dok. kaskus
Film baru garapan Hanung Bramantyo ini release tanggal 24 Mei 2018 dan begitu release gue langsung nonton. Film ini kalo menurut gue jalan ceritanya bagus, alurnya maju mundur tapi, masih bisa diikutin.

Cerita yang cukup sederhana menurut gue. Seorang penulis bernama Tiana yang sedang merehatkan dirinya ke Jogja. Mungkin sambil cari inspirasi untuk buku barunya. Di Jogja, Tiana tinggal di paviliun ya..seperti kos-kosan gitu lah. Sejak kedatangan Tiana tidak ada sesuatu yang aneh terjadi sampai malam di saat Tiana mau tidur terdengar suara yang sangat bising dari dalam rumah utama. Setelah keluar ruangan yang ditemuinya adalah asisten rumah tangga yang adalah seorang ibu-ibu. Ibu itu bilang, kalo itu suara bising itu berasal dari musik yang diputar oleh anak majikannya.

Keesokan paginya, Tiana mendapat undangan dari Harun yang tinggal di rumah utama itu sebagai permintaan maafnya karena sudah menyetel musik keras-keras. Tiana tidak mengetahui keterbatasan penglihatan yang Harun miliki sampai ketika Tiana memindahkan asbak yang ada di depan Harun dan saat itu juga Harun menjatuhkan abu rokoknya begitu saja.

Pertemuan demi pertemuan yang terjadi antara Harun dan Tiana tanpa disadari menimbulkan benih-benih cinta di antara keduanya. Bahkan Tiana membantu Harun untuk merasakan kembali dunia luar yang sudah lama tak dirasakan Harun sejak kecelakaan yang dialaminya merenggut penglihatannya. Dengan sabar Tiana menemani Harun.

Kedatangan Tiana ke Jogja ga semata hanya untuk merehatkan dirinya. Tiana mempunyai misi mencari ayahnya yang sejak lama meninggalkan dia dan ibunya. Ayah yang dulu membuat ibunya bunuh diri dan Tiana melihat segala bentuk kekerasan yang dilakukan ayahnya kepada ibunya. Melihat semua itu membuat Tiana akrab dengan kegelapan. Bersembunyi di dalam lemari, itu yang biasa dia lakukan kalau sudah mendengar pertengkaran antara ayah dan ibunya. Di sana Tiana mulai memiliki teman khayalan yang bernama Bona. Bona selalu ada di saat Tiana butuh teman curhat.

Setelah ibunya meninggal, Tiana tinggal di rumah panti asuhan yang di asuh oleh ibu Su'ud. Tiana mempunyai teman kecil bernama Arie yang setelah dewasa mereka bertemu di Jogja karena Arie sudah menemukan jejak keberadaan ayah Tiana. Setelah dewasa, Arie sudah menjadi dokter ahli mata. Sejak terjadi salah paham antara Tiana dan Harun, Tiana menjadi dekat dengan Arie yang juga menyukai dan mencintai Tiana. Bagi Tiana mengetahui keberadaan dan kondisi ayahnya sudah cukup dan tidak ada niatan Tiana untuk berbicara dengan ayahnya.

Arie pun melamar dan membawa Tiana ke Jerman karena Arie bertugas di sana. Selama jauh dari Harun, pikiran Tiana tidak bisa berhenti memikirkan Harun. Sampai suatu ketika Harun ke Jerman untuk mengobati matanya. Kebetulah dokter yang menangani Harun adalah Arie. Hubungan Arie dan Tiana berubah sejak Tiana tahu bahwa Harun ada di Jerman dan Tiana bertemu dengan Harun di rumah sakit tempatnya dirawat. Tiana yang tak ingin memilih akhirnya memutuskan untuk tidak memilih keduanya.

Operasi Harun berjalan dengan baik. Harun sudah mendapatkan penglihatannya kembali. Lalu Arie mulai menjelaskan pada Harun apa yang terjadi. Harun ga menyangka apa yang sudah dia dapatkan dari Tiana. Akhirnya buku novel terbaru Tiana terbit. Tiana menitipkan novel itu untuk Harun. Harun menghargai keputusan Tiana sampai satu waktu dia pergi menjumpai Tiana dan melakukan hal yang sama ketika Tiana mengetahui kebutaan Harun. Hancur hati Harun dan disitulah kekuatan cinta itu ditunjukkan. Pengorbanan Tiana untuk Harun yang dicintainya.

Nangis gue waktu nonton film ini. Gimana ga? kekuatan akting Reza Rahardian meranin tokoh Harun ini bisa bawa suasana berubah. Tadinya gue agak bingung dengan tokoh Bona. Tiana selalu ngobrol sama Bona yang sudah ada sejak Tiana masih kecil dan juga teman-teman yang datang merayakan ulang tahun Tiana di Jogja. Ada Bona dan beberapa orang lagi teman yang lain. Semua itu terungkap di bagian akhir film. Bona dan tiga orang teman yang lain itu adalah tokoh khayalan Tiana. Konflik yang terjadi antara Harun dan Tiana buat gue begitu nyata. Mudah jatuh cinta dengan orang yang memiliki kesamaan dan rasa nyaman yang timbul pasti bisa terjadi begitu saja. Twisted konflik yang Hanung bikin untuk film ini menurut gue keren. Sepanjang nonton film ini banyak yang ga nyangka aja. Memainkan emosi penonton itu jagonya Hanung. Ga perlu banyak artis yang terlibat. Cukup dengan keberadaan Reza, Ayushita, Dion Wiyoko dan Christine Hakim udah membuat film ini kuat dalam cerita dan penokohan.

Cinta, pengorbanan, dan berdamai dengan masa lalu, itu adalah pesan yang diangkat di film ini. 
Beberapa hari yang lalu gue dikejutkan sama group invite dari kelas waktu SMP. Ga nyangka aja setelah 25 tahun hilang kontak, sekarang nyambung lagi Jujur gue sih kagok. Soalnya selama SMP gue tuh ga gaul banget anaknya. Udah gitu pas selesai SMP gue bener-bener hilang kontak sama teman-teman yang lain. Banyak yang lanjut ke SMA Tarakanita dan SMEA Tarakanita juga. Tapi, begitu di SMEA atau SMA kami punya teman-teman baru. Kayak gue, punya geng baru di SMEA dan itu terjaga komunikasinya sampe sekarang.

Tapi, tetep ya begitu gabung lagi di grup kelas ataupun grup besar SMP angkatan gue, segala bentuk memori itu seperti tersedot lagi. Apalagi pas foto-foto jadul itu mulai disebar di grup, bener-bener menarik gue ke masa-masa itu. Mengingat lagi nama temen-temen dan juga kenangan-kenangan yang ada bersama mereka.

Orang bilang masa paling indah itu SMA. Buat gue, masa paling indah itu SMP. Gimana ga? SMEA gue sekelas cewek semua. Ga tau ya gimana temen-temen gue yang juga di SMA Tarq, itu lebih lagi ga ada cowok sama sekali. Kalo gue masih bisa lihat pemandangan cowok karena di kelas Manajemen sama Akuntansi masih ada cowoknya.

Jaman SMP itu jaman naksir-naksir cowok, apalagi saat itu yang namanya anak basket itu lagi ngetop-ngetopnya. Kelas 1, kelas 2 temen cowok yang gue kenal ga terlalu banyak. Kelas 3 adalah beberapa temen cowok yang jadinya berteman gegara era itu tuh lagi seneng-senengnya koleksi kartu basket. Gue jadi bisa tuker-tukeran sama mereka. Tapi, setelah itu sampai sekarang ga ada tuh yang gue inget siapa yang dulu pernah berteman dekat. Semua hilang begitu aja.

Temen SMP yang masih nyangkut sampe detik ini hanya satu dan itu cewek. Selebihnya udah ga ada komunikasi lagi. Makanya ada acara reuni bulan Juli nanti itu bikin gue agak galau antara datang atau ga. Kangen pingin ketemu temen-teman lama? Kangen sih. Tapi, gue ngerasa nantinya itu akan basi. Secara gue nggak pernah kumpul-kumpul dan obrolan juga pastinya ga nyambung lagi.

Kalo liat foto-foto yang di share di grup ataupun obrolan-obrolan mereka, rasa minder itu menyergap gue dan seketika bikin pikiran gue bilang ga usah dateng pas acara nanti Yang penting gue ikut partisipasi tiket itu semata karena gue ingin ikut ngebantu guru-guru gue. Kalo soal guru, sumpah wajah mereka begitu berubah, sama menuanya seperti gue dan parahnya memori gue ga bagus banget untuk nginget ini ibu siapa, bapak siapa, ngajar apa.

Selain grup SMP masih ada satu grup lagi, yaitu grup SD. Bayangin.. SD! Ini lebih parah lagi. Terlalu banyak memori yang berseliweran di otak gue, berusaha keras mengingat siapa mereka, apa yang dulu pernah terjadi di masa-masa 30 tahun yang lalu. Edan! di usia gue yang segini otak meminta untuk menarik kembali memori di masa itu. Amazing!

Satu hal yang gue sangat bangga, yaitu gue adalah alumni dari Tarakanita. Hampir seluruh masa sekolah gue itu dari TK sampai SMEA di satu almamater yang sama, ga pernah pindah ke lain hati. Udah gitu, sekolah gue ini di masa itu termasuk sekolah swasta Katolik ternama. Ga ada yang ga bangga bisa sekolah di Tarq. Apalagi seragam kotak-kotaknya, kalo udah pake itu tuh berasa paling keren hehehe... Dulu sekolah internasional ga sebanyak sekarang. Dulu setau gue yang populer itu JIS. Temen-temen sekolah gue juga beraneka ragam status sosialnya. Bahkan sampai sekarang banyak dari mereka yang begitu maju.

Fuuhh...yuk kumpulkan keberanian untuk ketemu sama temen-temen lama yang antara masih inget atau ga mereka sama gue :)