampai malam di saat Tiana mau tidur terdengar suara yang sangat bising dari dalam rumah utama. Setelah keluar ruangan yang ditemuinya adalah asisten rumah tangga yang adalah seorang ibu-ibu. Ibu itu bilang, kalo itu suara bising itu berasal dari musik yang diputar oleh anak majikannya.

Keesokan paginya, Tiana mendapat undangan dari Harun yang tinggal di rumah utama itu sebagai permintaan maafnya karena sudah menyetel musik keras-keras. Tiana tidak mengetahui keterbatasan penglihatan yang Harun miliki sampai ketika Tiana memindahkan asbak yang ada di depan Harun dan saat itu juga Harun menjatuhkan abu rokoknya begitu saja.

Pertemuan demi pertemuan yang terjadi antara Harun dan Tiana tanpa disadari menimbulkan benih-benih cinta di antara keduanya. Bahkan Tiana membantu Harun untuk merasakan kembali dunia luar yang sudah lama tak dirasakan Harun sejak kecelakaan yang dialaminya merenggut penglihatannya. Dengan sabar Tiana menemani Harun.

Kedatangan Tiana ke Jogja ga semata hanya untuk merehatkan dirinya. Tiana mempunyai misi mencari ayahnya yang sejak lama meninggalkan dia dan ibunya. Ayah yang dulu membuat ibunya bunuh diri dan Tiana melihat segala bentuk kekerasan yang dilakukan ayahnya kepada ibunya. Melihat semua itu membuat Tiana akrab dengan kegelapan. Bersembunyi di dalam lemari, itu yang biasa dia lakukan kalau sudah mendengar pertengkaran antara ayah dan ibunya. Di sana Tiana mulai memiliki teman khayalan yang bernama Bona. Bona selalu ada di saat Tiana butuh teman curhat.

Setelah ibunya meninggal, Tiana tinggal di rumah panti asuhan yang di asuh oleh ibu Su'ud. Tiana mempunyai teman kecil bernama Arie yang setelah dewasa mereka bertemu di Jogja karena Arie sudah menemukan jejak keberadaan ayah Tiana. Setelah dewasa, Arie sudah menjadi dokter ahli mata. Sejak terjadi salah paham antara Tiana dan Harun, Tiana menjadi dekat dengan Arie yang juga menyukai dan mencintai Tiana. Bagi Tiana mengetahui keberadaan dan kondisi ayahnya sudah cukup dan tidak ada niatan Tiana untuk berbicara dengan ayahnya.

Arie pun melamar dan membawa Tiana ke Jerman karena Arie bertugas di sana. Selama jauh dari Harun, pikiran Tiana tidak bisa berhenti memikirkan Harun. Sampai suatu ketika Harun ke Jerman untuk mengobati matanya. Kebetulah dokter yang menangani Harun adalah Arie. Hubungan Arie dan Tiana berubah sejak Tiana tahu bahwa Harun ada di Jerman dan Tiana bertemu dengan Harun di rumah sakit tempatnya dirawat. Tiana yang tak ingin memilih akhirnya memutuskan untuk tidak memilih keduanya.

Operasi Harun berjalan dengan baik. Harun sudah mendapatkan penglihatannya kembali. Lalu Arie mulai menjelaskan pada Harun apa yang terjadi. Harun ga menyangka apa yang sudah dia dapatkan dari Tiana. Akhirnya buku novel terbaru Tiana terbit. Tiana menitipkan novel itu untuk Harun. Harun menghargai keputusan Tiana sampai satu waktu dia pergi menjumpai Tiana dan melakukan hal yang sama ketika Tiana mengetahui kebutaan Harun. Hancur hati Harun dan disitulah kekuatan cinta itu ditunjukkan. Pengorbanan Tiana untuk Harun yang dicintainya.

Nangis gue waktu nonton film ini. Gimana ga? kekuatan akting Reza Rahardian meranin tokoh Harun ini bisa bawa suasana berubah. Tadinya gue agak bingung dengan tokoh Bona. Tiana selalu ngobrol sama Bona yang sudah ada sejak Tiana masih kecil dan juga teman-teman yang datang merayakan ulang tahun Tiana di Jogja. Ada Bona dan beberapa orang lagi teman yang lain. Semua itu terungkap di bagian akhir film. Bona dan tiga orang teman yang lain itu adalah tokoh khayalan Tiana. Konflik yang terjadi antara Harun dan Tiana buat gue begitu nyata. Mudah jatuh cinta dengan orang yang memiliki kesamaan dan rasa nyaman yang timbul pasti bisa terjadi begitu saja. Twisted konflik yang Hanung bikin untuk film ini menurut gue keren. Sepanjang nonton film ini banyak yang ga nyangka aja. Memainkan emosi penonton itu jagonya Hanung. Ga perlu banyak artis yang terlibat. Cukup dengan keberadaan Reza, Ayushita, Dion Wiyoko dan Christine Hakim udah membuat film ini kuat dalam cerita dan penokohan.

Cinta, pengorbanan, dan berdamai dengan masa lalu, itu adalah pesan yang diangkat di film ini. 
Beberapa hari yang lalu gue dikejutkan sama group invite dari kelas waktu SMP. Ga nyangka aja setelah 25 tahun hilang kontak, sekarang nyambung lagi Jujur gue sih kagok. Soalnya selama SMP gue tuh ga gaul banget anaknya. Udah gitu pas selesai SMP gue bener-bener hilang kontak sama teman-teman yang lain. Banyak yang lanjut ke SMA Tarakanita dan SMEA Tarakanita juga. Tapi, begitu di SMEA atau SMA kami punya teman-teman baru. Kayak gue, punya geng baru di SMEA dan itu terjaga komunikasinya sampe sekarang.

Tapi, tetep ya begitu gabung lagi di grup kelas ataupun grup besar SMP angkatan gue, segala bentuk memori itu seperti tersedot lagi. Apalagi pas foto-foto jadul itu mulai disebar di grup, bener-bener menarik gue ke masa-masa itu. Mengingat lagi nama temen-temen dan juga kenangan-kenangan yang ada bersama mereka.

Orang bilang masa paling indah itu SMA. Buat gue, masa paling indah itu SMP. Gimana ga? SMEA gue sekelas cewek semua. Ga tau ya gimana temen-temen gue yang juga di SMA Tarq, itu lebih lagi ga ada cowok sama sekali. Kalo gue masih bisa lihat pemandangan cowok karena di kelas Manajemen sama Akuntansi masih ada cowoknya.

Jaman SMP itu jaman naksir-naksir cowok, apalagi saat itu yang namanya anak basket itu lagi ngetop-ngetopnya. Kelas 1, kelas 2 temen cowok yang gue kenal ga terlalu banyak. Kelas 3 adalah beberapa temen cowok yang jadinya berteman gegara era itu tuh lagi seneng-senengnya koleksi kartu basket. Gue jadi bisa tuker-tukeran sama mereka. Tapi, setelah itu sampai sekarang ga ada tuh yang gue inget siapa yang dulu pernah berteman dekat. Semua hilang begitu aja.

Temen SMP yang masih nyangkut sampe detik ini hanya satu dan itu cewek. Selebihnya udah ga ada komunikasi lagi. Makanya ada acara reuni bulan Juli nanti itu bikin gue agak galau antara datang atau ga. Kangen pingin ketemu temen-teman lama? Kangen sih. Tapi, gue ngerasa nantinya itu akan basi. Secara gue nggak pernah kumpul-kumpul dan obrolan juga pastinya ga nyambung lagi.

Kalo liat foto-foto yang di share di grup ataupun obrolan-obrolan mereka, rasa minder itu menyergap gue dan seketika bikin pikiran gue bilang ga usah dateng pas acara nanti Yang penting gue ikut partisipasi tiket itu semata karena gue ingin ikut ngebantu guru-guru gue. Kalo soal guru, sumpah wajah mereka begitu berubah, sama menuanya seperti gue dan parahnya memori gue ga bagus banget untuk nginget ini ibu siapa, bapak siapa, ngajar apa.

Selain grup SMP masih ada satu grup lagi, yaitu grup SD. Bayangin.. SD! Ini lebih parah lagi. Terlalu banyak memori yang berseliweran di otak gue, berusaha keras mengingat siapa mereka, apa yang dulu pernah terjadi di masa-masa 30 tahun yang lalu. Edan! di usia gue yang segini otak meminta untuk menarik kembali memori di masa itu. Amazing!

Satu hal yang gue sangat bangga, yaitu gue adalah alumni dari Tarakanita. Hampir seluruh masa sekolah gue itu dari TK sampai SMEA di satu almamater yang sama, ga pernah pindah ke lain hati. Udah gitu, sekolah gue ini di masa itu termasuk sekolah swasta Katolik ternama. Ga ada yang ga bangga bisa sekolah di Tarq. Apalagi seragam kotak-kotaknya, kalo udah pake itu tuh berasa paling keren hehehe... Dulu sekolah internasional ga sebanyak sekarang. Dulu setau gue yang populer itu JIS. Temen-temen sekolah gue juga beraneka ragam status sosialnya. Bahkan sampai sekarang banyak dari mereka yang begitu maju.

Fuuhh...yuk kumpulkan keberanian untuk ketemu sama temen-temen lama yang antara masih inget atau ga mereka sama gue :)
Siapa yang tidak kenal Singapura? Yup, negara kecil yang terletak tak jauh dari Indonesia ini memiliki pesona wisata yang luar biasa. Walaupun kecil, Singapura telah menjadi salah satu tujuan utama pariwisata di Asia Tenggara. Selain letaknya yang strategis, banyaknya atraksi wisata yang ditunjang dengan fasilitas umum yang baik menjadi alasan negara ini banyak dikunjungi pelancong dari berbagai daerah, bahkan dari seluruh dunia.
Singapura sendiri memiliki maskapai yakni Singapore Airlines yang melayani berbagai rute dari dan ke banyak negara, sehingga memudahkan wisatawan untuk mengunjungi negara ini. Singapore Airlines juga sering memberikan promo penerbangan sebagai pendukung pariwisata Singapura, yang mana sektor ini merupakan penyumbang utama pendapatan negara ini.
Bagi wisatawan Indonesia, Singapura bukan merupakan destinasi baru untuk liburan. Karena letaknya yang berdekatan, banyak warga Indonesia yang memilih berlibur ke Singapura. Namun, kita sebagai warga negara dengan mayoritas Muslim, tentu khawatir kesulitan menemukan makanan halal di Singapura. Terlebih warga Singapura rata-rata menganut agama Budha dan Kristen yang memiliki kebiasaan makan berbeda dengan umat Islam.
Eits, kamu tidak perlu bingung. Ternyata banyak resto di Singapura yang menawarkan makanan halal untuk wisatawan Muslim. Walaupun menonjolkan kehalalan makanan mereka, namun rasa dari hidangan yang mereka sajikan juga tidak kalah menggoda. Beberapa resto halal di Singapura ini bisa jadi referensimu saat berlibur ke sana.
Hajjah Maimunah Restaurant

sumber: sportourism
Resto yang terletak di Jalan Pisang ini menyajikan menu halal dengan konsep prasmanan. Jadi kalau kamu doyan makan, tempat ini cocok untuk kamu. Pilihan lauk yang beragam dengan cita rasa khas Melayu akan memuaskan lidahmu. Menu andalannya adalah berbagai olahan ikan dan ayam. Apalagi jika kamu sedang kangen Indonesia, tempat makan ini juga menyediakan beberapa menu khas Sunda yang bisa mengobati kangenmu.
Bodoque Café

sumber: hungrygowhere
Mau mencoba menu halal ala western? Coba saja kunjungi Bodoque Café di Thomson Road. Café ini menyajikan banyak menu western seperti baby lobster dan burger yang terjamin kehalalannya. Di sini semua makanan disajikan dengan cantik, sehingga tidak hanya memanjakan lidahmu, namun juga matamu.
Islamic Restaurant

sumber: islamic.sg
Dari namanya saja kita sudah bisa yakin bahwa menu yang disajikan resto ini pasti halal. Resto ini sudah berdiri selama kurang lebih 95 tahun dan pemiliknya merupakan mantan koki keluarga Alsagoff yang kaya raya. Jadi tidak heran, jika kamu akan disuguhi menu-menu ala raja. Jika mengunjungi resto ini, jangan lewatkan mencicipi nasi biryani-nya yang terkenal akan kelezatannya.
Aquamarine

sumber: youtube
Ingin mencicipi hidangan seafood yang halal? Di sinilah tempatnya. Resto yang terletak di Marina Mandarin Hotel ini menyajikan beragam menu seafood dengan gaya Asia dan Western. Dengan mengusung gaya open kitchen kita bisa menikmati hidangan serta atraksi dari para koki handal di dapur mereka.
Butter Studio

sumber: pinterest
Butter Studio menyediakan kue-kue serta hidangan pencuci mulut yang terjamin kehalalannya. Di sini kamu bisa menikmati aneka kue bertingkat dengan berbagai topping buah-buahan, taburan milo, salted caramel hingga red velvet. Ice cream dan beragam cup cake juga disajikan di café ini. Tidak hanya yang manis, mereka juga menawarkan menu seperti sosis, egg benedicts, atau roti panggang dengan daging kalkun. Di akhir pekan mereka biasa membuka cafe hingga tengah malam.
MakanSutra

sumber: crispoflife
Ingin mencicipi jajanan kaki lima Singapura? Kamu bisa mengunjungi MakanSutra di Glutton Bay. Beberapa gerai di MakanSutra menyajikan menu halal ala street food Singapura, seperti Thai Yummy Food, Alhambra Padang Satay, atau Sweet Spot yang menyediakan menu pencuci mulut. Walaupun jumlah gerai di MakanSutra relatif sedikit, namun makanan yang disajikan menarik dan lezat.
Sebenarnya tidak sulit menemukan makanan halal di Singapura. Jika kamu menemukan logo halal dari MUIS (Majlis Ugama Islam Singapura) di sebuah restauran, sudah bisa dipastikan tempat makan tersebut menyajikan menu halal.
Nah, tunggu apalagi? Kamu bisa berlibur dengan nyaman menggunakan Singapore Airlines dan mecicipi sensasi kuliner halal di Singapura. Selamat berlibur!
Pertama kali nyampe Kuala Lumpur, gue masih ter-amaze. Ga nyangka nyampe juga gue ke Malaysia. Thanks to my sohib yang udah nge-wujudin semua ini. Waktu nyampe mau keluar imigrasinya masya ampyuunn...antriannya panjaangg bener. Gue rasa karena hari itu adalah hari Sabtu makanya rame. Keluar dari bandara, kami cari bis menuju KL Sentral. Sampai KL Sentral sohib gue haus. Jadi deh kami nyari minuman dingin sambil mesen grab car menuju hotel.

Sampe hotel, busett banyak bener orang-orang kulit item. Udah gitu dapet kamar di lantai paling atas (lantai 6). Pas buka kamar, nyalain AC dan sampe berapa lama tuh AC ga dingin-dingin. Itulah penyebabnya sohib gue lebih milih nyari hotel lagi. Dan emang iya sih, setelah dapat hotel yang baru baru berasa kalo hotel yang lama itu posisinya dalam gang dan lumayan jauh. Sementara hotel gue yang baru posisinya di pinggir jalan dan berseberangan sama gedung bank CIMB. Asik kaann :)

Terus ya udah gitu di sebelah-sebelah hotel gue yang baru banyak rumah makan timur tengah, india terus juga banyak toko-toko farmasi. Udah gitu kalo di Jakarta toko 711 itu udah tutup semua, sementara di sana toko 711 itu ampar-amparan kayak indomaret atau alfamart di Jakarta. Pokoknya di sekitaran hotel gue itu banyak deh mini mart-mini mart. Oiya, Mini So kalo di Jakarta itu kan macam toko eksklusif gitu kan ya, karena adanya di mall-mall gede tapi, di daerah hotel gue, bukit bintang itu toko ampar-amparan malah ada juga Mini Good, terus apalagi lah yang sejenis itu.

Gue sama sohib gue itu suka juga belanja obat-obatan jadi, kalo liat toko farmasi pasti mampir. Ga tau ya buat kami toko farmasi itu punya daya tarik tersendiri hahaha... kami lihat obat-obatan yang di Jakarta ga ada. Panadol itu kalo di Jakarta kan cuman ada varian obat sakit kepala, flu dan batuk. Kalo di Malaysia panadol itu punya varian untuk jenis sakit yang berbeda-beda. Terus ada koyo yang bermacam-macam. Pokoknya seneng aja liat obat-obatan :))

Tapi ya kalo malem banyak perempuan-perempuan yang nawarin diri gitu, apalagi malem minggu dan malam senin. Cowok-cowok arab yang putih-putih, hidung mancung, body keren, beeuuhh bertebaran di mana-mana bikin sohib gue nyebut mulu hahahaha... 

Ngomongin soal fast food, hari pertama dateng, kami makan KFC. Beli yang paket nasi dong, bayangan gue nasinya sama kayak yang di jakarta. Nasi putih biasa, tak tahunya di Malaysia nasinya nasi hainam gitu. A bit weird, but okelah. Terus starbucks-nya, kalo di Jakarta selain cakes dan roti-rotian, yang dijual paling cuman cheese puff, cookies, tapi di sini ada jual keripik singkong, mixed nuts, mixed nuts sama fruits gitu. Sama rerotiannya juga jenis nya beda sama yang di jual di Jakarta. Mc D-nya kami cuman coba breakfast nya aja yang harga satu paketnya 6RM (makan dan minum) udah gitu ya minumannya ada teh tarik lagi, di Jakarta mah ga ada. 

Gue belum nyobain chinese food nih. Gue cuman bisa ngomong doang ngajakin temen gue makan di china town, jalan alor belakang hotel, soalnya dia muslim pasti ga bakalan mau makan di daerah begitu pasti ga halal. Gue mau makan sendiri, ga enak juga. Nasi lemak yang orang-orang dagang buat sarapan aja gue belum nyobain. Gue sama sohib ini kan suka mijit/reflexi jadi, hari kedua itu kaki rasanya kenceng bener. Akhirnya nyobain dah reflexi. Kalo kata gue mah mahal ye. 30 menit 30RM plus punggung 15menit nambah 20RM (itung sendiri ya kalo di rupiahin berapa hehehe). Hari ketiga kami reflexi lagi dan kali ini lebih mahal lagi. 45menit 45RM plus punggung 15menit jadi totalnya 65RM. 

Oiya, gue udah jalan-jalan ke plaza Low Yat, ternyata itu plaza ya kayak model mangdu square yang isinya elektronik sama hape. Belum nih gue jelong-jelong ke Berjaya Time Square. Tapi, waktu ngelewatin naik Hop On tuh mall keliatan sama aja kayak mall-mall yang lain cuman, pingin liat isinya ada apa aja yak, kejangkau atau ga tuh harga-harganya. Gedung nya lumayan unik sih, kayak gedung perkantoran gitu, kayak moel gajah mada plaza gitu. Kalo ke Malaysia itu buat gue duit bakal abisnya buat jajan bukan belanjan yang sesungguhnya, karena gue orangnya suka nyicip.

Soal moda transportasi, di Malaysia ini banyak mobil, bis, taxi dan kereta. Bis juga ada yang berbayar dan yang gratis. Tapi, gue hampir jarang liat motor berkeliaran, apalagi ojek online. Kebanyakan mobil online. Soal kenyamanan transportasi umum, menurut gue nyaman. Rata-rata semua ada AC nya. Oiya, angkot yang mobil-mobil kecil gitu ga ada seliat gue juga. Udah gitu soal klakson meng-klakson di Malaysia ini tidak sering terdengar seperti di Jakarta. Kalo mobil pribadi rasannya jarang kedengeran ngebunyiin klakson. Yang gue denger ngebunyiin klakson cuman taxi, bis. 

Eniwei, gue sama sohib masih ada keinginan untuk balik lagi ke Malaysia. Mau mampir ke tempat yang belum sempat kami kunjungin. Pasar Seni, Dataran Merdeka :) Tadinya pingin ke Aquria (macam sea world gitu) berhubung harga tiketnya mahal, paling kami akan beli tiket online dari macam groupon gitu. Oiya satu lagi, kalo mau ngitung harga penginapan jangan lupa ditambah 10RM ya per malamnya. Itu tambahan untuk orang asing, tax gitu lah. 

Hmm...segini dulu lah ceritanya. Terima kasih ya sudah menyimak :))
Yaahh...ga terasa hari terakhir. Udah waktunya pulang. Rasanya maless banget pulang. Maunya tetep di sini, jalan-jalan. Tapi, inget financial dan kudu nyari duit lagi, ga ada pilihan dan kami harus pulang. Gue langsung keinget sama Triniti. Enaknya jadi dia. Hidup hanya untuk jalan-jalan dan nulis yang hasilnya bisa dipake untuk ngatur next tripnya ke mana.

Malam sebelumnya kami udah sibuk packing. Pagi ini begitu keluar hotel, ujan. Fuuhh...ngeselin nyebelin. Tapi, kami memang ga jalan jauh-jauh sih. Sekitaran Sungei Wang aja. Nyari tambahan coklat, jalan-jalan bentar terus balik hotel lagi, nngelanjutin packing terakhir. Jam 12 kami keluar hotel menuju KL Sentral. Kami pesan grab car menuju KL Sentral dan ada hal yang nyebelin di siang itu. Udah gerimis, koper-koper udah lumayan berat, driver-nya yang cowok itu ga mau dong berbaik hati untuk batuk kami cewek-cewek ini untuk angkat koper-koper ke dalam mobil. Sampai KL Sentral juga begitu. Kami ini adalah cewek-cewek tangguh yang menurunkan koper-koper sendiri.

Kami menuju bandara dengan menggunakan bis seperti ketika kami datang. Pesawat kami mengalami perubahan. Awalnya dari KL jam 2 siang, sekarang berubah jadi jam 5.30 sore. Sampai bandara sekitar jam tiga-an kalo ga salah. Setelah check-in, kami makan dulu abis itu nunggu boarding. Saking lamanya nunggu boarding kami juga bosan. Membunuh kebosanan itu kami, mijit di kursi dengan membayar 5RM untuk 10 menit. Lumayan. Abis itu kami lihat ada kereta dorong untuk koper, gue minta sohib gue duduk di atasnya terus gue dorong. Jadilah kami main kereta-keretaan hahaha.. 

Tiba waktunya boarding. Bye bye Kuala Lumpur.. Sampe ketemu lagiii.. (udah planning mau ke sini lagi) :D
Hari ketiga. Akhirnya kami memutuskan untuk mencoba KL Hop On Hop Off, yaitu bis city tour yang membawa penumpangnya berkeliling KL dengan membayar 55RM. Tiket berlaku 24 jam. Kami naik sekitar jam 9.30 pagi dan berlaku sampai jam 12 siang keesokan harinya. Enak bukaan?? Ga berapa lama bis Hop On itu datang. Tadinya kami mau naik yang atapnya separuh terbuka, tapi karena panasnya cuaca kami naik yang bis yang tertutup di lantai atas. Bis sepi. Penumpangnya tidak terlalu banyak.

Oiya, KL Hop On Hop Off ini adalah the original double decker tour of Kuala Lumpur dengan motonya one ticket to see it all. Jenis tiket yang dijual 24 dan 48 jam. Cuman gue lupa tanya kalo harga tiket yang 48 jam berapa :D Jam operasional bis ini jam 9 pagi sampai jam 8 malam. Jam terakhir untuk berada di tiap station-nya jam 7 malam. Bis ini melewati 23 titik perhentian. Start awal di jalan Ampang, Malaysia Tourist Information Center (MaTIC) dan berakhir di KLCC (Kuala Lumpur City Center-Petronas Twin Tower). Senangnya bisa berkeliling KL tanpa capek :) Udah gitu dilengkapi dengan keterangan dalam bahasa Inggris di setiap mendekati titik-titik perhentian. Kita bisa berhenti di titik-titik yang kita mau dan nantinya bisa naik Hop On lagi di titik tersebut, free.

Bis Hop On ini berhenti di Istana Negara (National Palace) sekitar 5-10 menit. Bagi yang mau mengambil foto istana bisa tapi, hanya dari luar pagar saja :) tapi, kita ga turun dari bis saking panasnya cuaca. Tapi, emang luas banget tuh area istana dan ini adalalah area baru. Jam terakhir kunjungan ke halaman luar istana itu adalah jam 4.30 sore. Next kunjungan ke KL (kalo ada waktu dan dana) gue mau start naik bis Hop On ini dari titik pertama. Soalnya pertama naik ini gue naik udah di titik 6 (Sungei Wang). Jadi, gue ga bisa liat KL Tower, Aquaria.


Pas sampai dititik terahir (KLCC) ini lah saat kami memutuskan untuk belanja oleh-oleh. Kami beli coklat, minuman kopi, sampai makan siang yang siap saji di supermarket yang ada di mall tersebut. Sebelum kembali ke hotel, kami foto-foto dulu dengan berlatar menara kembar Petronas.

Seperti biasa, sampai hotel kami taro barang, istirahat bentar terus melangkah lagi. kali ini kami mau ngunjungin mall Pavilion, Bukit Bintang. Sebelumnya kami mampir ke mall Farenheit dan baru tahu kalo dari mall Farenheit itu ada jalan tembus menuju mall Pavilion. Keren juga. Jadi, kami ga keujanan dan ga kepanasan. Begitu sampai di Pavilion, kami langsung berasa aura mall itu ga cocok sama kami. Isinya butik-butik bermerek yang udah pasti harganya wow.. Kami memututskan untuk kembali ke mall yang lebih beradab hahaha..

Makan malam kami hari ini adalah nasi kabsah lamb (makanan timur tengah) pertama yang kami coba yaitu daging lamb-nya dan begitu di potong dengan sendok, dagingnya lembut dan empuk. Hmm...yummy...taste dari nasinya itu mirip-mirip nasi biryani gitu, berasa rempah-rempahnya. ditambah 5 tusuk sate ayam dan 2 big chicken wing (sori ya, untuk makanan-makanan ini kami ga ada fotonya karena sibuk makan hahaha..)

Inilah cerita di hari ketiga kami :D
Hari kedua. Diawali dengan berencana mencoba moda transportasi yang ada di Malaysia, gue barengan sohib menuju stasiun MRT Bukit Bintang. Gue lupa start-nya jam berapa cuman pas sampe di stasiun MRT nya, kami nyoba cara pake mesin tiket yang ada di situ. Tujuan kami ke KL Sentral, harga tiketnya per orang 1,8RM. Uang kami masukkan, kami kira sama seperti mesin kartu commuter yang ada di Jakarta, tiket yang keluar dalam bentuk kartu. Di Malaysia ternyata dalam bentuk koin plastik. Kami memperhatikan orang lain yang membeli tiket juga, ternyata memang dalam bentuk koin. 

Yang bikin gue bingung, koin plastik itu apa iya bisa dipake buat nge-tap? Harusnya gue ga usah mikiri pertanyaan itu ya. Toh emang udah di desain seperti itu hehehe.. Setelah nge-tap koin gue simpen di kantong karena, pasti pas mau keluar stasiunnya dipake lagi. Sampe di KL Sentral, kami mencoba mencari moda transport yang lain. Karena selain MRT, Malaysia punya LRT, komuter, dan bus. Kami bingung cara pakai mesin tiket yang ada. Karena di satu mesin itu bisa dipakai untuk membeli tiket MRT, LRT, komuter. Lalu kami keluar KL Sentral. Kami liat ada bis tingkat yang atapnya kebuka gitu. Kami gugling soal bis city tour dan itulah penampakan bis-nya. Tapi, bis itu berbayar. Kami coba cari info soal bis yang lain. Dapatlah kami tau soal bis gratis yang disebut GoKL. Bis itu benar-benar gratis dan jalur lintasannya bisa di bilang semua jalan di daerah KL.

Kami pun memutuskan mencoba naik GoKL dengan tujuan Muzium Negara. Kami berpikiran bis GoKL itu akan berhenti di setiap haltenya meskipun tak ada orang yang naik atau turun. Rupanya pikiran kami salah. Kami hanya bisa bengong saat bis itu melaju terus melewati Muzium Negara. Kamipun memutuskan berhenti di halte berikutnya yang tidak tau pasti apa nama haltenya.

Kami menyusuri jalan yang mengarah ke satu komplek tujuan wisata, karena di kawasan itu ada planetarium, masjid Negara, Muzium police, Muzium Islam, KL bird park, dan lain-lain. Kami memutuskan memilih planetarium. Masuk planetarium, kami menuju ruang teater yang sekiranya mau muter film berikutnya. Setelah membayar 12RM per orang, kamipun menonton filmnya. Gue sendiri lupa gimana tampilan dalam dan luas planetarium Jakarta. Kalo yang di Malaysia ini menurut gue luas juga dengan teater dan ruang pamerannya. Dari planetarium rencananya kami mau ke Muzium Islam Dan kebudayaan tapi, per orang bayar 14RM. Kami memutuskan menundanya.

Dari sana kami berniat menuju Dataran Merdeka memakai bis GoKL lagi. Berhubung selesai keliling-keliling jam 12 siang, kami mencoba mencari kedai makan. Kamipun menyusuri jalan di belakang halte bis dan kami menemukan kantin yang menjual nasi goreng, mee goreng, dan lain-lain. Kami pesan nasi goreng kampung kosong (telur saja) dan es teh manis. Setelah pesanan kami tiba, nasi gorengnya ga kosong-kosong amat. Ada sayur, teri dan telur. Udah gitu rasanya endes bingit. Nasgor kampung kosong 5RM, es teh manis 3RM. 16RM berdua dan kenyang. Puji Tuhan..

Selesai makan, kami melanjutkan pencarian Dataran Merdeka yang ada tulisan I ❤ KL. Perjalanan dengan GoKL ini kami akhiri di plaza Mara. Dengan mencari bantuan om gugel, kami menyusuri jalan sesuai arahan si om. Tapi, perjalaannya panjang gila dan kaki rasanya mau copot. Alhirnya kami putuskan ke KLCC aja. Dari mesjid Jamek, kami naik kereta. Beli tiket, dan tanpa tanya-tanya lagi langsung aja naik kereta yang datang. Setelah dilihat ternyata salah naik jurusan. Kami turun di Hang Tuah. Dari situ baru tanya ke petugas kalo mau ke KLCC arah ke mana. Kami di minta balik lagi ke mesjid Jamek, dari situ tukar kereta yang turun ke bawah. Oemjiii... Ternyata begitu caranya. Harga tiket dari mesjid Jamek-KLCC itu sekitar 2RM per orang.

KLCC itu menurut gue mirip-mirip Grand Indonesia gitu. KLCC itu melekat dengan menara kembar Petronas rupanya. Begitu luat menara itu gue feel amaze. Ga nyangka gue di Malaysia, liat langsung yang selama ini gue cuman liat gambar-gambarnya aja. Dari KLCC kami nge-grab sampe hotel. Tadinya mau naik GoKL lagi tapi, ga narik. Sampe hotel, istirahat bentar terus lanjut lagi.

Sohib gue belanja baju, sepatu, gue juga ikutan beli sepatu, pokoknya hari kedua ini belanja! Udah ya, rehat dulu esok sambung jembali.
Hoorraayyy... Nyampe juga di Kuala Lumpur, ciinnn... Itulah destinasi liburan gue berdua sohib yang sangat kental (susu kental manis kalah kentalnya hahaha..). Kami mendarat jam 1-an waktu setempat. Proses antri imigrasinya oemjiii ada kali sampe satu jam. Di bandara gue langsung beli nomor lokal. Dengan harga 25 RM gue punya akses jaringan internet 1,8 GB selama seminggu.

Keluar imigrasi langsung cari bis ke KL Sentral. Tarif bis-nya 12RM per orang. Sampe KL Sentral, kami beli minuman dingin dulu. Abis itu pesan grab ke hotel. Sampai hotel, kami menemukan hal yang tak sesuai ekspektasi, AC tak dingin. Jadilah sohib gue memutuskan kami pindah. Setelah menyusuri sepanjang jalan di daerah bukit bintang, akhirnya kami menemukan hotel yang lumayanlah kecilnya hahaha tapi, AC very good. Semua hotel di Malaysia mengenakan tax untuk orang asing sebesar 10 RM per malam.

Setelah menemukan tempat yang nyaman, kamipun jalan-jalan ke Plaza Sungei Wang. Kalo lihat isi dalamnya ya...macam gajah mada plaza gitu (menurut gue). Kita ke supermarket, beli persiapan buat sarapan, dan lain-lain. Soal harga barang-barang yang kami beli apabila dirupiahkan, hampir sama dengan Jakarta tapiiii... adalah produk-produk yang di Jakarta ga ada dan itu yang bikin gue pingin kalap beli. Untung aja gue diingetin sama kondisi keuangan yang sedang dalam masa penantian 'pay day' 😀😀

Oiya, sebelum ke Sungei Wang kami melintas daerah China Town gitu dan guess what?? Gue ngiler bingitss... Gimana ga ngiler coba. Resto Chinese food, street food vertebaran. Sohib gue ngingetin, "besok aja!" Hahahaha. Jadilah gue menahan diri. Banyak juga rumah-rumah massage. Tapi, menurut gue harganya mahal. Masak 30 menit, 30 RM. Di Jakarta harga segitu bisa 1,5 jam. Pegel banget sih kaki tapi, kalo mesti ngeluarin segitu juga sih ga worth it.

Kami makan malam di KFC setempat. Di sini rasa ayamnya menurut gue enak tapi, nasinya yang beda. Gue pikir sama nasi putih juga kek di Jakarta, tak taunya nasi hainam dan masih plus coslow gitu. Yang bikin gue takjub lagi ya, di Jakarta yang namanya gerai Mini So itu macam gerai yang eksklusif. Di daerah bukit bintang ini ya, itu tuh bertebaran macam minimarket gitu. Ada lagi Mini Good dan gerai-gerai sejenisnya yang barang yang dijualpun serupa-serupa. Btw, pas gue liat SMB IG, di sana baru buka gerai Mini Good hihihi...

Yang bikin gue seneng lagi, mini market di sini isinya menurut gue unik karena menjual produk yang di Jakarta ga ada dan itu menarik minat ingin membeli. Terus gerai 711 masih ada dan bertebaran di mana-mana. Yang lucunya lagi, gue sama sohib itu sama-sama seneng ke toko farmasi. Liat obat-obat yang di Jakarta ga jual. Kita beli loh obat untuk ngilangin pegel-pegel.

Sebelum tidur, bersih-bersih dan tak lupa minum obat. Nantikan cerita selanjutnya ☺☺
Jalan-jalan. Finally, akhirnya gue liburan juga. Apalagi liburan kali ini adalah perwujudan jalan-jalan yang tertunda di tahun 2016. Seneng? Ya iyalah pastinya. Setelah beberapa bulan terakhir ini kepala gue panas, asam lambung naik gegara hectic nya kerjaan. Pinginlah gue relaksasi. Ngilangin kepenatan. Pinginnya liburan terussss...

Gue berdua sama sohib atau kayaknya kemvaran gue entah di kehidupan yang sebelum-sebelumnya. Setelah bertahun-tahun akhirnya kita bisa liburan bareng. Karena rumah kita sebelahan persis, jadi malam sebelumnya gue nginep di rumahnya dengan tujuan supaya gue ga kesiangan hahaha.. 

Jam setengah enam kita berangkat dengan diantar ortu sohib gue. Sampai bandara pas jam setengah tujuh sesuai perhitungan bokap sohib. Baru kali ini gue nginjek kaki di terminal tiga yang bagus, bersih, banyak resto juga. Sarapan di raja burger. Jam boarding masih jam 9.30 pagi. Jadi, srkarang masih leyeh-leyeh di gate sesuai maskapainya.

Yang kudu di waspadai kalo bepergian sama si sohib, yaitu.. toilet! Perjalanan menuju gate 5 itu perjalanan yang panjang. Terus tetiba dia bilang, "kak, mau ke toilet nih." What the?? Bagusnya di depan arah kami jalan ada tulisan T O I L E T. Legaa.. gue bilang, kalo sampe balik arah lagi nih pe er banget. Sekarang kami lagi duduk-duduk menunggu boarding.

Nantikan cerita selanjutnya di tempat tujuan. Bye...bye... ☺☺
Di penghujung 2017, di bulan Desember kemarin gue nonton film Ayat-Ayat Cinta 2. Waktu Ayat-Ayat Cinta 1 gue hanya nonton di tivi. Di AAC 1, dikenalkan tokoh Fahri, Mariah dan Aisha di mana Fahri yang di jodohkan dengan Aisha, menikah dan akhirnya menikahi Maria juga yang begitu mencintai Fahri bahkan sampai rela menjadi mualaf. Tapi, pada akhirnya karena penyakit yang di derita Mariah, Mariahpun meninggal dan Fahri tetap bersama Aisha. Sosok Fahri yang pintar, ganteng, baik, pengertian, lembut, memang bisa membuat perempuan klepek-klepek :D

Sempet bingung gue waktu liat trailer film AAC 2. Begitu bertebaran wanita-wanita cantik dan Fahri yang terlihat lebih dewasa karena, sudah menjadi seorang dosen yang mengajar di salah satu universitas di Edinburgh, UK. Di awal cerita tak nampak sosok Aisha. Rupanya Aisha menjadi salah satu sukarelawan ke Palestina dan dalam waktu yang cukup lama tak terdengar lagi kabar beritanya sampai Fahri memutuskan untuk menerima perjodohannya dengan Hulya, sepupu Aisha.  

Kembali ke sosok Fahri yang begitu terlihat sempurna dengan ketaatan beragama-nya, santun, baik, pintar, pengertian, perhatian, lembut, membuat banyak perempuan jatuh hati padanya dan dikagumi banyak orang. Gue juga sempet bertanya, apa ada ya sosok Fahri nyata di keseharian? Rasa-rasanya hanya di film aja hehehe... kang Abik begitu sempurna melahirkan sosok Fahri :) Apakah Fahri bisa kembali bertemu dengan Aisha?

Di UK ini Fahri mengalami diskriminasi soal teroris karena adanya kasus bom di London yang membuat semua orang hilang percaya dengan kaum muslim yang ada di sana. Tapi, bukan Fahri namanya kalau tidak bisa menunjukkan kebenaran dan memberitahukan bahwa tidak semua muslim itu adalah teroris.

Pemeran-pemeran di AAC 2 ini aktingnya ga di ragukan lagi. Ga hanya serius, ada sisi lucunya juga karena ada Arie Untung dan Panji Pragiwaksono. Hanya saja yang bikin gue kecewa pemeran Aisha-nya berubah. Di AAC 1 Aisha diperankan oleh Rianti Cartwright, di AAC 2 diperankan oleh Dewi Sandra. Harusnya bisa konsisten pemainnya :) bukannya akting Dewi Sandra ga bagus, hanya aneh aja berubah orang. 

Lagi-lagi AAC ini mengangkat soal poligami tapi, pada akhirnya cinta sejati lah yang menang. Ketabahan dan keikhlasan Aisha dimadu itu ga dimiliki semua perempuan loh. Perempuan mana yang mau di madu? Melihat suami sendiri berbagi hati dan kasih sama perempuan lain apalagi tinggal satu atap butuh kesiapan mental yang amat sangat. Gue kalo punya suami kayak Fahri ga bakalan gue kasih kerja. Mendingan gue yang kerja, dia yang di rumah. Dari pada dilirik banyak cewek-cewek cantik hahaha..

Well..kalo yang mau liat kegantengan Fedi Nuril, nonton deh. Setelah punya anak, aura kebapakannya keluar dan malah bikin Fedi tambah keren :D #gagalfokus
Wow... Udah 2018 aja ya. Time flies so fast. What can I remember of 2017? Yang pasti gue ngelewatin 2017 tanpa sosok super dad yang selalu ada buat gue. Banyak pelajaran yang bisa bikin gue semakin mawas diri untuk melangkah di 2018. 

There's always right that you can divide between friends and best friends. Getting older we are, needs to be more selective to get friends. Cannot trust everyone easily. Bukan berarti gue ga suka diperhatiin temen tapi, kalo malah bikin suasana jadi awkward, ngapain juga? Friends, good friends tetep aja beda sama best friends. Friends or good friends not really knows me as best friends. Gue ga ngerasa punya kewajiban untuk ngasih tau semua tentang urusan gue ke temen-temen. I know which one I can share, which one I don't want to share dan ga seharusnya temen itu bete atau kesel sama sikap gue. I'm easy going person but, I can be a hard person as well.

I have around five best friends and it's enough for me than have many many friends. Silent is golden, it's true.. 2017 mungkin gue terlalu banyak sharing sama temen-temen, 2018 I need to be more control what I need to share. Well.. enough talking about friendship.

Satu hal menarik yang gue alamin di 2017 yaitu, pergantian pimpinan di tempat gue kerja. Truly, I'm so worried when I know my superior will be change. I have to adapt with the new superior. And of course I will face the transition time. Tapi, setelah setengah tahun gue ngejalaninnya, masa-masa sulit itu terlewati juga sambil tetap terus penyesuaian dengan atasan yang baru. Banyak hal yang harus gue pelajari dari beliau. Kebiasaan-kebiasaan baru yang sebelumnya belum pernah gue alamin. Harus di bawa enjoy.

Di 2018 ini, gue tetep harus terus belajar, harus bisa lebih menguasai diri. Seperti notes yang gue baca:

Dear Self,

In 2018, don't get worked up over things you can't change and people you can't change.
It's not worth the anger, build up or the headache.
Control only what you can.
Everything else...let go!

Love,
Me..

Itu bener. Do the best I can do. Ga boleh terlalu baper. Segala hal itu ga boleh di baperin. Useless, cuman nambah-nambahin beban pikiran. Harus lebih banyak bersyukur. Lebih menyerahkan semuanya sama Tuhan. Harus makin deket lagi, lebih banyak ngobrol sama Tuhan.

Avoid negative people, for they are the greatest destroyers of self-confidence and self-esteem.
Surround yourself with people who bring out the best in you..

Di lingkungan kerja gue justru lebih banyak orang-orang yang negatif di banding yang positif. Banyak yang komplen dan gue harus bisa tetap berada di jalur yang Tuhan mau, yaitu selalu bersyukur. Apapun keadaan di sekitar lingkungan kerja gue, ga boleh terpengaruh. Gue hanya memandang pada atasan-atasan gue sebagai wakilnya Tuhan.

Yang pasti apa yang udah terjadi di 2017 biar jadi kenangan, pelajaran. 2018 akan menjadi tahun yang penuh berkat dan gue semakin dekat Tuhan.